Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Yang Sebenarnya


__ADS_3

Gaby baru saja terbangun saat bel di apartemennya berbunyi berkali-kali. Tadi pagi Jonathan sempat membuatnya kesal karena merubah rencana tanpa bilang-bilang.


Jam 9 Kendra datang ke sekolah dengan mobil dan sopir yang biasa mengantar jemput Gaby ke kantor. Dengan alasan bisnis, Jonathan menyuruhnya pulang bersama sopir dan mobil Gaby malah dipinjam dengan Kendra sebagai sopirnya.


“Sabar !” omel Gaby kesal karena belnya masih terus dibunyikan tanpa jeda.


“Nggak sabar banget sih ! Nggak mikir kalau penghuninya lagi tidur ?” omel Gaby sambil membuka pintu.


Terlihat sosok Jonathan yang sedang tersenyum langsung memeluk Gaby begitu pintu terbuka.


“Terima kasih,” bisik Jonathan membuat Gaby mengerutkan dahl


“Buat apa ?”


Jonathan melerai pelukannya dan membawa Gaby masuk lalu menutup pintu. Ia pun menyusul


Gaby dan kembali memeluk pinggang wanita itu dari belakang.


“Sudah berapa bulan usia calon anak kita ?”


Mata Gaby membola, ia melepaskan tangan Jonathan supaya mudah membalikan badan. Ditatapnya Jonathan dengan wajah tidak percaya.


“Aku sudah tahu semuanya,” ujar Jonathan sambil menyelipkan rambut Gaby ke belakang telinganya.


“Aku menuruti perkataanmu semalam. Tidak menunda lagi, aku langsung menghubungi Om Sofian dan minta bantuannya untuk memberikan aku akses melihat CCTV hotel, itu sebabnya Kendra datang menjemputku tadi pagi. Kenapa nggak bilang dari awal kalau kamulah yang menjadi teman tidurku malam itu ?”


“Tentu saja karena Gaby malu,” bibir perempuan mungil itu mengerucut.


“Gaby langsung marah-marah sama Om Sofian begitu terbangun di kamar hotel sama Mas Nathan, apalagi Gaby sedikit mengingat bagaimana kita sama-sama melakukan hal gila malam itu.”


“Kenapa harus malu ? Kan sama suami sendiri ?”


“Lupa kalau setahu Gaby kondisi kita bukan lagi suami istri ? Dan selama kita berpisah, Mas Nathan benar-benar nggak ada usaha untuk bertemu sama Gaby.” Suara Gaby makin pelan dan kepalanya menunduk.


“Maaf, maafkan aku, Bi. Aku memang pengecut.”


Jonathan memeluk Gaby dan mengusap punggung istrinya sambil menciumi pucuk kepala Gaby.

__ADS_1


“Aku berterima kasih karena Om Sofian tidak pernah memproses surat perceraian kita. Tadi Om Sofian dan Kendra ngomel sepanjang jalan karena aku terlalu lambat berusaha sampai mereka harus direpotkan dengan rencana gila itu, tapi mereka bilang kalau kehamilanmu di luar rencana dan tanggungjawab mereka,” ujar Jonathan sambil terkekeh.


“Om Sofian dan Kak Kendra benar-benar ngeselin !” Gaby mengomel lagi sambil melepaskan pelukannya. Wajahnya kembali ditekuk dan bibirnya mengerucut membuat Jonathan gemas melihatnya.


“Gara-gara rencana gila mereka, Gaby jadi melendung begini ! Baru juga ngerasain jadi mahasiswa 1 semester, udah hamil aja.”


“Bi, kehamilan kamu itu adalah anugerah dari Tuhan sekalian membuktikan kalau suamimu ini memang pria tangguh. Lagipula biar nanti sudah punya anak, aku nggak akan melarang kamu tetap kuliah.”


“Iya tapi Gaby berharapnya 2 atau 3 tahun lagi.”


“Nggak apa-apa, aku akan selalu jadi suami siaga yang siap membantumu. Ngomong-ngomong, ternyata aku hebat juga, tembakanku langsung kena sasaran meskipun hanya sekali tanpa pengaman.”


“Sekali darimana ? Kak Kendra pasti memberikan dosis dua kali lipat di minuman Mas Nathan sampai Mas Nathan minta nambah terus,” gerutu Gaby.


“Beneran, Bi ? Sayang aku nggak ingat bagaimana kuatnya aku malam itu. Mau diulang lagi, Bi ?” ledek Jonathan sambil terkekeh, Gaby langsung melotot.


“Sebetulnya Gaby kesal karena malam itu mulut Mas Nathan bau alkohol banget tapi karena Gaby dikasih obat yang sama, otak sama tubuh udah nggak sejalan. Benar-benar menyebalkan Om Sofian dan Kak Kendra.”


Jonathan tertawa dan mengajak Gaby duduk di sofa.


“Jangan sebal sama orang kalau lagi hamil, nanti anaknya malah ada yang mirip sama mereka.”


