
Gaby mengerjap dan membuka matanya perlahan. Dari bau yang tercium, Gaby tahu kalau dia berada di rumah sakit.
Ia pun senyum terpaksa saat melihat wajah Mario yang ditatapnya saat pertama kali membuka mata.
“Om Harry kemana ?”
“Belum lama pulang, ada meeting yang tidak bisa dibatalkan sore ini.”
Gaby berusaha bangun dan dengan sigap membantu Gaby menaikkan sandaran tempat tidur. Matanya berkeliling, tidak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya dan Mario. Gaby menghela nafas, apa mungkin tidak ada lagi yang peduli padanya selain Mario ?
“Dimana handphoneku ?”
“Dokter bilang kamu terlalu lelah dan stres jadi sebaiknya tidak usah pegang handphone dulu dan memikirkan pekerjaan atau tugas kuliah.”
“Kamu sendiri nggak kuliah ?”
“Bolos kuliah sore,” sahut Mario sambil tertawa. “Lebih penting kamu daripada kuliah.”
“Siapa yang memberitahumu ?”
Mario tidak menjawab dan mengeluarkan handphone dari saku celana jeansnya.
“Aku angkat telepon dulu.” Gaby mengangguk.
Kepalanya masih sedikit pusing tapi perutnya sudah tidak mual lagi. Sebuah selang infus terpasang di tangan kirinya.
Gaby mengedarkan pandangan, mencari tas yang dibawanya ke kampus namun tidak terlihat dimana-mana. Perlahan ia turun dari ranjang dan membuka pintu lemari kecil yang ada di sampingnya.
“Kok turun ?” tanya Mario bergegas mendekati Gaby yang sudah menapak di lantai.
“Tolong berikan handphoneku atau kamu boleh pergi dari sini !” tegas Gaby dengan tatapan galak yang malah membuat Mario tertawa.
“Jangan galak-galak sayang, aku hanya nggak mau kamu tambah stress terus pingsan lagi.”
Gaby mendengus kesal dan mengikuti permintaan Mario untuk balik ke tempat tidur sementara ia mengambil handphone milik Gaby yang ternyata disimpan dalam tas ranselnya.
”Jangan coba-coba mencari tahu apalagi mengacak-acak handphoneku. Aku benar-benar akan membencimu seumur hidupku kalau sampai itu terjadi !” ancam Gaby saat menerima miliknya itu dari tangan Mario. Lagi-lahi pria itu hanya tertawa.
“Bisa tolong keluar sebentar ?” pinta Gaby dengan wajah datar.
Mario sudah siap mau protes namun tatapan Gaby membuatnya mengangguk.
Gaby langsung menghubungi Mimi yang ternyata sudah tahu kondisinya dari Kendra bahkan bersama Raina dan Bimbim sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
“Bisa tolong mampir ke apartemen dan bawain beberapa pakaian dan keperluan gue ?”
“Gimana Bim kalau mampir ke apartemen Gaby ?” terdengar suara Mimi bertanya pada Bimbim yang menjadi sopir mereka.
“Boleh.”
“Gue kirim kode pintu dan barang apa aja yang perlu elo ambil dari sana. Nggak pakai lama, gue malas cuma sama Mario di sini.”
“Siap boss !”
Gaby langsung mengirimkan pesan untuk Mimi sambil memikirkan cerita sahabatnya kalau ia tahu kondisi Gaby dari Kendra, berarti kemungkinan besar Jonathan akan tahu juga.
Gaby menggerakan barisan pesannya hingga menemukan nama Jonathan di sana. Ia lupa kalau nomor itu sudah lama diblokirnya bersama dengan nama Kendra, Mama Hani dan Jenny.
Tanpa mampu dicegah air mata menetes dari kedua sudut mata Gaby saat tangannya membuka blokiran di nomor mama dan Jenny. Kerinduannya akan perhatian dan cinta kedua wanita itu membuat Gaby malah terisak.
*****
“Jadi Bapak berniat kembali lagi pada Gaby ?”
Mario dan Jonathan duduk berhadapan di salah satu kafe yang ada di lobby rumah sakit. Keduanya tidak sengaja bertemu di depan lift saat Mario diminta keluar oleh Gaby dan Jonathan baru saja tiba.
“Ya. Saya masih sangat mencintainya dan saya akan menunggu Gaby memaafkan dan menerima saya kembali.”
“Itu sebabnya Bapak mengintip kami saat di taman semalam ?” sindir Mario sambil tertawa mengejek.
“Tiang itu tidak cukup besar untuk menutupi Bapak tapi jangan khawatir, Gaby tidak meihat bapak ada di situ, dia terlalu sibuk menata hatinya yang sedang berantakan.”
“Lalu kamu sendiri berniat merebut Gaby dari saya ?” tanya Jonathan gantian dengan senyuman sinis.
”Merebut ?” Mario bertanya sambil tertawa. “Bapak lupa kalau 6 bulan yang lalu kalian sudah bercerai ? Apa dengan status barunya Gaby tidak boleh dekat dengan pria lain untuk mencari kebahagiaannya sendiri ?”
“Saya tidak akan membiarkan kamu mendapatkan Gaby !”
