Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Kebohongan


__ADS_3

“Jadi ini alasan Pak Nathan mengundurkan diri dari sekolah ?” tanya Danu saat menemani Gaby menunggu jemputan.


Bukan hanya Danu, ada Mimi dan Raina yang memapah Gaby turun tangga dan berjalan hingga ke gerbang utama, menunggu di dekat pos satpam.


Pak Liman dengan tegas mewajibkan Gaby pulang meskipun gadis itu sudah memastikan kalau ia bisa melanjutkan sekolah hari ini.


“Sorry, bukan maksud gue berbohong sama kalian, tapi semua ini nggak bakal terjadi kalau bokap gue masih hidup,” sahut Gaby dengan wajah sendu.


“Memangnya nyokapnya Jihan nggak kasih lo ijin buat tinggal dengan mereka ?” tanya Raina.


Mimi baru saja kembali dari kantin membeli minuman untuk mereka semua.


“Elo masih ingat beberapa kali melihat badan gue pada biru pas kita ganti baju olahraga ? Mimi paling tahu semuanya,” ujar Gaby sambil tertawa getir.


“Kenapa elo nggak lapor ke polisi ?” tanya Raina.


”Ada bokap gue yang harus dijaga nama baiknya dan saat itu gue masih kecil, dengar kata polisi aja udah takut apalagi disuruh laporan sama mereka,” sahut Gaby sambil tertawa.


“Jadi elo udah nikah sama Pak Nathan ?” tanya Danu sambil meyipitkan mata.


“Nyokap gue dan Pak Nathan itu bestie dari SMP. Sebelum meninggal, beliau berpesan supaya menitipkan gue pada nyokapnya Pak Nathan seandainya bokap udah nggak mau atau nggak sanggup membesarkan gue lagi.”


“Sorry kalau gue terlalu kepo, selama ini Jihan bilang elo hanya anak haram, anak pungut dan anak apapun dari bokap elo, apa iya begitu ?”


“Nyokap gue adalah istri pertama yang sah secara hukum, masalah Jihan juga anak kandung bokap tapi beda ibu ada ceritanya sendiri lagi. Bukan gue nggak mau berbagi atau membohongi elo padaan, tapi sepertinya masalah ini agak pribadi, lain cerita kalau Jihan yang bicara. Yang pasti gue bukan anak haram dan nyokap gue bukan pelakor.”


Gaby menarik nafas lega saat dirinya tidak perlu menjawab soal pernikahannya dengan Jonathan karena mobil yang dikirim Om Sofian sudah datang.


Sama seperti yang dilakukan oleh Pak Liman saat berbicara dengan Gaby di depan Marsha dan teman-temannya, kondisi pernikahannya dengan Jonathan sengaja dibuat abu-abu meski Gaby tidak menyangkal kalau foto yang beredar bukanlah rekayasa.


*****

__ADS_1


Urusan perkebunan tidak selesai semudah itu. Seperti sudah terencana, tidak ada satu pun petani atau pemilik perkebunan tetangga yang bersedia menjual hasil panennya pada perusahaan. Kalau pun ada harga yang ditawarkan mencapai 5 kali lipat dari harga pasaran.


Tapi bagi Jonathan, saat ini yang terpenting adalah Gabriela. Meski mama sudah mengabarkan kalau istrinya baik-baik saja dan kakinya yang terkilir sudah diurut, Jonathan tidak yakin kalau secara mental kondisi Gaby baik-baik saja.


“Om titip Gaby padamu Nathan, masalah perusahaan akan Om pikirkan jalan keluarnya,” ujar Om Sofian saat mengantar Jonathan turun di depan rumahnya.


Tangan Om Sofian menepuk-nepuk bahu Jonathan dan hatinya sedikit lega karena pria pilihan mami Anna itu terlihat mulai mencintai istri kecilnya.


“Saya pasti akan ikut memikirkan jalan keluar untuk masalah ini, Om. Saya juga akan memberi kabar soal Gaby karena sesudah ini pasti tidak akan mudah baginya untuk menjalani hari-hari di sekolah. Hari ini Pak Liman mungkin dapat meredamnya, tapi masih ada waktu 4 sampai 5 bulan sebelum Gaby menyelesaikan pendidikannya di SMA.”


“Kita akan sama-sama memikirkannya,” ujar Om Sofian sambil tersenyum dan menepuk bahu Jonathan sebelum kembali masuk ke dalam mobil.


“Kali ini karma elo indah banget, Bro,” ledek Kendra dari bangku penumpang depan.


