Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Serba Emosi


__ADS_3

Seperti biasa di hari Senin pagi-pagi sekali Gaby sudah pergi ke sekolah selesai menyiapkan sarapan. Jonathan masih di kamar mandi saat gadis itu pamit untuk berangkat ke sekolah padahal sejak hubungan mereka membaik, Gaby selalu menunggu Jonathan selesai mandi dan membantunya mengancingkan kemeja.


“Sekarang kamu paham kenapa Mama tidak terlalu suka pada Maya kan ? Sikapnya tidak benar-benar tulus, perempuan penuh drama. Dan mama tidak suka dengan kehidupannya yang terlalu bebas.”


Wajah mama Hani terlihat kesal dan sedikit ketus pada Jonathan sejak putranya berceri


“Maksud Mama ?”


“Tidak perlu dibahas lagi, yang penting kamu harus fokus pada istrimu, jangan memberi harapan palsu padanya. Gaby sudah tidak punya siapa-siapa lagi, jadi kalau sampai kamu berani menyakitinya, Mama yang akan memberimu pelajaran dan membawa Gaby menjauh darimu.”


“Kenapa Mama…” Jonathan mencoba mengajak mama Hani bercanda namun ibunya itu tidak memperihatkan tanda-tanda bisa diajak bergurau.


“Jangan lupa diri, Jonathan. Semua yang kamu terima belakangan ini karena kamu adalah suami Gaby bukan karena kehebatan dirimu sendiri.”


“Maksud Mama aku akan memanfaatkan kondisiku untuk mendapatkan Maya kembali ?” tanya Jonathan dengan nada kesal.


“Siapa tahu kamu tergoda. Sebagai orangtua, sudah kewajiban Mama untuk mengingatkanmu.”


Jonathan menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan emosinya.


“Aku pergi dulu, Ma.” Jonathan tersenyum dan mencium pipi mama Hani seperti biasanya.


****


“Kenapa lagi ?” tanya Mimi yang kembali duduk di sebelah Gaby.


Sejak Pak Anjasmoro ditugaskan menjadi wali kelas XII IPA-2, masalah aturan tempat duduk kembali diberi kebebasan.


“Masih ingat cerita soal sepupu ?”


Mimi mengerutkan sambil mengetuk-ngetuk dagunya lalu mengangguk.


“Kejadian di rumah sakit waktu Mister bilang elo sepupunya dia ?”


“Hmmm.. dan Sabtu lalu kita berdua ketemu sama mamanya Bu Maya.”


“Terus ?”


“Dia nampar gue di mal. Gue nggak nyalahin si tante sepenuhnya. Wajar dia kesal karena Pak Nathan sudah membohonginya, apalagi malam itu dia sudah merestui hubungan anaknya dengan Pak Nathan dan akan membujuk suaminya untuk memberikan restu juga.”

__ADS_1


Mimi langsung mengambil handphone dan sibuk menggerakan tangannya, membuat Gaby mengerutkan dahi.


“Kenapa ?”


“Jaman now, Sis, apa juga divideoin sama orang terus diposting deh di medsos. Elo tahu sendiri the power of nitizen.”


“Terus ?”


”Hais terus terus, kayak tukang parkir aja sih. Aman, nggak ada video tentang kejadian elo ditampar sama Mak Lampir, kalau sampai ditemukan, bisa- bisa elo mendadak jadi selebritis karbitan.”


“Kalau itu memang nggak bakalan elo ketemuin di medsos. Mas…eh maaf udah kebiasaan,” Gaby menutup mulutnya sambil tertawa.


“Kalau masalah itu, Pak Nathan langsung gercep minta tolong Om Sofian supaya nggak ada postingan yang bisa bikin heboh.”


“Kalau begitu, apalagi sih yang bikin elo melow ? Jangan bilang bawaan orok lagi ?” mata Mimi menyipit langsung menunduk ke arah perut Gaby.


“Dasar cewek jablai, belum pernah pacaran sok tahu bawaan orok segala,” cebik Gaby sambil tertawa.


“Jadi masih belum itu itu ?”


“Parah ! Mau tahu aja rahasia dapur orang.”


Gaby tertawa sambil merapikan bekas bungkus roti dan minuman yang ada di atas mejanya. Jam istirahat pertama akan berakhir dan beberapa teman mereka sudah kembali ke kelas.


“Kaget dan sedih. Firasat gue mengatakan kalau Pak Nathan belum benar-benar cinta sama gue. Perasaannya muncul karena terlalu sering ketemu gue jadi akhirnya terbiasa dan nggak mau melepas kebiasaannya doang.”


“Jangam nethink sama suami sendiri !” Mimi menoyor pelipis sahabatnya.


