Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Yang Pertama


__ADS_3

Maya langsung menggebrak meja begitu melihat foto yang ada di handphone Jihan. Foto Jonathan sedang menggendong Gaby yang sedang jadi trending topik di kalangan SMA Dharma Bangsa.


“Kamu yakin ini terjadi di lingkungan sekolah dan bukan dibuat-buat ?”


“Tentu saja adegan ini asli terjadi di sekolah, Bu. Sesuai info dari teman saya, kemarin Gaby memang sakit dan sempat ke UKS.”


“Aarrghhh !”


Maya melempar setumpuk berkas yang ada di mejanya hingga satu kotak peralatan tulis ikut tersenggol dan isinya berserakan di lantai.


“Bagaimana bisa anak ingusan itu membuat Jojo sampai rela menggendongnya seperti itu ?” geram Maya sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Tampang Gaby memang menipu. Apa yang dilakukannya pada Pak Nathan belum seberapa, Bu. Bisa ibu bayangkan bagaimana kecewanya saya saat tahu kalau ayah saya sampai merelakan semua hasil kerja kerasnya hanya untuk anak durhaka itu.”


Maya meraih botol air mineral di atas meja dan meneguknya dengan perasaan emosi. Hatinya terasa panas karena Jonathan yang dikenalnya bukanlah laki-laki yang mudah jatuh dalam bujuk rayu wanita, tapi begitu pria itu jatuh cinta, sulit untuk membuat hatinya beralih pada yang lain.


“Buat gosip itu bertambah panas !”


“Maksud Ibu ?” jihan megerutkan kedua alisnya.


“Kirimkan pada temanmu foto pernikahan Jojo dengan anak ingusan itu sebagai jawaban atas kecurigaan mereka. Aku yakin foto itu bisa membuat masa depan adikmu berantakan atau minimal ia tidak akan bisa tenang menyelesaikan masa SMA-nya.”


Jihan terdiam, ia tidak berani mengiyakan atau menolak permintaan Maya.


“Kenapa ? Kamu takut kalau adikmu akan langsung menuduh kalian sebagai sumbernya ?”


“Bukan hanya itu, ibu saya pasti akan mengamuk kalau sampai kami ketahuan berusaha mencelakainya karena sanksi hukum yang harus kami terima : rumah yang kami tempati saat ini akan kembali menjadi miliknya.”


“Lalu untuk apa kamu datang menemui saya dan mengajak bekerjasama untuk membalaskan sakit hatimu padanya ?” Maya tersenyum mengejek.


“Lagipula kalau sampai foto pernikahan mereka beredar, apa Ibu rela kalau Pak Nathan juga harus menanggung akibatnya ?”


“Kemungkinan besar ijin mengajar Jojo akan dicabut, berarti kesempatan saya untuk menariknya masuk ke dalam perusahaan ini lebih mudah karena dia masih membutuhkan uang untuk membiayai hidup ibu dan adiknya.”


“Saya rasa Pak Nathan tidak memerlukan tawaran Bu Maya karena saat ini dia sudah bekerja di perusahaan keluarga Gaby.”


“Tugasmu membuat suasana yang tengah panas ini bertambah panas hingga menciptakan api yang tidak bisa dipadamkan sedangkan saya akan membuat perusahaan adik tirimu itu berantakan hingga Jojo tidak punya pilihan lain kecuali menerima tawaran saya untuk bekerja di sini.”


Jihan menarik nafas dalam-dalam karena tidak yakin bisa memenuhi permintaan Maya.


“Kenapa lagi ?”


“Saya tidak yakin kalau kami memiliki file foto pernikahan Pak Nathan dan Gaby. Ayah saya begitu ketat mencegah kami mengganggu kehidupan Gaby.”


“Dasar amatir !” Maya tertawa mengejek. “Kalau kamu tidak punya foto pernikahan mereka, kamu bisa menyuruh orang untuk mengambil foto yang membuktikan kalau keduanya tinggal satu rumah.”


Wajah Jihan langsung berbinar dan ia mengacungkan jempolnya pada Maya.


“Memang beda pikiran seorang pemimpin yang hebat seperti Ibu, selalu ada jalan untuk keluar dari masalah.”

__ADS_1


“Kamu memuji atau menghina saya ?” Maya menarik satu sudut bibirnya.


“Bereskan semua kekacauan ini, jangan sampai daddy melihat semua ini saat rapat nanti. Bisa-bisa daddy menertawakan saya karena berhasil dibuat kesal oleh Jojo.”


*****


Malam ini Jonathan kembali dibuat kesal dengan kedatangan Kendra saat makan malam. Dengan alasan tidak enak menolak ajakan Om Sofian sekaligus ingin membesuk Gaby, Kendra datang tanpa memberitahu Jonathan.


Untung saja Gaby yang mulai paham dengan tugasnya sebagai istri menunjukkan kalau ia memihak suaminya dan menjaga jarak dengan Kendra yang sempat berusaha mendekatinya.


Gaby baru saja selesai bebersih di kamar mandi dan masuk ke kamar Jonathan. Wajah pria itu masih ditekuk dengan posisi duduk di pinggir ranjang.


“Orangnya udah pulang dari tadi, ngapain Mas Nathan masih aja membiarkan rasa kesel itu bertahan di hati ?”


“Karena Kendra memang ngeselin, nggak bisa diajak ngomong pakai Bahasa Indonesia yang benar,” gerutu Jonathan dengan wajah kesalnya.


“Yang penting saya-nya nggak menanggapi Kak Kendra, beres kan ? Kecuali saya juga cari gara-gara atau malah mengundang Kak Kendra untuk menggoda saya.”


