Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Fakta yang Menyakitkan


__ADS_3

“Daddy kemana, Mom ?” tanya Martin saat tiba di rumah sakit menyusul mommy dan Maya.


“Mommy juga nggak tahu, daddy nggak ada di apartemennya. Leo sudah tahu soal Gavra ?” Martin hanya mengangguk.


Maya baru saja keluar dari ruang PICU, matanya agak sembab seperti habis menangis tapi baik mommy atau Martin tidak menanyakan penyebabnya.


“Kak Martin tahu dimana Leo ?” Martin diam saja.


“Kak, tolong ijinkan aku bertemu Leo atau minimal minta Leo membuka blokiran nomorku, aku ingin bicara dengannya.”


“Untuk apa ? Menyuruhnya pulang karena anakmu sedang sakit ? Dia bukan lagi asistenku karena statusnya narapidana yang masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya 3 tahun lagi demi seorang perempuan yang bahkan tidak menghargainya sebagai suami.”


“Martin,” tegur mommy.


“Aku hanya bicara fakta, Mom. Keputusan Leo sudah bulat, dia akan menceraikan Maya dan kembali ke penjara menjadi tahanan biasa. Tidak ada lagi yang perlu ia perjuangkan kecuali hidupnya sendiri. Dia muak menghadapi Maya, Mom. Sangat menggelikan karena kamu tidak mau mengakui Gavra sebagai darah dagingmu padahal selama 9 bulan dia bersemayam di rahimmu.”


Maya hanya diam, tidak membantah atau melawan ucapan Martin yang sedikit sarkas dan sinis. Perasaannya kacau namun Maya tidak memberitahu kalau tadi untuk pertama kalinya ia memberikan ASI untuk putranya. Awalnya terasa aneh tapi saat jemari mungil itu bergerak menyentuh kulit Maya, ada kehangatan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.


“Mommy pulang saja dengan Kak Martin, aku akan menunggu Gavra di sini. Kalau boleh tolong bawakan aku pakaian ganti dan peralatan mandi saat mommy kembali kemari.”


Martin dan mommy Anita sama-sama terkejut mendengar ucapan Maya hingga keduanya menatap perempuan itu dengan alis menaut.


***


Leo menatap sendu foto-foto dirinya dengan Maya yang tersimpan di dalam galery handphone.


Setelah Martin pergi, ia pun memutuskan kembali ke rumah kontrakan untuk berisitrahat.


Hatinya belum tergerak untuk menanyakan kondisi Maya padahal secara status mereka masih menjadi suami istri yang sah. Leo sudah menyerahkan semuanya pada keluarga Maya tapi menurut Martin, daddy Harry masih belum memprosesnya.


Tangan Leo masih anteng menggeser koleksi fotonya bahkan ia punya foto Maya yang masih mengenakan seragam putih biru. Masih terlihat polos dan menggemaskan tapi sejak kecil Maya memang sangat dimanja oleh seluruh keluarganya termasuk Leo sendiri.


Tumbuh dengan kelimpahan cinta yang berlebih membuat hidup Maya hampir tidak pernah bersentuhan dengan kata susah, tidak mungkin dan kurang peduli dengan sekitarnya. Selalu ada kambing hitam untuk menutupi kesalahannya dan Leo lah yang bertugas untuk membereskan semua itu.


Leo meletakkan handphonenya di nakas. Godaan untuk membuka blokiran nomor Maya semakin kuat karena dalam hati kecilnya Leo sangat-sangat mencintai Maya. Mendengar istrinya sedang kesulitan rasanya kaki Leo sudah gatal ingin berlari menemui dan menemani melewati semuanya.


“Halo,” Leo mengangkat panggilan dari nomor Martin.


“Halo, Tin, ada apa ?”

__ADS_1


Leo menautkan alisnya saat melihat layar handphonenya. Panggilan Martin masih tersambung namun tidak ada suara yang menjawab pertanyaan Leo, hanya terdengar helaan nafas.


“Tin, ada apa ? Halo ? Halo Martin.”


Leo memutuskan sambungan telepon Martin karena berpikir sinyal salah satu dari mereka kurang bagus. Tangannya sudah siap menekan nomor Martin namun batal, perasaannya berkata lain. Hembusan nafas tadi terdengar dengan baik, artinya tidak ada ganggapan dari Martin bukan karena gangguan sinyal tapi siapapun yang menghubunginya lewat handphone Martin tidak ingin Leo mendengar suaranya.


*****


Jam 9 pagi daddy Harry baru terbangun dan langsung memeriksa handphonenya, membaca sejumlah pesan yang dikirim mommy Anita, Maya dan yang terakhir dari Martin.


Daddy Harry menghela nafas dan beranjak dari tempat tidur menuju dapur, menikmati secangkir kopi pahit. Rasanya masih ingin memberi pelajaran pada Maya namun hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau daddy Harry sedikit khawatir dengan keadaan cucunya.


Akhirnya dua jam kemudian, daddy Harry sudah berada di kamar rawat inap Gavra. Bayi itu sudah diijinkan keluar dari PICU.


“Terima kasih sudah mau datang,” ujar mommy Anita dengan canggung.


