
“Sayang, bangun.”
Gaby menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya. Matanya mengerjap dan merasakan hembusan hangat nafas Jonathan yang mencium keningnya lalu turun ke mata, pipi dan berakhir di bibir.
“Gaby belum sikat gigi.”
“Nggak apa-apa, masih wangi. Kalau Mama nggak lagi nunggu kamu di bawah, aku mau ajak kamu mengulang yang semalam,” bisik Jonathan.
“Mama ? Mama dan Kak Jenny sudah sampai ?”
Gaby terlonjak duduk di atas ranjang dengan mata membola. Jonathan langsung memeluknya.
“Jangan kelamaan begini soalnya aku mudah tergoda. Udah kelamaan dibiarkan nganggur jadi maunya nambah terus,” ujar Jonthan sambil tekekeh.
Gaby yang baru sadar buru-buru menarik selimut yang terlepas. Wajahnya langsung panas karena sadar kalau dirinya belum berpakaian. Terlalu lelah dengan ulah Jonathan semalam, Gaby langsung tertidur pulas.
Gaby sempat khawatir karena kondisi tangan Jonathan masih menggunakan penyangga meski gips nya sudah dilepas, tapi di luar dugaan, suaminya itu tetap lincah di atas ranjang bahkan bisa membuat Gaby sampai kelelahan.
“Kita mandi dulu baru sarapan ya ? Aku masih perlu dibantu.”
“Beneran nggak bisa sendiri ? Semalam bisa begituan tanpa mengeluh sakit.”
“Olahraga semalam tidak perlu memakai 2 tangan tetap bisa jalan, buktinya kamu sampai minta nambah dan menjerit keenakan.”
“Iihh lebay, siapa yang minta nambah apalagi sampai jerit-jerit.”
“Enak Mas Nathan… Gaby masih sanggup kok, debay juga pasti senang dikunjungi sama papinya,”
ledek Jonathan sambil tergelak. Ia beranjak bangun mengambilkan pakaian Gaby yang tercecer di lantai.
“Ya udah besok-besok kalau diajak main kuda-kudaan, Gaby akan menolak, kalau nggak bisa menolak, Gaby bakalan diam aja.”
“Jangan dong sayang, justru suara kamu bikin gairah dan semangatku makin menggebu.”
Gaby turun dari ranjang sambil menggerutu, namun memang harus diakui kalau ulah Jonathan membuat Gaby melayang-layang dan susah menolak.
“Mandiin ya.”
Gaby masih menggerutu tapi pakaian milik Jonathan tetap dibawanya ke kamar mandi.
“Duh kayak pengantin baru aja, nih,” ledek Jenny yang baru saja selesai menjemur pakaian.
“Kak Jenny kapan sampai ?” Gaby langsung menghampiri Jenny dan memeluknya.
“Tadi pagi jam 9. Kata Kak Nathan kamu masih tidur kayak bayi, gara-gara habis dikerjain dan dibuat nggak bisa tidur sampai pagi,” bisik Jenny lalu tergelak.
__ADS_1
Wajah Gaby langsung merona dan tersipu. Ia pun melirik tajam ke arah Jonathan yang mengangkat kedua bahunya.
“Mama,” Gaby beralih memeluk mama Hani yang keluar dari dapur membawa sepiring bakwan jagung yang baru matang.
“Sarapan dulu, kamu pasti udah lapar apalagi habis dikuras tenaganya sama Nathan.”
Mata Gaby membola lagi dan wajahnya tambah merona. Ia kembali melirik Jonathan yang memasang wajah tidak bersalah.
“Bukan Kak Nathan yang laporan, tapi leher kamu tuh. Pasti suami kamu sengaja mau pamer karena nanti malam bakalan ketemu sama mantan-mantan kamu,” ledek Jenny.
Gaby langsung menutupi lehernya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya tersipu karena keganasan Jonathan semalam meninggalkan jejak yang bisa dilihat banyak orang.
“Nggak apa-apa, kan kita suami istri juga. Biar aja Doni dan Joni lihat leher kamu, biar mereka tahu kalau kamu tuh udah jadi milikku.”
Gaby memutar bola matanya dengan wajah kesal. Ia pun menarik kursi meja makan, berseberangan dengan Jenny yang sudah duduk lebih dulu.
“Kak Jenny jadi naik kereta ? Mas Nathan bilang tiba di Jakartanya siang.”
“Gimana mau naik kereta, Gab, lah wong Mama mau balik tinggal di sini lagi sama kamu. Tapi jangan ge-er dulu, keputusan Mama demi calon anak kalian bukan karena kamu doang.”
“Kamu tuh asal ya !” Mama mencubit pipi Jenny yang meringis.
“Jangan didengar adik iparmu ini, Gab. Mama mau merawat kamu sekalian, masa hanya demi calon cucu Mama.”
