
“Terima kasih, Dad,” dengan wajah sumringah Maya langsung menghampiri daddy Harry di ruang kerjanya dan memeluk pria yang selalu memanjakannya.
”Apa suasana hatimu jauh lebih baik sekarang ?” tanya daddy Harry sambil menepuk-nepuk punggung putri tunggalnya.
”Bukan hanya baik, tapi sangat baik,” sahut Maya dengan wajah sumringah sambil melerai pelukannya.
“Dan kamu masih ingin memiliki pria yang berani mengakui istrinya sendiri sebagai sepupu dan meninggalkan kamu hanya demi jabatan CEO yang sekarang disandangnya karena menikahi anak ingusan itu ?”
“Dad, Jojo terpaksa melakukannya karena desakan orangtua anak ingusan itu,” ujar Maya dengan wajah cemberut dan bergelayut manja pada lengan daddy Harry.
Daddy Harry tersenyum sinis. Ia sangat mengenal Hendri Kusuma, pria yang selalu menjadi saingannya sejak dulu dan sempat membuat hidupnya berantakan puluhan tahun silam.
Senyum licik semakin lebar di wajah daddy Harry. Kepuasan yang didapatnya bukan hanya untuk Maya tapi juga dirinya sendiri. Semoga saja harapan Maya terwujud dan anak Hendri Kusuma itu benar-benar hancur seperti saat Maya ditinggalkan oleh Jonathan.
“Sebetulnya apa kelebihan anak itu sampai Jonathan memilihnya dan melepaskanmu ? Apa ada fotonya ? Daddy sampai lupa menanyakan wajah anak itu.”
“Dad, apa pentingnya daddy tahu wajah dia ? Hanya anak kecil yang nasibnya beruntung karena mendapat warisan dari keluarga maminya.”
“Biarkan daddy menilai dari sudut pandang daddy.”
Daddy Harry mengulurkan tangan sebagai isyarat supaya Maya memperlihatkan foto Gaby padanya.
Daddy Harry mengernyit, mengamati wajah yang ada di layar handphone Maya dengan seksama karena wajah Gaby terlihat familiar.
“Namanya Gabriela Kusuma, baru kelas 12 dan merupakan anak kedua Om Hendri. Sebetulnya dia…”
Belum sempat Maya meneruskan ceritanya, ruangan daddy Harry diketuk 3 kali dan Adam, asisten daddy muncul dari balik pintu.
“Maaf mengganggu, Pak, sepertinya Bapak harus ke ruang meeting sekarang. Maaf Nona Maya.”
“Ok saya ke sana sekarang.”
Daddy Harry mengembalikan handphone Maya sambil berjalan meninggalkan meja kerjanya.
”Nanti kita ngobrol lagi,” ujar Daddy Harry sambil menepuk bahu putrinya.
Maya tersenyum tipis sambil mengangguk. Jadwal daddy Harry memang cukup padat saat berada di kantor hingga Maya dan kedua kakaknya perlu membuat janji bila ingin bertemu.
__ADS_1
***
”Kamu mau kemana, Gab ?” tanya mama Hani saat melihat menantunya sudah bersiap pergi usai menyelesaikan tugas harian.
Libur semesteran sudah dimulai dan rencana ke Yogya terpaksa ditunda karena masalah perkebunan kopi dan teh masih membuat Jonathan sibuk dan resah karena serangan hama dan jamur datang silih berganti.
“Mau ke rumah mama Gina, Ma.”
“Apa Nathan sudah tahu ?”
“Gaby sempat ngomong sama Mas Nathan beberapa hari lalu tapi tidak ada jawaban yang pasti. Gaby. kasihan melihat Mas Nathan dibuat pusing dengan masalah perkebunan, ditambah khawatir takut Jihan melakukan sesuatu pada Gaby di sekolah. Gaby mau membantu Mas Nathan, Ma. Mungkin dengan cara ini Jihan bisa menahan diri dan menasehati Maya supaya berhenti mengganggu Mas Nathan.”
“Itu sudah tugas suami melindungi istrinya, Gab,” ujar Mama Hani sambil tersenyum dan membelai kepala Gaby yang duduk di sampingnya.
“Mama senang meihat hubungan kalian membaik dan saling peduli dalam menghadapi situasi yang cukup berat saat ini. Mama berdoa semoga perasaan cinta yang baru mulai tumbuh di antara kalian tidak mudah goyah karena berbagai rintangan dan godaan.”
“Menurut Mama gimana ? Apa Gaby salah kalau pergi menemui mama Gina dan menceritakan soal kejadian di sekolah ?”
“Apa kamu sudah punya buktinya kalau itu semua perbuatan Jihan ? Kalau tidak punya, jangan kamu langsung tunjuk Jihan sebagai pelakunya karena Gina tidak mungkin menerima begitu saja.”
