Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Pamitan


__ADS_3

Suasana kelas XII IPA-2 berubah hening dan sendu, bukan karena Jonathan memberikan latihan soal yang sulit dikerjakan atau memberikan materi yang sulit dicerna. Guru matematika yang mulai mendapat tempat spesial di hati para muridnya malah pamit undur diri menjadi pengajar dan wali kelas mereka.


“Apa sekolah menyuruh Pak Nathan keluar karena masalah foto dengan Gaby ?” tanya Ivana, murid dengan nilai tertinggi dalam mapel matematika.


“Tidak,” Jonathan menggeleng. “Sekolah tidak menyuruh saya, tapi sayalah yang mengajukan diri untuk mundur. Untuk ke depannya, saya titip Gaby, siapa tahu masih banyak penggosip yang belum bisa berhenti menjadikan Gaby sasaran mereka.”


“Soal itu jangan khawatir, Pak, sejak awal kami sudah meluruskan kesalahpahaman ini,” ujar Danu.


“Iya Pak, mana mungkin kami diam saja dan membiarkan anggota kelas kami di gibah seenaknya, apalagi kami semua tahu bagaimana Gaby memang sakit waktu itu,” timpal Raina.


“Saya akan mencari tahu siapa yang mengambil foto itu, Pak. Provokator seperti itu tidak bisa dilepaskan begitu saja,” ujar Joni dengan wajah emosi.


“Tidak perlu diperpanjang sampai berlarut-larut apalagi sampai bertindak lewat jalan kekerasan. Kamu fokus saja dengan nilaimu dulu, Joni. Sekolah tidak akan diam saja menanggapi masalah ini.”


“Saya nggak yakin kalau provokator ini akan berhenti sampai di sini,” sahut Joni.


“Asal jangan berlebihan Joni, kendalikan emosimu, jangan sampai malah membuat kamu susah. Saya dan Gaby sudah mendapat solusinya dari sekolah.”


“Tenang saja, Pak, saya dan Danu akan mengingatkan Joni soal itu, tapi kami semua setuju kalau provikator seperti itu tidak bisa didiamkan begitu saja.”


Jonathan mengangguk-angguk sambil tersenyum.


“Kalian tahu kalau saya benar-benar bersyukur saat Pak Liman menunjuk saya untuk menjadi walikelas kalian, meski sedikit malas karena harus berurusan dengan Gaby yang suka mendebat saya.”


Jonathan melirik Gaby yang sejak tadi terlihat paling sedih karena merasa bersalah membuat Jonathan harus mengundurkan diri di tengah tahun ajaran seperti ini.


“Mungkin bapak memang berjodoh dengan Gaby,” celetuk Nirina.


“Cie…,cie…” ledek Bimbim dan Mimi yang langsung membalikkan badan ke arah Gaby.


Keduanya menoel-noel lengan Gaby yang langsung merona, apalagi saat Bimbim menaikturunkan alisnya sambil senyum-senyum.


“Kayaknya Gaby mau-mau malu nih, Pak,” ujar Bimbim,


“Saya juga mau sih, Pak,” celetuk Raina tanpa malu-malu.


“Huuu,” teman -teman sekelasnya langsung riuh sedangkan Jonathan hanya tertaw pelan.

__ADS_1


“Kalau soal jodoh, manusia nggak pernah ada yang tahu,” komentar Jonathan.


“Yang pasti, saya benar-benar bahagia menjadi walikelas kalian meskipun banyak guru yang menganggap kalian sebagai kelas buangan karena dipenuhi dengan siswa yang nilainya pas pas an.


Satu pesan saya yang semoga diingat oleh kalian adalah keberhasilan seseorang di masa depan tidak bisa diukur dengan nilai di atas kertas saat ini tapi ditentukan oleh sikap kalian sendiri dalam memperjuangkan hidup untuk masa depan.


Jangan pernah mudah menyerah apalagi putus asa, kegagalan bukanlah akhir segalanya tapi kesempatan untuk memperbaiki yang kurang dan menyadari kalau kalian masih perlu banyak belajar. Sementara keberhasilan bukanlah garis finish dalam hidup, tapi kesempatan untuk menghargai diri kalian sendiri dan membuatnya terus lebih baik di masa depan.”


Semua siswa spontan berdiri dan bertepuk tangan, hanya Gaby yang masih duduk dengan perasaan bersalah.


“Gab, elo nggak bangun ?” tegur Danu yang duduk di sebelahnya.


“Eh iya…” Gaby akhirnya berdiri dan ikut bertepuk tangan.


“Kami juga berterima kasih atas kebersamaan selama 2 tahun ini, Pak Jonathan. Sangat disayangkan karena Bapak tidak bisa ikut mendampingi kami sampai garis finish. Setulus hati kami berdoa semoga Bapak akan sukses di pekerjaan yang baru dan bisa hadir bersama kami saat kelulusan nanti.”


Danu sang ketua kelas menyampaikan rasa terima kasih mewakili semua siswa kelas XII IPA-2 yang kembali disambut dengan tepukan tangan semua siswa.


