
Hari Senin, Gaby sengaja berangkat lebih dulu dan bilang pada mama kalau ada PR yang belum dikerjakannya dan mau pinjam teman.
Mama tahu kalau kencannya dengan Jonathan tidak berakhir dengan baik karena malam itu Gaby pulang sendiri naik taksi dan Jonathan pulang keesokan harinya jam 10.30 malam.
Gaby sengaja kembali pada bangku keramatnya, kali ini ditemani Danu, sang ketua kelas. Sepanjang jam perwalian di hari Senin pagi, Gaby lebih banyak melamun dan menatap keluar jendela. Jonathan pun tidak menegurnya meski tahu kalau Gaby tidak memperhatikannya.
“Elo lagi ribut sama Mister Handsome ? Bukannya elo cerita kalau hari Sabtu kemarin elo dating sama dia ?”
“Perasaannya sama gue cuma di awang-awang, Mi. Kayak layang-layang, tergantung angin membawanya kemana dan gampang putus.. Penyebabnya satu, dia belum mencintai gue. Perasaannya cuma kasihan dan terbiasa hidup sama gue setiap hari, nggak punya saingan karena gue belum pernah pacaran.”
“Memangnya ada kejadian apa ?”
Gaby pun menceritakan semuanya pada Mimi termasuk perbincangannya dengan Jihan malam itu.
“Terus sekarang maunya elo gimana ?”
“Bikin diri gue selalu sadar kalau nggak bakal mungkin matahari terbit di barat. Kalimat yang selalu dia pakai itu sudah membuktikan kalau perasaannya sama Bu Maya sulit dialihkan ke cinta yang lain.”
“Jangan gampang nyerah gitu dong, kan baru beberapa bulan juga. Kenapa malam itu elo nggak langsung bilang sama mamanya Bu Maya kalau elo ini istrinya Pak Nathan ?”
“Terus mempermalukan diri gue sendiri ? Tadi kan udah gue bilang, mamanya Bu Maya sudah membuktikan kalau Pak Nathan masih cinta banget sama Bu Maya. Jantung gue kayak udah di ujung jempol pas Pak Nathan ngebut ke rumah sakit. Cuma rasa cinta yang bisa bikin orang kalut dan senekat itu.”
“Tapi saran gue jangan nyerah sekarang dong, Gab. Elo ini istri Pak Nathan yang sah, elo punya hak untuk memiliki Pak Nathan, apalagi selama ini elo cukup bertanggungjawab menjalankan tugas sebagai istri kecuali soal MP.”
Gaby langsung melotot tapi hanya ditanggapi cengiran kuda dan jari bebentuk huruf V.
“Terus gue harus gimana ? Nempelin dia terus dan putusin urat malu gue sampai dia bilang udah jatuh cinta sama istrinya sendiri ? Kayaknya bukan gue banget deh.”
“Minimal jangan biarkan Jihan berpikir kalau dia udah menang skor. Kalau elo mundur, Jihan pasti berasa langsung dapat three points. Jadi cari cara gimana Pak Nathan bisa mencintai elo dengan elegan dan jangan sampai kesannya ngemis-ngemis.”
Gaby hanya mengangguk dan tersenyum tipis lalu menyantap bakso pesanannya. Perutnya harus diisi dulu, supaya otaknya lebih lancar berpikir.
****
“Gabriela !”
Tawa Gaby langsung berhenti, teman-teman yang sedang bercanda dengannya ikut diam dan menoleh ke arah pemilik suara.
“Ternyata aslinya ganteng banget,” desis Raina saat melihat Mario berdiri di gerbang sekolah mengenakan jeans dan kaos oblong putih.
“Don, saingan elo,” Bimbim menyenggol lengan Doni yang berdiri di sampingnya.
“Itu Kakel, kan ?” tanya Doni dengan tatapan terarah ke Mario.
“Iya udah 2 tahun ngejar Gaby tapi gagal soalnya kakak tirinya Gaby naksir juga, malah mereka sempat pacaran.”
“Terus kemari mau jadiin Gaby calon istri kedua ?” guyon Danu sambil terkekeh.
“Gab, aku minta waktu sebentar aja. Rasanya masih ada yang ganjel.”
“Mau kemana ? Gue ikutin aja dari belakang soalnya bawa motor.”
“Kuncinya boleh ditiitp sama Pak Juki aja ? Nanti aku minta tolong teman anterin ke rumah kamu.”
__ADS_1
“Gue udah nggak tinggal sama Jihan.”
“Ooohhh,” Mario tampak terkejut. “Kamu kost ?”
”Nggak, tinggal sama temannya nyokap. Nggak usah repot, gue titip Pak Juki aja, besok gue bisa naik ojol ke sekolah.”
“Besok aku jemput.”
“Gampang.”
Jonathan yang baru saja keluar dari ruangan Pak Liman di lantai 2, memicingkan mata, memastikan kalau siswi yang dilihatnya sedang berjalan ke arah gerbang adalah Gabriela dan pria tanpa seragam di sampingnya tidak terlihat wajahnya.
Mata Jonathan membola dan hatinya tercubit saat menangkap wajah Mario sedang membukakan pintu untuk Gaby. Sesuatu yang tidak pernah Jonathan lalukan bahkan saat acara kencan Sabtu lalu.
“Kita mau kemana ? Jangan ke mal ya, ribet soal gue masih pakai seragam.”
“Makanan kegemaranmu masih seafood kan ?”
“Apa aja selsma bukan daging kambing.”
Mario mengangguk dan menjalankan mobilnya menuju restoran yang sudah lama menjadi incarannya kalau sampai bisa mengajak Gaby pergi berdua.
