
Tanpa menunda lebih lama lagi, usai Joni menyerahkan hasil temuannya di handphone Ivana, Pak Liman memutuskan untuk memanggil orang-orang yang terlibat dalam penyebaran foto Gaby dan Jonathan.
”Loh kok Om di sini juga ?” Gaby terkejut saat melihat Om Sofian sudah berdiri di depan ruangan Pak Liman.
“Pak Liman yang menghubungi Om.”
Gaby hanya mengangguk dan mengikuti Om Sofian masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Sebetulnya Gaby berharap Jonathan ikut datang juga, tapi hari ini selain Om Sofian, hanya Danu dan Joni yang menemani Gaby.
Tidak ada yang menduga kalau Ivana dan Pak Anjas adalah bagian dari tim Jihan di sekolah ini. Keduanya cukup dekat dengan Gaby dan Jonathan, tapi justru merekalah yang memiliki peran terbesar dalam penyebaran foto di wa grup.
“Jihan tidak datang ?” tanya Gaby setengah berbisik pada Om Sofian.
“Setelah ini kita ke sana,” sahut Om Sofian ikut berbisik.
Gaby menghela nafas menatap Ivana, Prita dan Pak Anjas bergantian. Dari ketiganya hanya Ivana yang masih tegak menatapnya dengan penuh emosi.
“Saya sudah minta pada Pak Liman supaya Pak Anjas dan kalian berdua termasuk nanti Jihan untuk meminta maaf secara resmi di depan semua guru dan murid sekolah ini. Tentu saja Pak Nathan akan hadir juga sebagai suami Gaby, bukan guru sekolah ini,” tegas Om Sofian.
“Akan diatur setelah upacara minggu depan, Pak Sofian. Seminggu sebelum anak kelas 12 mengikuti ujian sekolah.”
“Sementara ini semua foto dan tulisan akan dibersihkan dari wa grup sekolah dan jika peristiwa ini terulang kembali atau masih diperpanjang, maka kita tidak akan bertemu di ruangan ini lagi melainkan di ruang pengadilan.”
Prita mulai menangis. Siswi kelas 12 IPA itu terlibat hanya karena rasa cemburu soal Doni. Sudah lama Prita menyukai Doni, tapi cowok itu malah tergila-gila dengan Gaby, bahkan saat Prita memberitahu kalau Gaby sudah menikah dengan Pak Nathan, Doni tetap pada keputusannya : MENOLAK PERNYATAAN CINTA PRITA.
Tugas Prita pun sederhana, hanya mengalihkan lerhatian Dona dan mengambil handphonenya lalu menyerahkan pada Ivana sedangkan Pak Anjas membantu menghapus rekaman CCTV yang memperlihatkan Ivana masuk ke kelas Dona dan meletakkan handphone itu di laci meja Dona.
“Gaby !”
Gaby yang berjalan dengan Om Sofian menuju ke parkiran mobil berhenti dan menoleh. Pak Anjas mempercepat langkahnya dan berdiri di depan muridnya itu.
“Maafkan saya.”
“Apa uang yang Jihan berikan cukup untuk mengobati istri Bapak ?”
Pak Anjas tampak kaget karena memang itulah alasan yang membuatnya menerima tawaran Jihan yang cukup menggiurkan. Tahun depan Pak Anjas akan pensiun dan 3 bulan yang lalu, istrinya divonis menderita kanker rahim stadium 3.
“Seharusnya Bapak lebih percaya pada saya daripada Jihan. Apalagi Pak Anjas hadir dalam pernikahan saya dengan Mas Nathan, jadi Bapak pasti tahu alasan saya menerima pernikahan dini ini.”
“Maafkan saya, Gaby. Uang yang ditawarkan Jihan tidak pernah saya terima karena saya benar-benar menyesal saat melihat bagaimana mereka memperlakukanmu di depan gerbang sekolah.”
“Saya sudah minta Om Sofian untuk mengurus pengobatan istri Bapak,” Gaby tersenyum getir lalu memberi isyarat pada Om Sofian untuk lanjut ke mobil.
Pak Anjas memghela nafas dan menatap Gaby yang meninggalkan sekolah bersama Om Sofian. Sejuta penyesalan tidak bisa menghapus kesalahannya yang sudah melukai Gaby.
__ADS_1
”Kenapa ?” tanya Om Sofian saat melihat Gaby melamun menatap keluar jendela saat mobil sudah meninggalkan sekolah.
“Kenapa Mas Nathan nggak ikut datang ?”
“Om yang melarangnya. Reaksi guru dan murid di sekolah akan berbeda saat melihat Nathan datang jadi biar di akhir aja pemeran utama prianya baru muncul,” ujar Om Sofian sambil tertawa pelan.
Gaby mengangguk dan kembali menopang wajah dengan tangan yang bersandar di pintu.
”Om juga menyesali keputusan Pak Anjas terlibat dengan rencana Jihan. Beliau termasuk salah satu guru yang cukup dekat dengan Papi Hendri.”
Gaby tersenyum tipis menatap Om Sofian.
