
“Awas aja kalau masalahnya nggak penting !” gerutu Kendra saat menemui Mimi di salah satu cafe dekat kantornya.
Sudah 3 hari ini Mimi bolak balik menghubunginya lewat pesan dan panggilan telepon hingga akhirnya Kendra menyerah dan meluangkan waktu makan siangnya untuk bertemu Mimi.
“Apa Pak Nathan masih berhubungan sama Kak Kendra ?”
“Kakak ? Sejak kapan kita begitu dekat sampai kamu panggil saya kakak ?”
“Ya ampun kepeleset dikit. Iya diralat, Pak Kendra.”
“Kenapa nanya-nanya Nathan ? Kamu disuruh sama Gaby ?”
“Nggak ! Malah saya mau cari bocoran apa ada sesuatu yang terjadi antara Gaby sama Pak Nathan ? Sudah hampir 2 bulan ini Gaby jadi orang yang berbeda lagi. Sebelumnya jadi orang yang galak, keras hati dan susah dibilangin, sekarang jadi cewek yang pendiam dan tertutup bahkan jarang senyum. Bukan cuma saya yang bingung, teman-teman yang lain juga karena Gaby sudah jarang aktif di grup wa dan menghindari keramaian. Danu dan Joni sempat ngajak ketemuan saat liburan nanti tapi Gaby diam aja.”
“Terus kenapa kamu bisa kepikiran kalau ini semua ada hubungannya sama Nathan ?”
“Cuma Pak Nathan yang bisa membuat Gaby jadi pribadi yang berbeda-beda gitu. Saya yakin Pak Kendra juga tahu kalau sebenarnya mereka masih saling cinta tapi Pak Nathan kurang agresif untuk mendapatkan kembali cinta Gaby. Saya dan Raina sempat berpikir, jangan-jangan Gaby melihat Pak Nathan sudah punya kekasih baru lagi makanya dia berubah jadi cewek melow.”
“Sotoy banget sih !” cibir Kendra. “Saya nggak tahu apapun soal mereka. Pusing ! Terakhir saya ketemu Nathan sebulan yang lalu dan sekarang dia sibuk dengan urusan semesterannya. Kalian langsung datengin aja pas liburan nanti. Saya juga sibuk menjelang akhir tahun jadi jangan kepoin saya soal Nathan dan Gaby lagi.”
“Tapi cuma Pak Kendra yang bisa bantu,” Mimi mengerjapkan matanya dan memasang wajah memelas sambil tersenyum manis.
“Nggak pengaruh ?”
“Beneran ? Katanya mau punya pacar bahkan istri semuda Gaby tapi baru ngadepin saya aja Bapak udah nggak kuat.”
“Memangnya ada calon yang memenuhi kriteria saya ?”
“Kenapa harus cari yang jauh kalau di depan Pak Kendra sudah ada gadis manis yang memenuhi kriteria yang bapak buat ?”
“Nggak aneh kalau Gaby suka berubah-ubah kepribadiannya, kamu yakin penyebabnya Nathan bukan kalian ?” Kendra mengernyit sambil geleng-geleng kepala.
“Hati-hati, Pak Kendra. Muka bapak persis dengan reaksi Pak Nathan saat tahu dijodohkan sama Gaby dan akhirnya malah jatuh cinta dan tergila-gila sama Gaby. Biasanya sahabat suka saling menularkan, jangan-jangan Pak Kendra akan berprilaku yang sama dengan saya.”
“Gadis aneh !” Kendra mencebik dan beranjak dari kursinya.
“Eh Bapak mau kemana ? Pembahasan Gaby dan Pak Nathan belum selesai,” Mimi menahan lengan Kendra yang langsung melotot.
“Tadi sudah saya kasih solusinya. Kalian temui langsung Pak Nathan pas liburan sekolah. Saya benar-benar sibuk menjelang akhir tahun lagian capek saya ngurusin masalah mereka berdua yang nggak beres-beres. Saya harus balik kantor dan jangan rempongin saya soal Nathan dan Gaby lagi.”
Mimi menghela nafas sambil cemberut saat Kendra meninggalkanny begitu saja.
****
__ADS_1
“Elo dimana ?”
Gaby mengerutkan dahi saat Danu tiba-tiba saja meneleponnya. Sudah lama mereka hanya berkomunikasi lewat wa atau video call di grup, tidak pernah lagi menghubungi Gaby secara pribadi.
“Baru sampai kantor, kenapa Nu ?”
“Tolong buka blokiran Kak Kendra, ada hal penting yang mau dia sampaikan.”
“Paling soal Pak Nathan. Kenapa harus suruh orang segala sih ?” gerutu Gaby.
“Elo buka sekarang atau nyesal selamanya !” tegas Danu.
“Dasar ketua kelas diktator, udah nggak menjabat masih aja ngatur mantan anggota kelasnya.”
“Masih mau….”
“Iya.. iya Danu, gue buka blokirannya sekarang. Elo sama Joni…”
Gaby langsung mengomel karena Danu menutup panggilannya tanpa menunggu kalimat Gaby selesai. Baru saja tangan Gaby menekan tulisan unblocked, panggilan Kendra langsung masuk ke handphonenya.
