
“Gab, gimana kabar elo ?” tanya Raina yang duduk di seberang Gaby bersama Bimbim dan Mimi persis di sebelahnya.
“Pertanyaan aneh,” sahut Gaby sambil mengerutkan dahinya.
“Elo semua bisa lihat kalau gue baik-baik aja, kan ?”
Ketiganya kompak menghela nafas membuat Gaby menatap mereka satu persatu dengan wajah bingung.
”Kita semua nggak mau basa basi lagi, Gab. Bukan cuma kita bertiga doang bahkan Danu dan Joni yang jauh dari elo juga merasakan kalau elo jadi orang yang sedikit… Hmmmm…. Sorrry kalau menyinggung perasaan elo tapi kenyataannya elo yang sekarang adalah orang yang pahit, sinis dan agak sadis ?”
“Heh ? Maksud lo gimana ?” Gaby menatap Raina yang sempat melirik Bimbim dan Mimi.
“Kita semua paham gimana sakitnya saat elo harus bercerai sama Pak Nathan ditambah tanggungjawab elo sebagai pewaris perusahaan di usia yang masih muda banget. Tapi semuanya udah lewat 6 bulan yang lalu, Gab. Kita semua berharap elo bisa move on dan tetap menjadi Gaby yang ceria, berpikiran positif dan hangat,” ujar Mimi panjang lebar.
“Gue kangen sama Gaby yang suka ngotot tapi tetap peduli sama orang,” timpal Bimbim.
Gaby terdiam, meraih gelas es jeruknya dan meneguknya perlahan. Ketiga sahabatnya menatap ke arah Gaby, menunggu reaksinya.
“Jadi elo semua mengharapkan gue tetap jadi anak SMA yang bisanya hanya kesal, marah dan sedih saat orang-orang dengan seenaknya menjadikan gue bahan gibah ? Kalian nggak bisa terima kalau gue sekarang berubah menjadi orang yang realistis menghadapi kenyataan hidup ? Kalau begitu kalian nggak akan bisa jadi sahabat gue lagi.”
Gaby beranjak bangun dengan tatapan wajah datarnya membuat ketiga sahabatnya terkejut.
“Hidup gue nggak lagi sama dengan kalian jadi tidak masalah kalau kalian sulit menerima dan menyesuaikan diri dengan Gabriela yang sekarang. Thankyou buat segala kebaikan selama ini.”
“Gab, bukan begitu maksud kita berlima,” Mimi lansung memegang lengan Gaby.
“Elo terlalu keras pada diri sendiri, Gab. Tidak perlu menjadi Gaby yang sekarang untuk menghadapi semua masalah hidup lo saat ini,” timpal Raina yang ikut beranjak dan berdiri berhadapan dengan Gaby.
“Kalian nggak akan pernah mengerti dengan semua persoalan hidup gue saat ini dan sorry kalau keadaan gue malah menyusahkan kalian.”
Perlalah Gaby melepaskan tangan Mimi dari lengannya dan sambil tersenyum getir ia meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih duduk di kantin.
“Jadi kita harus gimana dong ?” tanya Bimbim sambil menghela nafas.
“Dua bulan lagi Danu dan Joni janji akan liburan ke Jakarta, kita coba ngomongin lagi sama Gaby,” ujar Raina.
“Dan elo, Mi, sebagai teman yang paling dekat sama Gaby, tolong jangan elo tinggalkan dia sendirian. Gaby akan semakin mengeraskan hatinya kalau semua orang menjauhinya.”
“Hmmmm,” sahut Mimi sambil mengangguk.
*****
“Sudah selesai kuliahnya, Gab ?” tanya Om Sofian saat melihat Gaby masuk ke dalam ruangannya.
“Sudah, Om. Dian bilang Om mencari saya ?”
__ADS_1
“Duduk dulu, Gab,” Om Sofian beranjak dari meja kerjanya dan mempersilakan Gaby duduk di sofa.
“Gimana kuliah kamu ? Lancar ?”
“Lancar Om.”
“Om mau membahas masalah sidang lanjutan Leo yang akan digelar kembali hari Senin depan.” Gaby hanya mengangguk dan meletakkan handphonenya di atas meja.
“Kemarin sore Tuan Harry datang menemui Om, membahas soal kasus di perkebunan. Kemungkinan Tuan Harry akan membuka faktanya kalau beliau lah yang menyuruh orang untuk membuat kekacauan di perkebunan.”
“Terserah mereka aja, Om.”
Om Sofian langsung mengerutkan dahinya, menatap Gaby yang terlihat tenang namun dingin dan kaku.
“Gaby, tidak bisakah kamu membiarkan Leo bertanggungjawab atas perbuatannya saja ? Masalah di perkebunan sudah lama selesai, TuanHarry pun sudah meminta maaf secara pribadi dan memulihkan keadaan di perkebunan, kenapa kamu harus membuat kasus ini jadi bias ?”
“Saya hanya belajar menjadi seorang pemimpin yang tegas dan tidak takut terhadap tekanan atau ancaman dari pihak manapun. Orang-orang akan melihat saya hanya sebagai bocah ingusan yang lemah kalau saya tidak berani bertindak dari awal saya memimpin perusahaan ini.”
“Orang tidak akan hormat dan segan padamu hanya karena sikap yang kamu tunjukkan saat ini, Gab. Opa dan kedua orangtuamu tidak membesarkan perusahaan ini dengan tangan besi yang membangun rasa hormat karena takut.”
