
Mata Gaby mengerjap, menatap pijar kembang api yang melambung ke langit. Untuk pertama kalinya Gaby melewati malam pergantian tahun bersama keluarga barunya dan tetangga di sekitar rumah.
“Kamu suka ?”
Jonathan sudah berdiri di sampingnya dan satu tangannya menggenggam jemari Gaby.
“Suka. Sejak Mami meninggal, Gaby nggak pernah lagi merayakan malam pergantian tahun seperti ini. Biasa hanya melihat kembang api dari kejauhan atau nonton di televisi.”
“Bukannya kalian sering pergi berlibur menjelang akhir tahun ?”
“Papi hanya pergi dengan keluarga barunya,” sahut Gaby sambil tersenyum getir.
“Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan membuat banyak kenangan indah untukmu.”
Jonathan melepaskan genggamannya dan merangkul bahu Gaby sambil merapatkan posisi mereka.
“Apa yang membuat kamu kesal sama aku ?”
Gaby mendongak dan mengerutkan dahinya memastikan apa Jonathan benar-benar tidak sadar kalau dia sudah berbohong pada Gaby.
“Kenapa ?” tanya Jonathan lagi sambil ikut mengerutkan dahinya.
”Kenapa Mas Nathan nggak cerita kalau bertemu dengan Maya ? Kenapa harus bohong bilang meeting dengan klien bersama Kak Kendra padahal Mas Nathan hanya sendirian bertemu dengan Maya ?”
Mata Jonathan membola dan wajahnya berubah tegang bahkan ia tidak menahan Gaby yang melepaskan rangkulan tangan Jonathan.
“Kita berada di tempat dan waktu yang sama karena sudah diatur oleh Maya dan Jihan. Buat Gaby tidak masalah Mas Nathan bertemu dengan Maya untuk membahas semua masalah yang muncul tiba-tiba belakangan ini, tapi tidak perlu sampai berbohong pada Gaby. Apa perasaan Mas Nathan biasa-biasa saja kalau melihat Gaby menangis dalam pelukan Mario atau Doni ?”
Suara Gaby meninggi, meluapkan emosi yang sudah ditahannya berhari-hari.
“Maaf karena aku sudah berbohong. Memang Maya yang mengajakku bertemu hari itu tapi sudah sejak masalah di perkebunan merebak, aku ingin bertemu dengan Maya, ingin memintanya supaya menghentikan semua kegilaan ini.”
Gaby menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, rasa kecewanya belum bisa hilang meski Jonathan sudah mengakuinya bahkan minta maaf juga.
__ADS_1
“Seharusnya Gaby yang minta maaf karena membuat Mas Nathan terjebak dalam situasi seperti ini. Maaf karena permintaan Papi dan Mami membuat Mas Nathan terikat dengan Gaby dan tidak bisa kembali lagi pada Maya.”
“Jangan bilang begitu. Apa kamu masih belum percaya kalau alasan utama aku memutuskan hubungan dengan Maya bukan karena wasiat harus menikahimu ?”
“Kenyataannya sering membuat Gaby sulit untuk percaya,” sahut Gaby sambil tersenyum getir.
“Maya tiba-tiba menangis sambil memelukku dan aku berani bersumpah kalau tidak ada rasa apapun saat kami berdekatan. Aku berusaha menenangkannya karena orang-orang mulai memperhatikan kami.”
“Tapi Mas Nathan nggak perlu berbohong kalau sedang bertemu klien dengan Kak Kendra pula.”
Gaby pun menjauhi Jonathan yang masih bergeming dan hanya menatap punggung Gaby yang berjalan mendekati Jenny dan beberapa anak tetangga yang berbeda usia sedang bermain kembang api. Detik-detik pergantian tahun semakin dekat dan Jonathan justru dihadapkan pada situasi yang membuat hatinya jadi galau.
*****
“Penyusup di Kendal dan Bawen sudah ditemukan dan untuk sementara ditahan di kantor polisi. Om Sofian sedang sakit dan minta kita yang berangkat ke sana untuk memastikan proses hukumnya,” ujar Kendra melaporkan pada Jonathan saat hari pertama kerja di tahun yang baru.
“Kapan ?”
Jonathan bertanya tanpa mengangkat wajahnya karena matanya sibuk membaca setumpuk dokumen yang perlu ditandatangani.
“Besok pagi aja kalau begitu, gue belum bilang sama Gaby. Nanti malam gue omongin dulu.”
“Jangan bilang Gaby masih ngambek sama elo. Muka elo persis kayak kemeja belum disetrika padahal udah libur 3 hari dan acara malam tahun baru juga, masa elo masih gagal juga membujuk mantan murid yang lagi merajuk ?” ledek Kendra sambil tertawa.