“Ternyata Bapak sangat egois seperti yang Gaby gambarkan selama ini. Apa Bapak tahu kalau saya adalah lelaki pertama yang disukai oleh Gaby dan saya pun akhirnya jatuh cinta pada Gaby, jauh sebelum Bapak menikahinya ? Apa Bapak tahu kalau alasan saya bertahan dengan Jihan karena ingin bisa sering bertemu Gaby dan mengajaknya bicara di luar sekolah ?”
“Cinta ? Kamu bahkan pernah mencoba untuk memperkosanya !”
“Jihan menjebak saya, berharap obat perangsang itu membuat saya akan melampiaskan padanya tapi akal sehat saya masih tersisa sedikit. Bagi saya lebih baik saya bertanggungjawab menikahi Gaby daripada Jihan karena kami saling cinta.”
“Dasar gila ! Mana bisa dibilang cinta kalau kamu sudah berniat merusak masa depan Gaby,” sindir Jonathan sambil tersenyum sinis.
“Dan perbuatan bapak lebih baik dari saya ? Berciuman dengan mantan kekasih padahal bapak sudah menikah dan wanita itu sudah hamil dengan lelaki lain ?” balas Mario tidak kalah sinis.
__ADS_1
“Saya tidak bisa mengubah masa lalu termasuk perasaan Gaby sebelum menikahi saya, tapi saya tahu dan yakin kalau Gaby sudah mencintai saya sepenuh hati setelah kami menikah, jadi dengan cara apapun saya akan mendapatkan kembali cintanya setelah ia memaafkan saya,” tegas Jonathan.
“Jangan terlalu percaya diri Pak Jonathan karena selama 6 bulan terakhir ini, sayalah yang selalu menjadi tempat Gaby bersandar. Hanya pada saya Gaby mampu mengeluarkan beban di hatinya. Dan bapak berpikir apa alasannya ? Karena saya adalah cinta pertama Gaby.”
Jonathan menautkan alisnya saat Mario tertawa dengan wajah bahagia.
“Bukannya kamu juga over pede ?” ejek Jonathan.
“Bagaimana kalau kita biarkan Gaby yang memilih ? Saya akan mundur tanpa debat kalau memang Gaby memilih kamu untuk menjadi teman hidupnya,” ujar Jonathan.
”Siapa takut ? Setidaknya saya sudah selangkah di depan Bapak karena saya bisa kapan saja bersama Gaby.”
Jonathan hanya tersenyum tipis. Hatinya sedikit kecut, rasa percaya dirinya turun level karena apa yang disampaikan oleh Mario memang benar adanya.
“Kalian berdua ngapain di sini ?”
Kendra yang baru saja datang sudah berdiri di dekat mereka. Dari ekspresi Jonathan, ia paham ada masalah penting yang sedang mereka bahas.
“Kalau begitu saya balik ke kamar Gaby dulu, Pak. Kasihan sudah terlalu lama sendirian.”
“Tidak usah buru-buru, sudah ada teman-teman Gaby di sana,” sahut Kendra dengan wajah kesal melihat ekspresi wajah Mario yang kesannya sombong.
“Tidak apa-apa, semakin ramai semakin baik karena banyak yang bisa menghibur Gaby. Pak Nathan mau ke atas juga ?”
Jonathan menggeleng membuat Mario tersenyum penuh kemenangan sedangkan Kendra membalas anggukan Mario yang pamit dengan tatapan galak.
“Ngomong apa lagi tuh bocah ?” tanya Kendra sambil menempati bangku yang tadi diduduki Mario.
Awalnya Jonathan terlihat ragu tapi akhirnya ia bercerita juga mulai dari kedatangannya ke apartemen Gaby, masalah di taman hingga percakapannya dengan Mario barusan.
“Sejak kapan Jonathan kalah mental sama anak ingusan ?”
“Faktanya Gaby memang hanya dekat dengan dia sejak bercerai sama gue. Elo sendiri yang cerita kan kalau sahabatnya sendiri mulai kewalahan dengan sikap Gaby.”
Kendra tertawa sambil geleng-geleng kepala membuat Jonathan menatapnya dengan dahi berkerut.
“Masih ada kemungkinan kalau Gaby hanya memanfaatkan Mario untuk sekedar membuktikan kalau dia bisa move on, dapat yang lebih muda dan tajir daripada elo.”
“Nah itu dia ! Gimana kalau dari coba-coba akhirnya Gaby kembali jatuh cinta lagi sama Mario ?”
“Gimana mau jadi suami yang baik kalau baru digertak sama ABG sekelas Mario aja elo udah mengkerut ? Tunjukkan dong tekad dan kejantanan seorang Jonathan yang pantang menyerah dan gigih berusaha mendapatkan maaf dari istri kesayangannya.”
Jonathan terdiam dan menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
”Terus sekarang gue harus gimana ? Tetap membesuk Gaby dengan resiko ditolak atau menunggu aja sampai Gaby membuka pintu maaf ?”
“Ya ampun Jonathan, kenapa IQ lo jadi jongkok begini !” keiuh Kendra sambil menepuk jidatnya.