
“Kita harus pulang sekarang,” ujar Jonathan langsung beranjak dari kursinya.
Semua yang ada di ruangan mengerutkan dahi. Mereka sedang berbincang dengan Pak Suparman, penanggungjawab perkebunan yang ada di Bawen. Kondisinya persis sama dengan perkebunan kopi yang ada di Kendal hingga kesimpulannya penyebaran hama penggerek ini sengaja dilakukan untuk mengacaukan produksi kopi untuk memenuhi permintaan pembeli.
“Ada masalah apalagi ?” tanya Kendra dengan dahi berkerut.
“Masalah foto gue dan Gaby tersebar di grup wa sekolah dan ada sekelompok anak yang mencoba main hakim sendiri.”
Jonathan menghela nafas dan menyerahkan handphonenya pada Kendra yang langsung terkejut melihat foto yang terlihat di layar. Om Sofian pun beranjak bangun dan mendekati Kendra.
“Kurang ajar !” geram Om Sofian.
“Menurut Pak Anjas situasi sudah terkendali saat ini dan orang-orang yang menghakimi Gaby sedang diajak bicara di ruang kepala sekolah, tapi Gaby terluka dan kakinya terkilir makanya dia dibantu jalan sama kedua temannya.”
Dalam foto yang dikirim Pak Anjas tampak Gaby sedang ditopang oleh Mimi dan Raina yang membantunya naik tangga. Semula pembicaraan ingin dilakukan di ruang guru, tapi Gaby menolak dan tetap bersikukuh untuk naik ke ruangan Pak Liman.
“Kaki Gaby juga luka, Bro,” ujar Kendra sambil membesarkan foto yang terpampang.
“Saya akan kirim orang untuk membantu Gaby,” ujar Om Sofian dengan nada kesal.
“Lebih baik hubungi Gaby dulu, Om,” ujar Kendra berusaha menenangkan kedua pria di samping kiri dan kanannya.
Baru juga Kendra selesai berbicara, suara getaran handphone Jonathan memperlihatkan pesan masuk yang dikirim oleh Gaby.
Mas Nathan pasti sudah dapat kabar soal kejadian pagi ini dari salah satu guru di sini. Nggak usah panik dan tolong bilangin Om Sofian, tidak perlu kirim orang hukum ke sekolah, biar Pak Liman dulu yang mencari jalan keluarnya. Kalau memang diperlukan, Gaby pasti minta tolong sama Mas Nathan.
“Kalau begitu kita pulang dulu sekarang,” tegas Om Sofian.
“Has, bisa minta tolong untuk mengatur masalah di sini dan kalau ada apa-apa info ke saya. Pak Parman bisa bantu Pak Hasbi untuk mencoba mencari sumber biji kopi yang setara dengan perkebunan kita ?”
__ADS_1
“Pak Sofian kembali dulu aja ke Jakarta biar saya dan Pak Parman yang mengurus sisanya. Saya juga sudah dapat info dari Pak Imam untuk melihat biji kopi yang bisa dibeli dari Kendal,” ujar Pak Hasbi.
“Iya Pak, yang penting Pak Sofian dan Pak Jonathan sudah melihat langsung kondisinya dan bisa mengambil keputusan untuk langkah selanjutnya,” timpal Pak Suparman.
“Kita kembali ke hotel sekarang terus langsung kembali ke Jakarta,” ujar Om Sofian sambil merapikan berkas dan tas kerjanya.
Satu jam kemudian mobil yang ditumpangi ketiganya sudah masuk jalan tol menuju Jakarta. Hati Jonathan tidak tenang namun tidak ingin menganggu Gaby yang pasti sedang berurusan dengan Pak Liman dan anak-anak yang mencelakainya.
Rasanya ingin punya pintu Doraemon yang membuatnya bisa langsung sampai di sisi Gaby.
“Gaby sudah bisa membaca situasinya dengan baik, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir. Berusahalah untuk lebih tegar bagi Gaby karena yang dia perlukan adalah pelukan hangat dan ucapanmu yang membuatnya yakin kalau semuanya akan baik-baik saja selama kalian berdua.”
Jonathan mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Jangan ada yang ditutupi saat kita bertemu nanti. Jangan menahan air mata kalau kamu mau menangis karena bahu dan pelukanku bukan sekedar pinjaman, semuanya adalah milikmu dan bisa kamu pakai kapanpun kamu membutuhkannya.
Terima kasih Mas Nathan, suamiku yang tampan 😍😍😘
Jonathan tersenyum tipis dan sedikit tenang saat Gaby membalasnya bukan dengan keluhan dan emoticon menangis.
