
Hari keempat berada di Semarang, Jenny mengajak Gabriela melihat-lihat kampusnya sedangkan Mama pergi menemui kerabat dari pihak Papa yang menetap di Semarang.
”Tahun depan udah jadi mahasiswa nih, Gab. Udah tahu mau ambil jurusan apa ?” tanya Jenny saat keduanya menyusuri area kampus yang agak sepi karena sudah masuk dalam libur semesteran.
”Tadinya mau ambil kedokteran, Kak, tapi tidak sesuai dengan tugas yang udah menanti. Tidak ada pilihan, aku harus ambil jurusan bisnis,” sahut Gabriela sambil tertawa pelan.
“Tapi aku tidak menyesal kok, Kak. Sudah tanggungjawabku sebagai anak Papi dan Mami untuk melanjutkan usaha keluarga.”
“Sudah tahu mau kuliah dimana ?”
“Yang pasti di Jakarta, Kak. Sekarang aku udah nikah jadi ada tanggungjawab sebagai istri lagipula rencananya aku mau sambil belajar di perusahaan.”
“Cie cie… punya suami nih. Aku aja yang 4 tahun lebih tua dari kamu belum punya pacar,” ledek Jenny sambil terkekeh.
“Suami yang terpaksa,” lirih Gabriela. “Kalau saja Papi nggak sakit dan mama tiriku begitu, aku pasti nggak akan menyusahkan kalian terutama memaksa Pak Nathan putus dengan Bu Maya demi menikah denganku.”
“Gab, jangan melow gitu, dong. Lagian kenapa masih panggilnya Pak Nathan, sih ? Kan Mama sudah bilang kalau di luar sekolah, kamu harus membiasakan diri panggilnya Mas Nathan.”
“Belum biasa, Kak. Rasanya masih canggung karena Pak Nathan masih menjadi guruku di sekolah,” sahut Gabriela sambil tertawa pelan.
“Biasain, Gab, pelan-pelan. Dan soal Maya, kamu nggak usah terlalu mikirin dia. Sebetulnya Mama dan aku memang kurang setuju kalau Kak Nathan sampai menikah dengan Maya. Sepertinya kedatangan Om Hendri adalah jawaban doa Mama supaya mereka nggak sampai menikah.”
“Kok begitu, Kak ?”
“Ceritanya panjang, Gab. Kapan-kapan aku cerita sama kamu. Kamu berhak tahu karena sekarang sudah jadi istrinya Kak Nathan, lagipula buat jaga-jaga kalau suatu saat kamu harus berhadapan dengan Maya. Kamu nggak kalah sama dia kok, hanya dia menang tinggi aja dan kamu sedikit pendek untuk ukuran normal.”
“Body shaming, Kak ?” lirik Gabriela dengan bibir mengerucut. Jenny langsung tergelak dan merangkul bahu kakak iparnya.
“Nggak Gab, tapi kenyataan kan ? Maya menang tinggi, kamu menang umur. Kalau aku yang ada di posisi Kak Nathan, udah pasti aku akan memilih yang menang umur daripada menang tinggi.”
“Kenyataannya Pak Nathan masih tetap memilih Ibu Maya,” gumam Gabriela pelan, berharap Jenny tidak mendengarnya.
***
Sekitar jam 4.30 sore, Gabriela minta ijin pada Mama untuk berjalan-jalan di sekitar Simpang Lima. Jarak tempuhnya hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari hotel.
Jenny masih tidur di kamar hotel. Sejak kemarin pagi, adik Jonathan itu ikut menginap di hotel bersama Mama dsn Gabriela.
__ADS_1
Suasana sore di seputaran jantung kota Semarang cukup menarik netra. Gabriela suka dengan suasana kota ini, tidak terlalu padat dan suasana khas daerah masih cukup terasa.
Hingga jam 5.15, Gabriela memutuskan untuk kembali ke hotel melewati sisi jalan yang berbeda. Liburan ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke luar kota selain Singapura dan Puncak, apalagi bisa menikmati pemandangan sepanjang jalur kereta. Selebihnya, Gabriela tidak pernah keluar dari Jakarta.
“Papi ?”
“Pak Nathan ?”
Gabriela menautkan alis bahkan matanya memicing untuk memastikan 2 orang yang baru saja keluar dari mobil dan turun di depan lobby hotel.
Ia mempercepat langkahnya, menyusul kedua pria itu yang berjalan menuju resepsionis.
“Papi,” panggil Gabriela saat sudah berada di dekat Papi Hendri.
Keduanya menoleh dan terkejut saat melihat Gabriela berdiri di dekat mereka. Rencananya mereka akan memberi kejutan untuk Gabriela saat keluar makan malam, ternyata gadis itu lebih dulu menemukan mereka di lobby hotel.
“Papi kok bisa ada di sini ?” tanya Gabriela yang langsung memeluk Papi Hendri.
“Memangnya Papi nggak boleh ikutan kamu liburan ?” Papi Hendri tertawa dan mengusap punggung Gabriela dengan penuh kerinduan.
