Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Nasehat Sahabat


__ADS_3

“Awas kamu bikin menantu Mama kabur lagi ! Aneh-aneh aja kelakuanmu, bikin isu Gaby lagi hamil segala,” pesan Mama Hani saat Jonathan mengantarnya ke bandara.


Siang tadi teman satu kos Jenny menghubungi Mama, mengabarkan kalau Jenny sakit dan perlu dirawat di rumah sakit. Semula Jonathan ingin menemani, tapi Mama menolak dan meminta putranya fokus dengan istrinya yang sedang ngambek.


”Mama beneran nggak perlu aku temani ?”


“Sudah ada Tante Ratih yang akan menemani Mama di sana, lagipula penyakit Jenny sudah jelas, positif demam berdarah jadi Mama tahu bagaimana mengurusnya.”


“Hati-hati Tante,” ujar Kendra yang ikut menemani.


Mama mengangguk sambil tersenyum sambil melambaikan tangan masuk ke area penumpang. Setelah Mama tidak terlihat, kedua pria itu kembali ke parkiran untuk lanjut ke kantor.


“Masih diblokir sama Gaby ?” ledek Kendra saat melihat wajah Jonathan masih kesal menatap handphonenya.


“Masih,” sahut Jonathan dengan wajah sedih. Bukannya kasihan Kendra malah menertawakan dahabatnya.


“Makanya dipikir dulu sebelum bertindak. Gue ngerti perasaan Gaby, pasti satu sekolah heboh karena mengira kalau teman mereka sedang hamil.”


“Setidaknya gosip soal perceraian kita berdua mereda dan Marsha nggak bisa lagi teror Gaby.”


“Tapi elo nggak dengar cerita nyokap kalau sekarang Gaby sering diledekin, diperlakukan seperti ibu hamil ?” ujar Kendra sambil tertawa.


“Alamat susah diajak tidur sekamar lagi deh,” keluh Jonathan dengan wajah lesu bersandar pada pintu penumpang depan.


“Udah gue bilang kasih obat tidur atau obat perangsang. Kalau udah kejadian, mana bisa Gaby bersikeras jauh-jauh dari elo apalagi meneruskan proses cerai kalian.”


“Gimana kalau gara-gara obat laknat hubungan gue sama dia makin parah ? Elo mau tanggungjawab ?”


“Tanggungjawab kawinin Gaby ? Boleh lah, tapi kalau sampai dia hamil, anaknya buat elo, Gaby buat gue,” sahut Kendra sambil terkekeh.


“Dasar sahabat gila !” dengus Jonathan sambil mencebik sedangkan Kendra malah semakin tergelak.


Pembicaraan terputus saat handphone Kendra berbunyi. Jonathan pun kembali mencoba mengirim pesan dan menghubugi Gaby beberapa kali.

__ADS_1


“Siapa ?” tanya Jonathan saat Kendra mengakhiri pembicaraannya.


“Dari Pak Irwan, polisi yang menangani kebakaran gudang. Hasil penilitian di lapangan, ada sisa bensin di satu area yang menurut damkar sumber api pertama dan letaknya sekitar 5 meter dari tempat ditemukannya puntung rokok.”


“Sampai pelakunya tertangkap maka kita tidak punya bukti kalau Leo atau Martin yang menjadi dalangnya.”


“Bukannya Om Harry udah bilang sama elo kalau beliau nggak akan segan menyerahkan salah satunya pada polisi kalau memang mereka mengakui menjadi otak pelaku pembakaran ?”


“Iya tapi gue yakin Om Harry nggak akan begitu saja nyerahin anak tiri atau calon menantunya. Mana mungkin beliau mau cucunya lahir tanpa bapak ?”


“Elo mau dengar gosip yang gue dapat ?”


“Haiiss gosip apaan lagi ?”


“Ada kemungkinan anak yang dikandung Maya bukan benihnya Leo, itu sebabnya Maya sering stress terus marah-marah secara tiba-tiba.”


“Jangan kepo-in hidup orang. Masa iya Maya ngaku hamil anaknya Leo tapi benihnya dari orang lain.”


“Jangan meniup api gosip hingga makin membesar. Elo bakalan menyesal kalau faktanya Maya nggak begitu.” Kendra malah tersenyum sinis mendengar ucapan Jonathan.


“Nggak aneh Gaby mau melanjutkan proses perceraian kalian. Mendengar ucapan elo, kenapa gue merasa kalau elo masih punya rasa sama Maya ?”


