
Pagi ini Gaby berangkat dengan motor kesayangannya karena Jonathan harus rapat pagi membahas tindakan yang harus diambil pasca kebakaran.
Danu, Bimbim dan Joni sudah menunggunya di gerbang utama sekolah Dharma Bangsa dengan wajah serius, membuat firasat Gaby langsung tidak enak.
“Kenapa ?”
Gaby menghentikan motor persis di depan mereka. Ia merasakan kalau banyak mata menatapnya dengan berbagai makna bahkan beberapa saling berbisik.
“Gosip apa lagi ?”
“Belum buka wa ?” tanya Danu dengan alis menaut. Gaby menggeleng sambil meraih handphone dari dalam tas.
Mata Gaby membola saat melihat foto pernikahannya dengan Jonathan terpampang di wa grup sekolah. Ada 2 foto terpampang di sana.
“Bukan Dona lagi, kan ?” tanya Gaby sambil menghela nafas.
“Bukan, elo lihat dong nama yang posting fotonya,” sahut Joni.
“Ivana ?” Bimbim mengangguk.
“Kejadiannya sama kayak Dona ?”
“Kali ini Ivana melakukannya dengan sadar, alasannya ia diancam oleh penelepoh gelap dan meminta Ivana langsung memblokir nomor itu begitu selesai memposting di wa grup atau hidupnya akan dibuat tidak tenang karena si penelepoh masih memantau Ivana.”
”Jadi elo nggak bisa melacak si pengirim foto ?” tanya Gaby sambil menatap Joni.
“Bisa dicoba selama Ivana membiarkan handphonenya gue periksa ulang.”
“Biar Bimbim yang bawa motor elo ke parkiran. Gue dan Joni akan temenin elo ke ruangan Pak Liman.”
Gaby menghela nafas dan menurut permintaan Danu, ketiganya berjalan kaki menuju ke gedung SMA.
”Mau kemana ?” hadang Marsha di depan gerbang SMA.
“Ke ruangan Pak Liman, Gaby diminta ke sana,” sahut Danu yang langsung disambut dengan tepukan tangan Marsha dan tawa sinisnya.
“Ternyata elo memang bi**ch sejati. Belum cukup menikahi Pak Nathan sekarang membuat mereka jadi bodyguard lo ?” sindir Marsha sambil mendorong bahu Gaby. Dengan sigap Joni langsung menahan tubuh mungil Gaby.
“Marsha !” teguran Pak Liman membuat banyak siswa langsung menatap ke arah kepala sekolah itu.
__ADS_1
“Masuk ke kelas kalian. Masalah ini akan diurus setelah kalian selesai ulangan !” tegas Pak Liman.
“Tapi Pak…”
“Saya bukan melarang kamu protes, tapi akan kita bicarakan setelah kalian selesai ulangan hari ini.” pak Liman kembali menegaskan ucapannya dan tatapannya menunjukkan tidak bisa dibantah.
Marsha sempat melotot sambil mengumpat Gaby. Raina dan Mimi yang baru saja tiba langsung bergabung dengan Danu dan Joni.
“Semoga elo bisa tetap sekolah sampai lulus,” ujar Raina sambil merangkul bahu Gaby menuju kelas mereka.
“Semoga,” ujar Gaby sambil tersenyum tipis.
“Jangan pesimis, Gab, gue yakin selama elo nggak hamidun, masih aman untuk menyelesaikan sekolah yang tinggal ujian doang,” ujar Mimi sambil mengusap-usap punggung sahabatnya.
“Jangan khawatir, Gab, nggak semua anak punya harapan sama dengan Marsha dan teman-temannya,” ujar Danu menimpali.
***
Jonathan sempat mengerutkan dahi saat melihat Om Sofian tidak tenang dan bolak balik mematap ke handphonenya. Raut wajar pria setengah baya itu pun terlihat sedikit keruh.
“Maaf saya ijin keluar dulu,” ujar Om Sofian beranjak dari kursinya dan tatapannya seolah minta ijin pada Jonathan.
”Ada masalah apa lagi ?” tanya Jonathan 45 menit setelah Om Sofian meninggalkan ruang rapat.
Kendra tidak menjawab, hanya menunjukkan gambar yang dikirim lewat wa oleh Om Sofian.
”Sh…it !” maki Jonathan. “Tidak ada orang lain yang punya foto ini selain anggota keluarga. Jadi sudah pasti Jihan yang mengirimkan foto ini lewat teman Gaby. Kita ke sana sekarang !”
