
“Mas Nathan mau ngomong apa ?” tanya Gaby saat keduanya sudah berada di dalam kamar usai makan malam.
Jonathan duduk di samping Gaby di tepi ranjang dan langsung menggenggam jemari istrinya itu.
“Maaf kalau aku sudah berbohong soal pertemuan dengan Maya.”
“Hmmm.”
“Aku menerima ajakan Maya untuk bertemu karena menduga kalau masalah yang kita hadapi saat ini ada hubungannya dengan Maya dan orangtuanya,” ujar Jonathan sambil tersenyum tipis.
“Orangtuanya sangat memanjakan Maya dan akan melakukan apapun permintaan putri mereka termasuk menghancurkan hidup orang yang menyinggung harga diri keluarga mereka.”
“Apa sudah ada bukti kalau ayahnya Maya yang melakukan kekacauan di perkebunan ? Bagaimana kalau semua itu perbuatan Maya dan Jihan, bukan ayahnya ?”
Jonathan terdiam, memikirkan ucapan Gaby yang tidak pernah terlintas di benaknya.
“Maya sudah mengakui kalau masalah foto yang tersebar di grup wa sekolah adalah perbuatan Jihan dan masalah di perkebunan dilakukan atas perintah ayahnya.”
“Apa Maya bilang darimana Jihan mendapatkan video kejadian di mal ? Bukannya Mas Nathan sudah minta Om Sofian untuk menghentikan dan menghapus semua postingan di medsos ?”
“Aku belum bertanya sampai ke sana karena Maya tiba-tiba menangis dan memelukku. Maya minta aku menemui orangtuanya untuk minta maaf dan bagiku tidak masalah. Aku menolaknya karena Maya minta aku datang tepat saat pesta malam tahun baru kemarin.”
“Memang beda pelukan mantan dengan istri,” gumam Gaby sambil beranjak bangun.
“Kamu cemburu ?” Jonathan yang mendengar gumaman Gaby menahan lengan istrinya.
Gaby terdiam lalu menghela nafas tanpa membalikan badannya sementara Jonathan senyum-senyum di belakangnya.
Jonathan ikut bangun tanpa melepaskan pegangan tangannya. Ia berdiri di belakang Gaby dan memeluk istrinya. Mata Gaby membola, jantungnya berdebar padahal bukan pertama kalinya Jonathan memeluknya.
“Jangan marah lagi, aku udah nggak merasakan apapun saat Maya memelukku. Berbeda rasanya dengan saat ini. Kamu bisa merasakan debaran jantungku ?”
Gaby terdiam dan tubuhnya menegang. Bisikan Jonathan di telinganya membuat bulu kuduk Gaby meremang.
Jonathan melepaskan pelukannya sambil tertawa pelan.
“Rasanya udah nggak sabar menunggu kamu lulus SMA,” bisik Jonathan sambil meniup telinga Gaby membuat gadis itu langsung mengusap telinganya sendiri.
“Guru mesum,” gerutu Gaby dengan bibir mengerucut. Ia menjauhi Jonathan untuk mengurangi debar jantung dan rasa panas yang menjalar di wajahnya.
__ADS_1
“Mesum darimana ? Kamu tuh istriku bukan muridku lagi, jadi wajar kalau suatu saat aku minta hakku sebagai suami.”
Gaby diam saja, ia pura-pura menyiapkan pakaian seragamnya untuk besok pagi. Jonathan tertawa dan berjalan mendekati istrinya dan memutar badan Gaby hingga berhadapan dengannya.
“Besok aku dan Kendra akan berangkat ke perkebunan untuk mengurus pelaku yang tertangkap dan sekarang ditahan di kantor polisi. Sayangnya Om Sofian tidak bisa ikut karena sedang sakit padahal aku masih membutuhkan nasehatnya. Aku janji perginya nggak akan lebih dari 5 hari.”
Jonathan menyelipkan rambut Gaby ke belakang telinga.
”Aku nggak bohong soal perasaanku padamu, Gaby. Kayaknya gampang banget dan begitu cepat tapi menurut Kendra semuanya sudah terbentuk sejak kita sering bertengkar di kelas. Tanpa sadar kita jadi memikirkan satu sama lain dengan alasan sebal.”
“Itu bisanya Kak Kendra aja,” cibir Gaby. “Gaby beneran sebal sama Mas Nathan karena selalu jadi guru yang sok cool gara-gara punya banyak penggemar.”
“Dan kamu satu-satunya murid paling menyebalkan yang senangnya membuat aku kesal dan marah. Itu sebabnya kamu selalu aku ingat sampai akhirnya aku malah jatuh cinta dan sulit jauh darimu.”
“Gombal,” cibir Gaby.
Jonathan tertawa melihat wajah Gaby yang terlihat lucu lalu memeluknya dengan erat dan penuh cinta.
