
“Pak Nathan, kenapa saya…”
Gaby bergeming dan tersenyum canggung saat 5 orang yang sedang duduk di sofa menatap ke arahnya.
“Ngelindur, Gab ?” ledek Kendra, salah satu dari kelima orang itu.
Gaby mundur perlahan dan berniat kembali ke kamar yang tadi ditempatinya. Wajahnya merona karena langsung muncul tanpa memastikan situasi di sekitarnya.
Tidurnya benar-benar pulas, tidak terbangun saat Jonathan menggendongnya dari mobil sampai ke kamar yang ada di ruang kerja pria itu.
Setelah 1 jam berlalu, Gaby baru terbangun. Gaby mengira Jonathan membawanya ke hotel karena tidak tahu kalau suaminya punya ruang pribadi seperti milik papi Hendri.
“Rapatnya udah selesai kok, Bi.” Suara Jonathan menahan langkahnya tapi Gaby belum berani membalikan badan.
“Kamu lapar makanya kurang fokus, ya ?” Tanpa sungkan, Jonathan memeluk Gaby dari belakang dan berbisik lalu mencium pipi Gaby.
“Nggak, saya belum lapar.”
Jonathan tergelak karena usai Gaby menyangkal, perutnya berbunyi.
“Cacing di perut kamu udah teriak minta diisi,” ledek Jonathan melepaskan pelukannya.
Ia memberi isyarat supaya Gaby duduk di sofa sementara Jonathan berjalan ke mejanya mengambil kantong makanan.
“Nyenyak banget tidurnya, Gab sampai ngeces pas digendong suami,” ledek Kendra.
“Digendong ? Beneran Pak Nathan gendong saya kemari ? Lewatin lobby ?” Gaby langsung mengernyit, rasanya malu mendengar ucapan Kendra.
Untung saja 2 pria yang tadi duduk di sofa sudah keluar ruangan.
“Ya iya lewat lobby depan, memangnya mau lewat mana lagi.”
“Bapak kenapa nggak bangunin saya, sih ?” gerutu Gaby saat Jonathan sudah duduk di sampingnya, membuka bungkusan makanan yang sudah dipesan saat Gaby tidur.
“Sudah, kamunya nggak bangun,” sahut Jonathan kalem.
“Sengaja kan ? Kalau lagi melek mau minta digendong takut ditolak sama Nathan,” cibir Kendra lalu tertawa.
“Kamu kayak nggak pernah muda aja, Ken,” ledek Om Sofian ikut tertawa.
”Udah diobral nggak laku-laku, Om, jadi bawaanya julid kalau melihat saya mesra-mesraan sama Gaby,” gantian Jonathan meledek sahabatnya.
“Kasihan sama si Boss kalau saya cepat-cepat punya pacar terus nikah lanjut punya anak, bisa-bisa gantian si Boss yang iri soalnya biar udah nikah setahun, statusnya masih perjaka.”
“Perjaka tung tung ?” ledek Om Sofian sambil tertawa.
__ADS_1
Gaby sempat melirik Jonathan yang terlihat santai. Apa beneran pria yang masih berstatus suaminya ini masih perjaka ?
“Makan dulu, Bi. Dengerin jomblo akut perlu tenaga ekstra biar kamu lebih fokus.”
Jonathan menyodorkan satu kotak nasi plus ayam bakar pedas kesukaan Gaby, untuk dirinya sendiri menu yang sama tapi tidak pedas.
“Om, Gaby bisa minta tolong ?”
“Soal apa ?”
Gaby membuka layar handphonenya dan menyodorkan pada Om Sofian.
“Ada kasus baru lagi di wa grup sekolah. Rekamannya bukan editan begitu juga dengan surat yang diposting. Marsha nggak mau bilang darimana dia dapat foto surat permohonan cerai kami.”
Mata Jonathan dan Kendra langsung membola dan menatap ke arah Gaby.
“Coba aku lihat.”
Om Sofian memberikan handphone Gaby pada Jonathan yang langsung memeriksa percakapan di grup kelas 12. Beberapa kali pria itu menghela nafas sambil mengerutkan dahi.
Kendra mendapat giliran terakhir. Dahinya berkerut, menyimak foto surat permohonan cerai yang diposting Marsha.
“Hanya elo berdua dan orang hukum yang punya copy surat ini. Punya elo berdua disimpan di tempat yang aman, kan ?” Jonathan dan Gaby mengangguk bersama.
“Menurut Om tidak perlu kamu membuang uang dan waktu untuk menghadapi orang seperti Jihan. Kalau memang terbukti Jihan yang menyuruh Marsha menyebarkan surat itu, kalian tinggal menemui Tuan Harry dan ceritakan masalah Jihan padanya. Om yakin kalau Tuan Harry akan membuat hidup Jihan susah bukan hanya karena dipecat sebagai asisten Maya tapi tidak akan ada perusahaan besar yang mau menerima Jihan sebagai karyawan mereka.”
“Aku setuju dengan pendapat Om Sofian, Gab. Soal surat, biar aku dan Om Sofian yang akan mencari sumbernya.”