“Bapak pindah ke sekolah mana ? Kaum hawa jadi kehilangan pemandangan indah di sekolah ini,” celetuk Raina dengan gaya khasnya.


“Cinta saya hanya untuk SMA Dharma Bangsa karena setelah ini saya nggak akan jadi guru lagi, pindah haluan jadi karyawan kantoran.”


“Huuuu” siswa yang lain langsung riuh dan bertepuk tangan.


“Jangan lupa sama kita-kita kalau udah jadi CEO, Pak,” Joni ikut buka suara.


“Jangan lupa cariin kerjaan maksud lo ?” ledek Bimbim yang langsung disambut gelak tawa beberapa siswa.


”Doakan saja semoga saya sudah jadi CEO saat kalian lulus nanti supaya kita bisa bikin perusahaan rintisan bersama. Pesan saya belajar yang serius karena kalian sudah kelas 12, harus mulai berpikir tujuan hidup kalian, mau jadi apa kalian nanti. Hargai hidup dan hormati orangtua kalian selama mereka masih hidup. Saya sudah mengalami bagaimana harus berjuang keras di saat ayah saya meninggal dunia.”


Satu persatu siswa menyalami Jonathan yang dimulai oleh Danu lalu Bimbim dan akhirnya yang lainnya secara teratur. Hanya Gaby yang masih duduk di bangkunya dengan tatapan ke arah luar jendela.


“Gab, maju bareng yuk !” ajak Mimi yang melihat sahabatnya masih anteng duduk di bangkunya.


Gaby diam saja, matanya mengerjap menahan air mata yang sudah berada di pelupuk matanya.


“Nanti yang lainnya malah curiga kalau elo nggak maju,” bisik Mimi.

__ADS_1


“Lagian kenapa elo mesti mewek sih ? Pak Nathan kan tetap jadi suami elo di luar sekolah, masih bisa elo nikmati ketampanannya di rumah malah di kamar,” ujar Mimi sambil cekikikan.


Gaby melotot dan mengambl tisu yang ada di laci mejanya. Posisinya berubah menyamping, menghadap ke jendela. Ia pun menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.


“Gab,” Mimi menyentuh bahu sahabatnya.


“Gue merasa bersalah banget, Mi,” lirih Gaby dengan wajah sendu.


“Ingat kata Pak Nathan, dia lebih bahagia setelah lepas jadi guru karena bisa menunjukkan pada dunia kalau kalian adalah suami istri tanpa takut dengan penilaian orang lain dan aturan yang melarang kalian punya hubungan.”


Mata Gaby mengerjap, mencoba menahan airmata yang masih ingin menerobos keluar.


“Mimi, Gaby, kalian lagi ngapain ?” tegur Jonathan yang sudah selesai bersalaman dengan seluruh murid kelas XII IPA -2.


“Ng….ini Pak… Gaby.. Gaby sakit…”


“Maafkan saya Pak Nathan,” potong Gaby sambil berdiri. Matanya hanya sekilas menatap Jonathan lalu menunduk.


“Maaf karena Bapak harus mengundurkan diri karena menolong saya saat itu. Saya benar-benar menyesal membuat Bapak harus memilih mengundurkan diri sebagai guru supaya saya tetap bisa menyelesaikan pendidikan saya di sini.”


Jonathan tertawa dan berjalan mendekati meja Gaby dan Danu.


“Gaby, mengundurkan diri dari sekolah ini adalah murni keputusan saya. Foto itu tidak bisa membuat saya diberhentikan karena kondisinya saya menolong murid yang sedang sakit dan sebagai walikelas saya merasa perlu mendampingi saat keluargamu minta sekolah untuk membawamu ke rumah sakit guna pemeriksaan lebih lanjut.


Saat ini saya sungguh-sungguh ingin fokus dengan pekerjaan baru saya karena dunia yang sedang saya jalani sangat berbeda dengan tugas saya sebagai guru.


Buat saya dan berlaku untuk kalian semua, di saat kita harus mengganti haluan karena ada masalah yang membuat kita tidak bisa terus melangkah, jangan takut untuk berputar.


Melepaskan yang lama dan mengambil satu kesempatan baru memang sering membuat hati cemas, khawatir bahkan takut. Namun jangan menjadikan semuanya itu sebagai alasan kita untuk berhenti.


Teruslah maju karena belum tentu di ujung jalan yang kita lewati, badai masih belum berhenti.”


Gaby tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya.


“Terima kasih sudah menjadi guru yang menyebalkan namun murah hati memberi nilai. Semoga Bapak sukses di tempat yang baru.”


“Dan kamu, jangan sampai Pak Irvan memberi kamu nilai minus karena suka berdebat dengannya,” pesan Jonathan menjabat tangan Gaby sambil tersenyum.

__ADS_1


Entah siapa yang memulai, seluruh siswa kembali bertepuk tangan dan momen indah itu langsung diabadikan oleh Mimi.


__ADS_2