
“Kenapa, Bro ?” tanya Kendra dengan wajah bingung melihat Jonathan berdiri di lobby dengan wajah kesal.
Kepalanya bergerak ke samping melewati badan Jonathan, terkejut melihat Maya ada di belakang bossnya. Tadi usai rapat Kendra ijin keluar sebentar karena harus menemui temannya sekalian makan siang. Kiki, sekretaris Jonathan sedang sakit hingga ijin tidak masuk kerja.
“Gaby datang ke kantor,” lirih Jonathan.
“Terus elo ngapain berdiri doang di sini ? Nggak niat mengejar istri lo ?” tanya Kendra dengan mata melotot.
“Jo…”
“Tolong jangan memperkeruh suasana, Maya,” tegur Kendra. “Seharusnya kamu sadar sudah menjadi penyebab kekacauan siang ini.”
Maya terdiam dan wajahnya nampak sendu saat melihat Jonathan meremas rambutnya. Pria di depannya terlihat begitu frustasi membuat Maya sedikit iri pada Gabriela.
“Maafkan aku, Jo.” Jonathan masih mengabaikannya.
“Elo bawa kunci mobil ?” tanya Jonathan tiba-tiba sambil menatap Kendra.
“Kamu bisa pakai mobilku, Jo,” Maya malah yang menyahut.
“Gue yang setir. Ayo kita jalan !”
Jonathan mengangguk dan meninggalkan Maya begitu saja mengikuti Kendra menuju parkiran mobil.
“Kemana kita ?” tanya Kendra sambil menyalakan mesin.
“Apartemen. Kemungkinan Gaby pergi ke sana untuk menenangkan diri seperti yang lalu.”
Kendra mengangguk dan mencari rute tercepat xengan aplikasi di handphonenya.
“Sebetulnya ada masalah apa lagi ?”
“Maya datang ke kantor, niatnya ingin membicarakan soal penangkapan Leo. Dia minta tolong supaya Leo dibebaskan demi anak yang dikandungnya. Elo pasti tahu jawaban gue, menolak permintaan Maya dan minta dia untuk menerima proses hukum berjalan. Gue hanya bilang akan membuat semuanya berjalan sesuai aturan dan fakta, nggak akan ada skenario lain untuk menyudutkan Leo.
Dia pamit pulang dan gue berniat mengantarnya sampai ke pintu. Tanpa gue duga dia memeluk gue dan bilang maaf lalu terima kasih dan sekali lagi dia mohon agar gue membantunya soal Leo. Nggak tega melihatnya terisak, gue menepuk-nepuk punggungnya sebentar lalu melepaskan pelukannya.
Gue benar-benar nggak sangka saat pelukan kami merenggang, Maya menarik dasi gue dan langsung mencium bibir gue.”
__ADS_1
“Dan elo membalas ciumannya ?” Kendra melirik dengan senyuman sinis.
“Maya berusaha melakukan lebih dari sekedar kecupan tapi gue bertahan, nggak mau membuka mulut sampai dia gigit bibir gue sampai luka. Nih buktinya.”
“Bukti apa ?” sindir Kendra.
“Ken, bagaimana gue harus membuktikan kalau gue sangat mencintai Gaby. Nggak ada perasaan istimewa apalagi bikin jantung gue berdebar saat Maya mencium gue, Ken. Sumpah demi apapun !” Jonathan mengangkat kelima jarinya.
“Elo pasti sempat membiarkan Maya berkesplor untuk memastikan kalau perasaan elo nggak sama dan Gaby melihat adegan itu,” tebak Kendra.
“Ken, gue berusaha mendorong bahunya tapi nggak berani kasar karena Maya sedang hamil. Damn Ken ! Gue nggak membalas ciuman Maya !” pekik Jonathan dengan penuh emosi sampai tangannya memukul dashboard mobil.
“Terus kenapa Gaby sampai pergi ?”
“Gue fokus memikirkan cara melepaskan Maya. Gue nggak mau mendorongnya kuat-kuat lalu dia pura-pura jatuh dan akhirnya malah menuntut gue balik. Gue nggak dengar kalau pintu ruangan dibuka. Gaby nggak mengetuk pintu,” sahut Jonathan dengan berapi-api dan masih emosi.
“Kali ini elo benar-benar kelewatan, Nathan. Gue nggak mau ngebantuin merayu Gaby lagi kalau sampai dia minta cerai.”
“Ken, elo nyumpahin gue pisah sama Gaby ?”
