
“Ada masalah ?” tanya Maya yang baru saja kembali dari meeting di luar kantor.
Jihan, asisten barunya itu tampak sedang menggerutu di meja kerjanya. Matanya fokus menatap handphone yang diletakkan di atas meja.
“Sepertinya Bu Maya harus segera bergerak atau Pak Nathan akan terjebak cintanya si anak durhaka.”
“Kenapa lagi ?”
Maya tertawa karena teringat bagaimana asistennya itu marah-marah saat menerima kiriman foto Gabriela masuk ke dalam mobil Mario, mantan kekasihnya.
“Mantan kamu jadian sama Gaby ?” ledek Maya yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
“Awalnya saya pikir begitu, tapi hari ini yang perlu khawatir itu Ibu, karena Gaby sudah bersedia digandeng Pak Nathan.”
“Jangan bercanda, Ji.”
Maya urung masuk ke ruangannya dan mendekati meja Jihan. Ia mengulurkan tangan ingin meminjam handphone asistennya.
“Ibu geser terus aja. Awalnya Gaby memang pergi sama Mario, pakai acara ke pantai segala lagi. Padahal selama saya pacaran, paling mentok Mario ngajak saya nonton, makan dan jalan-jalan di mal atau ke rumah temannya dan menemani dia main game. Tapi sama Gaby malah perginya ke tempat-tempat romantis.”
Raut wajah Maya berubah garang dan ia sudah tidak memperhatikan celoteh Jihan. Tangannya langsung mengirimkan foto yang ada di handphone Jihan ke nomornya.
“Ini foto beneran kan, Ji ? Teman kamu nggak ngada-ngada kan ?” napas Maya memburu karena segumpal rasa marah sudah memenuhi rongga dadanya.
“Saya sudah kasih modal adik kelas untuk mengawasi Gaby dan kejadiannya baru siang ini. Tuh ibu lihat waktu pengambilan fotonya.”
“Dasar laki-laki kayak kucing, dikasih ikan yang baunya lebih tajam langsung pindah majikan. Di depannya ada yang bening dan gampang dikadalin, langsung berubah pikiran !” geram Maya sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Terus Ibu mau gimana ?”
“Lebih agresif sama Jojo dan kamu cari tahu soal perusahaan keluarganya Gaby, terutama tender yang sedang mereka kerjakan dan yang sedang mereka usahakan. Kalau perlu kita sabotase pekerjaannya.”
“Tapi bidang usaha kedua perusahaan berbeda, Bu.”
“Kamu pikir daddy hanya punya usaha ini aja ? Kalau daddy mau, besok beliau bisa langsung buat perusahaan Gaby gulung tikar.”
Jihan terdiam dan sedikit bergedik melihat tatapan Maya yang sedang marah. Apa iya semudah membalikkan telapak tangan untuk menumbangkan perusahaan mami Gaby yang sudah berdiri puluhantahun ?
Maya berjalan ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan dibanting membuat Jihan terlonjak kaget.
Begitu sampai di ruangan, Maya langsung mengeluarkan handphone dan mengetik pesan untuk Jonathan. Beberapa kali ia sudah menulis panjang-panjang namun dihapusnya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis pesan singkat.
(MAYA) Kamu dimana, Jo ? Bisa ketemu sebentar ? Ada yang ingin aku bicarakan
Tidak sabar menunggu jawaban dari Jonathan meski baru 2 menit menunggu, Maya langsung menekan nomor mantan kekasihnya namun tidak ada jawaban, bahkan saat panggilan keempat, suara operator yang menjawab kalau nomor Jonathan sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.
”Aaarrggghhh !!” Maya membanting handphonenya ke sembarang arah.
__ADS_1
Baru saja hatinya merasa senang karena mommy mendukung hubungannya dengan Jonathan, sementara daddy mulai goyang dan biasanya susah menolak kalau permintaan itu hasil kesepakatan mommy dan Maya.
Tidak akan aku biarkan kamu menghancurkan mimpiku dengan merebut Jojo-ku ! Akan aku buat kamu menyesal telah memaksa Jojo-ku menikah denganmu !
*****
“Kok nggak diangkat ? Nanti nyesel,” sindir Gaby sambil melirik Jonathan.
“Nggak penting.”
“Yakin ? Siapa tahu disuruh temenin lagi di rumah sakit sama calon mertua. Kan bapak udah lama menunggu restu.”
“Kamu kok kayak istri yang lagi cemburu,” ledek Jonathan sambil tertawa pelan.
“Siapa yang cemburu ? Saya lagi kesal pakai banget sama Pak Nathan.”
“Kenapa ?”
“Bapak bilang nggak cinta sama saya kecuali matahari bisa terbit dari barat, tapi barusan bilang cemburu dan seenaknya mengambil ciuman pertama saya. Waktu kita menikah, bapak nggak mau cium bibir saya dengan banyak alasan dan muka kayak buto ijo.”