Gaby terdiam, meraih kembali handphonenya dan menghela nafas beberapa kai sebelum menatap Om Sofian kembali.
“Jadi menurut Om sebaiknya saya harus bagaimana ? Menutupi masalah itu karena sudah lewat dan pelaku utamanya Om Harry ?”
“Bukan begitu, Gaby. Om tidak ingin kamu membuang waktu untuk mengorek masalah yang sudah selesai. Lebih baik waktu dan tenaga itu dipakai untuk memikirkan masa depan.”
”Hidup manusia adalah satu mata rantai yang tidakbisa dipisahkan, Om. Masa lalu, sekarang dan masa depan saling berkaitan dan menjadi sebab akibat dalam hidup setiap orang. Tapi saya akan mendengarkan nasehat Om. Apa yang saya lakukan sekarang justru untuk masa depan yang lebih baik. Saya tidak mau kepahitan yang sama terus berulang seperti kebiasaan buruk dalam hidup saya. Permisi dulu, Om, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”
Om Sofian membiarkan Gaby meninggalkan ruangannya sambil menatapnya iba.
***
Gaby baru saja keluar lift di lantai dasar saat Mimi berlari kecil menghampirinya.
“Ada apa lagi ?” tanya Gaby dengan wajah datar sambil melangkah.
“Tadi Juan menitipkan ini, dia bilang lupa kasih ke elo langsung. Tugas statistik, ada beberapa yang perlu diperbaiki dan Pak Rahman minta elo kumpul lagi paling lambat lusa.”
“Thanks.”
Gaby menghentikan langkahnya membuat Mimi ikut berhenti dan mengikuti arah pandangan Gaby.
Di depannya sudah berdiri Maya dengan perut yang semakin membuncit, wajahnya terlihat sendu dan penampilannya sedikit kacau.
“Maaf kalau aku mengganggu Gaby,” ujar Maya saat sudah berdiri di hadapan mantan istri Jonathan.
__ADS_1
Gaby bergeming dan Mimi sedikit menjauh, memberi privasi pada kedua wanita yang berseteru hanya karena seorang Jonathan.
“Aku minta maaf atas semua perbuatanku yang menyakitimu dan membuat pernikahanmu berantakan.”
Mimi langsung melotot karena terkejut saat melihat Maya langsung bersimpuh di depan Gaby sambil menggenggam satu jemari Gaby.
“Jonathan tidak pernah mengkhianatimu. Sekalipun aku memohon sambil menangis, dia tidak pernah mau kembali padaku. Hari itu aku yang salah, aku yang menggodanya.”
Gaby menarik tangannya namun Maya semakin mempererat genggamannya. Wajahnya mulai dibasahi oleh air mata.
“Aku minta maaf untuk semuanya itu dan aku mohon supaya jangan melampiaskan kemarahanmu pada Leo apalagi Daddy. Aku mohon Gaby, aku mohon dengan sangat.”
Gaby tidak menjawab hanya membalas menatap Maya dengan wajah dingin, membuat Mimi sampai bergidik melihatnya.
Gaby menggunakan tangan lainnya untuk melepaskan jemari Maya yang masih menggenggamnya namun wanita hamil itu tetap gigih memohon masih dalam posisi berlutut.
Mimi mendekat, meminta Maya berdiri tapi wanita itu menggeleng dengan wajah berlinangan air mata.
Di saat itulah Gaby menghentakkan tangannya dengan cukup kasar hingga genggaman Maya terlepas. Hampir saja wanita itu jatuh ke lantai namun dengan sigap Mimi menahannya.
Gaby berjalan menjauh sementara Maya bangun dibantu oleh Mimi.
“Bukankah anda merasa orang kaya dan hebat ?” sindir Gaby dengan senyuman sinis.
“Silakan cari pengacara yang bisa membebaskan keluarga anda dari jerat hukum. Tidak ada gunanya anda minta maaf pada saya karena semua bukti adalah fakta bukan cerita atau sandiwara belaka.”
“Gaby,” desis Mimi sambil menghela nafas.
“Tidak Gaby, aku percaya kalau hanya kamu yang bisa membantu meringankan hukuman mereka.”
Mimi berusaha menahan Maya tapi wanita itu sudah bergegas mendekati Gaby kembali dan memegang lengannya.
“Aku mohon Gaby.”
Gaby menghentakkan tangan Maya dengan cukup keras hingga wanita itu terjatuh ke lantai sebelum Mimi sempat menahannya.
Maya meringis memegang perutnya. Gaby bergeming menatapnya dengan wajah datar dan membiarkan Mimi mendekati wanita itu.
“Gab, dia berdarah !” pekik Mimi dengan wajah panik.
Gaby hanya diam dengan wajah datar, malah berbalik dan meneruskan langkahnya menuju lobby.
“Gaby !” pekik Mimi dengan wajah kesal.
Gaby memberi isyarat pada 2 orang sekuriti yang sejak tadi hanya melihat dan tidak berani mendekat untuk membantu Mimi dan Maya.
__ADS_1
Sampai di luar Gaby meminta kunci mobil dan menyuruh sopirnya menghampiri Mimi. Perlahan ia membawa mobilnya keluar dari area kantor dan mengabaikan kondisi Maya yang sepertinya mengalami pendarahan.