“Ada apa Kak Kendra ?”
“Nathan kecelakaan di dekat sekolahnya. Aku nggak tahu kamu mau besuk atau nggak, tapi sudah jadi kewajibanku untuk memberitahumu sebagai mantan istrinya.”
Kendra langsung tersenyum lebar di tempatnya. Ternyata Gaby masih bisa panik juga saat mendengar kabar buruk soal Jonathan.
Kendra langsung menyebutkan nama satu rumah sakit di kawasan Tangerang.
“Maaf aku nggak bisa ke sana sekarang, mungkin agak sorean aku nyusul.”
“Nggak apa-apa. Nanti saya kabarin Kak Kendra.”
Gaby langsung menutup panggilannya dan kembali ke parkiran mobil sambil mengabarkan Dian, sekretarisnya kalau hari ini ia batal datang ke kantor.
Tanpa pikir dua kali, Gaby langsung memacu mobilnya membelah jalan Jakarta yang belum terlalu padat menggunakan aplikasi penunjuk arah yang ada di handphonenya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga hanya butuh waktu 30 menit, mobilnya sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Gaby mengatur nafasnya sejenak, memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia menyesal tidak menanyakan lebih detil kejadian yang menimpa Jonathan dan bagaimana keadaan pria itu.
Usai menenangkan diri akhirnya Gaby turun dan langsung menuju UGD, menanyakan langsung korban kecelakaan dan sedikit bingung saat perawat menanyakan lokasi kecelakaan.
“Hanya ada 1 korban kecelakaan, ada di bilik nomor 6,” ujar seorang perawat lain dari dalam ruang UGD.
“Anda siapanya ?” tanya perawat yang bertugas di depan.
__ADS_1
“Saya istrinya.”
Perawat itu mengerutkan dahi dan menelisik Gaby dari ujung rambut sampai ke ujung Gaby. Tidak aneh, Gaby sudah terbiasa diperlakukan seperti itu karena tubuhnya yang mungil, banyak orang tidak percaya kalai dirinya sudah menikah.
“Silakan anda ke brankar nomor 6.”
Gaby mengangguk dan langkahnya sedikit gemetar saat melangkah menuju bilik 6 yang letaknya paling ujung, dekat pintu lain yang langsung tersambung dengan bagian dalam rumah sakit.
Tangannya gemetar dan jantungnya kembali berdebar saat menyibak tirai penutup perlahan-lahan. Seluruh tulang-tulangnya langsung lemas seolah tidak sanggup menopang tubuhnya saat melihat kain putih menutupi seluruh tubuh yang terbaring di atas brankar.
“Mas Nathan,” lirih Gaby dengan suara bergetar. Ari mata mulai mengalir di kedua pipinya.
Dengan mengerahkan seluruh keberanian, Gaby menedekat dan memeluk tubuh itu tanpa berani membukanya.
“Mas Nathan bangun ! Kenapa Mas Nathan tinggalin Gaby dengan cara seperti ini ? Mas Nathan tega banget nggak sempat bicara sama Gaby sebelum pergi padahal hampir 2 bulan blokirannya udah Gaby buka lagi. Mas Nathan….”
“Gaby !”
Gaby menghentikan isaknya dan memasang telinganya baik-baik, berharap semoga bukan halusinasi.
“Gabriela !”
Gaby melepaskan pelukan dari sosok berselimut putih itu dan perlahan memutar tubuhnya. Matanya langsung membola saat melihat sosok Jonathan duduk di kursi roda. Meski tangannya terbalut gips tapi tubuh lainnya baik-baik saja dan yang penting MASIH HIDUP !
“Kamu nangisin siapa ?”
“Ibu mau lihat wajah suami Ibu ?” perawat yang memberitahu posisi korban kecelakaan itu mendekati Gaby dan bersiap membuka kain putih yang menutupi sosok di atas brankar.
“Suami ?” tanya Jonathan sambil mengerutkan dahi.
“Eh nggak usah Suster. Suami saya masih hidup, itu suami saya bukan yang ini.”
Gaby hanya menunjuk dengan tangannya tanpa berani membalikkan badannya.
“Tadi kan ibu tanya korban kecelakaan dan hanya bapak yang terakhir masuk sebagai pasien korban kecelakaan.”
Jonathan menutup mulutnya yang tidak bisa menahan tawa. Ia yakin kalau Gaby adalah korban keisengan Kendra tapi di sisi lain Jonathan bahagia karena Gaby datang menemuinya.
“Teman saya salah kasih info, Sus. Istri saya tahunya saya korban kecelakaan tapi bukan kecelakaan di jalan raya. Maaf sudah merepotkan, Sus.”
Jonathan beranjak dari kursi roda dan menarik lengan Gaby keluar dari UGD ke area dalam rumah sakit.
Gaby menunduk karena malu. Salahnya tidak membuka dulu kain penutupnya karena selain takut, Gaby tidak sanggup menerima kenyataan kalau yang terbaring di sana adalah Jonathan.
__ADS_1
“Dia siapa ?” tanya Gaby tiba-tiba dengan wajah cemberut membuat Jonathan mengernyit dan menoleh ke belakang.