
Dua bulan berlalu. Kondisi perusahaan perlahan membaik karena perkebunan teh dan kopi tidak lagi terganggu oleh hama penggerek dan jamur yang merusak tanaman.
Gaby pun harus menerima saat teman-temannya berhenti sejenak karena mereka harus fokus menghadapi berbagai ujian praktek dan tertulis yang mulai berjalan menuju ujian akhir.
“Kenapa ? Ada masalah baru ?” tanya Mimi sambil ikut duduk di samping Gaby. Keduanya baru saja selesai mengikuti ujian praktek mata pelajaran olahraga.
“Nggak ada,” Gaby menggeleng. “Gue sempat khawatir karena masalah tiba-tiba semuanya menghilang seolah nggak pernah terjadi sesuatu. Kayak bukan Jihan dan Maya banget,” sahut Gaby.
“Jangan terlalu parno, Gab. Masalah di sekolah mendadak adem mungkin karena Tante Gina udah mengancam Jihan supaya jangan melanjutkan aksinya. Terus masalah di perkebunan beres karena pelakunya sudah tertangkap dan mengakui perbuatannya, elo bilang kan proses hukum berjalan. Semuanya nggak mendadak hilang, Gab.”
Gaby menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Perasaannya masih kurang nyaman karena sadar kalau Jihan dan Maya bukanlah tipe wanita yang menerima hasil akhir seperti ini begitu saja.
“Ganti baju dulu, yuk, lengket banget. Elo mau langsung pulang atau ketemu suami ?” ledek Mimi sambil mengibaskan butiran pasir di celana olahraganya.
“Ganggu suami maksud lo ? Siang begini dia pasti lagi sibuk di kantor,” sahut Gaby ikut mengibaskan lcelana olahraganya.
“Bukannya belakangan ini suami elo senang diganggu ?” Mimi menaikturunkan alisnya membuat Gaby memutar bola matanya.
“Suka bikin orang nggak bisa tidur tenang kalau malam,” gerutu Gaby.
“Harusnya elo bahagia karena tandanya Pak Nathan lelaki normal yang nggak akan membiarkan istrinya kedinginan sendirian.”
“Pikiran elo nggak jauh-jauh dari otak mesum. Punya pacar aja belum pernah, pikiran udah jauh lebih dewasa.”
Gaby menoyor pelipis Mimi yang cekikikan menggoda sahabatnya.
*****
“Jonathan !”
Jonathan yang baru saja menutup panggilan telepon menoleh dan mendapati sosok Maya sedang berdiri di dekat pintu lobby.
Kendra yang berjalan di belakang Jonathan memutar bola matanya dengan wajah kesal. Entah mengapa sampai detik ini Kendra susah berdamai dengan Maya dan menganggap kemunculan gadis itu hanya menciptakan masalah.
”Ada perlu apa ?” tanya Jonathan dengan alis menaut.
__ADS_1
“Nggak boleh ketemu teman lama ? Tadi aku ada meeting dekat sini dan agak tanggung kalau mau balik ke kantor. Begitu ingat kalau kantormu tidak jauh, aku coba mampir siapa tahu bisa ketemu dan mengajakmu makan siang.”
Maya tersenyum canggung karena tatapan Kendra sangat tidak bersahabat.
“Untuk ke depannya kamu bisa hubungi Kendra dulu kalau mau bertemu biar nggak menunggu terlalu lama. Dia yang pegang semua jadwal kerjaku,” ujar Jonathan tertawa sambil melirik asisten sekaligus sahabatnya.
“Bagaimana kalau makan malam ? Apa aku masih harus menanyakannya pada Kendra ?”
Kendra tersenyum sinis. Wanita di depannya seperti kekurangan pria yang mengejarnya. Tidak sulit bagi Maya untuk mendapatkan pria yang lebih baik dari Jonathan.
“Selama masih urusan kerja tentu saja kamu harus tanya Kendra. Kalau makan malam biasa maka istriku yang harus ditanya dulu,” sahut Jonathan sambil tersenyum.
“Tapi Jo…”
“Maaf aku harus jalan sekarang, Maya. Terima kasih sudah mampir.”
Kendra menyempatkan menatap Maya sambil tersenyum sinis. Bukan tanpa alasan Kendra tidak menyukai Maya.
Sebelum Kendra bekerja di perusahaan ini, tanpa sengaja Kendra melihat Maya pergi dengan lelaki lain yang lebih tampan, berkantong tebal dan sedikit lebih tua dari Jonathan. Keduanya berpegangan tangan dengan mesra layaknya sepasang kekasih, padahal saat itu status Maya masih pacarnya Jonathan.
