
“Kamu kenapa, Gab ? Kakinya masih sakit sampai nggak nafsu makan ?” tanya Mama dengan alis menaut.
“Ngg,.. Eh, nggak Ma. Kakinya udah nggak sakit, sepertinya efek kurang tidur, mata masih sepet.”
“Nggak salah ?” ledek Jonathan sambil tertawa pelan. “Mau juga aku yang berasa kurang tidur dan tangan berasa kebas efek jadi bantal kamu semalaman. Nggak sampai 5 menit kamu langsung pulas, malah langsung nemplok begitu aku rebah di sampingmu.”
Wajah Gaby merona karena teringat dengan kejadian pagi ini. Saat alarm dari handphone Jonathan bebunyi, Gaby terbangun dan sempat menggeliat karena seingatnya ia tidur di kamar Mama.
Begitu hidungnya terbentur dada bidang Jonathan dan wangi khas tubuh itu terendus indera penciumannya, mata Gaby langsung membola dan ingatannya kembali normal. Gagal sudah niatnya hanya sebatas numpang tidur di kamar Jonathan.
Gaby mengutuki dirinya yang tidak bisa menyeleraskan pikiran dan keinginan tubuhnya. Aroma tubuh Jonathan benar-benar membuatnya candu dan menjadi magnet yang susah ditolaknya karena terlalu kuat menariknya untuk mendekat.
“Mau bolos sekolah aja hari ini ?” tanya Jonathan sambil menyenggol lengan Gaby yang kembali melamun.
“Kenapa harus bolos ?” tanya Gaby dengan alis menaut.
“Daripada mikirin aku terus selama di sekolah, lebih baik langsung melihatku sepanjang hari ini. Temani aku ke kantor,” ujar Jonathan menaik turunkan alisnya dengan senyuman menggoda.
”Siapa yang mikirin Bapak,” gerutu Gaby.
Potongan roti terakhir langsung masuk ke mulut Gaby disusul dengan segelas susu yang langsung diteguknya sampai tandas.
“Mau digendong lagi sampai mobil ?” Gaby menggeleng cepat-cepat.
Mama tersenyum saat keduanya pamit, berharap Joanthan dan Gaby bisa melanjutkan hidup perkawinan mereka.
***
”Penting banget Bapak sampai harus mengantar saya ke kelas,” gerutu Gaby dengan wajah berusaha tetap biasa saja.
Dipikirnya Jonathan hanya mengantar sampai gerbang SMA apalagi sudah ada Raina dan Mimi yang juga baru datang, tapi usaha Gaby menolak keinginan Jonathan sia-sia. Pria kepala batu itu tetap ingin menemaninya sampai ke lantai 3.
“Bukannya malah bagus membuat para pecinta lambe turah jadi galau ? Berita yang beredar berbanding terbalik dengan kenyataan ?” sahut Jonathan santai. Satu tangannya menggenggam jemari Gaby yang berpegangan pada lengannya.
“Pencitraan banget,” cibir Gaby.
“Jangan cemberut, kasih wajah bahagia karena jadi pusat perhatian, kalau perlu sombong sedikit. Lagian kedatanganku pasti sudah ditunggu-tunggu demi mengobati rindu para penggemar,” ujar Jonathan sambil terkekeh
“Dasar guru ganjen.”
“Ingat jangan coba-coba pulang sendirian ! Berani melanggar, eksekusi perjanjian langsung nanti malam.”
__ADS_1
“Perjanjian apalagi, Pak ?” tanya Joni iseng sambil tertawa.
”Bapak mau ngajar sekalian ?” timpal Bimbim.
“Urusan suami istri, Jon. Kalau kamu kepingin bisa rempong,” sahut Jonathan melirik Gaby sambil mengedipkan sebelah matanya.
”Kalau soal mengajar maaf saya menolak. Istri saya posesif, bisa panjang urusannya kalau dia cemburu. Kalian paham kan kalau saya tidak bisa melarang orang menganggumi saya, tapi cinta saya hanya untuk istri tersayang.”
“Bapak diapain sama Gaby sampai lebay gitu, sih,” cibir Mimi sambil menggedikan bahunya.
“Tanya langsung sama orangnya,” sahut Jonathan dengan gerakan ingin mencium kening Gaby.
“Jangan macam-macam, ini lagi di kelas !” Gaby menghindar sambil melotot sedangkan Jonathan hanya tertawa pelan.
“Anggap aja nggak ada orang di kelas, Gab,” ledek Danu.
Raina cekikikan sedangkan Mimi geleng-geleng dengan wajah mengernyit. Tidak ada yang menyangka kalau guru galak ini bisa membuat Gaby kehilangan kata-kata karena kata cinta manis yang ditebarkan oleh Jonathan.
