Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Mencari Fakta


__ADS_3

“Bagaimana mungkin Bapak membiarkan murid yang sudah menikah tetap bersekolah di sini ?” tanya Marsha dengan wajah sombongnya.


Pak Liman menepati janji, usai anak kelaa 12 mengakhiri pekan ulangan umum semester genapnya, Marsha, Pingkan dan Arman kembali bertemu dengan Gaby yang ditemani Om Sofian dan salah satu anggota tim hukum.


“Apalagi pernikahan Gaby terjadi dengan guru di sini, apa Bapak tidak khawatir kalau nama sekolah ini tercemar karena dianggap sekolah nggak benar ?”


“Di sini sudah ada perwakilan keluarga Gaby, kalau ada yang mau ditanyakan silakan aja.”


Om Sofian menganggukan kepala pada Pak Liman dan menatap ketiga teman Gaby sambil tersenyum.


“Foto penikahan Gaby dengan Pak Jonathan bukan hoax tapi hastag yang tertulis di bawahnya adalah fitnah dan pihak keluarga tidak akan berdiam diri jika fitnah itu semakin berkembang.”


“Tapi status Gaby adalah seorang siswa dan Pak Nathan adalah guru di sekolah ini,” tegas Marsha mengulang pernyataannya.


“Pernikahan mereka sudah mengikuti aturan yang berlaku dengan alasan yang sifatnya sangat pribadi. Sebelum masalah ini mencuat lewat wa grup, apakah ada keluhan dari siswa lain kalau Gaby berbeda dengan kalian ? Pernikahan mereka sudah berjalan 10 bulan dan Pak Jonathan masih memegang komitmennya untuk memberikan Gaby ruang dan waktu guna menyelesaikan pendidikannya di sekolah ini.”


Wajah Marsha dan Arman yang sombong masih belum bisa menerima pernyataan Om Sofian.


“Tolong jangan menyalahkan pihak sekolah karena semua aturan sudah kami penuhi. Ini kartu nama saya.”


Om Sofian mengeluarkan 3 lembar kartu nama masing-masing untuk Marsha, Pingkan dan Arman.


“Tidak masalah kalau orangtua kalian ingin bertemu. Bukankah ayahmu adalah seorang pengacara, Marsha ?” Mata Marsha langsung membola sementara tangannya sudah memegang kartu nama Om Sofian.


“Silakan ayahmu hubungi saya kalau masih ada yang ingin kamu pastikan. Boleh bertemu di sekolah atau di kantor kami. Bagaimana ? Ada yang masih ingin kalian sampaikan ?”


Om Sofian menatap ketiga teman Gaby satu persatu .


“Bukan mengancam tapi tolong fitnah di grup wa jangan diperpanjang atau dibesar-besarkan. Kalian tentu paham kalau pencemaran nama baik dan ujaran kebencian lewat media sosial bisa dimajukan ke meja hijau.”


Marsha sempat melirik Gaby dengan tatapan dan senyuman sinis. Usahanya gagal membuat Gaby dikeluarkan dari sekolah.


***


“Ada berita apa ?” tanya Gaby saat bertemu dengan ketiga cowok yang sudah menunggunya di kafe langganan mereka.


Usai bertemu dengan Pak Liman, bersama dengan Raina dan Mimi yang menunggunya, mereka langsung menyusul ketiga cowok yang sudah menunggu di kafe.


“Danu berhasil membuat Ivana menyerahkan handphonenya atas bantuan Pak Liman dan langsung diambil teman gue yang udah ahli soal beginian.”


“Terus ?” tanya Mimi dengan wajah penasaran.


”Berita baik sekaigus buruk,” sahut Danu membuat ketiga cewek di depannya menautkan alisnya.

__ADS_1


Joni membuka laptopnya dan meminta ketiga cewek itu berpindah posisi supaya bisa sama-sama melihat ke layar.


“Ini hasilnya. Nggak ada yang menyangka kalau mereka nggak sendirian.”


Hanya Danu yang terlihat biasa saja sedangkan keempat lainnya membelalakan mata.


“Besok gue labrak !” geram Raina sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Gue bantu elo, Rai, “ timpal Mimi.


“Jangan pada emosi dulu, orang-orang seperti ini mudah berkelit terutama yang ini,” ujar Danu menengahi dan telunjuknya terarah pada satu nama yang terpampang di layar.


“Terus ?” tanya Mimi dengan nada emosi.


“Gue akan membicarakannya dengan Pak Liman dan Om Sofian. Khusus yang satu itu, kita nggak punya wewenang untuk mengkonfirmasinya,” ujar Gaby sambil menghela nafas.


***


Jonathan mengaduk minuman hangat di depannya. Sudah 30 menit ia menunggu Maya di salah satu kafe di kawasan utara Jakarta. Lokasinya sengaja jauh dari rumah karena Jonathan tidak ingin Gaby atau Kendra mendapatinya sedang bertemu Maya.


