Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Kencan Pertama


__ADS_3

Sudah 2 bulan Jonathan resmi berhenti dari SMA Dharma Bangsa dan berkonsentrasi di perusahaan milik Gabriela.


“Bahagia udah berhasil bohongin gue ?” gerutu Jonathan dengan wajah kesal.


Setelah bekerja fulltime di perusahaan, Jonathan baru tahu kalau Kendra sudah menjadi karyawan di sini sebelum Jonathan resmi bertunangan dengan Gaby.


Om Sofian yang sudah lama menyelidiki dan mengawasi kehidupan Jonathan sebagai calon suami pewaris perusahaan, memilih Kendra, sahabat sekaligus orang terdekat Jonathan untuk membantu pria itu menjalankan perusahaan.


Apalagi dari sisi pengalaman di dunia kerja, Kendra yang sejak lulus kuliah bekerja sebagai pegawai kantoran sudah pasti lebih berpengalaman daripada Jonathan yang berprofesi sebagai guru.


“Kalau nggak dipancing begitu, belum tentu elo mau jujur sama perasaan lo sendiri, apalagi gue sama Om Sofian melihat gimana Maya makin nempel sama elo kayak sopir angkot.”


“Nggak segampang itu juga melepaskan perasaan cinta gue ke Maya yang udah bertahun-tahun, apalagi alasan gue memutuskan dia bukan karena kesalahan Maya atau orang ketiga tapi lebih karena ego gue yang nggak mau diatur sama bokapnya yang melihat orang dari status sosial.”


“Bro, elo belum tahu aja gimana kehidupan Maya yang sebenarnya. Sekalipun orangtuanya baik sama elo dan langsung memberikan restu, gue nggak yakin kalau elo bisa mengimbangi gaya hidupnya.”


Jonathan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Elo udah jatuh cinta beneran sama Gaby, kan ? Jangan main-main, kasihan tuh anak apalagi sekarang dia yatim piatu. Gue sama Om Sofian akan selalu mengawasi elo. Sekali elo buat kesalahan fatal sama Gaby, jangan harap kita berdua akan melepaskan elo begitu aja.”


“Jangan bilang elo beneran suka juga sama Gaby ?” mata Jonathan menyipit, menelisik wajah Kendra.


“Kenapa ? Elo khawatir gue akan merebut dia ?” Kendra tertawa.


“Gue nggak suka mengambil milik orang secara paksa karena nggak akan bertahan lama. Beda kalau Gaby yang merasa kalau elo udah nggak menghargai dia lagi, dengan senang hati gue akan melebarkan tangan untuk memberikan kehangatan dan ketenangan,” sahut Kendra dengan wajah sombong membuat Jonathan langsung mencebik. Kendra kembali tertawa.


“Awas aja kalau elo berani mendekati Gaby untuk menarik simpati.” Jonathan mengepalkan tangannya di udara ditujukan pada Kendra.


“Semuanya tergantung sama elo, Nathan. Maya masih belum bisa terima posisinya digantinkan Gaby dan sekarang dia mendadak baik sama gue. Nggak mungkin banget dia berniat menjadikan gue pengganti elo lagian gue juga nggak minat. Jaga Gaby baik-baik karena Maya dan kakak tiri Gaby selalu mencari celah dan kesempatan untuk menyingkirkan istri lo demi perusahaan ini dan mendapatkan elo kembali.”


Jontahan menopang kedua tangannya di pegangan kursi kerjanya dan menangkup kedua jemarinya, memikirkan segala kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Jihan dan Maya.


*****


“Kita mau kemana sih ? Kenapa saya harus berdandan dan pakai baju begini ?” gerutu Gaby sambil duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Hari ini Jonathan meminta Gaby memakai dress bahan denim yang ia belikan, senada dengan kemeja yang dipakai pria itu.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang perlahan melaju meninggalkan rumah mama Hani.


Baru seminggu yang lalu, Om Sofian berhasil membuat Jonathan bersedia mengganti mobilnya dan mewajibkan pria itu menggunakan sopir untuk mengantar dan menjemputnya ke kantor.


“Kan tadi aku udah bilang mau ajak kencan,” sahut Jonathan sambil menggenggam jemari Gaby.


Tubuh gadis itu menegang, ia tidak berani menatap Jonathan bahkan tangannya mulai terasa dingin.


“Kok diam aja ? Nggak suka aku ajak kencan ?”


“Ngg…nggak…Memangnya aku harus gimana ?”


“Nggak kepingin tahu kita mau kencan kemana hari ini ?” Gaby diam saja sambil menatap ke samping.


“Gaby.”


“Hmmm.”