30 menit kemudian keduanya sudah duduk di restoran dan Mario memesan sejumlah makanna.
“Jangan berlebihan, sayang kalau nggak kemakan.”
Mario mengangguk dan memesan 2 menu lain untuk dibawa pulang.
“Apa yang mau diomongin ?”
“Tujuan elo ngajak gue buat ngomongin sesuatu bukan makan siang.”
“Oke oke, Gab. Sekali lagi aku mau minta maaf atas perbuatanku waktu itu. Aku beneran sayang sama kamu, Gab, dan nggak pernah terpikir untuk mendapatkanmu dengan cara yang kotor apalagi sampai merusak masa depan kamu.”
“Tapi kenyataannya elo hampir menodai gue,” gumam Gaby.
“Aku nggak tahu apa yang Jihan masukan dalam minumanku, tapi yang pasti bukan saja membuat aku pusing tapi juga panas. Akhirnya aku sadar kalau Jihan sengaja melakukannya setelah tahu kalau aku adalah penerus perusahaan keluarga. Kamu tahu kan kalau Jihan memang tergila-gila dengan harta dan tahta,” Mario tertawa pelan.
”Aku tidak mau Jihan mengikatku dengan hubungan terlarang apalagi sampai dia hamil anakku,” gerutu Mario dengan ekspresi ngeri membayangkan ceritanya
“Dan elo menjadikan gue sebagai tumbalnya ?” omel Gabriela sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Bukan tumbal, kalau sampai harus terjadi karena efek obat, aku lebih milih punya anak sama kamu daripada Jihan,”: sahut Mario sambil tertawa.
Percakapan mereka terhenti saat pelayan menyajikan pesanan mereka.
“Elo yakin bisa menghabiskan semuanya ?”
“Aku tahu kamu kuat makan, lagipula nikmati semuanya tanpa khawatir sama Jihan dan nyokapnya.”
Gaby memutar bola matanya membuat Mario kembali tertawa.
“Terus cuma karena mau bilang maaf doang, elo sampai harus keluar uang begini banyak ?”
__ADS_1
“Nggak, aku mengganggap ini sebagai dating, impianku sejak kelas 11 dan akhirnya terwujud setelah berharap selama 2 tahun.”
“Lebay,” cebik Gaby.
“Gab,” Mario mengambil tisu dan mengusap sisa makanan di sudut bibir Gaby. Gadis itu terkejut mendapat perlakuan manis Mario sampai wajahnya memerah.
“Apaan ?”
“Mau ya jadi pacarku ? Mami pasti senang kalau aku punya pacar kayak kamu dan aku akan minta papi untuk melindungi kamu dari Jihan dan nyokapnya bahkan teman-temannya.”
Gaby sengaja menunjuk mulutnya yang penuh, padahal jantungnya berdebar mendengar pernyataan cinta dari Mario.
Sejujurnya Gaby pernah tertarik dengan Mario yang sering menggodanya karena bertubuh pendek, berbeda dengan Jihan yang tinggi dan langsing bagaikan foto model. Namun sejak tahu kalau Jihan adalah calon kekasih Mario, Gaby membuang jauh-jauh pikiran itu.
“Kamu tahu Gab, hal menyenangkan yang aku rasakan selama berpacaran sama Jihan adalah datang ke rumah kalian karena aku bisa bertemu kamu. Aku bisa mencari-cari alasan melihat kamu sibuk dengan pekerjaan rumah. Dan kebodohanku adalah membiarkan hubungan itu berlangsung cukup lama. Seharusnya sejak awal aku menolak Johan dan memaksamu untuk menjadi kekasihku.”
“Semua sudah berlalu, nggak akan bisa diulang lagi. Terima kasih atas perasaanmu yang membuat aku tersanjung, tapi sayangnya aku tidak bisa menerima pernyataan cintamu.”
“Karena kejadian waktu itu ?”
“Bukan,” Gaby menggeleng. “Karena aku sudah menikah dengan pria pilihan mami.”
Mario langsung terbatuk karena tersedak. Gaby menyodorkan gelas Mario.
“Gab, jangan bercanda !”
“Demi menghindari Mama Gina dan Jihan menguasai perusahaan milik Mami, aku harus menikah dan mendapatkan wali yang sah.”
“Jadi pria yang menikahimu sudah berumur ?”
“Lumayan, tapi nggak tua-tua banget dan cukup tampan,” Gaby tertawa.
“Kamu bahagia ?” tanya Mario dengan wajah sendu.
“Jujur belum karena kami berdua hanya orang asing yang terpaksa bersatu karena perjodohan orangtua. Tapi gue yakin kalau mami nggak akan sembarangan memilih calon suami, jadi gue terus belajar menerima dan bahagia dengan takdir hidup gue saat ini.”
Mario terdiam, menghabiskan sendok terakhirnya dengan susah payah lalu meneguk minumannya.
“Udah berapa lama ?”
“Hampir 5 bulan.”
“Beneran ? Jadi pas aku masih jadi murid Dharma Bangsa ?” Gaby mengangguk sambil tersenyum.
“Boleh aku tunggu jandamu ?”
“Mario !”
“Siapa tahu hatimu tetap tidak bisa mencintainya, aku bersedia menjadi suami pengganti.”
“Ngaco ! Elo tuh cowok kaya yang tinggal tunjuk mau cewek yang model apa, semua pasti tunduk di bawah kaki lo. Kalau bisa dapat yang masih single, ngapain juga harus menunggu janda.”
“Soalnya kata orang janda lebih menantang,” Mario mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Mau coba menelan cangkang kepiting ini ?” Mario cepat-cepat menggeleng dengan mata membola membuat Gaby langsung tergelak.