“Jenny tuh iri sama kamu, Bi soalnya udah umur segitu belum ada cowok tampan yang melirik dia sementara kamu yang masih unyu-unyu malah udah mau punya anak. Ini susu bumilnya diminum dulu.”
Hampir saja Gaby tersedak susu saat melihat ekspresi wajah Jonathan yang kesal sedang melotot pada Jenny.
“Udah nggak butuh uang bulanan ?”
“Dasar om-om galak, beraninya ngancam anak kecil,” Jenny menjulurkan lidahnya.
“Gaby juga terpaksa sih, Kak,” ujar Gaby.
“Terpaksa tapi minta nambah terus,” sahut Jonathan sambil tersenyum meledek.
Mama Hani tertawa bahagia melihat putranya bisa kembali lagi dengan Gaby bahkan sebentar lagi akan mendapatkan buah cinta mereka.
“Nanti malam jadi acara tahun baruan di sini ?”
“Jadi, Ma. Kemarin Gaby sudah belanja semua keperluannya. Mama nggak usah repot masak-masak, paling Gaby mau buat kue aja. Puding udah ada di kulkas.”
“Jangan lupa tambahin tato di leher Gaby, Kak. Kalau perlu Gaby bikin tato juga di lehernya Kak Nathan,” ledek Jenny.
“Yuk ! Aku sih nggak nolak.”
__ADS_1
Mata Gaby langsung melotot dan menyikut perut Jonathan.
“Cuti sampai bulan depan !”
***
“Mas Kendra beneran nggak nyesel pacaran sama anak kuliah ?”
“Iya, beneran. Kamu masih ragu ?”
“Sedikit.” Kendra yang menyetir mobil melirik sekilas sambil menautkan alisnya.
“Aku tahu kalau Mas Kendra sudah banyak pengalaman soal wanita sedangkan Mas Kendra adalah yang pertama bagiku. Saat ini aku tidak berharap hubungan kita bisa seperti Gaby dan Pak Nathan, tapi tolong kalau suatu saat nanti Mas Kendra ingin mengakhirinya, jangan dengan cara berselingkuh seperti yang sempat dialami Gaby. Cukup bilang kalau hubungan kita nggak bisa dilanjutkan lagi.”
“Kamu kok pesimis gitu ?” Kendra mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Mimi.
“Terus terang melihat kejadian yang sempat dialami Gaby, aku sedikit takut memiliki kekasih yang lebih tua dan sudah berpengalaman tapi Gaby mencoba membuka pikiranku dan bilang kalau aku tidak berani mencoba maka tidak akan pernah menjadi pintar. Di sisi lain, aku nggak bisa menyangkal terus kalau aku merasa nyaman dengan Mas Kendra.”
“Sepertinya aku harus berterima kasih pada Gaby karena membuatmu membuka hati.”
Kendra tertawa dan mencubit gemas pipi Mimi.
“Mi, aku memang banyak berganti-ganti teman wanita dan bukan lelaki yang kolot seperti Jonathan tapi kamu adalah perempuan pertama yang resmi menjadi kekasihku. Selama ini mereka semua hanya teman untuk senang-senang semata karena pada dasarnya aku tidak berani berkomitmen.
Sama sepertimu, aku pun belajar dari kehidupan Nathan dan Gaby. Aku kagum pada Nathan yang bisa mencintai satu wanita begitu dalam dan rasanya menyenangkan.
Saat ini aku tidak berani menjanjikan semuanya akan selalu indah, tapi satu hal yang pasti, aku akan belajar menjadi pria yang konsisten dan berani berkomitmen. Semoga saja kamu bisa sabar menghadapiku dan membantuku untuk menjadi pria yang lebih baik.”
Mimi mengangguk sambil tersenyum, ia pun membalas genggaman jemari Kendra yang terasa hangat.
“Sepertinya kita kepagian, Mi. Kamu mau turun sekarang atau mau kemana dulu ?”
“Gaby memang memintaku datang lebih pagi untuk membantunya. Tuh daftar tugas yang dia kirim tadi siang.” Mimi memperlihatkan layar handphonenya.
“Dasar bumil ! Udah tambah galak, tambah pula seenaknya suruh pacar orang kerja ini itu,” gerutu Ke dra, Mimi hanya tertawa dan tangannya sudah membuka pintu mobil.
“Mi,” Kendra menahan lengan Mimi.
“Kenapa lagi ?”
Kendra menarik lengan Mimi hingga mendekat ke arahnya bahkan kepala Mimi sampai menabrak dada Kendra.
“I love you,” bisik Kendra lalu mencium pipi Mimi.
Mata Mimi membola dan wajahnya langsung merona. Tanpa bicara apapun, gadis itu bergegas turun dengan wajah tersipu dan jantung yang berdebar tidak karuan.
__ADS_1
“Ternyata begini rasanya, bikin gemas banget punya pacar anak kecil yang masih polos,” gumam Kendra sambil tersenyum.