
“Besok pagi aku jemput dan nggak boleh nolak !”
“Heran, maksa banget sih. Nggak usah rempong deh ! Ojol hanya sebatas jempol, gue nggak suka ngerepotin orang, apalagi cowok yang berharap gue jadi janda,” omel Gaby dengan wajah ketus.
“Kan bukan pebinor,” protes Mario.
“Haiiss ribet ngomong sama elo ! Btw, thankyou buat oleh-olehnya.”
“Jadi ini rumah mertua kamu ?”
“Iya.”
“Boleh kenalan dong sama suami kamu.”
“Nggak usah, nanti dia merasa minder karena elo lebih muda, nggak kalah tampan dan anak orang kaya,” tolak Gaby sambil tertawa.
“Tega banget sama suami sendiri. Jadi akhirnya mengakui nih kalau aku tampan ?” Mario memegang dagunya dan memasang wajah sombong.
“Bukan tega, tapi fakta. Gue turun dulu. Thankyou buat hari ini.” Gaby langsung turun dari mobil dan memukul pintu mobil, menyuruh Mario jalan.
“Sampai besok pagi,” ujar Mario sebelum melajukan mobilnya.
Gaby hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya. Susah berdebat dengan Mario yang gigih dan keras kepala.
“Jangan kesiangan !”
“Siap calon janda,” ledek Mario sambil tertawa.
Gaby mengepalkan tangannya di udara dan menyuruh Mario segera pergi. Baru sampai di gerbang, mobil Jonathan berhenti di depan rumah.
Tanpa menoleh, Gaby membukakan pintu untuk Jonathan dan langsung masuk, tidak berminat untuk menutup gerbang kembali.
“Mama !” Gaby langsung menghampiri Mama yang sedang menonton televisi.
“Apa itu ?” tanya mama saat Gaby memperlihatkan 2 kantong belanjaan pada mama.
“Sogokan dari temanku buat mama karena sudah mengijinkan aku diculik sejak pulang sekolah.”
“Tampan ?”
“Maksud Mama ?”
“Teman kamu tampan ?”
“Sedikit lebih tampan dibandingkan waktu sekolah dulu. Sepertinya cowok itu tambah berumur tambah tampan.”
“Mantan pacar kamu ?”
“Bukan, Ma. Aku nggak pernah punya pacar, Mas Nathan ini yang pertama,” sahut Gaby dengan nada agak sedih meski ia berusaha tersenyum.
“Mantan penggemar kalau begitu,” ledek Mama untuk menghalau kesedihan menantunya.
“Kira-kira begitu. Aku bawa ini ke dapur, Ma. Bisa untuk menu besok.”
Mama mengangguk. Tidak lama Jonathan masuk dan sesudah menyapa mama, ia pergi ke dapur lalu menarik kursi meja makan.
__ADS_1
“Saya belum makan malam.”
Gaby seolah menulikan pendengarannya dan melanjutkan kesibukannya memasukkan makanan ke dalam kulkas.
“Saya belum makan malam.” Jonathan mengulangi ucapannya dengan nada lebih keras.
“Bapak ngomong sama saya ?” dengan wajah pura-pura bodoh, Gaby menatap Jonathan sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Memangnya ada orang lain selain kamu dan mama di rumah ini ?”
Gaby hanya diam, membuka tudung saji lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan peralatan makan dan mengambilkan air putih untuk suaminya. Selesai dengan tugasnya, Gaby berniat meninggalkan Jonathan sendiran di meja makan.
“Saya lagi mau makan, kenapa nggak kamu temani ?”
“Bapak bukan anak kecil yang harus disuapin, kan ? Semuanya sudah saya siapkan, jadi silakan Bapak menikmati makan malam dengan tenang.”
“Tapi saya ini….”
Gaby hanya menoleh sekilas dan benar-benar meninggalkan Jonathan sendirian.
Mau bilang kalau kamu suamiku ? Jangan suka memberi harapan palsu karena semua itu hanya akan menyakiti hatiku, batin Gaby.
“Saya mau bicara.”
Gaby terkejut saat mendapati Jonathan sedang berdiri di depan pintu kamar mandi saat ia baru saja selesai mandi.
“Saya mau mengerjakan PR, besok harus dikumpul,” tolak Gaby.
“Kerjakan di kamar saya, nggak boleh di kamar Jenny !”
Jonathan tidak menanggapi ucapan Gaby, kakinya menahan pintu saat Gaby berniat menutupnya.
”Cepat ambil buku PR kamu dan bawa ke kamar saya. Kerjakan selagi saya mandi dan harus selesai begitu saya selesai mandi.”
“Mana bisa begitu !” Gaby bertolak pinggang dan membalas tatapan tajam Jonathan.
“Nurut sama saya atau malam ini akan saya buat kamu menjadi istri yang sesungguhnya.”
“Ini bukan sekolah, jadi bapak nggak berhak untuk memperlakukan saya sebagai murid. Dan soal istri, bukannya bapak sendiri yang bilang kalau saya ini sepupu bapak ?”
Jonathan tidak menjawab. Ia malah mengambil tas dan buku pelajaran gadis itu, lalu dengan sedikit kasar, ditariknya lengan Gaby supaya keluar dari kamar Jenny.
Baru Gaby mau berteriak, ia teringat kalau mama masih menonton televisi di bawah. Gaby hanya bisa menghela nafas saat masuk ke dalam kamar Jonathan.
