
Kendra mengerutkan dahi melihat Jonathan yang tidak berhenti tersenyum sejak turun dari mobil. Keduanya bertemu di parkiran dan bersama-sama naik lift melewati lobby.
“Elo kenapa sih ? Dikasih sarapan apa sama Gaby ?” bisik Kendra.
“Gue mau ajak Gaby honeymoon,” sahut Jonathan dengan wajah manis membuat Kendra kembali mengerutkan dahinya.
“Kapan ?”
“Secepatnya setelah dapat persetujuan dari Om Sofian.”
“Gaby-nya udah mau elo ajak ngamar ?”
Mata Kendra langsung membola saat Jonathan mengangguk dan wajahnya tambah sumringah bahkan pria itu bersiul-siul setelah keluar lift.
“Jangan bilang elo sama Gaby….”
“Gue udah bukan perjaka tua lagi, sudah jadi pria sejati,” ujar Jonathan dengan wajah bangga.
“Ya ampun, Nathan. Pantesan tuh gigi sampai kering,” ujar Kendra sambil tergelak.
”Berapa ronde ?”
“Kepo ! Mau tahu aja rahasia dapur orang. Sana cepetan cari istri biar nggak bisanya celap celup sama orang yang beda terus.”
“Maunya mengikuti jejak elo tapi nggak ada yang mau gimana dong,” sahut Kendra sambil tertawa.
”Ya dicari dong, ngarep jodoh lo datang dari langit ?”
“Apa gue perlu alih profesi jadi guru kayak elo ? Biar dapat jodoh semuda Gaby ?” Kendra menaikturunkan alisnya.
“Sekarepmu, Ken. Sana langsung aturin jadwal cuti buat gue !” ujar Jonathan mengibaskan tangan menyuruh Kendra langsung meja kerjanya.
“Mau berapa lama ?”
“4 minggu juga boleh,” sahut Jonathan sambil tertawa.
__ADS_1
“Minta dipecat sama dewan direksi ?”
“Memangnya direksi berani pecat suami pemilik perusahaan ?” sahut Jonathan sambil tertawa.
Kendra geleng-geleng kepala dan langsung menyalakan komputer sedangkan Jonathan masuk ke dalam ruangannya masih dengan senyuman bahagia.
*****
Gaby mulai bosan dan gabut di rumah sendirian karena Jonathan melarangnya keluar hari ini termasuk pergi ke kantor.
“Kamu siap di-bully sama Kendra ? Jalan kamu kayak anak pingguin dan dia pasti tahu alasannya. Lagipula hari ini jadwalku penuh dengan meeting dari pagi sampai jam 2 an. Beres meeting aku akan langsung pulang.”
“Gara-gara Mas Nathan juga, sih. Janjinya sekali, terus dua kali tapi nambah terus,” gerutu Gaby dengan bibir mengerucut.
“Kamu juga ketagihan, merem melek keenakan bikin aku tambah bergairah dan semangat terus,” sahut Jonathan dengan gemas mencubit kedua pipi Gaby.
“Nanti malam cuti dulu, biar Gaby nggak kayak anak pinguin baru belajar jalan.”
“Tergantung gimana nanti.”
“Gaby tidur di kamar Mama !” tegas Gaby dengan wajah ditekuk.
Gaby tidak lagi memperpanjang debat pagi ini karena Jonathan selalu punya cara untuk menangkisnya. Dan ternyata, saat Gaby sedang memilah kamar mana yang akan menjadi tempat persembunyiannya malam ini, Gaby tidak menemukan kunci tergantung di semua pintu kamar.
Jonathan sudah mempersiapkan segala kemungkinan termasuk mencabut semua kunci kamar hingga tidak memungkinkan bagi Gaby untuk menghindarinya.
Usai Jonathan berangkat, Gaby sempat beberapa kali berdiri di depan kaca, memastikan ucapan suaminya yang bilang kalau jalannya seperti anak pingguin. Daerah sensitifnya memang sedikit tidak nyaman tapi rasa-rasanya cara jalan Gaby biasa saja.
Percakapan di grup dengan kelima sahabatnya sedang sepi. Masing-masing punya aktivitas sendiri untuk mengisi liburan kecuali untuk Danu dan Joni yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk kuliah di tempat yang baru.
Sedang asyik berselancar dengan handphonenya, Gaby mengerutkan dahi saat melihat nama Marsha muncul mengirimkan pesan untuknya.
