
Waktu menunjukkan pukul 21.30. Malam pelepasan siswa kelas 12 harus diakhiri meski hampir semua siswa tidak rela menyudahinya.
“Gue minta maaf atas kejadian yang lalu.”
Gaby terkejut saat Marsha, wanita cantik yang agak songong itu menyalaminya saat acara saling memaafkan berlamgsung di penghujung acara.
“Sorry juga karena gue merahasiakan pernikahan gue sama Pak Nathan,” sahut Gaby sambil tersenyum tulus.
“Semoga pernikahan kalian langgeng dan nggak ada lagi gosip surat cerai segala,” canda Marsha dengan senyuman kaku.
“Amin, thanks buat doanya. Gue berharap elo juga diberi kelancaran semuanya di negara orang nantinya.”
Marsha menggangguk sambil tersenyum. Tidak ada acara pelukan karena usai meminta maaf, gadis itu berlalu, berbaur dengan yang lainnya. Pingkan dan Arman, teman satu genk dengan Marsha tidak mengucapkan apa-apa pada Gaby.
”Kelihatan sedikit terpaksa gitu,” ujar Mimi yang tadi langsung memghampiri begitu melihat Marsha dan teman-temannya mendekati Gaby.
“Nggak apa-apa yang penting udah niat. Orang kayak Marsha nggak gampang minta maaf jadi kalau sampai kata itu keluar dari mulutnya, gue cukup salut.”
“Tinggal Ivana doang yang masih pasang tampang perang sama elo,” ujar Mimi sambil menyodorkan botol air mineral untuk Gaby.
“Nggak masalah, tadi gue udah coba ngomong tapi dia menghindar. Hak dia mau nggak terima pernikahan gue dan hak gue juga untuk bahagia sama Pak Nathan.”
“Rasanya pasti nggak akan sama saat kita kuliah nanti,” lirih Mimi sambil mengedarkan pandanganya.
Gaby memeluk sahabatnya, hatinya ikut sedih juga mengingat banyak kenangan indah hubungannya dengan Mimi sejak mereka masih SMP.
“Kita mulai masuk dunia orang dewasa, Mi, masalahnya beda lagi dan tanggungjawabnya pasti lebih besar.”
“Gue bahagia banget bisa jadi sahabat elo, Gab.”
“Sama, gue bersyukur banget karena punya sahabat kayak elo.”
Keduanya tidak bisa lagi menahan rasa haru sekaligus sedih. Meskipun keduanya lanjut di kampus dan jurusan yang sama tapi kehidupan mereka pasti akan berbeda.
“Boleh ikut pelukan ?” Raina berdiri di dekat mereka. Gaby dan Mimi yang sempat merenggangkan pelukan mengangguk bersamaan.
Raina langsung memeluk keduanya penuh rasa haru dan sedih. Tidak lama ketiga cowok ikut bergabung dan berenam mereka berpelukan dalam satu lingkaran sebagai sahabat.
“Saya boleh ikutan juga ?”
Semuanya menoleh ke arah sumber suara untuk memastikan si pemilik yang mereka kenal.
“Mas Nathan kok bisa ada di sini ?”
“Diundang sama Pak Liman. Biar bagaimana, saya sempat 2 tahun mengajar kalian, jadi kalian semua punya tempat istimewa dalam hidup saya.”
Kehadiran Jonathan malam itu sebagai mantan guru mendapat sambutan hangat dari banyak siswa. Gaby hanya bisa tersenyum saat melihat suaminya ditarik sana sini untuk diajak foto bersama.
“Cemburu ?” tanya Doni yang sudah berdiri di samping Gaby.
__ADS_1
“Nggak karena biar bagaimana pun Pak Nathan sempa jadi guru idola banyak siswa. Malam ini dia datang kemari sebagai mantan guru bukan sekedar suami gue.” Doni mengangguk-angguk sambil tertawa.
”Gue dengar elo udah punya cewek ?”
“Kenapa ? Menyesal nolak gue ?” Doni balik bertanya sambil tertawa.
“Gue lebih menyesal lagi kalau menolak Pak Nathan karena beliau lebih matang, mapan dan dewasa. Sangat nggak bisa dibandingkan sama elo,” sahut Gaby ikutan tertawa.
“Anda percaya diri sekali, Nona. Hati-hati, jangan sampai lengah, pria matang dan mapan itu mudah tergoda karena terlalu sering diminati banyak wanita.”
“Terima kasih atas nasehatnya,” Gaby menganggukam kepala sambil tertawa.
“Kalian ngapain ?”
Suara tegas dan tatapan tajam berbau cemburu itu membuat Gaby memutar bola matanya.
”Lagi atur kencan sebelum Doni berangkat ke London,” sahut Gaby asal-asalan membuat Jonathan langsung membelalakan matanya dan Doni tertawa sambil menutup mulutnya.
“Satu suami aja belum diapa-apain dan dianggurin terus, masih mau cari gebetan baru,” gerutu Jonathan.