***
“Hebat juga temanmu bisa mengirimkan live streaming langsung dari lokasi,” ujar Maya sambil tersenyum puas melihat kondisi Gaby yang duduk di lantai bagai tersangka kejahatan.
“Terkadang rasa benci membuat orang sanggup melakukan apapun untuk mencapai tujuannya,” sahut Jihan dengan wajah bangga.
“Kamu sedang berbicara tentang dirimu sendiri ?” ejek Maya sambil menarik satu sudut bibirnya.
“Kamu tega melakukan ini semua padahal anak ingusan itu masih satu ayah denganmu.”
__ADS_1
“Dia yang mulai duluan, Bu. Kalau saja dia tidak terlalu serakah dengan memaksa diri menikahi Pak Nathan demi menghindari mami dan saya masuk dalam perusahaan yang papi kembangkan, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ibu pun tidak akan menciptakan drama yang membuat orangtua Ibu yakin kalau ibu adalah korban dalam masalah ini.”
“Ya, saya tidak percaya sekalipun Jojo bersumpah demi hidupnya. Dia bilang alasan utama dia minta putus karena status sosial ekonomi kami berdua, padahal jelas-jelas saya melihat anak ingusan itu memeluk Jojo saat kami baru saja putus. Mana mungkin Jojo akan diam saja kalau memang mereka tidak ada hubungan apa-apa. Lagipula status ekonomi sosial apanya, nyatanya dia menikah dengan anak ingusan yang menerima warisan berlimpah untuk dirinya sendiri.”
“Bu, sebaik apapun Pak Nathan, dia itu tetap laki-laki, kan ? Orang bilang laki-laki itu ibarat kucing dikasih ikan asin kalau sudah dihadapkan dengan urusan perempuan. Secara fisik, kondisi Gaby jauh di bawah Ibu kemana-mana, hati laki-laki mana yang tidak tergoda karena selain muda, harta Gaby dipercayakan pada Pak Nathan minimal sampai 4 tahun ke depan.
Berdoa saja semua itu Pak Nathan lakukan demi Ibu, supaya saat puas mengeruk harta Gaby, Pak Nathan akan menemui ibu lagu dan udah nggak malu bertemu orangtua ibu untuk melamar anaknya.”
“Saya sering dengar Jojo cerita soal muridnya yang nggak pernah mau ngalah kalau ngomong, tapi sungguh saya nggak nyangka kalau dia itu adalah jodoh yang dipilih orangtuanya.”
Maya menghela nafas menahan emosi yang masih tidak bisa dibuangnya karena kesal dengan sikap Jonathan yang memutuskan untuk serius dengan pernikahannya.
“Nggak usah disesali, Bu, yang penting gimana caranya Pak Nathan bisa kembali ke dalam pelukan Ibu.”
Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari handphone Jihan yang langsung membaca isi pesannya.
“Teman saya bilang, anak ingusan itu dibawa ke ruangan kepsek dan dia nggak bisa ikutan masuk. Update selanjutnya tunggu salah satu dari kelima anak yang mencecar Gaby keluar dari ruangan.”
“Nggak masalah,” Maya tersenyum smirk membaca pesan yang masuk ke dalam handphonenya.
“Sepertinya ada kabar baik yang buat Ibu dobel bahagianya,” ujar Jihan sambil menyipitkan matanya melihat wajah bossnya yang senyum-senyum sumringah.
“Daddy memang yang terbaik,” Maya tertawa. “Sepertinya harapan kamu bisa tercapai untuk mendapatkan bagian papimu di perusahaan yang diwariskan pada anak ingusan itu.”
Jihan hanya menautkan alisnya sebagai tanda mengharapkan penjelasan Maya lebih lanjut.
“Daddy bukan hanya membuat hasil panen perkebunan mereka kacau balau tapi daddy juga membeli semua hasil kebun kopi di sekitar situ dengan harga yang membuat para petani susah menolak. Saya akan membuat Jojo bukan hanya kepusingan tapi menyerah dengan tanggungjawab yang diembannya sebagai suami anak ingusan itu dan akhirnya sadar kalau kehidupan bersama saya lebih baik daripada dengan “istrinya” itu.”
Jihan ikut tersenyum smirk. Di saat Jonathan pergi meninggalkan Gaby dan kembali ke pelukan Maya, Jihan akan masuk menawarkan pertolongan yang akan sulit ditolak oleh Gaby demi hubungan mereka yang lahir dari satu ayah.
__ADS_1