“Sekali lagi maaf karena aku sudah berbohong tapi aku berani jamin kalau semuanya bukan karena aku berniat untuk kembali pada Maya. Aku mencintaimu Gabriela. Kamu akan menjadi cinta terakhirku sampai maut memisahkan kita.”
Gaby bergeming dan tidak membalas ungkapan Jonathan, membuat pria itu melerai pelukannya sambil mengerutkan dahinya.
Jonathan tersenyum saat melihat wajah Gaby merona dan tersipu malu.
Perlahan tangan Gaby memeluk pinggang Jonathan dengan wajah masih menunduk.
“Gaby juga sayang sama Mas Nathan,” ujarnya dengan suara berbisik.
Jonathan tertawa dan kembali memeluk erat tubuh Gaby.
“Semoga semuanya bisa selesai dengan baik,” ujar Jonathan sambil mencium pucuk kepala Gaby.
*****
“Tumben banget pagi-pagi muka penuh senyum,” ledek Mimi saat Gaby masuk ke kelas dengan wajah ceria.
“Nggak boleh ? Kan udah tahun baru, saatnya melakukan resolusi untuk mendapatkan yang lebih baik,” sahut Gaby dengan wajah sumringah.
“Jangan bilang elo udah belah duren ?” bisik Gaby sambil cekikikan.
__ADS_1
“Belum musim duren, jadi nggak ada duren yang bisa dipanen apalagi dibelah.”
“Jangan sok jaim, padahal sendiri ngarep juga,” cebik Mimi. Gaby hanya membalasnya dengan tawa bahagia.
Keduanya berjalan menuju bangku mereka di barisan belakang dan sejak bulan lalu tempat duduk Gaby berada dekat Danu yang sebangku dengan Joni dan di depannya ada Bimbim dan Raina.
“Sudah ada hasilnya, Jon ?” tanya Gaby menghampiri meja Joni yang duduk di barisan sebelahnya.
“Belum. Pak Iwan tidak berhasil memulihkan rekaman CCTV yang dihapus dan memang sulit karena belum ada file rekamannya.”
“Terus ?” tanya Mimi.
“Belum ada tersangka, jadi elo harus tetap waspada, Gab,” sahut Danu.
“Mungkin ada baiknya kita mulai dari Dona,” ujar Gaby.
“Elo curiga kalau Dona cuma pura-pura takut karena jadi tersangka utama ?” tanya Raina dengan dahi berkerut.
“Bukan,” Gaby menggeleng. “Kalian semua tahu kan kalau kejadian ini sudah terencana dengan baik termasuk penunjukan Dona sebagai kambing hitamnya. Gue rasa kalau masalah Dona bukan Jihan yang menentukan, tapi orang dalam di sekolah ini. Kita bisa mulai cari siapa aja yang selama ini jadi musuh besarnya Dona. Dengan begitu, minimal kita punya satu daftar kecil tapi nggak menutup kemungkinan kalau pelakunya itu berasal dari luar daftar tadi.”
“Ide bagus juga, Gab. Kalau soal itu ada baiknya elo, Mimi dan Raina yang mencari tahu ke Dona langsung,” ujar Danu yang diangguki Joni dan Bimbim.
“Jon.”
Joni menoleh saat Gaby memanggil namanya dan mendekati gadis itu sesuai isyarat tangan Gaby.
”Elo yakin kalau Pak Iwan itu bisa dipercaya ? Apa ada guru lain yang bisa mengakses CCTV selain Pak Liman ?” tanya Gaby dengan suara berbisik.
Joni menarik bangku mendekati meja Gaby.
“Sejauh yang gue tahu, Pak Iwan itu adalah ora b kepercayaannya Pak Liman. Memangnya kenapa ? Elo berpikir kalau Pak Iwan bisa dimasukkan dalam daftar tersangka ?”
“Sebetulnya gue belum ada bayangan orangnya, Jon. Tapi firasat gue mengatakan kalau ada guru yang ikut terlibat dalam masalah ini yang tugasnya untuk menghapus rekaman CCTV tanpa dicurigai.”
Danu, Bimbim dan Joni mengerutkan dahi sambil menatap Gabriela.
“Yang pasti orang itu antara benci atau iri sama Pak Nathan atau memang sekedar sedang butuh uang hingga mudah tergiur dengan tawaran gepokan uang di depan mata.”
“Jadi ?” tanya Bimbim.
__ADS_1
“Ada baiknya kita nggak hanya fokus dengan pikiran kalau pelakunya pasti murid hingga membuat kita tidak memperhatikan kemungkinan pelakunya adalah guru,” sahut Gaby.
“Tugas kalian bertiga untuk membuat list guru yang mungkin menjadi bagian semua ini,” lanjut Gaby saat suasana sempat hening.