Jonathan hanya diam saja. Ia beranjak bangun dan pindah duduk di kursi meja kerjanya. Gaby pun menghela nafas dan menyusul suaminya.


“Kasih saya kunci kamar Kak Jenny !” Gaby mengulurkan tangan seperti orang sedang minta sesuatu.


“Kamu mau bikin saya tanbah kesal ?”


“Bukan tapi saya nggak mau ketularan kesal sama Mas Nathan. Saya udah nurut panggil Mas Nathan, saat makan malam saya berusaha menjaga perasaan Mas Nathan tapi masih aja nggak bisa membuat hati Mas Nathan tenang. Saya mau tidur, mau istirahat buat persiapan menghadapi pertanyaan para penggemar besok. Mereka pasti udah siap-siap meluncurkan banyak pertanyaan kayak wartawan gosip.”


Tidak boleh sampai gagal melewati malam pertama tidur satu ranjang sebagai suami istri. Tapi Jonathan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan langsung menuntut haknya sebagai suami. Ia sadar kalau sikapnya pada Gaby selama 6 bulan pernikahan mereka, bukannya membuat Gaby tambah cinta malah sering terluka.


Jonathan akan memulai kehidupan pernikahan mereka dari titik awal dan perlahan-lahan. Selain dirinya juga merasa gugup, Jonathan tidak ingin mengganggu Gaby yang harus fokus menyelesaikan SMA-nya.


Keduanya sudah berbaring di ranjang dengan berjarak namun dalam satu selimut yang sama. Tubuh dan wajah mereka sama-sama tegang karena bagi keduanya ini adalah pengalaman pertama. Posisi keduanya tegak lurus menatap ke langit-langit kamar.


Meskipun sudah lama berpacaran dengan Maya yang merupakan wanita modern dan bebas, Jonathan selalu menjaga aturan-aturan yang harus dijalani sebelum mereka menikah.


“Kamu nggak ngantuk ?” tanya Jonathan berusaha memecah keheningan.


“Sebetulnya tadi ngantuk banget, tapi sampai di ranjang kenapa mata saya susah memejam.”


“Kamu takut saya apa-apain ?”


“Ehh… nggak Pak, maksud saya Mas Nathan.”


“Beneran kamu nggak takut ?”


“Nggak !” tegas Gaby dengan suara sedikit tinggi yang membuat Jonathan malah tertawa.


“Dasar abege pembohong !” ledek Jonathan.


“Dari suara kamu aja saya tahu kalau kamu tuh khawatir makanya nggak mau tidur duluan.”

__ADS_1


“Saya nggak takut, hanya belum terbiasa tidur berdua dengan orang asing.”


“Saya suami kamu, bukan orang asing !” protes Jonathan. “Lagipula sebulan pertama kita selalu tidur satu kamar meskipun nggak satu ranjang. Sekarang hanya masalah posisi tempat tidur kamu aja yang naik tingkat.”


“Naik kelas maksud Mas Nathan ?” tanya Gaby sambil terkekeh.


Mata Gaby membola saat Jonathan mendekatinya dengan posisi miring dan kepalanya ditopang dengan tangan.


“Bapak mau ngapaian ?” Terlalu gugup membuat Gaby salah memamggil, untung saja Jonathan tidak memberikan hukuman.


“Saya mau bilang kalau saya sama gugupnya kayak kamu hanya saja saya sudah pernah pacaran jadi saya lebih cepat menyesuaikan diri. Tidur bersama perempuan juga pengalaman pertama buat saya karena sejak dulu saya selalu menjunjung prinsip semua baru bebas dilakukan setelah menikah.”


“Jadi dengan Bu Maya…”


“Ciuman pernah tapi belum sampai sejauh yang saya pernah lakukan sama kamu.”


Wajah Gaby merona, ia mengalihkan pandangan ke samping.


“Gab, udah saya bilang kalau lagi ngomong jangan buang muka apalagi sama suami sendiri.”


Wajah Gaby tambah panas saat Jonathan kembali mengingatkan statusnya.


“Saya tidak akan menuntut hak saya selama kamu belum siap. Biarpun lama, saya akan menunggu sampai kamu selesai ujian SMA, setelah itu saya nggak janji akan menahannya.”


“Nggak nunggu sampai saya selesai kuliah ?”


“Kamu mau buat saya jadi perjaka tua biar sudah menikah ?” mata Jonathan melotot membuat Gaby malah tertawa pelan.


“Sekarang kamu tidur, jangan takut ! Saya nggak akan apa-apain kecuali kamu memang minta saya apa-apain.”


Gaby tersipu apalagi saat Jonathan mencium keningnya.


“Masalah foto jangan khawatir, kita akan hadapi bersama-sama.”


Gaby tersenyum canggung dan mengangguk lalu memiringkan badannya, memunggungi Jonathan.


“Gab !”


Gaby membalikkan badan lagi dan menatap Jonathan dengan malu-malu.


“Kamu nggak mau kasih saya ciuman di pipi sebelum tidur ? Minimal biar saya mimpi indah karena bisa tidur seranjang sama istri.”


Gaby mengangkat wajahnya sedikit supaya bisa menjangkau pipi Jonathan yang masih dalam posisi yang sama.


Jonathan tersenyum saat bibir Gaby menyentuh pipinya. Lalu tanpa malu ia menunjuk pipi satunya yang belum dicium.


“Selamat bobo, Gab.”


“Selamat malam Mas Nathan.”

__ADS_1


__ADS_2