“Suami kamu nggak dipeluk juga ? Nanti cemburu nggak kebagian kangennya,” ledek Papi Hendri sambil tertawa.
Gabriela tersenyum canggung. Bayangan tangan kekar Jonathan lebih suka memeluk Maya, membuat Gabriela bergeming di depan Papi.
“Masih malu-malu kayaknya, Pi.”
Gabriela terkejut saat Jonathan menarik tangannya lalu membawa Gabriela ke dalam dekapannya.
”Gimana liburannya, Gab ?” tanya Jonathan penuh kehangatan seolah lupa kalau pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian.
“Senang banget karena baru pertama kali naik kereta dan ke Semarang.”
Gabriela mencoba mengimbangi sandiwara Jonathan dengan balas memeluknya namun ia tidak ingin terlalu lama dalam posisi seperti itu. Terlalu nyaman dan detak jantungnya berdegup tidak karuan.
Tanpa Gabriela tahu, tubuh Jonathan sempat memberikan respon apalagi saat mencium harum tubuh dan rambut Gabriela. Wajar saja kalau ia ingin memeluk lebih lama bahkan menciumi istrinya, namun sekuat tenaga, Jonathan menolaknya dan berusaha tampil biasa saja.
“Tadinya mau buat kejutan untukmu, ternyata rencanaku dan Papi harus puas membuat kamu terkejut hanya sampai di lobby aja.”
__ADS_1
Jonathan dan Papi tertawa sementara Gabriela tersenyum tipis, perasaannya masih kacau apalagi saat Jonathan merangkul bahunya masuk ke dalam lift menuju kamar keduanya.
**
“Jadi selain pintar mengajar matematika, Bapak juga hebat menjadi pemain sandiwara ?” sindir Gabriela sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
Gabriela tidak bisa menolak saat Papi dan Mama mnyuruhnya pindah satu kamar dengan Jonathan.
“Kamu sudah tahu alasan kita menerima pernikahan ini, kan ? Demi kebahagiaan orangtua kita berdua, jadi kamu tahu bagaimana harus bersikap. Atau jangan-jangan kamu berharap kalau pernikahan ini untuk selamanya ?” sindir Jonathan dengan senyuman sinis.
Jonathan berdiri sambil bertolak pinggang menghadap ke arah Gabriela. Urusan mengeluarkan isi kopernya sudh selesai.
“Saya tidak lupa !” ketus Gabriela sambil beranjak bangun dan berdiri dengan posisi yang sama di hadapan Jonathan.
“Saya tahu kalau di belakang saya, Bapak masih menjalin hubungan dengan Ibu Maya. Kalau memang kita ingin menjadi pemain drama sejati dan terlihat bahagia di depan Papi dan Mama, tolong Bapak jangan sembarangan memeluk wanita lain di depan gerbang rumah, malam-malam pula.”
Jonathan agak terkejut mendengar ucapan Gabriela namun sebisa mungkin ia menutupi perasaannya.
”Jadi kamu suka mengawasi gerak gerik saya ? Jangan bilang kalau kamu cemburu,” ejek Jonathan sambil tersenyum sinis.
“Dalam pernikahan kontrak, tidak boleh ada cinta, begitu kan yang Bapak pernah bilang pada saya ? Jadi tidak akan ada kata cemburu juga. Saya hanya ingin mengingatkan kalau Bapak tidak bisa mengatur mata orang untuk melihat. Tidak ada yang tahu kalau adegan peluk-pelukan di tengah malam itu hanya saya yang melihatnya. Kalau ada orang lain yang tahu, bukan hanya Bapak yang kena gibahnya, tapi Mama pun mungkin akan dibuat malu saat tetangga menyindirnya.”
“Jangan terlalu lebay,” cibir Jonathan.
“Jangan sampai ucapan saya jadi kenyataan, Pak. Penyesalan itu selalu adanya di belakang,” sinis Gabriela sambil menabrak lengan Jonathan dengan kasar lalu masuk ke kamar mandi dengan hati yang tidak menentu.
“Dasar ababil !” gerutu Jonathan sambil mengusap lengannya.
Di dalam kamar mandi, Gabriela langsung duduk di lantai bersandarkan bathup. Kakinya ditekuk dan wajahnya langsung ditenggelamkan di antara kedua lututnya.
Bodoh kamu Gab, To**lol ! Kenapa membiarkan jantungmu berdebar dan harapanmu melambung saat suami kontrak itu memelukmu ? Kenapa kamu lupa sesaat kalau ia masih mencintai kekasihnya dan tidak akan pernah bisa mencintaimu ?
Bodoh ! To**lol ! Stupid ! Bentengi selalu hatimu supaya tidak baper. Semua yang dia lakukan hanya sandiwara.
Gabriela tidak mampu membendung air matanya karena emosi di dalam hatinya membuat sesak dan sulit bernafas, namun ia tidak ingin sampai terisak.
Jonathan pasti akan semakin menganggapnya rendah kalau sampai tahu Gabriela menangis karena rasa yang mulai tumbuh untuk suaminya.
__ADS_1