“Yang penting kenyataannya kita masih suami istri kan, Sayang. Kamu bisa bilang kalau surat itu kita tandatangani saat sama-sama emosi karena sedang ribut suami istri tapi sebenarnya masih saling cinta,” ujar Jonathan sambil mengusap kepala Gaby.
“Bukannya kenyataannya terbalik ?” Gaby menoleh, menatap Jonathan dengan mata memicing.
“Surat itu kita tandatangani atas kemauan berdua hanya waktunya aja yang nggak bareng. Terus darimana Bapak bisa bikin pernyataan kita masih saling cinta ? Saya nggak merasa begitu.”
Jonathan mengusap tengkuknya sambil tersenyum. Kendra dan Om Sofian langsung bangun sambil senyum-senyum, bahkan Kendra meledek sahabatnya dari balik punggung Gaby.
“Nanti kita bahas lagi, sekarang kamu makan dulu. Perut lapar bikin pikiran kurang jernih dan hati gampang emosi.”
Jonathan menyodorkan kembali makan siang untuk Gaby sambil tersenyum.
“Mau aku suapin ?” bujuk Jonathan dengan senyuman manisnya.
“Awas ada udang di balik batu, Gab,” ledek Kendra sebelum menutup pintu.
Kendra si**lan nih ! Maki Jonathan dalam hati.
__ADS_1
*****
“Ada masalah penting apa, Bu ?” tanya Jihan yang datang menjelang sore dengan pakaian kasual.
Asisten Maya yang cuti 2 hari ini bergegas datang ke kantor atas permintaan Maya yang ingin membahas hal penting.
“Kamu buat masalah apa lagi sama adik tirimu ?”
“Maksud Ibu ?”
“Nggak usah bersandiwara di depanku, Ji. Tadi adikmu datang kemari dan begitu Jojo tanya, dia bilang mau ketemu kamu bukan daddy. Kamu bikin ulah apalagi ?”
“Saya hanya memberinya pelajaran untuk menjadi manusia jujur,” sahut Jihan sambil tersenyum sinis. Maya hanya mengerutkan dahi.
“Gaby sempat mengajukan gugatan cerai pada Pak Nathan tapi tidak lama dibatalkan oleh kuasa hukum dari perusahaan.”
”Gugatan cerai ? Tapi kalau lihat mereka hari ini sepertinya hubungan mereka baik-baik saja.”
“Ibu lupa kalau pernikahan mereka karena alasan bisnis semata ?”
“Tapi Jojo bilang di depan Daddy kalau dia sangat mencintai istrinya, jadi mana mungkin Jojo menyetujui perceraian itu.”
“Saya sudah mengirimkan surat permohonan cerai mereka ke nomor Ibu. Tandatangan di surat itu fixed tandatangan Pak Nathan bukan tiruan.”
Jihan diam sejenak, membiarkan Maya menyimak copy surat permohonan cerai Gaby dan Jonathan. Wanita itu terlihat menghela nafas beberapa kali.
“Mungkin sudah lama Jojo menandatanganinya, Ji. Sekarang aku bisa melihat dan merasakan kalau mereka sudah saling mencintai bahkan aku iri pada adik tirimu itu. Jojo memperlakukannya begitu manis dan tatapan penuh cinta itu hanya Jojo tujukan untuk istrinya.”
Senyuman getir menghiasi wajah Maya yang sedang membayangkan situasi siang tadi di lobby.
“Tapi Bu…”
“Berhentilah menyusahkan dirimu sendiri, Ji. Apa yang kamu lakukan tidak akan pernah berhasil karena secara hukum, adikmu hanya menerima apa yang memang menjadi miliknya, warisan dari mami kandungnya. Kalau kamu ngotot, sama saja kamu hendak mengambil milik orang lain.”
“Memangnya Ibu sudah nggak minat kembali lagi pada Pak Nathan ?”
“Aku sudah hamil bukan karena Nathan, Ji. Aku sempat ngobrol banyak dengan Daddy dan sepertinya permintaan Daddy benar, aku harus berhenti menjadi wanita yang serakah dan tidak mau kalah. Mungkin suatu saat aku bisa merebut Jojo kembali, tapi apakah saat itu aku akan lebih bahagia daripada kehidupanku tanpa dirinya ? Aku akhirnya bisa merasakan kesepian yang harus Daddy jalani karena cintanya direnggut oleh Mommy. Dan Mommy sendiri belum bisa mendapatkan cinta tulus Daddy meskipun mereka sudah menikah selama 26 tahun.”
Jihan terdiam, raut wajahnya belum melunak namun tidak sekeras sebelumnya.
“Bagaimana kalau….”
“Berhenti membawa pengaruh buruk padaMaya !”
Suara bariton dengan nada tegas itu muncul dari balik pintu yang dibuka tanpa diketuk membuat Jihan langsung terdiam dengan wajah tegang dan Maya sendiri mengerutkan dahi saat melihat sosok pria itu tiba-tiba datang ke ruangannya.
__ADS_1