Gaby tersenyum sambil mengangguk-angguk dan tanpa mama Hani duga, gadis itu memeluknya dari samping.
”Mama juga senang tambah anak kayak kamu selain nggak kesepian, berat badan Mama nambah juga nih karena ketagihan masakan kamu,” ujar mama sambil tertawa dan menepuk-nepuk punggung gadis itu.
Gaby ikut tertawa dan melepaskan pelukannya.
“Gaby pergi dulu, Ma. Semoga aja masalah ini bisa cepat beres.”
Mama mengangguk dan mengantar Gaby sampai di gerbang. Motor matic kesayangannya sudah siap membawanya ke rumah masa kecilnya.
***
Diperlakukan seperti tamu membuat Gaby tersenyum getir. Foto keluarga yang terpajang di ruang tamu itu hanya menghadirkan Jihan dan Lisa. Foto itu diambil saat Gaby baru saja naik kelas 11 dan mama Gina sengaja tidak memberitahu Gaby kalau hari itu mereka berencana ke studio untuk foto keluarga.
Akhirnya Gaby datang meski terlambat dan ternyata mama Gina memang sengaja tidak mau mengajaknya foto. Papi yang kasihan melihat Gaby sudah ada di situ akhirnya mengajak Gaby untuk foto berdua.
Gaby menarik nafas dalam-dalam. Melihat foto papi membuat Gaby merasa rindu. Meskipun Gaby tidak memiliki banyak kenangan indah dengan papi, tapi Gaby tahu kalau papi menyayanginya.
__ADS_1
“Tumben kamu kemari.” Sapaan dengan nada tidak ramah membuat Gaby kembali tersenyum tipis.
”Tentu saja karena saya ada perlu Ma…..Maksud saya Tante Gina.”
Dengan gaya sombong yang berusaha ditahan, Tante Gina menyuruh Gaby duduk hanya dengan isyarat matanya.
Gaby mengeluarkan handphone dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Tante Gina supaya bisa terlihat jelas.
”Foto-foto ini beredar di sekolah dan saya yakin kalau Kak Jihan mengetahui kehebohan yang terjadi karena foto dan video ini. Pihak sekolah dan teman-teman saya sedang mencari tahu otak pelakunya dan kalau sampai nama Kak Jihan keluar sebagai hasil temuan mereka, Tante sudah tahu konsekuensinya.
Tolong berikan penjelasan pada Kak Jihan tentang perusahaan dan alasan papi bersedia menempatkan diri sebagai karyawan bukan suami dari pemilik di sana.”
“Kamu mengancam Tante ?”
“Tidak ada untungnya saya mengancam Tante, tapi apa yang Kak Jihan lakukan sudah melewati batas kesabaran saya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada perusahaan yang mendatangkan kerugian, bukan hanya saya dan Mas Nathan yang menanggungnya, tapi biaya hidup keluarga ini termasuk biaya pendidikan Kak Jihan dan Lisa otomatis ikut menerima akibatnya.
Saya yakin Tante tidak lupa kalau tante dan papi pernah menandatangani pernyataan yang memuat hal-hal semacam itu setahun yang lalu.”
Wajah Tante Gina mulai merah menahan emosi karena merasa terancam dengan ucapan Gaby.
“Tolong Tante ingatkan Kak Jihan kembali. Siapa tahu hati saya tersentuh kalau Kak Jihan berhenti mengganggu kehidupan saya dan rumah ini bisa segera menjadi milik Tante tanpa harus menunggu 4 tahun lagi.”
“Saya tidak perlu janji manismu,” sahut Tante Gina dengan senyuman sinis.
”Saya tidak suka dengan manusia yang bermulut manis namun berhati busuk,” sahut Gaby sambil tersenyum tipis.
“Selama Tante dan Kak Jihan tidak mengusik kehidupan saya, semuanya pasti akan baik-baik saja, tapi begitu saya mendapatkan bukti kalau Kak Jihan terlibat dalam kasus foto ini, jangan harap saya akan diam saja seperti yang lalu.”
Gaby beranjak bangun dan menatap sekilas foto keluarga yang sejak datang mencuri perhatiannya.
“Sejak foto itu dibuat, Tante sudah menunjukkan bagaimana posisi saya di rumah ini. Kita menjadi keluarga hanya karena papi berarti setelah papi tidak ada maka hubungan kita juga berakhir. Kalau sampai terjadi sesuatu yang mengancam saya, suami saya dan keluarganya, saya akan mengambil langkah tegas tanpa memandang Tante sebagai keluarga.”
Gaby tersenyum dengan tatapan sedikit megintimidasi membuat Tante Gina bertambah geram.
“Saya permisi dulu.”
Gaby langsung keluar sambil menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum lebar, puas karena sudah bisa membuat Tante Gina susah berkata-kata.
__ADS_1
“Dasar wanita materialistis, diancam harta langsung kicep,” ujar Gaby sambil cekikikan sendiri.