“Kalau gue lihat dari cara dia menatap elo di kelas, gue yakin Mister memang ada rasa cinta sama elo. Kalau masalah kadang-kadang inget mantan, harap dimaklumi aja. Kan gue udah bilang kalau Mister itu termasuk cowok lempeng, susah move on kalau udah cinta sama satu cewek. Wajar kalau dia belum bisa menggantikan kenangan 3 tahun sama yang baru 8 bulan. Yang penting dia kagak mau deketan lagi sama mantan atau terus-terusan cerita soal mantan jadi susah buat ngelupainnya.


Bu Maya mungkin mantan terindah, tapi elo akan jadi masa depan yang terbaik.”


Mimi menautkan alisnya dan menatap Gaby sambil senyum-senyum.


“Kenapa ? Salah makan apa barusan ?” tanya Gaby ikutan menautkan alisnya.


“Nggak salah makan, cuma kenapa gue merasa mendadak jadi orang bijak ? Ucapan gue benar-benar patut diacungkan jempol.”


Gaby langsung tertawa dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Gue sih nggak tersentuh apalagi sampai mewek terharu dengar ucapan elo barusan. Perasaan elo aja yang terlalu halus, efek jablai kelamaan jadi ngomong lempeng sedikit langsung berasa keren. Sayang nggak ada yang mau memberi elo pujian.”


“Tega bener sama sahabat sendiri, puji yang bagusan sekali-kali demi menyenangkan hati gue pelit banget sih.”


“Harga sembako di pasar baru aja naik, bukannya pelit tapi harus irit. Kebanyakan obral pujian bisa habis tabungan di bank,” ledek Gaby sambil tertawa.


“Awas lo !” Mimi menggerutu karena tidak bisa membalas Gaby saat melihat Ibu Erma sudah berdiri di depan pintu.


***


“Jangan sampai kamu membawa berita sampah lagi,” ketus Maya saat Jihan masuk ke ruangannya.


Perasaannya masih kesal karena sepulang dari salon, kedua orangtuanya langsung mengomel panjang lebar dan mengeluarkan larangan malam mingguan. Padahal Maya sampai khusus ke salon demi ajakan clubbing teman-teman SMA-nya.


“Hari ini berita bagus, Bu,” sahut Jihan dengan senyuman lebar dan wajah berbinar.


Jihan langsung meletakkan tablet yang ada di tangannya ke hadapan Maya. Wanita itu langsung menggeser foto-foto yang terpampang di layar.


Hati Maya terbakar api cemburu saat melihat sikap Jonathan yang begitu manis pada Maya. Mulai dari acara makan di restoran ala western, berduaan di area bioskop


sampai acara gandengan tangan di mal.


“Kamu mau buat hati saya tambah kesal ? Buat apa pamerin kemesraan mereka ?”


Maya mendorong tablet itu menjauh dengan sedikit kasar, wajahnya tambah ditekuk karena benar-benar terbakar api cemburu.


“Mana mungkin saya mau buat hati ibu kesal, justru saya mau menghibur supaya ibu bisa gantian menertawakn anak ingusan itu. Saya akan minta teman saya untuk memposting foto-foto ini di grup sekolah sampai benar-benar heboh. Puncaknya mereka akan membuat Gaby susah berkutik saat melihat video ini.”


Jihan meletakkan handphonenya di dekat Maya yang langsung menekan layar handphonenya.


Dahinya yang semula berkerut perlahan normal kembali malah seringai licik langsung terlihat di wajahnya.


“Darimana kamu dapetin video ini ?”


“Teman saya yang lagi jalan-jalan di mal nggak sengaja melihat kejadian Bu Anita bertemu dengan Gaby dan Pak Nathan. Niatnya ingin menjadi saksi kalau masalah itu sampai berlanjut namun Pak Nathan malah pergi dan tidak memperpanjang urusannya dengan Bu Anita. Saat di rumah, teman saya baru memperhatikan kalau perempuan yang ditampar adalah adik tiri saya makanya dia langsung kirim videonya ke saya untuk konfirmasi.”


“Kamu bilang iya kalau perempuan itu beneran adik tiri kamu ?” Jihan mengangguk dengan senyuman liciknya.


“Kalau begitu kamu atur aja gimana caranya buat dia tambah malu setelah ditampar sama mommy, kalau perlu buat dia sampai dikeluarkan dari sekolah,” perintah Maya dengan senyumam sinis.

__ADS_1


“Beres Bu, teman saya ini juga nggak suka sama si anak ingusan jadi saya serahkan aja sama dia buat aturin semuanya.”


Maya tersenyum puas begitu juga dengan Jihan yang sudah memikirkan segalanya demi menjatuhkan Gaby dan membuat gadis sombong itu menanggung malu dan menjalani mimpi buruk sepanjang sisa waktunya di SMA.


__ADS_2