
“Ternyata Kak Kendra sama saja !” geram Gaby sambil melotot menatap Kendra.
“Aku beneran nggak tahu kalau Jonathan akan datang, Gab. Swear !” Kendra mengangkat jarinya berbentuk huruf V.
Dengan wajah merah karena emosi, Gaby bergegas meninggalkan Kendra namun dengan sigap Jonathan menahannya.
”Lepasin nggak !” geram Gaby dengan mata melotot.
“Beri aku 3 menit, Bi. Hanya 3 menit,” pinta Jonathan dengan wajah memohon.
“Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
“Aku mau titip Mama, Bi. Jenny masih harus menyelesaikan kuliahnya 1 tahun lagi dan aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Kamu adalah kebahagiaan mama, Bi, jadi aku mengalah, aku akan menjauhi kalian.”
Gaby menoleh, menatap Jonathan dengan tajam, tidak ada lagi cinta yang terihat di mata itu, hanya tersisa rasa kecewa, luka dan benci.
“Anda itu anaknya, kenapa melepaskan tanggungjawab itu pada saya ? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi jangan seenaknya mengambil keputusan sendiri !”
Gaby menghentakkan tangannya hingga terlepas.
“Maaf kan aku, Bi. Aku sangat mencintaimu tapi tanpa sadar aku juga yang paling menyakitimu,” gumam Jonathan.
Wajah sendu Jonathan tidak membuat Gaby tersentuh, malah ia bergegas masuk ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang.
Gaby langsung mengeluarkan handphonenya dan memblokir semua nomor yang berhubungan dengan Jonathan termasuk mantan suaminya itu sendiri.
Jonathan hanya bisa menatap wajah mantan istrinya yang membuang muka ke samping. Beberapa kali ia menghela nafas.
“Gue udah menjadikan Gaby kehilangan cinta padahal gue melakukan semuanya atas nama cinta,” lirih Jonathan saat Kendra menepuk bahunya.
“Berdoa saja semoga masih ada waktu untuk memperbaikinya.”
Di ruangannya, Mama Hani kembali menangis dalam pelukan Jenny.
“Udah dong Ma, nanti mama nggak sembuh-sembuh. Katanya udah nggak betah di rumah sakit.”
“Sedih rasanya melihat Gaby jadi keras seperti tadi. Terlihat dari matanya kalau dia sangat terluka dengan perbuatan Nathan. Kalau tahu Nathan masih memilki perasaan sama perempuan itu Mama akan membiarkan Gaby meneruskan gugatan cereinya.”
“Semuanya sudah terjadi, Ma. Aku percaya Kak Nathan serius dengan ucapannya kalau dia sudah mencintai Gaby tapi kondisi Maya yang sedang hamil dan suaminya harus dipenjara pasti membuat Kak Nathan iba.”
__ADS_1
“Perempuan itu hamil ? Bukan anaknya Nathan kan ?” Mama melerai pelukannya dan menatap Jemny dengan mata membola.
“Bukan anaknya Kak Nathan kok, Ma,”’sahut Jenny sambil tertawa pelan. Mama langsung menarik nafas lega.
“Aku juga tahu dari Kak Kendra. Pria yang menghamili Maya adalah otak pelaku pembakaran gudang pabrik.”
”Ya ampun kenapa suami istri bisa sama jahatnya ?”
“Bukan begitu, Ma. Nama calon suaminya Maya itu Leo, aspri kakaknya Maya dan sudah lama mencintai adik bossnya. Dia marah karena melihat Maya disakiti oleh Kak Nathan dan berniat membalasnya atas nama cinta.”
“Kenapa Nathan jadi suka menyakiti perempuan.” Jenny kembali tertawa mendengar keluhan Mama Hani.
“Beda kasus, Ma. Maya sakit hati karena tidak terima kalau Kak Nathan memilih Gaby sebagai istrinya.”
“Kenapa begitu ? Apa salahnya Nathan memilih Gaby ? Jangan samakan gadis polos dengan dirinya yang penuh polesan sana sini. Gaby juga tidak kalah cantik kalau didandani.”
Jenny tersenyum karena Mama sudah berhenti menangis dan begitu antusias membahas soal Maya hingga mulai bisa mengeluarkan emosinya.
*****
Jonathan urung membesuk Mama saat melihat wanita yang melahirkannya terus menangis. Ia khawatir kehadirannya malah membuat Mama tambah sedih, kesal dan marah.
“Elo serius mau kerja di luar Jakarta ? Nyokap elo gimana ?”
Keduanya sudah duduk di salah satu rumah makan yang menjadi langganan mereka.