“Muka ganteng begini kamu bilang kayak buto ijo ? Tadi kamu diam aja pas saya cium jadi saya anggap kamu suka dan melayang-layang,” ledek Jonathan sambil tertawa.
Gaby memutar bola matanya sambil mencibir.
“Memangnya saya layangan ? Jangan suka PHP in abege, Pak. Udah hafal kan gimana abege kalau udah jatuh cinta, dan sejak kejadian rumah sakit saya udah bisa bikin tanggul supaya hati saya nggak gampang tersentuh sama perhatian dan sikap manis bapak yang suka pasang surut kayak air laut.”
“Kayaknya kamu salah jurusan Bi, seharusnya terjun ke politik, bukan bercita-cita jadi dokter. Saya yakin karir kamu akan melesat cepat kalau jadi politikus. Kalau jadi dokter, pasien bisa pada kabur ketemu dokter yang bawel dan suka debat kayak kamu.”
“Hina aja terus.”
“Kamu tuh gampang nethink banget, sih ?” Tangan Jonathan reflek mengacak rambut Gaby, membuat wajah gadis itu kembali merona.
“Pak Nathan, saya serius, jangan suka bersikap baik sama saya kalau ada rencana mau balik sama Bu Maya.”
Kepala Gaby bergerak menghindari tangan Jonathan yang belum mau pergi.
“Memangnya kamu rela melepaskan saya untuk Maya atau siapapun ?”
“Yakin !”
Jonathan tertawa pelan dan menatap Gaby yang membuang muka ke samping jendela. Jalanan agak padat dalam antrian lampu lalu lintas.
“Gaby.”
“Hmmm”
“Nggak sopan membelakangi orang kalau lagi diajak ngomong.”
__ADS_1
“Bapak ngomong aja, saya masih bisa dengar dan daritadi kan saya jawab terus.”
“Gabriela,” panggil Jonathan dengan nada lebih tegas namun suaranya tidak meninggi.
“Saya sudah bilang…” Dengan sebal Gaby menoleh ke arah Jonathan.
Dengan sigap, Jonathan kembali menarik tengkuk Gaby dan kali ini bukan hanya menempelkan bibir bagian luar saja tapi memaksa Gaby membuka mulutnya.
Nafas Gaby sempat tertahan hingga tidak lama Jonathan melepaskan bibirnya sambil tersenyum.
“Jangan tahan nafas,” Jonathan menyentil kening Gaby yang masih bengong.
“Tanyakan pada dirimu sekali lagi, apa benar-benar rela melepaskan saya untuk wanita lain.”
Gaby tidak menjawab, wajahnya terasa panas dan merah padam. Ia memegang tali sabuk pengaman dan kembali menatap ke samping.
Jonathan tersenyum tipis dan kembali memusatkan perhatian pada jalan. Jantungnya berdebar dan telapak tanganya terasa dingin.
Apa yang diucapkan Gaby ada betulnya, perasaannya masih sering pasang surut, belum terlalu jelas apakah hatinya sudah mencintai Gabriela sepenuh hati karena sesekali perhatian Maya masih membuat hatinya berdebar.
Hampir 1 jam keduanya baru tiba di rumah. Sejak Jonathan mengulangi ciumannya di mobil, keduanya tidak lagi terlibat dalam percakapan hanya suara penyiar radio menemani perjalanan mereka sampai ke rumah.
“Loh kalian kok pulang bareng ?” tanya Mama bingung melihat anak dan menantunya datang bersamaan.
“Dijemput Mas Nathan, Ma,” sahut Gaby tidak berani menatap Mama.
“Gaby tunggu.”
Mama mendekati Gaby dan menyentuh pipi lalu kening menantunya yang salah tingkah.
“Kamu sakit ? Wajah kamu kok merah banget, tapi nggak panas,” ujar Mama dengan dahi berkerut.
“Nggak Ma, aku baik-baik aja.”
“Nathan !”
Panggilan mama menghentikan langkah Jonathan yang sudah di ujung tangga. Mama memberi isyarat supaya putranya mendekat.
Dahi mama masih berkerut menatap wajah putranya yang ternyata juga sedikit merona.
“Kalian…”
“Nggak ngapa-ngapain, Ma.”
Keduanya menjawab kompak membuat mata mama membola lalu tertawa tanpa bicara apapun.
“Mandi sana, sepertinya kalian perlu siraman air dingin tapi jangan bareng, nanti malah tambah panas,” ledek Mama sambil kembali ke dapur.
__ADS_1
Jonathan dan Gaby hanya saling melirik hingga akhirnya Gaby yang lebih dulu berinisiatif meninggalkan Jonathan dan dengan berlari kecil ia langsung masuk ke kamar Jenny.