Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Cinta dan Racun


__ADS_3

“Kok tumben jemput ke sekolah ?” tanya Gaby saat masuk ke dalam mobil Jonathan yang parkir di seberang gerbamg sekolah.


“Lagi kangen sama istri,” sahut Jonathan sambil tertawa.


”Gombal banget, sih,” cibir Gaby namun ikut tersenyum juga. Ternyata wanita memang mahluk yang senang dengan rayuan gombal.


”Hari ini lagi senggang dan mumpung kamu juga pulang pagian. Mau makan dimana ?”


“Makan doang ?”


“Memangnya mau ngapain lagi ? Ngamar ?” Jonathan menautkan alisnya sambil tersenyum mengoda istrinya.


“Om om nggak sabaran banget sih, tinggal menunggu beberapa minggu lagi,” cibir Gaby.


“Kamu tahu kan kalau om-om ini pria dewasa. Susah menepis godaan kalau tiap hari tidur pelukan sama gadis yang menggemaskan dan sah untuk disentuh, meskipun gadis imut ini…”


Jonathan tidak meneruskan kalimatnya malah melirik ke bagian dada Gaby. Gadis polos itu pun mengikuti arah pandangan Jonathan hingga wajahnya langsung memerah karena malu.


“Mas Nathan mesum !” Gaby langsung memukul bahu suaminya yang tergelak.


“Mana bisa dibilang mesum sama istri sendiri. Dan kamu nggak usah minder karena aku bisa membuat milikmu itu nggak akan seimut badan kamu lagi,” sahut Nathan di sela tawanya.


Mata Gaby membola dan dengan wajah memerah ia menoleh ke samping, menatap keluar jendela, mulutnya kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Jonathan.


“Mau kencan ?” tanya Jonathan mengusap kepala istrinya.


“Pakai seragam begini ? Bisa disangka beneran sugar baby jalan sama om-om.” Jonathan kembali tertawa melihat ekspresi wajah Gaby


“Sudah aku bawakan pakaian ganti di belakang. Mau ganti sekarang juga boleh, kaca mobil ini cukup gelap, nggak kelihatan dari depan.”


“Bukan dari depan tapi dari dalam,” gerutu Gaby sambil meraih kantong kertas di jok belakang.


“Nggak apa-apa kasih bonus di awal sama suami,” ledek Jonathan sambil terkekeh.


“Ternyata Pak Nathan cocoknya jadi guru mesum bukan matematika, jangan-jangan Bapak dulu menyamar untuk mencari mangsa kaum hawa yang masih polos dan gampang dikadalin.”


“Panggil aku Bapak lagi langsung eksekusi hari ini, nggak pakai nunggu ujian selesai,” ancam Jonathan.


Gaby hanya mencebik dan mendekap kantong kertas di atas pangkuannya, membiarkan Jonathan menertawakannya.


Sepuluh menit kemudian mobil Jonathan sudah parkir di basement mal.


“Mau makan apa ?”

__ADS_1


Jonathan menggandeng Gaby saat gadis itu turun dari mobil setelah berganti baju. Ternyata Jonathan bukan membawakan t-shirt dan celana jeans tapi dress katun bermotif bunga kecil-kecil. Dari baunya, Gaby menebak kalau pakaiannya masih baru.


”Apa saja asal jangan restoran Jepang.”


“Kenapa ?” Alis Jonathan menaut.


“Sedikit trauma karena sudah 2 kali berurusan dengan Maya dan Mas Nathan di restoran Jepang.”


“Maaf,” Jonathan mengeratkan genggamannya, tersenyum menatap Gaby dengan penuh cinta.


“Nggak usah lebay,” cebik Gaby sambil tertawa.


Jonathan pun menurut saat Gaby memilih restoran Korea meski menu makanannya masih terasa asing di lidah Jonathan.


Hingga satu jam kemudian, keduanya selesai menikmati makan siang. Wajah Gaby berbinar dan bibirnya masih bergerak mengucapkan banyak cerita.


Sejak tadi Jonathan lebih memilih jadi pendengar sementara Gaby sibuk berceloteh. Tidak ada keinginan untuk mendebat seperti di kelas, Jonathan malah menikmati setiap ekspresi Gaby yang asyik berbicara.


“Besok ulangan apa ?” tanya Jonathan saat keduanya sudah keluar dari restoran.


“Matematika.”


“Udah pintar kan ? Nilai nggak pernah di bawah KKM.”


“Tukar sama malam pertama ?” lirik Jonathan sambil tersenyum smirk.