Handphonenya sengaja dimatikan karena ia tidak ingin diganggu oleh pesan atau panggilan masuk. Perlu keberanian dan pertimbangan yang cukup lama sebelum Jonathan mengajak Maya makan malam.


Jonathan memijat pelipisnya sambil menatap keluar jendela. Wajahnya terlihat tegang dan kusut tapi bukan karena masalah yang sedang menimpa perusahaan dan gangguan di sekolah Gaby, tapi gugup karena akan bertemu Maya kembali.


Sentuhan tangan Maya membuat Jonathan terkejut dan langsung bangun lalu memeluk Maya. Wanita itu membelalakan matanya, tidak percaya kalau Jonathan akan memeluknya.


“Terima kasih sudah datang,” Jonathan melepaskan pelukannya. “Aku khawatir kamu masih marah dan tidak mau bertemu denganku lagi.”


Jantung Maya berdebar, sikapnya mendadak gugup. Sejak mengenal Jonathan sampai menjadi kekasihnya baru kali ini Maya merasakan degup jantungnya bertalu-talu.


“Mau pesan apa ? Selera kamu belum berubah kan ?”


Maya mengangkat wajahnya dari buku menu, keduanya saling bertatapan. Kharisma Jonathan yang terlihat semakin matang membuat Maya tambah terpesona dan wajah Maya langsung merona.


“Kamu masih ingat ?”


“Tentu saja. Belum juga setahun kita berpisah, mana bisa dibandingkan dengan 3 tahun bersamamu,” sahut Jonathan sambil tertawa pelan.


Jonathan memanggil pelayan dan menyebutkan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


“Maaf aku membuatmu jauh-jauh datang kemari.”


“Tidak masalah, aku malah senang kamu masih mengingatku bahkan ingat dengan makanan kesukaanku.”

__ADS_1


Jonathan tersenyum tipis, raut wajahnya berubah sendu membuat Maya mengerutkan dahi dan menyentuh jemari Jonathan yang ada di atas meja.


“Ada masalah apa lagi ?”


Maya sedikit lega karena Jonathan tidak menepis tangannya seperti terakhir mereka bertemu.


“Sepertinya aku sudah salah mengambil langkah, memilih menikahi anak SMA. Awalnya aku berpikir kalau Gaby penurut dan mudah diatur, ternyata sikapnya di luar ekspektasiku. Dia bahkan tidak terlalu peduli dengan masalah di perusahaan yang datang silih berganti.”


Jonathan menatap dalam-dalam mata Maya bahkan tangannya balas menggenggam jemari wanita itu.


“Aku jadi merasa hanya menjadi pembawa sial karena masalah itu datang sejak aku bekerja di perusahaan menggantikan mertuaku yang meninggal.”


“Jangan bilang begitu. Kamu lupa alasan menikah dengannya ? Kamu dipaksa keadaan dan aku tahu kalau keluarganya memilihmu karena membutuhkan pria dewasa untuk menjadi wali anak ingusan itu,” ujar Maya dengan suara meninggi.


“Gudang kantor terbakar kemarin subuh,” lirih Jonathan dengan wajah sendu namun tatapannya fokus ke arah Maya.


Alis Jonathan sempat menaut saat menangkap rasa terkejut di wajah Maya.


“Namanya juga musibah kebakaran, mana bisa menyalahkan dirimu menjadi penyebabnya.”


“Seandainya Gaby memiliki pandangan seperti kamu, aku pasti tidak akan merasa bersalah seperti ini,” gumam Jonathan.


“Apa dia malah menyalahkanmu dan bukan menghiburmu ?”


Jonathan hanya diam meraih gelas minuman dan meneguknya hingga setengah.


“Apa kamu sudah terlanjur mencintainya seperti yang pernah kamu katakan padaku ?”


“Aku malah ragu, apakah perasaanku bisa dibilang cinta atau hanya kasihan karena Gaby sudah sebatang kara.”


Maya melepaskan genggamannya karena pelayan datang mengantar pesanan mereka.


“Aku sedang berpikir untuk mengembalikan semua tanggungjawab ini pada Gaby. Sepertinya terlalu berat bagiku berjalan sendiri di satu kondisi yang masih asing bagiku.”


“Maksudmu kamu berniat menceraikan istrimu ?”


Jonathan menarik nafas dalam-dalam dan tidak langsung menjawab pertanyaan Maya.


“Makanlah dulu.” Jonathan mendekati piring makan Maya dan menyiapkan peralatan makan untuk mantan kekasihnya itu.


“Aku bersedia menjadi pengganti bocah itu kalau kamu bercerai dengannya,” ujar Maya dengan pelan dan wajahnya dicondongkan ke arah Jonathan.


Jonathan tersenyum tipis dengan wajah sendu, tidak ingin terburu-buru menjawab pertanyaan Maya.

__ADS_1


__ADS_2