Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Sepupu


__ADS_3

“Kenapa harus ikut turun segala, sih ? Saya nggak akan lama,” tegur Jonathan dengan wajah kesal.


“Kenapa saya nggak boleh membesuk Bu Maya ? Takut saya mengumumkan diri ? Lupa kalau pas kita makan siang bareng, saya nggak menyinggung apapun soal pernikahan ?”


Jonathan hanya menghela nafas dan berjalan mendahului Gaby. Di belakangnya, Gaby hanya bisa tersenyum getir, baru beberapa jam hatinya dibuat melambung, sekarang dihempaskan lagi ke dasar bumi. Sakit rasanya.


Jonathan tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya dan rasa itu lebih condong tentang cinta seorang pria pada wanita.


“Akhirnya kamu datang juga, Jo,” sapa seorang wanita baya yang Gaby yakin adalah mamanya Maya.


Tanpa sungkan, wanita itu langsung memeluk dan menyapa dengan gaya cipika cipiki pada Jonathan.


“Loh ini siapa ?”


Gabriela hanya tersenyum, pasrah pada kata yang keluar dari mulut Jonathan.


“Sepupu saya, Tante. Kenalkan namanya Gabriela biasa dipanggil Gaby.”


Jeduaarrr


Hati Gaby bagai disambar petir sampai langsung hangus. Rasanya pedih, tapi Gaby masih tetap tersenyum manis dan menjabat tangan wanita yang disapa Tante itu.


Mata Gaby langsung membelalak saat semakin masuk ke dalam, sosok Jihan terlihat sedang duduk di kursi persis di samping ranjang Maya.


“Jihan, kenalkan pria yang sudah membuat Maya depresi sampai mogok makan. Jo, Jihan ini asisten barunya Maya. Jihan ini yang menemukan Maya pingsan di ruangannya dan untung dengan sigap langsung membawa Maya ke rumah sakit.”


“Loh bukannya tadi Tante bilang…” Mama Maya langsung tertawa dan memukul bahu Jonathan.


“Maaf kalau membuatmu panik. Maya baru bercerita kalau kamu memutuskannya belum lama ini. Itu sebabnya Maya sangat sedih sampai depresi. Waktu Tante mau memberitahu kamu, Maya bilang kamu nggak bakal mau datang karena sekalipun Maya pernah memohon, kamu sudah tidak mau mencoba memperbaiki hubungan kalian lagi. Akhirnya tiba-tiba saja ide memberitahu kalau Maya mencoba bunuh diri terlintas di pikiran Tante. Tante bilang pada Maya kalau kamu pasti datang saat mendengar berita seperti itu. Dan benar kan, Sayang, Jonathan langsung datang, itu artinya dia masih peduli sama kamu, iya kan Jo ?”


Jonathan tidak menjawab, hanya tertawa canggung.


“Maaf ya Gab, Tante tidak tahu kalau Jo sedang mengantar kamu. Pasti kamu mengerti bagaimana perasaan Maya yang merindukan kekasihnya.”


Gaby hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, ia sudah melihat senyuman penuh kemenangan di bibir Maya dan Jihan sendiri sedang menutupi mulutnya yang sedang menertawakan Gaby karena hanya diakui sebagai sepupu oleh Jonathan.


“Kalau memang tidak apa-apa, kami mau permisi dulu, Tante,” tiba-tiba Gaby mendekati Mama Maya untuk pamitan.


Mama Maya terlihat kaget dan menatap putrinya yang langsung memasang wajah memelas.


“Gab, maaf, bisa nggak Tante minta tolong supaya Jo menemani Maya malam ini ? Masalah kamu, nanti Tante dan Jihan yang akan mengantarmu pulang.


Gabriela berbalik badan, menatap Jonathan dan menunggu jawaban pria itu. Perasaan Gaby harap-harap cemas, tapi ia sudah berjanji untuk tidak membuka identitasnya kecuali Jonathan yang bilang sendiri pada Mama Maya.


“Saya nggak bawa baju ganti, Tante. Besok pagi saja saya kembali lagi kemari.”