“Maya anak kandungku berarti Gavra adalah cucuku juga. Tidak usah berlebihan seperti itu.”


Mommy Anita tersenyum getir mendengar jawaban ketus dari daddy Harry. Tidak lama Maya yang baru saja kembali dari sarapan terlihat bahagia saat melihat daddy Harry ada di ruangan.


“Aku kangen banget, Dad.”


“Bagaimana keadaan anakmu ?”


“Semakin baik, Dad. Gangguan pencernaan.”


Maya tersenyum getir saat melihat wajah daddy biasa saja bahkan tidak ada senyuman di wajah itu.


“Lalu bagaimana selanjutnya ?”


Maya melerai pelukannya dan menatap daddy dengan alis menaut.


“Maksud Daddy ?”


“Kalau memang kamu menolak kehadiran Gavra bahkan tidak mau mengakuinya sebagai darah dagingmu, Daddy akan mencari orangtua angkat untuknya.”


“Mas !” mommy Anita sangat terkejut mendengar ucapan suaminya.


“Daripada Gavra tumbuh tanpa cinta dan hanya akan menjadikan dia manusia penuh luka lebih baik kalau Gavra diberikan pada orang yang bisa memberinya perhatian dan cinta layaknya orangtua.”

__ADS_1


“Dad.”


Maya sama terkejutnya hingga sulit berkata-kata menanggapi pilihan yang diberikan oleh daddy Harry, orang yang sangat memanjakannya selama ini dan belum pernah bilang tidak saat Maya meminta sesuatu.


“Rasanya sulit memaafkan diri daddy karena sudah salah mendidikmu. Semula Daddy berharap kehadiran Gavra bisa membuatmu berubah tapi sifaf egoismu malah bertambah parah bahkan kamu membiarkan Leo pergi dari sisimu.”


“Dad, maafkan aku,” lirih Maya dengan air mata yang mulai menetes dari kedua sudut matanya.


“Tidak ada gunanya minta maaf tanpa perubahan sikap. Beritahu Daddy kalau kamu sudah mengambil keputusan.”


Daddy Harry menghampiri tempat tidur Gavra dan mengusap kepala bayi itu dengan perasaan yang campur aduk. Bayi tidak berdosa itu sedang tertidur pulas dan sempat menggeliat sebentar saat tangan daddy Harry mengusap pipinya.


“Mas Harry !”


Anita memanggil suaminya yang baru saja keluar kamar. Harry pun berhenti karena tangan Anita menahan lengannya.


“Kenapa Mas Harry mengambil keputusan seperti itu ? Kita bisa membesarkannya kalau Maya tidak bersedia merawat Gavra.”


“Dan akhirnya kita membuat Gavra terluka saat Maya menikah lagi, punya anak dan melupakannya. Itu yang kamu inginkan ? Anak itu masih mengeraskan hati dan sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama kalau mempertahankan Gavra dalam keluarga.”


“Bukankah Mas Harry bilang dia cucu kita juga ? Aku tidak rela menyerahkan cucuku sendiri pada orang lain.”


“Tidak ada tawar menawar lagi, kali ini aku yang menentukan dan mengambil keputusan untuk Maya. Aku tidak ingin dia menjadi perempuan sepertimu.”


“Apa maksud Mas Harry.”


Harry mengusap wajahnya lalu tersenyum dengan sinis, menatap Anita yang menautkan alisnya.


“Hampir 25 tahun aku hidup dalam perasaan bersalah pada Anna. Kamu tahu kenapa ? Bukan karena aku masih mengharapkan Anna hidup kembali tapi karena perbuatanmu. Jangan pikir aku tidak tahu kalau ayahmu sudah membuat kekacauan di perusahaan Anna dan kebencianmu itu sudah membunuh Anna !”


“Semua itu tidak ada hubungannya dengan Maya !”


“Tentu saja ada !” bentak Harry. “Aku tahu kalau kamulah menyuruh orang untuk membuat rem mobil Anna kendur. Kamu hanya ingin memberinya pelajaran dan sedikit kecelakaan kecil, tapi siapa yang sangka kalau niatmu itu berakibat fatal. Tidak ada bukti yang mengarah padamu tapi aku kenal betul dengan orang-orang bayaranmu.”


Mata Anita membola, tidak menyangka dengan semua fakta yang diungkap oleh Harry.


“Kalau kamu bukan ibu kandungnya Maya, sudah lama aku mencari bukti yang bisa membuatmu masuk penjara. Sekarang kamu tahu alasan kenapa aku tidak pernah bisa menjadi suami untuk perempuan iblis sepertimu. Aku sangat menyesal pernah melakukan hal yang sama seperti papa, membalaskan sakit hati putriku tanpa mencari tahu akar permasalahannya. Anna tidak pernah berusaha mengambilku darimu Anita, tapi ketakutanmu sendiri yang membuat pikiran itu terus menghantui hidupmu.”


Anita terdiam dengan wajah menunduk, tangannya sudah dihempaskan dengan kasar oleh suaminya. Harry pun meneruskan langkahnya, tidak peduli dengan istrinya yang masih menangis di depan pintu kamar

__ADS_1


__ADS_2