Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Pria Beristri


__ADS_3

“Pak Nathan ! Pak Nathan !”


Sebuah tepukan yang cukup keras di bahu membuat Jonathan langsung menghentikan langkahnya dan menoleh. Bayangan Gaby bersandar di bahu Mario benar-benar mengganggu pikirannya, membuatnya bukan hanya susah tidur semalam tapi tidak fokus mengajar hari ini.


“Saya perhatikan Bapak banyak melamun hari ini.”


Di hadapannya berdiri Andin, guru PKN berdarah Jawa yang seumur dengannya namun sudah 2 tahun lebih dulu mengajar di sekolah ini.


“Sedikit,” sahut Jonathan dengan senyum canggung sambil mengusap tengkuknya.


“Boleh saya minta waktunya sebentar ? Ngopi mungkin ?” tanya Andin dengan wajah malu-malu.


Jonathan melirik jam tangannya, pukul 2.30 siang. Ingin rasanya Jonathan menolak tapi kasihan dengan Andin yang sudah lebih dari 3 kali mengajaknya ngopi namun selalu ditolaknya.


“Maaf Bu, saya tidak bisa. Istri saya sudah menunggu karena hari ini saya janji akan pulang lebih awal,” tolak Jonathan dengan nada sehalus mungkin sambil tersenyum.


Wajah Andin merona dan matanya membola, terkejut mendengar pernyataan Jonathan.


“Istri ? Pak Nathan sudah menikah ?”


Jonathan mengangguk dengan yakin dan senyuman yang masih melekat membuat wajahnya semakin tampan. Ia mengangkat jemari kanannya yang mengenakan cincin kawin dan menggoyangkannya.


”Kenapa bapak dan istri tidak tinggal bersama… Eh, maksud saya bukankah seharusnya istri yang ikut suami ?”


Karena kami sudah bercerai Bu Andin, tapi saya akan berjuang agar kami bisa menikah kembali.


“Istri saya baru saja kuliah, Bu, usianya baru 19 tahun, masih imut dan menggemaskan.”


Jonathan memperlihatkan fotonya dengan Gaby yang tersimpan baik di handphonenya. Andin tersenyum getir dan mengangguk-angguk, mengiyakan ucapan Jonathan.


”Masih muda banget,” gumam Andin pelan.


“Dia mantan murid saya, itu sebabnya saya berhenti menjadi guru di SMA Dharma Bangsa.”


Sebelum Andin bicara lagi, Jonathan sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran wanita di depannya.


”Bukan kecelakaan tapi tanpa kami ketahui ternyata sudah sejak kecil kami dijodohkan dan alam semesta sangat mendukungnya, buktinya kami dipertemukan sebagai guru dan murid yang sering bertengkar hingga merasa saling mengenal satu sama lain. Rasanya menyebalkan menerima perjodohan di jaman modern seperti sekarang ini tapi hubungan guru dan murid yang sudah berjalan selama 2 tahun membuat kami malah mudah jatuh cinta.”


Ada rasa cemburu dan kecewa yang tidak bisa disembunyikan Andin tapi Jonathan tidak terlalu peduli. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Akibat kasihan pada Maya membuatnya belajar untuk lebih hati-hati menghadapi perempuan, apalagi statusnya seorang suami bukan sekedar kekasih.


Jonathan sudah menangkap kalau Andin menaruh hati padanya. Wanita pintar yang manis dan menarik secara umum selalu mencari perhatian sejak awal mereka bertemu, tapi Jonathan tidak berminat untuk melirik.


“Gue yakin suatu saat nanti elo akan menyadari kalau Gaby lebih berharga daripada 10 orang perempuan seprrti Maya !”


Jonathan masih ingat ucapan Kendra dan sudah membuktikannya sejak ia melakukan kesalahan dengan Maya.

__ADS_1


“Saya permisi dulu, Bu Andin takut kena macet kalau makin sore kembali ke Jakarta-nya.”


Andin membalas anggukan Jonathan dengan anggukan juga. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil menatap punggung Jonathan yang makin menjauh.


Bodoh kamu Andin ! Bagaimana bisa kamu tidak memperhatikan kalau pria itu sudah memakai cincin di jari manisnya ! batin Andin mengutuki dirinya sendiri.


*****


Di kampus, Gaby baru saja berencana ke mal usai kuliah bersama Raina dan Mimi. Hari ini ia sudah ijin pada Om Sofian untuk tidak datang ke kantor. Selembar memo dari Jonathan membuat hatinya tidak tenang meskipun berulang kali Gaby meyakinkan diri untuk mengabaikannya.


“Gab, tuh om-om ngeliatin elo terus,” bisik Raina di samping Gaby yang sedang asyik ngobrol dengan Mimi.


Gaby menoleh ke arah pandangan Raina. Ia pun tersenyum meskipun kaget melihat sosok Om Harry sedang bersandari di pintu mobil.


”Ada masalah penting sampai Om kemari ?” tanya Gaby saat sudah berdiri di depan Om Harry.


“Iya dan kalau kamu nggak keberatan Om mau ajak makan siang sekalian ngobrol berdua saja.”


Om Harry melirik ke arah Raina dan Mimi yang berdiri agak jauh dari mereka.


“Bisa, sebentar saya bilang pada kedua teman saya dulu, Om.”


“Kalau begitu Om tunggu di mobil.” Gaby mengangguk dan kembali mendekati Mimi dan Raina.