“Jangan ngawur !”


Kendra malas meneruskan percakapan mereka dan memilih fokus ke jalan sambil mendengarkan musik menembus jalanan Jakarta yang macet di beberspa lokasi.


***


“Kenapa ? Masih kesal ? Elo itu aneh, ditinggal berdua sama suami malah kesal bukannya bahagia,” ledek Mimi sambil terkekeh.


Keduanya baru saja selesai makan siang di food court yang ada di salah satu mal. Sekolah hanya sampai jam 10 pagi dan begitu membaca pesan dari mama, Gaby langsung mengajak Mimi pergi, malas langsung pulang ke rumah.


“Elo tahu kan gimana kondisi gue sama Pak Nathan ?” sahut Gaby ketus dengan wajah ditekuk.

__ADS_1


Mimi tertawa dan menggelengkan kepalanya. Sahabat satu ini memang keras kepala, pengalaman hidupnya yang getir sejak punya ibu dan kakak tiri membuat Gaby sering mengeraskan hatinya untuk bisa bertahan hidup.


“Gue mau tanya sama elo dan tolong jawab sejujur-jujurnya.”


“Soal MP lagi ?” gerutu Gaby.


“Soal perasaan elo sama Pak Nathan. Coba pastikan gimana perasaan elo, Gab. Semua bisa melihat kalau cinta Pak Nathan nggak main-main dan jujur kita berlima melihat kalau elo juga cinta sama Pak Nathan. Tujuan sandiwaranya demi elo dan perusahaan sudah selesai begitu tujuannya tercapai.”


“Gugatan cerai gue udah batal juga dan gue nggak ngotot untuk melanjutkannya.”


“Iya tapi elo masih keras kepala ingin memberikan pelajaran sama Pak Nathan. Mau sampai kapan ? Elo paham arti lelah dan jenuh kan ? Gimana kalau nanti Pak Nathan berada dalam kondisi begitu dan penyesalan elo nggak ada gunanya.”


“Maksud lo Pak Nathan balik lagi sama Bu Maya ?”


“Kenapa elo fokus hanya sama Bu Maya ? Dia udah hamil dan sebentar lagi mungkin akan menikah dengan cowok yang menghamilinya dan gue yakin bokapnya nggak akan membiarkan dia mendekati Pak Nathan lagi. Di luar sana masih banyak cewek cakep yang nggak keberatan terima Pak Nathan sebagai duren atau malah jadi istri kedua, ketiga dan keempatnya. Elo rela kalau Pak Nathan akhirnya menyerah dan mencari jalan lain ?”


Gaby terdiam, mengaduk es bobanya yang masih sisa setengah.


“Satu hal yang perlu elo pahami kalau umur


Pak Nathan udah masuk kategori dewasa, usia produktif. Elo istrinya, Gab, wajib menjalankan tugas elo sebagai istri dalam berbagai aspek termasuk melayani suami lahir dan batin. Tapi balik lagi, elo mau menerima fakta kalau elo juga cinta sama Pak Nathan atau nggak. Kalau memang tekad elo mau pisah, terusin lagi gugatan cerai itu dengan cara apapun.”


Gaby menghela nafas dengan tatapan ke arah gelas bobanya. Mimi juga ikut diam, memberikan waktu Gaby untuk berpikir.


“Terus gue harus gimana ? Bilkin malu aja kalau mendadak malam ini gue tidur sekamar pakai lingerie gitu,” gerutu Gaby dengan bibir mengerucut.


“Dasar oon,” cibir Gaby sambil tertawa. “Nggak begitu juga. Mulai dari yang paling sederhana, buka tuh blokiran, jangan sampai Pak Nathan kirim kata-kata cinta buat orang lain. Nanti malam kalau diajak tidur bareng lagi jangan langsung mau tapi jangan galak apalagi kasar, buat kesan akhirnya elo luluh dengan bujuk rayunya.”


Gaby menghela nafas dan menatap Mimi yang mengangguk- angguk sambil tersenyum. Gaby pun meraih handphonenya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menekan tombol unblocked di nomor Jonathan.


“Jangan lupa nanti malam jadi kucing betina yang malu-malu meong,” ledek Mimi di sela tawanya.


Gaby menjulurkan lidahnya dengan wajah cemberut, tapi ucapan Mimi sungguh mengganggu pikiran dan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2