Kendra menahan lengan Jonathan yang bergegas menuju lift.
“Jangan terburu-buru ! Om Sofian minta kita menunggu lagipula kalau elo sampai datang ke sekolah sekarang juga, suasana bisa jadi malah tambah keruh apalagi kalau sampai elo nggak bisa nahan emosi.”
Jonathan menghela nafas. Hatinya dilema, situasi yang terkadang sangat tidak disukainya. Jonathan merasa terhalang oleh banyak aturan dan tidak sabar untuk menunggu.
“Mau kemana ?” tanya Kendra saat Jonathan tetap menekan tombol lift namun menuju ke atas.
“Menenangkan diri di ruangan sambil menunggu kabar dari Om Sofian. Makan siangnya nanti aja, gue lagi nggak nafsu makan.”
Kendra mengikuti sahabatnya masuk ke dalam lift namun tidak bertanya apa-apa. Jonathan sendiri sibuk memeriksa handphonenya, tapi tidak ada satu pesan pun yang dikirim oleh Gaby.
__ADS_1
“Gue nggak mau diganggu dengan telepon apalagi tamu kecuali Gaby yang telepon atau datang,” pesan Jonathan sebelum masuk ke dalam ruangannya.
“Oke.”
Usai meneguk air di gelas yang ada di atas mejanya, Jonathan berdiri sambil menatap keluar jendela. Kebiasaan baru yang membuat hatinya bisa sedikit tenang.
Ada sedikit keraguan pada dirinya sendiri. Jonathan tidak yakin kalau ia sanggup menyelesaikan masalah yang datang silih berganti seperti “sebuah hukuman” yang diberikan oleh Om Harry karena Jonathan sudah berani menyakiti putrinya dan membohongi istrinya.
Terlihat Jonathan menghela nafas berkali-kali sambil mengetik pesan untuk Gaby, ingin memastikan kondisi istrinya yang sejak kemarin gelisah menghadapi ancaman Marsha.
*(*Gimana ulangan hari ini ? Nggak terganggu dengan masalah foto di grup wa kan ? Tetap semangat dan kuat, tunjukkan pada mereka kalau kamu nggak mudah dibuat menyerah hanya dengan foto pernikahan kita.)
Baru saja pesan Jonathan terkirim, centang 2 di sudut kanan bawah sudah berubah warnanya menjadi biru yang artinya Gaby sudah membaca isi pesannya.
(Lagi di ruang Pak Liman. Om Sofian sudah datang bawa 1 orang. Mas Nathan sudah makan siang ?)
(Percayalah kalau Om Sofian tahu yang terbaik untuk menyelesaikan semua ini, jangan sampai mentalmu drop karena sebentar lagi ujian sekolah.)
(Iya, Gaby percaya. Nanti Gaby ceritakan detilnya.)
Jonathan menggenggam erat-erat handphone dengan tangan kanan. Hati Jonathan masih bergumul dengan rencana yang ingin dilakukannya.
Setelah lima menit berjalan mondar-mandir di depan jendela kaca besar, Jonathan kembali mengetik pesan di handponenya.
Aku sangat membutuhkan teman bicara untuk bertukar pikiran dan entah kenapa hatiku berkata kalau hanya kamu yang paling mengerti diriku dan membantu mencari jalan keluar permasalahanku. Bisakah kita bertemu sekitar jam 5 atau 6 sore ini ?
Mau dimana ?
Mata Jonathan membola saat pesannya langsung dibalas tanpa menunggu lama.
Terserah, tolong pilihkan tempat yang jauh. Aku ingin melewati makan malam yang tenang denganmu seperti yang lalu.
Istrimu tahu ?
Tidak ! Akan aku jelaskan pada saat kita bertemu. Maaf aku sudah sangat menyakitimu dan menyesal telah mengambil keputusan hanya karena permintaan orangtuaku. Kalau kamu masih mengijinkan, aku akan sangat berterima kasih.
Akan aku pikirkan tempat yang cocok dan kubagikan lokasi tempatnya lewat pesan
Terima kasih. Aku sungguh-sungguh berterima kasih. Ternyata cintamu begitu tulus, kalau tidak mana mungkin kamu masih bersedia menemuiku.
__ADS_1
Di seberang sana, wanita itu langsung tersenyum lebar. Meski ia tidak percaya seratus persen dengan pesan yang dikirim Jonathan, hatinya tidak bisa menolak perasaan bahagia karena Jonathan mengajaknya bertemu.