“Nggak jadi !” Gaby melepaskan tangannya dan menggeleng. “Rugi banget karena bocoran soal udah pasti nggak akurat.”


“Yakin nih ? Aku masih bisa kira-kira soal yang bakalan dikeluarin sama Pak Irvan.”


”Yakin ! Bayarannya kemahalan.”


“Pelit banget sih sama suami sendiri,” ledek Jonathan sambil merangkul bahu istrinya.


“Bukan pelit, tapi bisa-bisa Gaby galfok ikut ujian sekolah kalau udah itu.”


“Itu apa ? Kenapa bisa sampai bisa membuat kamu nggak fokus ? Takut ketagihan ?” ledek Jonathan sambil terkekeh.


“Jangan pura-pura nggak tahu dan nggak usah diperpanjang. Mau Gaby tunda sampai masuk kuliah ?”


“Jangan dong ! Sekarang aja udah penuh perjuangan untuk melawan keinginan hati saat pelukan sama kamu, masa ditunda lagi.”


Gaby mencibir membuat Jonathan tertawa. Mata pria itu sempat menangkap sosok yang sedang dihindarinya berdiri menatap ke arah mereka.

__ADS_1


***


“Ya ampun, Bu Maya. Kok berhenti mendadak sih ?” gerutu Jihan mengusap keningnya.


Keduanya baru saja keluar dari restoran khas Indonesia di sebuah Mal. Begitu keluar, Maya mendadak berhenti dan tubuhnya membeku sambil menatap ke arah satu lantai di atas mereka berdiri.


Tidak mendapat tanggapan dari bossnya, Jihan mengikuti tatapan Maya dan mendapati Jonathan sedang merangkul Gaby sambil tertawa-tawa.


”Mau disamperin, Bu ?”


“Kamu nyuruh aku mempermalukan diri sendiri di depan Jojo dan bocah ingusan itu ?”


“Ibu akan menyerah begitu saja masalah Pak Nathan ?” Jihan menarik satu sudut bibirnya.


“Kamu sendiri juga tidak mau lanjut membongkar rahasia adikmu kan ?” Maya gantian menyindir asistennya sambil tersenyum sinis


“Ralat Bu, dia bukan adik saya,” ketus Jihan sambil


“Jojo makin sombong aja. Dia lupa pada dirinya sendiri padahal dia hanya berperan jadi boneka istrinya,” gerutu Maya.


“Laki-laki memang mudah silau dengan kedudukan dan jabatan, Bu. Saya dengar Pak Nathan langsung menggantikan posisi papi meskipun belum pengalaman bekerja di perusahaan.”


“Memang itu tujuan anak ingusan itu menikahi Jojo kan ?”


“Ibu yakin mau menyerah begitu aja sama Gaby ? Saya lihat Ibu masih cinta sama Pak Nathan.”


“Kamu mau Dadddy ngamuk ? Bisa-bisa aku diusir keluar kalau berani melanggar perintah Daddy.”


“Saya bersedia membantu kalau Ibu mau membalas sakit hati pada Gaby dan merebut Pak Nathan kembali. Kalau sampai Pak Harry tahu, Ibu timpakan saja pada saya, cukup bilang kalau itu semua inisiatif saya.”


Maya mengernyit, menatap Jihan dengan mata menyipit.


“Tentu saja saya nggak rela melepaskan Jojo pada bocah tengil itu tapi kamu yakin akan menanggung semua akibatnya termasuk melepas semua hak mami dan adikmu ?”


“Akan saya tunjukkan kalau hidup kami tidak berada dalam genggaman tangannya supaya dia tidak makin semena-mena. Tidak masalah sekalian membuat Pak Nathan meninggalkannya. Ibu cukup berperan menjadi malaikat penolong dan siap membuat Pak Nathan merasa nyaman,”


Maya diam sejenak dan memikirkan tawaran Jihan yang begitu menggoda egonya.


“Kamu yakin bisa menanggung akibatnya sendirian kalau sampai tidak berhasil ?” tanya Maya dengan wajah bimbang.


“Yakin, Bu,” tegas Jihan tanpa keraguan sedikit pun.


Maya menghela nafas. Hatinya ragu karena harus melawan perintah Daddy tapi yang namanya kesempatan rasanya sayang kalau ditolak dan dibiarkan lewat.

__ADS_1


“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu ?” tanya Maya setelah beberapa saat membuat Jihan langsung menarik satu sudut bibirnya.


__ADS_2