“Selamat menjadi suami teladan,” lanjut Kendra di sela tawanya.


Jonathan hanya tersenyum dan melambaikan tangan saat mobil perlahan meninggalkan rumahnya. Ia pun bergegas membuka gembok pagar dan masuk ke dalam untuk bertemu dengan Gaby.


Jonathan sempat mengomel saat mama memaksanya mandi dan bebersih dulu sebelum menemui istrinya yang tidur di kamar mama.


Bergegas ia turun dan ingin memberi kejutan sebelum istrinya terbangun. Jonathan menarik nafas lega saat melihat Gaby masih tertidur pulas di atas ranjang mama.


“Kakinya terkilir cukup parah tapi masih untung langsung diurut hari ini juga. Mbok Mar bilang perlu 1 atau 2 kali lagi supaya bisa pulih benar.”


Jonathan mengangguk dan tidak sabar melihat wajah istrinya yang ditinggalkannya 5 hari ini. Mama tersenyum tipis sebelum menutup pintu meninggalkan Jonathan berdua dengan Gaby.


Sama seperti Om Sofian, Mama Hani bisa bernafas lega karena melihat Jonathan sudah mulai mencintai istrinya.


Gaby menggeliat, tidurnya terusik karena tangan Jonathan sejak tadi gantian membelai pipinya kiri dan kanan lalu pindah mengusap kepalanya.


Matanya mengerjap dan dahinya sempat berkerut, seolah tidak percaya kalau sosok pria yang dirindukannya ada di depan mata.

__ADS_1


“Mas Nathan ?” Jonathan tersenyum.


Terlalu bahagia melihat pria itu saat bangun tidur, Gaby lupa dengan kakinya yang terkilir. Ia meringis saat bangun langsung memeluk Jonathan.


“Kenapa ?” Jonathan melerai pelukannya dan menatap Gaby dengan wajah khawatir.


“Sakit sedikit, tapi sudah diurut.”


“Kita pindah ke kamar atas ya, biar nggak diganggu mama. Pasti sebentar lagi mama masuk untuk siap-siap mandi.”


Gaby tersenyum dan mengangguk malu-malu. Ia mengutuki dirinya dalam hati karena tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya melihat Jonathan dan kepalanya langsung mengangguk tanpa jeda untuk berpikir dulu.


“Mau dibawa kemana ?” tanya mama saat melihat Gaby sudah berada dalam gendongan Jonathan.


“Mau diajak pacaran di kamar. Nanti kalau mama iri, aku repot cari lawannya,” sahut Jonathan sambil tertawa meledek mama.


“Sejak kapan Mama iri melihat kamu pacaran ?” protes mama dengan wajah sebal. Jonathan hanya tertawa sementara Gaby menyembunyikan wajahnya, malu karena dilihat mama sedang digendong Jonathan.


“Jangan lupa kompres kaki Gaby dengan air hangat, Nathan,” ujar mama saat Jonathan sudah di tengah-tengah tangga. Pria itu hanya mengangguk sebagai jawabannya.


“Bagaimana dengan masalah perkebunan ? Apa bisa mendapat pasokan penggantinya ?” tanya Gaby saat Jonathan sudah menurunkannya di atas ranjang.


“Fokus kesembuhan kaki kamu dulu karena minggu depan kan mau PAS. Awal tahun nanti kamu akan sibuk dengan ujian praktek, try out dan tugas-tugas pengganti ujian, fokus ke sana dulu, masalah perusahaan percayakan padaku. Ada Kendra dan Om Sofian yang akan selalu membantu.”


“Tapi Mas Nathan janji akan menceritakan apapun pada Gaby ?” Gaby mengangkat jari kelingkingnya.


Jonathan mengangguk sambil tersenyum dan sedikit enggan menyatukan kelingkingnya dengan milik Gaby. Saat ini Jonathan tidak ingin menceritakan soal kecurigaan mereka kalau gagal panen ini ada hubungannya dengan Maya.


“Kok nggak mau ? Mas Nathan menyembunyikan sesuatu ?” Gaby mengernyit, menelisik wajah suaminya yang sempat terdiam.


“Menyembunyikan apa ? Kamu tuh nethink aja,” Jonathan terkekeh dan menyentil kening Gaby.

__ADS_1


“Bukan nethink tapi wajah Mas Nathan langsung terbaca kalau sedang menyembunyikan sesuatu.”


“Nggak ada kok,” sahut Jonathan tertawa sambil menautkan kelingkingnya dengan Gaby.


__ADS_2