(Bisa kita ketemuan sekarang, Gab ? Waktu dan tempatnya terserah elo aja. Penting banget, Gab. Gue hanya minta waktu sebentar aja, please 🙏🙏)
Gaby dilema karena posisinya sedang tidak memungkinkan sedangkan permintaan Marsha terdengar penting
__ADS_1
Gaby langsung menekan nomor Jonathan tapi hingga 5 kali Gaby mencoba, panggilannya selalu berakhir di kotak suara. Nomor Kendra pun sama nasibnya.
Akhirnya Gaby memutuskan untuk mengiyakan permintaan Marsha dan mengabarkan Jonathan lewat pesan singkat.
15 menit kemudian Gaby sudah meluncur ke tempat yang dijanjikannya dengan Marsha menggunakan taksi online karena berharap Jonathan akan menjemputnya.
*****
Gaby menghampiri Marsha yang melambaikan tangan saat ia baru tiba di kafe. Dahinya berkerut karena sampai di depan Marsha. Gaby bisa melihmata Marsha yang sembab, tatapannya sendu dan wajahny terlihat lesu, tidak ada sikap sombong seperti yang selalu ditunjukkannya di sekolah.
“Ada apa ?” tanya Gaby usai memesan minuman.
“Jihan menghubungi gue pagi ini, membicarakan soal sumbernya yang ditangkap polisi karena terbukti telah membocorkan surat perceraian elo dan Pak Nathan.”
“Sepertinya belum dinyatakan sebagai tersangka.”
“Jadi elo udah tahu soal penangkapan ini ?” Marsha sampai mencondongkan tubuhnya ke arah Gaby.
“Ralat, Sha, Sabtu kemarin Pak Hasbi memang diminta datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan belum ditetapkan sebagai tersangka, tapi nggak tahu juga perkembangannya hari ini.”
“Gue minta tolong sama elo, Gab, please. Seumur hidup gue nggak akan pernah melupakan kebaikan elo kalau bisa membuat gue nggak ditangkap karena dianggap sebagai kaki tangannya Jihan.”
Gaby terdiam karena tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Marsha yang menatapnya dengan wajah memohon dan jemarinya menggenggam tangan Gaby.
“Sha, bukan gue nggak mau bantuin. Gue dan Pak Nathan nggak tahu kalau sumbernya Jihan dimintai keterangan di kantor polisi hari Sabtu lalu. Masalah ini nggak akan biasa diabaikan begitu saja karena masalahnya bukan lagi sekedar pencemaran nama baik yang bisa diselesaikan dengan jalan damai tapi Pak Hasbi, sumbernya Jihan sudah tmelanggar sumpah dan etika karena membocorkan data pribadi kliennya. Bukan gue atau Pak Nathan yang melaporkan dia, Sha, tapi lebih kepada lembaganya.”
“Gab, hidup gue bakalan hancur kalau sampai terlibat masalah kriminal. Gue masih pingin nerusin kuliah dan punya masa depan tanpa jejak kriminal, Gab.”
“Sha, gue juga nggak berharap itu semua terjadi tapi saat ini gue nggak bisa janji apa-apa sama elo. Saran gue lebih baik elo bicara jujur sama bokap dan konsultasikan masalah ini untuk mendapatkan jalan yang terbaik.”
“Bokap gue pasti bakalan ngamuk dan keluarga gue akan malu kalau sampai ditangkap polisi karena dianggap kaki tangan mereka. Gue akan kehilangan semuanya, Gab.”
Marsha mulai menangis, menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya yang menopang di atas meja.
“Sha, semua peristiwa dalam hidup pasti ada hikmahnya. Nggak selalu kejadian buruk sepanjang waktu hanya mendatangkan air mata, bisa aja di tengah atau akhirnya justru membuat elo bisa melihat hal baik di dalamnya. Lebih baik elo juju sama bokap dan keliarga sebelum surat panggilan polisi dikirim ke elo.”
__ADS_1
Marsha masih terisak membuar Gaby hanya bisa menghela nafas dan menunggu sampai perasaan temannya itu tenang kembali.
Seharusnya elo berhenti membenci gue di saat ada kesempatan, Sha. Sekarang semuanya seperti nasi sudah jadi bubur, nggak mungkin dikembalikan lagi. Pikiran elo hanya ingin menjatuhkan gue sampai tidak peduli dengan siapa elo berurusan. Jihan nggak akan mungkin membiarkan dirinya jatuh sendirian, batin Gaby.