“Saat orang terdesak apalagi untuk masalah perut dan nyawa, biasanya apapun akan mereka lakukan. Setidaknya Pak Anjas tidak menerima uang dari Jihan sebagai bentuk penyesalannya.”
“Tadi pagi Om sudah minta dokter Dharma untuk menunjuk dokter ahli untuk menangani istrinya Pak Anjas.”
”Apa Mas Nathan tahu kalau Om Sofian datang ke sekolah karena sudah menemukan pelakunya ?”
“Memangnya kenapa ? Kamu belum cerita ?” Om Sofian malah balik bertanya sambil mengerutkan dahi.
Gaby menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Sudah 4 hari ini Mas Nathan sibuk banget, pergi pagi dan pulang malam. Bahkan waktu hari Minggu juga pergi dari pagi dan pulang jam 11 malam.”
Gaby kembali menghela nafas, rasanya ia ingin bilang kalau Lisa sempat melihat Jonathan bertemu dengan Maya, namun lidah Gaby rasanya susah bercerita.
“Kak Kendra masih sakit ?”
“Hari ini sudah kerja lagi.”
Cilla mengangguk-angguk dan kembali menatap keluar jendela. Om Sofian sempat mengerutkan dahinya lagi sebelum sibuk dengan sejumlah pesan yang masuk ke handphonenya.
30 menit berikutnya, Gaby dan Om Sofian sudah duduk di ruang tamu rumah yang ditempati Mama Gina bersama kedua putrinya.
Wajahnya sudah tegang sejak melihat Gaby danOm Sofian, apalagi melihat mantan asisten Papi Hendri itu membawa sejumlah berkas di tangannya.
“Apa kabar, Gaby ?” sapa Tante Gina dengan senyuman canggung.
“Sejujurnya tidak baik, Tante.”
“Apa Jihan masih mengganggumu ?”
Gaby tidak menjawab dan membiarkan Om Sofian menunjukkan beberapa cetakan foto dan salinan percakapan di wa grup yang dimotori Jihan.
__ADS_1
”Tentu anda sudah tahu konsekuensi yang harus ditanggung, Nyonya Gina,” ujar Om Sofian.
Tangan Tante Gina terlihat gemetar saat mengambil foto dan kertas yang berisi tulisan percakapan wa.
“Berikan Tante kesempatan sekali lagi untuk bicara pada Jihan. Kali ini Tante akan lebih keras padanya,” pinta Tante Gina memohon pada Gaby dengan wajah memelas.
“Lalu kalau tidak berhasil ?” Om Sofian yang bertanya.
“Kita sama-sama tahu kalau semakin terdesak, bukannya minta maaf, Jihan akan mencari jalan lain untuk mendapatkan keinginannya,” lanjut Om Sofian.
Tante Gina terdiam, tidak langsung menjawab. Semua data yang dipegangnya adalah bukti yang bisa membatalkan perjanjiannya dengan Gaby.
“Saya akan memberikan Tante kesempatan sekali lagi bukan demi Tante atau Jihan tapi untuk Lisa. Kalau sampai terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi, saya tidak akan datang menemui Tante seperti ini karena Om Sofian yang akan menyelesaikan semuanya.”
“Ya, Tante mengerti, Gab. Terima kasih atas kebaikanmu,” sahut Tante Gina sambil tersenyum.
Gaby hanya tersenyum tipis dan tidak ingin menilai apakah ucapan Tante Gina tulus atau hanya demi mempertahankan harta yang dimilikinya saat ini.
Usai menemui Tante Gina, Om Sofian mengantar Gaby pulang. Gadis itu lebih banyak diam dan melamun sambil menatap keluar jendela di sampingnya.
“Fokus belajar untuk ujian terakhir, Gab. Liburan nanti kamu boleh mulai mengenal pekerjaan kantor sekalian menemani Jonathan biar dia tambah semangat.”
Om Sofian ikut turun dan mengantar Gaby sampai ke depan gerbang rumah Mama Hani.
“Iya, Gaby mau banget, Om.”
Om Sofian tersenyum dan memegangi gerbang yang sudah terbuka.
“Istirahat. Om akan memikirkan jalan yang terbaik untuk Pak Anjas dan teman-temanmu. Jangan terlalu terbebani dengan masalah mereka. Om pulang dulu ya.”
“Tunggu Om.” Gaby menahan gerbang sebelum Om Sofian menutupnya.
“Ada apa ?”
“Kalau sampai Gaby berpisah dengan Mas Nathan, apa Tante Gina akan menjadi wali Gaby ? Tidak bisakah Om saja yang jadi wali Gaby ?”
Om Sofian mengerutkan dahinya dan menatap Gaby dalam-dalam.
“Kok kamu nanya begitu ? Apa kamu ada rencana mau pisah sama Nathan ?”
Gaby tersenyum kaku dan menggelengkan kepala lalu menarik gerbang yang masih terbuka sedikit.
“Nggak apa-apa, Om, nanya aja. Gaby masuk dulu, Om.”
__ADS_1
Gaby berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah karena tidak mau Om Sofian memperpanjang pertanyaannya barusan.