Bagi Kendra foto itu sudah tidak penting lagi apalagi Jonathan bukan hanya menerima pernikahan paksanya tapi sudah mencintai Gaby sebagai istrinya.
“Tumben,” sindir Kendra sambil tersenyum di samping Jonathan.
“Kenapa ? Masih nggak percaya kalau gue udah berubah. Sejak gue nggak merasakan apapun waktu Maya memeluk gue, hati gue sudah memastikan kalau cinta gue ke Maya nggak ada yang bersisa.”
“Semoga bukan sesaat.”
“Doain yang bagus-bagus biar hubungan gue sama Gaby bisa berjalan dengan baik.”
“Hati-hati karena urusan Maya dan Jihan belum selesai,” nasehat Kendra.
“Iya, gue tetap akan waspada.”
“Kedatangan dia barusan ingin menunjukkan kalau Maya masih belum rela melepaskan elo sama Gaby. Pendekatannya bukan lagi karena masih cinta sama elo tapi lebih karena Maya nggak bisa menerima kalau dia dikalahkan sama Gaby, anak SMA yang secara fisik jauh dari kata ideal.”
__ADS_1
“Gue tahu. Bisa tolong cariin nomor handphone Om Harry ? Gue tetap mau ketemu sama Om Harry dan menjelaskan semuanya soal Gaby dan alasan kenapa gue putus sama Maya. Nggak tahu kenapa firasat gue bilang kalau Om Harry nggak seperti yang Maya gambarkan.”
”Gue usahakan secepatnya.”
****
Sementara itu Maya mengepalkan kedua tangannya sambil berjalan kembali ke mobil. Matanya yang memancarkan rasa marah tertutup oleh kacamata hitam.
Maya membanting pintu mobil dan menyuruh sopir kembali ke kantor. Sikap Jonathan sungguh di luar dugaan, tidak lagi bimbang dan mudah termakan bujuk rayu bahkan di mata Maya, Jonathan berubah menjadi pria sombong.
Maya menghela nafas, hatinya sulit menerima kekalahan dari Gaby karena dilihat dari sisi manapun, Maya jauh lebih unggul dibandingkam anak SMA itu.
Sebetulnya puncak kekesalan Maya adalah perintah Daddy Harry 2 bulan yang lalu. Sungguh mengejutkan karena Daddy menegaskan supaya Maya melupakan Jonathan dan berhenti mengganggu rumahtangga mantan kekasihnya terutama Gaby.
“Dengan kondisimu tidak sulit mendapatkan laki-laki yang lebih daripada mantan kekasihmu itu. Jangan membuat malu diri sendiri dan terima kenyataan kalau dia sudah menikah,” tegas Daddy dengan tatapan yang sulit dibantah.
”Jonathan terpaksa menikahi anak ingusan itu, Dad. Dia tidak bisa menolak karena mamanya.”
“Apapun alasannya, dia sudah mengambil langkah untuk menerima perjodohan itu dengan sadar. Kamu tahu kan tanggungjawab Jonathan bukan sekedar menikah tapi ia harus menjalankan Perusahaan milik istrinya ? Anggap saja dia memang bukan jodohmu, jangan berpikir soal menang atau kalah.”
“Daddy pikir semudah itu melupakan cinta yang sudah berjalan hampir 3 tahun ?” gerutu Maya dengan wajah kesal.
“Daddy sangat mengenalmu dengan baik.”
Daddy Harry mendekat dan merangkul bahu putrinya sambil tertawa.
“Bukankah kamu penganut mati satu tumbuh seribu ? Daddy bisa melihat kalau pria-pria yang berusaha mendekatimu adalah tawaran yang menantang, jadi jangan bicara soal perasaan 3 tahun sama Daddy-mu ini. Bukankah kamu tinggal memilih di antara mereka yang pernah berkencan sehari denganmu ? “
“Daddy…” mata Maya langsung membola.
“Dengar Daddy baik-baik ! Jangan lagi menganggu Gabriela dan Jonathan ! Bukan hanya mereka yang marah tapi Daddy yang akan menghukummu kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka terutama Gabriela.”
Maya hanya diam meski tatapannya mengandung banyak pertanyaan, Daddy Harry beranjak bangun, tidak memberitahukan alasannya meminta Maya menjauhi Jonathan dan Maya.
Maya menghela nafas. Larangan Daddy itu malah membuat hatinya tertantang untuk mencari tahu alasan yang sebenarnya, kenapa Gabriela begitu berharga di mata Daddy Harry padahal Maya yakin ayah kandungnya itu belum mengenal siap Gabriela.
__ADS_1