__ADS_1


“Jo, please. Temani malam ini saja, aku pingin ngobrol banyak sama kamu,” pinta Maya dengan wajah memelas.


“Jo, Tante juga mohon supaya kamu memberikan kesempatan lagi untuk Maya. Masalah Om, akan Tante bantu bicarakan. Paling tidak malam ini kalian bisa berbicara dari hati ke hati. Jangan khawatir soal Gaby, Tante pasti akan mengantarnya dengan selamat.”


Gaby yang tidak sanggup melihat kegalauan Jonathan pura-pura mengambil handphonenya dan menerima panggilan.


Jonathan bisa melihat jelas kalau tidak ada panggilan masuk di layar handphone gadis itu. Tapi Jonathan hanya diam dan membiarkan Gaby keluar kamar.


Gaby berdiri di depan lift, perasaannya kacau balau. Seharusnya kalau ia bisa bertahan untuk tidak jatuh cinta pada Jonathan, rasanya tidak akan sesakit ini.


Tapi hati dan rasa terkadang diluar kendali dan keinginan akal sehat, apalagi 2 minggu kemarin Jonathan menunjukkan sikap seperti suami yang cemburu pada istri. Gaby menangkap kalau tatapan suami kontraknya itu langsung mode senggol bacok setiap kali melihat Doni.


“Sepupu nih ceritanya.”


Suara ejekan Jihan yang tersenyum sinis padanya membuat Gaby terkejut.


“Kepo banget sama urusan orang,” ketus Gaby sambil menekan tombol lift yang langsung terbuka.


“Ngapain ikutan ?” ketus Gaby saat Jihan ikut masuk.


“Memangnya rumah sakit dan lift ini punya kamu juga ? Suka-suka aku mau kemana, nggak perlu menunggu rasa kasihan kamu apalagi nunggu sampai kamu umur 21 tahun.”


Gaby terdiam dan berdiri dengan menjaga jarak dengan kakak tirinya. Tatapannya sibuk ke handphone, enggan membuka percakapan dengan Jihan.


“Aku mau bicara.”


“Tolong bicara yang singkat dan padat. Aku nggak bisa malam-malam.”


Keduanya duduk di kafe yang ada di lobby rumah sakit.


“Kenapa ? Nggak sanggup lihat suami CLBK ?” ejek Jihan sambil tertawa sinis.


“Kamu tuh harusnya sadar, nasibmu sama persis dengan mami kamu. Orangtua kamu membeli hidup Pak Nathan dengan kekayaan yang kamu miliki. Kamu mungkin berhasil mendapatkan tubuhnya, tapi hatinya masih milik Bu Maya. Berdoa aja nasib kamu sedikit lebih baik dari Tante Anna, nggak sampai terima kenyataan kalau Pak Nathan akan punya anak sama Bu Maya.” Jihan tertawa mengejek, ucapannya lebih seperti doa.


“‘Masalah nasib itu urusannya Tuhan. Sekuat apapun manusia menolaknya, kalau memang nasibnya harus begini begitu, ya terima aja. Sama kan kayak Mama Gina. Mungkin aja akhirnya benar-benar menguasai Papi, tapi sayangnya Papi nggak membiarkan kalian mengambil milik Mami.”


“Sok tahu !”


“Kenyataan begitu. Nggak ingat kalau Papi tidak memberikan kalian kesempatan untuk mendapatkan sedikit aja harta milik Mami Anna ? Bahkan rumah yang kalian tempati bisa aja langsung diambil balik. Tapi tenang aja, aku anak yang tahu membalas budi. Didikan mami dan papi sangat berbeda dengan ajaran Mama Gina yang serakah.”


“Diam kamu !”


“Kenyataan,” Gaby tersenyum sinis. “Sekalipun kalian berdua menyiksaku, aku masih punya belaskasihan untuk membiarkan kalian memiliki tempat tinggal bahkan masih termasuk rumah mewah. Jadi manfaatkan itu sebaik-baiknya, jangan sampai aku berubah pikiran.”