“Itu papanya Bu Maya dan sepertinya ada hal penting yang mau dibicarakan sampai beliau datang kemari.”


“Ganteng,” gumam Raina spontan.


“Mata dibenerin, jangan demennya sama suami orang,” omel Mimi sambil menoyor pelipis Raina yang cengengesan.


“Sorry banget girls, gue pamit dulu ya.”


Kedua sahabat Gaby mengangguk dan menatapnya masuk ke dalam mobil di kursi penumpang belakang bersama Om Harry.


Sampai di restoran pilihan Om Harry, tanpa malu-malu Gaby memesan makanan dan minuman kesukaannya. Om Harry tersenyum dan merasa bahagia masih bisa melihat sisi kanak-kanak Gaby, sangat berbeda dengan sikapnya saat di ruang pengadilan.


“Om mau minta maaf.”


“Sepertinya Om terlalu sering minta maaf pada saya, mungkin di pertemuan berikutnya saya perlu menyediakan hadiah piring karena sudah lebih dari 3 kali Om mengucapkan maaf.”


Om Harry tertawa mendengar candaan Gaby meski diucapkan dengan nada datar.


“Kalau begitu Om akan lebih sering lagi karena stok piring di apartemen masih kurang.”


Gaby hanya tersenyum, tidak bisa tertawa seperti Om Harry.

__ADS_1


“Om serius minta maaf karena sudah melanggar janji dan kali ini kesalahan Maya sangat-sangat fatal sampai menyebabkan kamu berpisah dengan Jonathan.” Gaby hanya tersenyum getir.


“Akhirnya Bu Maya minta tolong juga pada Om untuk bicara pada saya,” Gaby tersenyum sinis dengan pandangan ke samping.


“Tidak, Maya tidak bilang apapun. Dia hanya menangis dan menangis bahkan setelah bayinya lahir dengan selamat. Dia tidak sekuat dirimu, Gaby. Terlalu banyak yang memanjakan dan menjaganya supaya jangan sampai jatuh dan begitu ia benar-benar harus terjatuh, Maya bukan hanya takut tapi tidak yakin kalau ia bisa bangkit lagi.”


“Tidak ada seorang pun yang suka dibandingkan, Om,” gumam Gaby dengan senyuman getir.


“Kedatangan Om di sini bukan mewakili Maya tapi sebagai orangtua yang merasa malu karena gagal mendidik anak tunggalnya menjadi wanita yang bermartabat. Om malu karena melanggar janji sendiri untuk melindungimu.”


“Apa Om berpikir situasi ini akan membuat saya mencabut semua tuntutan pada Leo ?”


“Gaby…”


Pembicaraan terhenti sejenak saat pelayan menyajikan pesanan mereka. Om Harry menghela nafas berkali-kali saat Gaby kembali menjadi sosok yang kaku dan keras hati.


“Pembicaraan kita hari ini tidak ada hubungannya dengan kasus di persidangan. Om tidak peduli dengan segala keputusan yang akan kamu ambil, Om akan menghadapinya dan tidak akan melimpahkan masalah itu ke Leo.”


“Biar bagaimana pun Maya adalah anak kandung Om dan Leo adalah ayah kandung dari bayi yang baru saja Maya lahirkan. Saya mengerti perasaan Om dan tidak akan marah kalau tujuan Om menemui saya untuk masalah itu.”


“Gabriela…”


“Bolehkah saya makan dulu, Om ? Perut saya lapar banget karena tidak sempat sarapan, bangun kesiangan,” ujar Gaby sambil tertawa pelan.


“Tentu, tentu saja. Mau nambah juga boleh.”


“Kalau masih kuat saya mau pesan es krim.” Om Harry tertawa sambil mengangguk-angguk.


Om Harry menikmati makan siangnya sambil menatap Gaby dengan perasaan sedih dan iba. Bahkan cara Gaby melarikan diri dari kegundahan hatinya begitu mirip dengan Anna, mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya dan semoga sesudah itu Gaby tidak memuntahkannya kembali seperti Anna.


“Saat pertama bertemu dengan Om, entah kenapa saya merasa nyaman meski tidak tahu siapa Om yang sebenarnya. Lalu saat Om bercerita soal mami dan bagaimana hubungannya dengan Om di masa lalu saya benar-benar merasa beruntung dan merasa kalau takdir saya sungguh luar biasa.


Kalau saya tidak dijodohkan dengan Jonathan yang adalah kekasih Maya maka saya tidak akan pernah bertemu dengan seseorang yang bisa menceritakan bagaimana sosok mami dengan begitu detil. Saya bahagia dan tidak peduli dengan status Om yang adalah ayah kandung Maya.


Saya sangat mengerti kalau saat ini Om tidak ingin membuat cucu Om tumbuh tanpa ayah kandungnya, tapi sayangnya hubungan baik dan kebahagiaan saya itu tidak akan merubah keadaan.”


“Sudah Om katakan tadi kalau bukan itu tujuan Om mengajakmu bertemu siang ini. Om ingin…”


“Maaf saya permisi ke toilet dulu, Om,” ujar Gaby sambil beranjak bangun.


Belum juga kaki Gaby melangkah tiba-tiba gadis itu ambruk dan tidak sadarkan diri.


“Gaby… Gaby….”


Om Harry menopang dan menepuk-nepuk wajah Gaby tapi gadis itu benar-benar tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2