
Jonathan berdiri di tembok pembatas lantai 2, tempat strategis yang menjadi favoritnya karena bisa memandang ke berbagai penjuru termasuk gerbang SMA.
Gaby berangkat lebih pagi hari ini dan gadis itu bersikeras membawa motor maticnya padahal Om Sofian berjanji akan menyediakan sopir untuk mengantar jemput Gaby.
Jonathan menghela nafas lega saat melihat gadis itu berjalan ke arah gerbang SMA saat bel sudah berbunyi. Entah Gaby menunggu dimana, saat ini yang terpenting gadis itu tetap masuk sekolah.
Gaby ragu-ragu membuka pintu dengan secarik kertas surat ijin dari guru piket yang membolehkan ia tetap mengikuti pelajaran meski terlambat 5 menit.
Gaby mengetuk pintu dan baru membukanya saat guru di dalam kelas menyuruhnya masuk. Pak Anjas, guru fisika itu malah tersenyum saat Gaby masuk dengan wajah menunduk.
“Maaf saya terlambat, Pak.”
“Kamu sudah sembuh benar, Gab ?”
“Sudah Pak, kemarin ini hanya demam karena kehujanan.”
“Duduklah !”
“Terima kasih, Pak.”
Posisi tempat duduk Gaby masih belum berubah, di barisan paling belakang sebangku dengan Danu.
“Elo beneran udah baikan, Gab ?” tanya Danu. “Gue tahu kalau elo sengaja datang terlambat.”
Gaby menatap si ketua kelas dengan mata membola, berpikir kalau Danu masuk kelompok yang menulis komentar negatif dan mengawasinya untuk mencari kelemahan lainnya.
“Jangan terlalu stress dengan foto yang ada di wa grup. Kita semua di kelas ini tahu banget gimana kejadian elo mimisan terus dibawa ke UKS dan tindakan Pak Nathan sangat bisa dimengerti sebagai wali kelas. Jangan terlalu khawatir,” Danu menepuk bahu Gaby.
“Nggak ada satu anak pun di kelas ini yang menerima berita hoax itu. Joni lagi mencari tahu siapa sumbernya dan elo tahu sendiri gimana tuh anak menghadapi biang gosip di sekolah.”
“Bilangin Joni jangan menghukum dengan kekerasan fisik, gue nggak suka, apalagi kalau pelakunya cewek.”
“Elo tenang aja, ada gue dan Bimbim yang akan mengawal Joni supaya nggak sampai kelewat batas.”
“Thanks, Nu.”
Danu tersenyum sambil mengangguk lalu keduanya kembali fokus mengikuti pelajaran fisika.
__ADS_1
Ternyata ucapan Danu bukan sekedar ingin menghibur Gaby yang baru saja datang terlambat, setelah Pak Anjas keluar kelas saat pelajaran berakhir, Danu langsung berdiri di depan kelas sebelum Ibu Umi datang untuk pelajaran selanjutnya.
“Wooii penghuni IPA-2, teman kita agak stress dengan foto yang beredar di grup. Tadi gue udah bilang sama Gaby kalau kita semua yang ada di kelas ini sepakat untuk menolak dan menentang semua tulisan dan tanggapan negatif dari penghuni Dharma Bangsa di luar kelas termasuk guru-guru. Kita semua tahu kronologis sakitnya Gaby dan sangat wajar kalau Pak Nathan berniat menolong murid asuhannnya. Jadi buat Gaby, jangan terlalu khawatir apalagi takut menghadapi para penggibah, kita semua ada di pihak elo.”
Ucapan Danu langsung disambut dengan tepukan tangan dan suara-suara yang mendukung Gaby membuat gadis itu terharu dan akhirnya ikutan berdiri di samping Danu.
“Terima kasih buat dukungan kalian semua. Mohon maaf karena sudah membuat kelas ini jadi terganggu dan gue berani menjamin kalau saat digendong, gue benar-benar lagi nggak sadar karena dikasih obat demam sama Bu Irma.”
“Pura-pura juga nggak apa-apa, Gab, Gue akan melakukan hal itu kalau sampai punya kesempatan digendong Pak Nathan,” ujar Raina sambil berdiri dengan wajah dibuat tersipu-sipu.
“Huuu..” teman-teman sekelasnya langsung meneriaki Raina yang malah melambaikan tangannya bak selebritis.
“Masalahnya Pak Nathan ogah gendong elo, berat !” sahutan Joni langsung mengundang gelak tawa yang lainnya.
Diskusi kelas tidak bisa dilanjutkan karena Ibu Umi yang sudah berdiri di depan pintu kelas berdehem.
Gaby dan Danu pun membungkukan badan sekilas sebelum kembali ke tempat duduk mereka
***
“Jangan takut Gaby, sayang, jawab aja apa adanya kalau ditanya sama guru-guru,” ujar Bimbim yang masuk dalam rombongan pengantar Gaby.
“Sayang, sayang,” Mimi memukul bahu Bimbim yang bertubuh gempal. “Raina mau dikemanain ?”
“Hais Raina teman seperjuangan, Gaby teman sepenanggungan.” Mimi melotot sambil mencibir sementara Danu dan Joni yang ikut mengantar hanya tertawa.