“Bukan nyumpahin, tapi kali ini Gaby nggak akan mudah memaafkan elo, Nathan. Belum lupa kan kalau susah banget meyakinkan dia soal sandiwara gila elo ? Kejadian hari ini ? Gaby melihat live show antara elo dan Maya. Firasat gue bilang Gaby melihat banyak, dia cukup lama menyaksikan uji coba perasaan elo sama Maya.”
“Banyak-banyak doa aja supaya Tuhan masih mau memberikan elo kesempatan.”
****
Maya melamun duduk di kursi penumpang belakang. Ia memang sempat terbawa suasana saat berada di dekat Jonathan. Emosinya yang tidak stabil sejak hamil mendadak tenang begitu berhadapan dengan mantan kekasihnya itu.
“Kamu sepaham sama mami ya, dek,” ucapnya sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
3 hari lalu Maya terkejut saat polisi datang ke kantor menemui Daddy dengan tujuan menjemput Leo sebagai tersangka. Maya benar-benar kaget karena sebelumnya, baik Daddy, Leo atau Martin tidak pernah menyinggung apapun soal keterlibatan Leo dalam kejadian kebakaran di perusahaan Gaby.
Maya berpikir apa yang didengarnya saat Jonathan datang ke rumah hanya kebetulan. Martin dan Leo mengetahui musibah itu dari Daddy.
(Flasback)
“Apa maksudnya ini, Dad ? Apa Daddy akan membiarkan cucu Daddy lahir tanpa didampingi ayahnya ? Kenapa Daddy mengorbankan Mas Leo sebagai kambing hitamnya ?”
__ADS_1
“Jangan emosi seperti ini, Maya, ingat dengan bayi yang ada di dalam rahimmu.”
“Daddy membiarkan Mas Leo menggantikan Kak Martin hanya demi menjaga nama baik keluarga kita ? Aku benci Daddy !”
“Maya !” Leo muncul dari balik pintu bersama Martin.
“Jangan bilang kalau Mas Leo sengaja melakukan ini atas perintah Kak Martin,” lirih Maya dengan wajah penuh harap.
“Maya, kakak minta maaf karena…”
“Tidak usah menutupinya, Martin. Aku mohon,” pinta Leo sambil melirik sahabatnya yang mengernyit dan siap protes.
“Maafkan aku Maya yang tidak jujur padamu. Aku memang otak pelakunya. Martin sudah melarangku dan menyarankan untuk menyerahkan masalah hubungan cintamu pada Daddy tapi aku mengabaikannya.
Aku benci pada pria bernama Jonathan itu karena membuatmu menangis dan sakit hati sementara dia bisa tertawa bahagia menjalankan hidup dengan istrinya. Aku tahu kalau ia memutuskanmu dengan alasan status sosial, tapi nyatanya istrinya memiliki posisi yang sama sepertimu. Aku berpikir Jonathan lebih memilih istrinya karena perempuan itu anak tunggal sedangkan kamu masih punya 2 orang kakak.”
Maya mulai terisak dan perlahan Leo mendekatinya lalu memeluk wanita yang tengah mengandung anaknya. Tidak lama Maya melepaskan pelukan Leo dan mendekati Daddy Harry.
“Dad, aku tidak mau ayah dari anakku masuk penjara !” tegas Maya memegang lengan Daddy dengan wajah memohon dan berderai air mata.
“Saat ini Daddy tidak bisa berbuat banyak, Maya. Polisi telah menangkap pelakunya dan dia bilang kalau dirinya hanya orang suruhan yang dibayar oleh Leo.”
“Aku mohon, Dad. Aku tahu Daddy bisa melakukan apapun untuk membebaskan Leo,” pinta Maya dengan wajah berlinangan air mata.
“Maya cukup !”
Maya menoleh saat mendengar suara Leo yang lebih mirip bentakan. Tatapan Leo terlihat tegas, membuat Maya sedikit ngeri, baru kali ini ia melihat Leo sebagai sosok yang berbeda.
“Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku. Jangan membuat aku menjadi laki-laki pengecut. Kalau kamu malu memiliki suami seorang penjahat sepertiku, aku akan menikahimu hanya demi memberi status pada anak yang kamu kandung setelah dia lahir kita bercerai.”
“Bukan maksudku…”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, belajarlah menjadi wanita sejati. Jangan selalu berlindung pada Daddy atau kedua kakakmu. Sudah waktunya kamu menjadi dewasa dan sanggup menata hidupmu tanpa bantuan siapapun,” ujar Leo sambil memegang kedua bahu Maya.
Air mata Maya kembali menetes dan ia pun memeluk Leo dengan erat.
“Aku akan menunggumu,” lirih Maya.
__ADS_1
“Terima kasih,” ujar Leo mencium kening Maya sebelum keluar bersama Martin.
(Flasback end)