“Curhat, Pak ?” ledek Joni yang menghamprii bersama Danu dan Bimbim.
Gaby langsung membekap mulut Jonathan sebelum pria itu berbicara menanggapi ledekan Joni.
“Berani ngomong aneh, masa tunggu diperpanjang,” bisik Gaby sambil pura-pura tersenyum
Jonathan mengangguk hingga Gaby berani melepaskan tangannya namun mata Jonathan memberi isyarat dan satu sudut bibirnya ditarik ke atas membuat Gaby sedikit bergidik.
“Mama kapan pulang ?” tanya Gaby usai mandi pagi dan melihat Jonathan baru saja selesai bebricara di handphone.
“Jenny sudah kuliah lagi karena mau semesteran tapi Mama masih mau tinggal di rumah Tante Ratih semingguan lagi.”
“Mama pasti masih khawatir dengan kondisi Kak Jenny yang belum pulih benar.”
“Sepertinya gitu selain ingin memberi kesempatan buat kita berduaan.”
Jonathan memeluk Gaby yang baru saja selesai dengan urusan wajahnya. Pria itu mengendus leher Gaby membuat gadis itu terkekeh kegelian.
“Mas….Mas Nathan mau ngapain ? Ini masih pagi,” tanya Gaby gugup dan wajahnya langsung tegang karena tangan Jonathan ikut bergerak ke titik-titik sensitifnya.
“Istilahnya doang malam pertama, dilakukannya boleh kapan aja dan dimana aja,” sahut Jonathan sambil terus melancarkan aksinya.
“Iya tapi….”
Mulut Jonathan langsung membungkam bibir istrinya membuat mata Gaby membola. Rasanya ingin memberontak tapi Gaby sadar kalau ia sudah terlalu lama menunda dan mencari-cari alasan karena merasa tidak pernah siap.
“Jangan tegang gitu dong, Bi,” ujar Jonathan sambil terkekeh melihat tubuh Gaby diam mematung.
“Terus… saya… Gaby harus gimana ?”
__ADS_1
“Kita udah pernah ciuman sebelumnya kan ? Aku jadi ikutan tegang melihat kamu kaku begitu.”
Dengan wajah tersipu Gaby memeluk pinggang Jonathan dan mendongakkan wajahnya. Jonathan tersenyum dan kembali mencium bibir Gaby, perlahan namun semakin menuntut dan membawa Gaby menuju tempat tidur mereka.
Gaby berusaha menghalau rasa gugupnya saat ciuman Jonathan semakin menjalar kemana-mana membuat seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Tangan Jonathan pun tidak tinggal diam membuat Gaby mencoba mengimbanginya.
“Sh**it !” Jonathan menghentikan semua aktivitasnya saat handphone miliknya berbunyi tidak berhenti dan hanya nama Kendra yang selalu muncul.
Jonathan mengomel karena panggilan telepon Kendra benar-benar membuyarkan suasana dan keinginannya yang sudah di ubun-ubun.
“Angkat dulu, pasti penting banget sampai Kak Kendra menelepon berkali-kali.”
“Ganggu aja !”
Gaby menarik kaos Jonathan dan memberikan ciuman di bibir suaminya hingga beberapa detik.
“Jangan ngomel, nanti malam Gaby akan pakai baju yang dikasih Raina dan Mimi di ulangtahun pernikahan kita.”
“Serius ?” Wajah Jonathan lebih cerah dari sebelumnya.
“Sekalian nanti Gaby mandi kembang,” sahut Gaby sambil terkekeh.
“Awas kalau PHP !” Jonathan menyeringai dan mengambil handphone yang ada di meja belajar.
“Halo Ken,” sapa Jonathan dengan rasa kesal yang tersisa.
“Polisi sudah menangkap pelaku pembakaran. Kita diminta datang hari ini juga.”
“Nggak bisa Senin aja ?”
“Makin cepat makin baik, Bro.”
“Gue siap-siap dulu.”
Jonathan menghela nafas sambil meletakkan handphonenya di atas nakas.
“Ada masalah apalagi, Mas ?” tanya Gaby mendekati suaminya dan mengusap lengan pria itu.
“Aku harus ke kantor polisi sekarang, pelaku pembakaran gudang sudah ditangkap.”
“Gaby mau ikut.”
“Yakin ?” Gaby mengangguk tanpa keraguan sedikitpun.
“Tapi nanti malam tetap jalan sesuai janji, kan ?”
Gaby mengangguk sambil tertawa. Ia berjalan ke lemari pakaian dan mengeluarkan hadiah dari Mimi dan Raina.
“Jaminannya,” ujar Gaby sambil meletakkan pakaian kurang bahan itu di atas lipatan selimut.
__ADS_1
“Jadi pingin cepat-cepat malam,” ujar Jonathan sambil terkekeh. Gaby hanya tersenyum sambil memutar bola matanya.