“Saya balik dulu,” pamit Jonathan pada kelima sahabat Gaby dan siswa lain yang sudah ada di kelas.
“Bapak nggak datang di acara perpisahan nanti ?” tanya Rini, teman sekelas Gaby.
”Gimana nanti aja Pak Liman mengaturnya, tapi yang pasti harus seijin istri saya dulu,” sahut Jonathan sambil melirik Gaby yang langsung menepuk jidatnya.
***
“Serius banget ingin memberikan kesan kalau surat cerai itu cuma hoax,” ejek Marsha berdiri di depan kamar mandi yang berada di dekat aula besar.
Hari ini anak-anak kelas 12 hanya datang untuk latihan acara pelepasan yang akan diadakan minggu depan bertepatan dengan pengumuman kelulusan.
“Ralat Sha, surat yang elo posting baru permohonan bukan akta cerai, hati-hati dengan ucapan elo, jangan sampai jadi bumerang,” sahut Gaby dengan menarik satu sudut bibirnya.
“Berasa kayak selebritis yang perlu banget pencitraan ?” sindir Pingkan yang berdiri di sebelah Marsha.
Mimi langsung melotot dan siap bergerak mendekati Pingkan ditahan oleh Gaby. Mimi mengernyit kesal saat Gaby menggelengkan kepala, memberi isyarat pada Mimi untuk menahan diri.
“Gue nggak merasa sebagai selebritis yang perlu pencitraan. Suka-suka elo berdua mau berpikir kayak apa. Nggak capek kepo in hidup orang ?”
Gaby mengamit lengan Mimi, berniat meninggalkan kedua lambe turah itu.
Bruk !
__ADS_1
Gaby yang jalan agak pincang langsung jatuh saat kaki Pingkan meyengkatnya. Gaby meringis, lengan kirinya agak sakit terbentur lantai.
“Gaby !” Pekik Mimi membuat beberapa siswa yang ada di sekitar situ langsung menoleh.
Ketiga cowok sahabat Gaby bergegas menghampiri dan membantu Mimi mengangkat Gaby kembali.
“Jangan kelewatan !” bentak Joni.
“Elo nggak apa-apa, Gab ?” tanya Mimi dengan wajah khawatir saat melihat sahabatnya sempat meringis lagi.
“Agak sakit karena terbentur,” sahut Gaby sambil mengusap dekat sikunya.
Raina yang mendengar kegaduhan di luar aula bergegas menyusul dan langsung mendekati Marsha dan Pingkan sambil bertolak pinggang.
“Heh Lampir !” Raina langsung mendorong bahu Marsha dengan kasar.
“Heran gue, dikasih muka cantik demennya jadi biang gosip ! Sekarang elo ngerti kan kenapa nggak ada cowok yang mau kasih cintanya buat elo berdua dan lebih milih cewek kayak Gaby ? Nggak usah rempong sama hidup orang, mending elo pergi ke dokter minta lepasin tuh topeng yang nempel di muka kalian.”
“Jangan asal ngomong lo !” sahut Marsha dengan wajah kesal.
Hati kecilnya sedikit cemas, kali ini Pingkan memang salah, sengaja menyengkat Gaby yang sedang terluka dan pasti ada yang melihat kejadiannya karena mereka tidak hanya berempat di sana.
“Kenyataannya…”
“Cukup Raina,” teguran pelan namun tegas itu membuat semua siswa menoleh.
Jonathan didampingi Pak Liman berjalan menghampiri mereka. Mantan guru matematika itu langsung mendekati istrinya yang sempat meringis lagu saat lengannya disentuh Jonathan.
“Bapak kok masih di sini ? Nggak ke kantor ?” bisik Gaby, Jonathan hanya tersenyum.
“Sebetulnya apa sih yang mau kamu ketahui soal kami berdua, Marsha ?” tanya Jonathan.
Marsha dan Pingkan tidak langsung menjawab, keduanya merasa jengah karena jadi pusat perhatian banyak siswa.
“Pernikahan saya dan Gaby baik-baik saja bukan karena perjanjian bisnis atau pencitraan semata. Masalah surat permohonan cerai itu, apa hak kalian memaksa Gaby menjelaskan detilnya. Tidak usah julid sama hidup orang lain sementara kalian sendiri belum tahu gimana hidup kalian di masa depan.”
“Tapi Pak…”
“Nggak usah kepo sama hidup istri saya,” Jonathan tersenyum sambil merangkul bahu Gaby.
“Saat ini, saya sangat berharap dukungan kalian untuk Gaby, istri saya, yang mungkin sebentar lagi akan memberi kalian keponakan.”
__ADS_1
Mata Gaby langsung melotot dan matanya bergerak menanyakan maksud ucapan pria di sampingnya yang tersenyum manis.
“Beneran Pak ?” tanya Bimbim dengan mata melotot.