“Lupa sama aturan ?” Gaby buru-buru menoleh lalu menggelengkan kepala.


“Lagipula udah aku bilang jangan bicara formal gitu. Kenapa sejak aku berhenti jadi guru, kamu malah tambah kaku dan canggung kalau ada di dekatku ?”


“Mas Nathan tambah keren dan membuat hati saya jadi sering deg deg kan kalau dekat-dekat Mas Nathan, apalagi pas mau tidur,” sahut Gaby jujur dengan wajah yang mulai merona.


Jonathan kembali tertawa karena merasa lucu dengan kepolosan istrinya.


“Apa setiap melihat cowok tampan kamu jadi canggung begitu ?” Gaby menggeleng lagi.


“Belum pernah,” Gaby menggeleng sambil tersipu.


Jontahan kembali menggenggam jemari Gaby sambil tertawa, meluapkan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Tidak lama Jonathan masuk ke area parkiran sebuah restoran ternama di Jakarta yang menyajikan makanan ala western.

__ADS_1


“Mas Nathan udah terima gaji dari perusahaan ?” bisik Gaby saat suaminya itu menggandengnya masuk dan duduk di meja yang ditunjukkan oleh pelayan.


“Kenapa ? Kamu takut disuruh cuci piring setelah makan ?” sahut Nathan sambil terkekeh.


“Bukan begitu, jangan salah paham.”


“Pesan dulu makanannya, bahasnya nanti aja. Nggak usah pikirin harga karena malam ini harus jadi spesial sebagai kencan pertama kita tanpa takut ketahuan orang lain.”


Gaby tersenyum sambil mengangguk. Ia tidak ingin mendebat ucapan Jonathan yang pasti sudah mempersiapkannya dengan baik.


Mata Gaby berbinar saat pesanan makanannya datang. Gadis itu sampai berdecak melihat hidangan mewah di depannya.


“Memangnya papi atau mama Gina nggak pernah ngajak kamu makan di restoran seperti ini ?”


Hati Jonathan tercubit saat melihat Gaby menggeleng.


“Sudah jarang pergi sekeluarga dengan papi, kalau pun keluar makan biasanya papi lebih memilih makanan khas Indonesia atau menu seafood. Mama Gina sering mengajak Jihan dan Lisa sedangkan saya lebih sering tinggal di rumah untuk menyelesaikan pekerjaan yang nggak ada habisnya.”


Jonathan merangkum kedua jemarinya dengan posisi tangan di atas meja.


“Kamu nggak suka protes sama mama Gina ?”


“Pernah beberapa kali pada waktu saya kelas 5 SD dan kelas 7. Mas Nathan tahu sendiri bagaimana cara saya protes karena saya merasa kalau uang yang mereka pakai adalah pemberian papi. Biarpun saya bukan anak kandung mama Gina, tapi papi adalah ayah kandung saya. Bukannya mereka kasihan, saya malah balik diomeli bahkan dicaci maki dan pernah dipukul oleh mama.


Puncaknya saat saya belum lama naik kelas 8. Saya protes karena mama menghalangi saya untuk


menekuni belajar tari daerah dan Jihan menyebarkan gosip di sekolah kalau saya hanyalah anak angkat papi yang sok gaya seperti anak kandung. Jihan membuat saya seolah-olah menindasnya hingga akhirnya banyak yang mencibir dan menjauhi saya. Belum lagi di rumah, pekerjaan seperti tidak ada habisnya, saya baru bisa mengerjakan PR di atas jam 11 malam, paginya saya harus bangun untuk menyiapkan pakaian dan bekal Jihan serta Lisa.”


“Apa papi tidak berusaha mencegah mama Gina dan Jihan supaya tidak memperlakukanmu seperti itu ?”


“Papi nggak akan pernah tahu karena sikap mereka 180 derajat berbeda saat di depan papi.”


Jonathan terdiam sambil tersenyum tipis karena teringat dengan cerita papi Hendri yang sebetulnya sudah mengetahui bagaimana kelakuan istri dan putrinya pada Gaby.


“Mulai sekarang jangan khawatir dan takut sendirian lagi,” Jonathan menggenggam satu jemari Gaby yang ada di atas meja.

__ADS_1


“Kamu sudah punya aku bukan sekedar sebagai wali tapi suami. Selain aku, ada mama, om Sofian, Mimi, Kendra dan teman-teman sekelas yang peduli dan sayang padamu. Mulai sekarang kita belajar berbagi supaya orang-orang seperti mama Gina, Jihan dan Maya tidak mudah membuat kita salah paham.”


Gaby mengangguk sambil tersenyum dan jemarinya balas menggenggam tangan Jonathan.


__ADS_2