“Jangan takut Gab, elo nggak berbuat kejahatan, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirin.” Danu menepuk-nepuk bahu Gaby yang mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Apa kalian tetap akan mendukungku kalau sampai tahu soal pernikahanku dengan Pak Nathan ?
“Sini papa peluk, sayang,” Bimbim merentangkan tangannya.
“Peluk Joni aja nih,” Gaby menarik baju Joni agar berdiri di antara dirinya dan Bimbim. Gaby pun tertawa di belakang Joni.
“Ogah gue nya !” gerutu Joni. “Jelek-jelek masih mending dipeluk sama Mimi, deh. Iya nggak ?” Joni menaikturunkan alisnya menatap Mimi yang langsung mencibir.
“Thanks semua atas dukungannya,” Gaby tersenyum tulus.
__ADS_1
“Fighting, Gab,” Mimi memberi semangat dan diangguki oleh Gaby.
Gaby mengetuk 3 kali sebelum membuka pintu. Jantungnya berdebar tidak karuan karena kenyataannya ia dan Jonathan memang sudah menikah.
Matanya membola saat melihat bukan hanya para guru tapi Om Sofian, 2 orang dari tim hukum yang pernah datang ke pernikahannya dan terakhir kehadiran Mama Hani membuat hati Gaby makin gelisah.
“Duduk, Gaby,” ujar Pak Liman tersenyum
Gaby menganggukan kepala, memberi salam kepada para guru dan staf yang ada di ruangan sebelum duduk di sebelah mama Hani.
“Untuk mempersingkat waktu dan menjawab rasa penasaran bapak ibu guru semua, saya akan meminta Pak Sofian sebagai orang kepercayaan Pak Hendri untuk memberikan penjelasan.”
“Terima kasih Pak Liman dan mohon maaf karena masalah Gabriela dan Pak Jonathan sudah meresahkan sekolah ini. Secara singkat, tim kuasa hukum Pak Hendri akan menjelaskan soal hubungan keduanya di mata hukum.”
Perwakilan kuasa hukum Papi Hendri menjelaskan secara singkat mengenai wasiat mam Anna yang menjadi alasan utama pernikahan Gaby dan Jonathan.
“Dan sebagai konsekuensinya, saya akan mengundurkan diri sebagai guru dari sekolah ini,” ujar Jonathan menanggapi penjelasan itu.
Gaby nampak terkejut dan langsung menatap Jonathan yang duduk di sebelah Pak Liman.
“Surat pengunduran resmi sudah saya serahkan dan disetujui oleh Pak Liman. Selesai pembagian raport mid semester ini, saya resmi tidak lagi menjadi guru di sini.”
Mama Hani menggenggam tangan Gaby di bawah meja dan ia menganggukan kepala sambil tersenyum saat Gaby menatapnya.
“Kenapa Pak Nathan tidak langsung mengundurkan diri sejak tahun ajaran baru malah menerima tugas menjadi walikelas Gaby ?” tanya Pak Irvan, sesama guru matematika yang selama ini dipercaya mengajar kelas 12.
Pak Irvan sempat kesal saat tahu Jonathan yang baru bekerja 3 tahun dipercaya untuk mempersiapkan siswa kelas 12 menghadapi ujian akhir.
“Saya yang meminta Pak Jonathan untuk tetap mengajar sampai Gaby lulus karena hanya itu yang Pak Hendri minta pada saya. Tapi kalau memang kondisi menjadi tidak nyaman untuk Gaby dan Pak Nathan, saya menerima pengunduran dirinya sebagai guru di sekolah ini.”
“Meskipun kita semua tahu kalau Pak Hendri adalah donatur tetap dan terbesar di sekolah ini, secara aturan sudah jelas kalau hubungan guru dan murid selama pembelajaran berlangsung dilarang terjadi di sekolah,” timpal Bu Winda, guru biologi yang pernah ditolak cintanya oleh Jonathan.
“Saya atas nama almarhum Pak Hendri mohon maaf atas kejadian ini,” ujar Om Sofian.
“Ada alasan pribadi yang tidak bisa saya ungkapkan di depan forum kenapa Pak Hendri sampai memutuskan untuk mempercepat pernikahan Pak Nathan dan Gaby selain kondisi kesehatan Pak Hendri saat itu. Dan saya mohon supaya masalah ini jangan dipu blikasikan pada murid-murid di sekolah ini. Biarkan Gaby menyelesaikan sekolahnya dengan tenang.”
“Satu hal yang perlu Bu Winda dan Pak Irvan ketahui, kalau donasi yang diberikan oleh Pak Hendri bukan hanya ditujukan untuk para siswa tapi juga bapak ibu guru yang membutuhkannya. Tidak perlu saya sebutkan tapi saya percaya kalau bapak ibu guru sekalian bisa memenuhi permintaan Pak Sofian untuk menjaga Gaby menyelesaikan pendidikannya di sekolah ini yang tinggal beberapa bulan lagi.”
__ADS_1
95% guru dan staf setuju untuk mendukung permintaan Pak Liman, sisanya ada yang menolak dan tidak memberi tanggapan karena tahu kalau pendapat mereka tidak akan diperhitungkan.
Rapat klarifikasi berakhir dengan keputusan pengunduran diri Jonathan supaya Gaby tetap bisa menyelesaikan sekolahnya.