“Serius. Hari ini gue diwawancara untuk mengajar di pinggiran kota Banjarmasin, sekitar 30 km dari kotanya. Kontrak dulu selama 1 tahun, bisa diperpanjang atau diputus setelah setahun.”
“Sekolah apaan ?”
“Sekolah milik perusahaan perkebunan yang murid-muridnya anak-anak pekerja di situ juga. Karena muridnya hanya sedikit, gue diminta mengajar anak-anak SMP dan :SMA sekaligus.”
“Nyokap dan Jenny sudah tahu ?”
“Belum. Hari ini baru dipanggil wawancara dan psikotes. Masih ada 2 tahap lagi yang harus gue lewati sebelum jadi karyawan kontrak.”
“Boleh saran ?”
“Kapan gue bisa melarang elo untuk bicara ?” sindir Jonathan sambil tertawa getir.
__ADS_1
“Jangan melarikan diri dengan alasan demi kebaikan siapapun termasuk Gaby karena keputusan itu hanya untuk menenangkan perasaan lo sendiri. Sama aja elo itu sembunyi dari masalah. Perempuan seumur Gaby mungkin akan lebih menghargai pria yang gigih berusaha mendapatkan maaf darinya.”
”Tapi dari tatapan Gaby hari ini, gue melihat sangat sulit membuatnya memaafkan gue.”
“Elo nggak belajar dari Mario ? Seingat gue elo pernah cerita kalau cowok itu adalah mantan kekasih Jihan yang hampir saja memperkosanya. Gue sempat kaget karena sempat bertemu Gaby berdua dengan cowok itu di kantor dan sekali lagi di mal. Mereka tampak akrab dan tidak ada jejak kebencian dalam sikap Gaby pada Mario. Mereka ngobrol dan tertawa layaknya seperti teman dekat.”
Jonathan mengerutkan dahi dan membenarkan ucapan Kendra .
“Mario pernah minta maaf pada Gaby di depan banyak orang juga,” ujar Jonathan saat mengingat kejadian di lapangan SMA sebelum Mario dan Jihan lulus.
“Nah itu ! Belajar dari pengalaman si Mario itu bukankah sudah jelas bagaimana seharusnya elo bersikap sama Gaby ? Elo itu pernah menjadi suami Gaby, Nathan, seharusnya elo lebih paham akan sifat istri lo sendiri.”
“Gue khawatir dengan ucapan Om Sofian. Kalau gue terlalu memaksa, Gaby malah kabur dan susah diminta kembali ke tempatnya sekarang.”
“Jangan jadi pengecut, Nathan. Elo sendiri yang menabur hama di hidup perkawinan kalian jadi elo sendiri yang paling tahu gimana cara membasminya.”
“Gue akan pikirkan lagi saran dari elo, tapi gue udah nggak punya rasa percaya diri lagi untuk mendekati Gaby terus menerus.”
“Jangan kalah sebelum berperang, Bro. Kukejar dikau dan kubuat bucin, dong,” ledek Kendra sambil tertawa.
Jonathan hanya memutar bola matanya, berusaha mempertimbangkan saran Kendra.
***
Usai membersihkan diri Gaby menarik kursi dan duduk di depan jendela yang tirainya tersibak separuh. Saat suasana hatinya galau, Gaby paling senang menatap pemandangan di luar saat malam. Menurut Gaby, lampu-lampu rumah dan bangunan itu seperti kunang-kunang.
Hatinya tidak tega untuk membangun benteng dengan mama dan Jenny karena perpisahan ini bukanlah kesalahan mereka meskipun Jonathan adalah bagian dari keluarga itu.
Apa yang dilihatnya membuat hati Gaby seperti gelas yang pecah berkeping-keping, susah dibentuk menjadi satu gelas yang utuh kembali.
Gaby membuka pintu menuju balkon. Semilir angin malam terasa dingin namun cukup untuk membuat hati Gaby yang tadinya panas kembali menghangat. Ia terus membangun tembok pemisah yang tinggi supaya ia tidak lagi disakiti sampai berkali-kali.
Gaby melihat handphonenya yang bergetar dan di layar hanya muncul barisan angka tanpa nama. Sudah dipastikan bukan dari mama, Jenny, Kemdra atau Jonathan karena nomor mereka sudah diblokir oleh Gaby.
Gaby mengabaikan panggilan yang kembali masuk ke handphonrnya sampai 5 kali dan bunyi yang keenam adalah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sama.
Bisakah aku minta waktu untuk bertemu ?
Gaby sempat mengerutkan dahi dan akhirnya memutuskan untuk mengabaikan pesan itu. Tidak ada gunanya menanggapi kiriman pesan tanpa nama dan tidak penting.
__ADS_1