“Kamu pikir hanya kamu orang kaya dan berkuasa di dunia ini ? Aku akan membantu Bu Maya untuk mendapatkan kembali cintanya yang kamu renggut. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Bu Maya kembali bersatu dengan Pak Nathan.”

__ADS_1


“Jangan takabur apalagi over pede. Apa kamu pernah mencari tahu kenapa Pak Nathan sampai pada keputusan melepas Bu Maya dan menerima pernikahan denganku ? Cari tahu dengan baik sebelum kamu memutuskan memihak seseorang,” cibir Gaby sambil tersenyum sinis.


“Kamu belum tahu aja siapa keluarganya Bu Maya.”


“Kenapa ? Apa sangat mengerikan dan berkuasa ? Aku tidak peduli karena hanya Tuhan yang membuat aku takut dan tunduk. Selama hatimu memiliki niat yang baik, jalan keluar pasti akan dibukakan bagimu.”


“Baru menerima wasiat dari papi, over pede mu langsung melonjak sampai lupa menginjak bumi,” ejek Jihan.


Gaby tidak menjawab karena kali ini handphonenya benar-benar bergetar.


Tolong bilang mama saya nggak pulang malam ini karena ada urusan pekerjaan, tidak usah cerita soal Maya. Kamu akan diantar pulang sama Jihan dan Tante Anita.


Gaby menghela nafas. Lagi-lagi tidak ada penjelasan apapun, malah Jonathan menyuruhnya berbohong pada mama.


“Ini semua baru awal, Gab.”


Gaby memundurkan wajahnya yang terkejut karena posisi tubuh Jihan condong ke arahnya. Bahkan wajah Jihan begitu dekat dengannya.


“Ini baru awal rasa kecewa dan sakit hatimu. Lihat aja kelanjutannya, akan aku buat kamu merasakan tidak ada gunanya mendapatkan seluruh harta warisan dari mami kamu,” Jihan menyeringai licik membuat Gaby sambil bergedik.


Bukan karena takut akan ancaman kakak tirinya, tapi wajah Jihan lebih menyerupai setan yang ada di film-film horor. Gelap dan bermata jahat.


Gaby hanya tersenyum tipis dan beranjak dari kursinya. Kali ini dia akan membiarkan Jihan merasa menang dan di atas angin.


“Oh ya Ji, aku lupa memberitahumu. Sudah 2 tahun terakhir ini, papi selalu rutin mendatangi makam mami setiap minggu bahkan memesan satu makam kosong persis di sebelah mami. Papi selalu membawakan bunga mawar putih kesukaan mami dan berharap bisa bersatu kembali dengan mami bahkan papi pernah bilang, papi berdoa seandainya diberikan kesempatan untuk hidup lagi di dunia ini, papi tetap ingin menjadi suami mami dan akan mencintai mami seumur hidupnya.”


“Dasar pembohong !” geram Jihan.


Gaby tertawa pelan dan mengirimkan satu foto ke nomor Jihan.


“Itu adalah foto saat pemakaman papi. Kamu lihat kalau posisi makam mereka bersebelahan dan lihatlah mawar putih yang setengah layu itu. Mawar itu adalah bunga terakhir yang papi bawakan untuk mami.”


Jihan mengepalkan tangannya saat membuktikan kebenaran ucapan Gaby. Belum sempat Jihan menjawab, Gaby sudah berdiri di lobby.


Sesudah mengantar Mama Maya dan Jihan pulang sekalian mengambil jaket di mobil, Jonathan bersiap-siap merebahkan diri di sofa.


“Jo, apa kamu sudah mulai mencintai istrimu ?”


“Apa maksudmu ?”


“Aku sudah lama tahu kalau Gaby adalah istrimu bahkan sebelum kalian menikah. Aku pernah melihat dia memelukmu pada hari kamu memutuskan aku.”


“Tidurlah, besok saja kita membahasnya.”


Jonathan mengeluarkan handphone dan mencoba mengirimkan pesan pada Gabriela. Hanya centang 1. Pesan pertamanya terbaca tapi tidak dibalas.

__ADS_1


Jonathan menghela nafas dan berharap Gaby baik-baik saja sampai di rumah.


__ADS_2