“Gue ketahuan bohong,” ujar Jonathan sambil meletakkan penanya.
“Bohong apa lagi ?” tanya Kendra sampai mengerutkan dahinya.
“Gue ketemu sama Maya sekitar 10 hari yang lalu dan saat itu ternyata Gaby ada di tempat yang sama. Gue bohong saat Gaby telepon. Gue bilang lagi meeting sama klien dan ada elo juga di situ.”
“Sh**t ! Kenapa juga elo harus menemui Maya. Jadi beneran elo nekat ngajak dia ketemu ?”
“Nggak, Maya yang ajak ketemu duluan,” sahut Jonathan sambil menggeleng.
__ADS_1
“Udah gue bilang, Nathan kalau Maya itu sumber masalah buat elo dan itu semua terbukti kan ? Terus kenapa juga elo bohong sama Gaby ? Istri elo itu orang yang ekspresif, seharusnya dari pesan yang dia kirim atau suaranya pas nelepon, elo udah bisa membaca kalau ada yang nggak beres.”
“Kali ini ngambeknya lama. Gue udah minta maaf berkali-kali dan menjelaskannya lebih dari sekali, tapi Gaby masih belum mau banyak bicara bahkan tadi pagi dis pergi ke sekolah tanpa menyiapkan belal untuk gue.”
“Terus apa elo dapat hasil yang baik setelah bertemu dengan Maya ?”
“Maya bilang dia baru tahu masalah penyebaran foto di sekolah Gaby dan kasus hama di perkebunan. Masalah Jihan sudah dia hentikan tapi dia nggak janji soal perkebunan. Maya minta gue datang untuk meminta maaf pada orangtuanya sementara dia sendiri akan mencoba menjelaskan dan meminta pada Om Harry ?”
“Dan elo percaya dengan semua itu ?” sindir Kendra sambil tersenyum mengejek.
“Nggak juga, tapi kalau dengan pura-pura percaya bisa membuat Maya minta ayahnya menghentikan kekacauan di perkebunan, nggak ada salahnya gue coba.”
“Jonathan, berhentilah bersikap naif. Ini dunia bisnis bukan sekolah. Persaingan dan pertikaian dalam dunia bisnis lebih keras dan sadis karena sering tidak mempedulikan aturan dan norma. Lagian elo itu kalah lihai dengan Maya, bisa-bisa elo yang terjebak dalam permainannya.”
“Gue udah nggak merasakan apapun waktu dia memeluk gue sambil menangis.”
“What ?” mata Kendra langsung membola. “Dan Gaby melihat adegan peluk-pelukan itu ?”
“Sepertinya begitu, makanya dia kesal banget. Ternyata tuh anak bisa juga cemburu,” ujar Jonathan sambil senyum-senyum sendiri.
“Nathan, elo udah sering mengalami bagaimana omongan gue jadi kenyataan. Kali ini akan sulit untuk memperbaikinya kalau elo tetap nekat mendekati Maya demi tujuan baik elo untuk perusahaan. Percaya sama gue, nggak ada ketulusan dalam sikapnya bahkan di setiap tetes air matanya..”
“Kali ini gue pasti bisa mengalahkan Maya, Ken. Gue akan memanfaatkan kesempatan yang Maya berikan untuk bertemu dan bicara langsung dengan Om Harry karena di saat itulah gue menjelaskan semuanya.”
Kendra menarik nafas dalam-dalam dengan nada berat dan wajahnya menunjukkan kalau ia tidak setuju dengan rencana Jonathan.
“Lalu bagaimana dengan Gaby ? Kebohongan elo sudah melukai hatinya dan nggak akan mudah memberikan pengertian padanya.”
“Gue akan membicarakan semua ini pada Gaby sebelum melangkah lebih jauh.”
“Apa jaminannya kalau elo nggak akan masuk perangkap Maya ?”
“Gue punya elo yang akan selalu membantu mengingatkan dan mencegah gue terjebak dalam rencana liciknya,” sahut Jonathan sambil tersenyum.
__ADS_1
“Gue bukan malaikat pelindung yang bisa menjaga elo selama 24 jam. Selalu ada celah untuk mencari kelemahan elo. Jangan sampai hidup elo hanya dipenuhi dengan kata penyesalan.”
Jonathan tersenyum tipis. Mendekati Maya memang beresiko tinggi tapi untuk saat ini hanya itu pilihan terbaik dalam pikiran Jonathan untuk menyelesaikan 2 masalah sekaligus.