“Cepat bereskan PR kamu !”
Gaby kembali menghela nafas dan ia langsung menoleh sambil melotot saat mendengar bunyi kunci pintu dari luar.
Jonathan menguncinya di kamar supaya Gaby tidak bisa kabur lagi ke kamar Jenny. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengerjakan PR Bahasa Indonesia yang akan dikumpul besok. Sialnya, yang terbawa hanya buku cetak sedangkan buku PR-nya masih tertinggal di kamar.
Gaby hanya bisa pasrah. Ia duduk di lantai bersandarkan tepi ranjang dan menekuk kedua kakinya untuk sandaran kepala.
“Kenapa kamu malah di situ ?” suara Jonathan yang mirip bentakan membuat Gaby mendongak. Ia sempat tertidur sebentar dalam posisi duduk.
“Buku PR saya ketinggalan di kamar, tadi nggak kebawa sama Pak Nathan.”
__ADS_1
“Tunggu di sini, saya ambilkan. Awas kalau kamu berani kabur !”
Gaby hanya mengangguk pelan, matanya sudah mulai mengantuk. Begitu Jonathan kembali dengan setumpuk buku tulis, Gaby segera ke meja belajar yang ada di kamar itu dan mulai mengerjakan PR-nya.
“Bapak mau ngomong apa sama saya ? PR saya sudah selesai, saya juga siapkan tas untuk besok.”
Gaby masih duduk di kursi yang tadi dipakainya namun posisinya sudah terbalik, berhadapan dengan Jonathan yang duduk di tepi ranjang.
“Kenapa kamu pergi dengan cowok tadi ? Bukannya dia kekasih Jihan ? Kamu mencoba membalas dendam pada Jihan dengan merebut kekasihnya ?”
“Bapak dapat info darimana ?”
“Saya pernah melihat kamu dimarahi dan dikata-katai Jihan sebagai pelakor waktu mereka masih berstatus murid Dharma Bangsa.”
“Saya bukan pelakor, hubungan mereka sudah lama putus nyambung sejak kelas 11 dan alasan Mario memaksa saya untuk bicara karena dia mau minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa ?”
“Rahasia. Semua itu terjadi sebelum kita menikah, jadi saya masih punya hak untuk tidak memberitahu Bapak.”
“Dan sekarang saya melarang kamu bertemu apalagi pergi kencan dengannya !”
“Kenapa ? Apa urusan bapak mencampuri masalah pribadi saya ? Bukannya hubungan kita hanya sepupu ?”
“Ooo jadi kamu marah karena tersinggung soal pengakuan sepupu itu ?” Jonathan melirik Gaby dengan tatapan mengejek dan senyuman sinis.
“Saya tidak tersinggung tapi pengakuan dan pilihan bapak malam itu memberikan kepastian soal posisi saya dalam hidup Bapak. Semuanya jadi peringatan buat saya supaya jangan mudah baper apalagi berharap kalau sikap manis bapak adalah cinta, kelakuan bapak yang marah-marah seperti anak kecil ternyata bukan rasa cemburu seorang suami pada istrinya.
Saya benar-benar sadar kalau prinsip Bapak soal matahari terbit di barat adalah penegasan tentang sesuatu yang sudah pasti tidak mungkin terjadi, jadi sudah sepantasnya saya tidak menaruh harapan di hati bapak karena hubungan kita benar-benar sebatas perjanjian yang akan berakhir 3 tahun 8 bulan lagi.”
“Sekarang saya melarang kamu bukan sebagai suami tapi wali sah kamu. Apa kamu lupa kalau tujuan awal kita menikah adalah menjadikan saya wali kamu, kedudukan saya setara dengan orangtua karena saya memang pengganti mereka.”
Gaby membuang muka ke samping sambil tersenyum getir. Ternyata harapannya memang sebuah kesia-siaan.
“Maaf kalau saya lupa soal itu,” lirih Gaby.
“Saya hanya ingin mengingatkan supaya kamu berhenti berhubungan dengan Mario. Bukankah kelakuannya sudah seperti seorang pengecut karena membiarkan kamu diejek orang lain sebagai perebut pacar orang. Lagipula kesalahannya yang kamu bilang rahasia itu pasti bukan masalah sepele sampai kamu sulit memaafkannya.”
“Saya sudah memaafkannya tapi tidak mau berurusan lagi dengannya.”
“Tapi hari ini kamu mau aja diajak kencan sama dia kan ?” sindir Jonathan.
Gaby hanya diam dan matanya masih menghindari bertatapan dengan Jonathan.
”Saya tidak mau kamu disakiti orang lain hanya karena masalah cowok.”
Gaby menghela nafas dan memberanikan diri menatap Jonathan dengan mata yang mulai berkabut.
“Apa Pak Nathan tahu kalau bapaklah yang sudah membuat hati saya sakit karena mengakui saya sebagai sepupu di depan kakak tiri saya dan kekasih bapak ?”
“Saya…” Gaby mengangkat tangan, menyuruh Jonathan diam.
“Bapak sudah membiarkan orang lain mengejek saya karena mereka berdua tahu betul siapa saya. Dan seharusnya sebagai pengganti orangtua, bapak tidak boleh malu mengakui siapa saya.”
Gaby mengambil tas sekolah dan tumpukan buku di atas meja lalu berjalan ke pintu untuk kembali ke kamar Jenny.
__ADS_1