“Kamu sudah periksa ke dokter ?” Gaby mengangguk.


“Sebentar.”


Gaby beranjak dan berjalan ke kamarnya tapi tidak lama ia keluar lagi sambil membawa buku.


“Ini fotonya, baru 4 minggu.”


Wajah Jonathan terlihat sumringah, tangannya meraba foto USG yang ditempel di buku. Senyum bahagia dan rasa haru terpancar di wajahnya. Tangan kanannya merangkul Gaby dan mencium kening istrinya itu.


“Terima kasih untuk semuanya, Bi,” ujar Jonathan sambil menyatukan kening mereka. Gaby tersenyum sambil mengangguk.


“Kamu kok langsung kepikiran ke dokter obgyn ? Mimi dan Raina tahu soal kehamilan kamu ?” Gaby menggeleng membuat Jonathan mengerutkan dahinya.


“Kejadian di hotel itu sedikit memalukan buat Gaby apalagi saat tahu kalau itu semua bukan inisiatif Mas Nathan tapi rencana gila orang lain yang khawatir soal Mario. Ada rasa sedih, kecewa dan marah karena Mas Nathan tidak juga menemui Gaby setelah malam itu sampai akhirnya Gaby positif hamil.

__ADS_1


Gaby menemui Om Sofian dengan rasa marah dan kesal saat tahu kalau hamil, Gaby bertanya kenapa bisa terlintas dalam pikiran mereka untuk melakukan hal gila semacam itu dengan status kita yang bukan lagi suami istri. Gaby takut anak ini lahir tanpa ayah. Saat itu juga Om Sofian akhirnya menjelaskan soal permohonan cerai kita yang nggak pernah diproses dan segala cerita tentang perusahaan termasuk Kak Kendra yang hanya dipindahkan untuk sementara waktu. Saat itu Gaby belum bilang kalau Gaby hamil.”


“Pantas Kendra dan Om Sofian kaget pas aku bilang kalau kamu lagi hamil.”


“Mas Nathan tahu darimana kalau Gaby hamil ?”


“Semalam isi tas kamu berantakan di lantai. Setelah kamu tidur aku berniat merapikannya dan menemukan obat-obatan dalam tas itu. Aku takut kalau kamu mulai mengkonsumsi obat penenang makanya langsung buka aplikasi untuk mencari tahu. Aku lega banget sekaligus senang karena kamu mengkonsumsi vitamin untuk ibu hamil. Tiba-tiba aku berpikir jangan-jangan perempuan yang tidur denganku malam itu adalah kamu. Sebetulnya aku tidak terlalu percaya saat Kendra bilang ia membiarkan aku yang sedang mabuk pulang sendirian, naik taksi pula.”


“Kalau Om Sofian tidak kasih tahu kalau kita belum cerai, Gaby mana mau mandiin Mas Nathan. Nyebelin, ngeselin ! Istri kesal dibiarinin aja sampai berbulan-bulan !”


“Maaf Bi, maaf. Akhirnya aku membuktikannya sekarang kalau perempuan itu senang dirayu, saat mulutnya bilang nggak, hatinya sebetulny mau,” sahut Jonathan sambil tergelak.


“Maksudnya ?”


“Kamu tuh bilang sebel dan benci terus sama aku tapi ternyata hatimu mengharapkan aku juga.”


“Haiiss… mana ada ceritanya orang yang berbuat salah malah diuber-uber. Jadi selama ini Mas Nathan nggak sadar udah berbuat kesalahan besar ? Nyebelin !


Gaby berdiri sambil bertolak pinggang dan matanya melotot. Ia meninggalkan Jonathan yang masih tertawa dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


“Bi, apa sejak hamil emosi kamu kayak roller coaster gini ?” bisik Jonathan yang menyusul ke dapur.


“Memangnya salah, ya ?” lirih Gaby.


Jonathan membalikkan tubuh Gaby hingga mereka berhadapan.


“Nggak tahu, baru pertama kalinya istri kecilku begini,” ujar Jonathan sambil membelai kepala Gaby.


“Jadi ?”


“Boleh aku tinggal sama kamu lagi ?”


“Pekerjaan Mas Nathan gimana ?”


“Aku harus tetap mengajar sampai semester depan jadi aku akan tetap tinggal di dekat sana tapi pindah ke apartemen supaya kamu bisa menginap kalau lagi kangen sama aku. Aku akan pulang kemari setiap Jumat sore atau Sabtu.”


“LDR lagi ?”

__ADS_1


“Aku sangat berharap bisa menemani setiap hari selama masa kehamilan pertamamu ini tapi aku tidak mungkin berhenti bekerja dan kamu juga nggak bisa cuti kuliah. Yang pasti setiap ada waktu senggang aku pasti akan memberikannya untukmu.”


Gaby mengangguk dan memeluk Jonathan yang tidak berhenti tersenyum dan menciumi rambut Gaby.


__ADS_2