
“Leo ?”
Jihan buru-buru bangun dari kursinya dan dengan wajah menunduk dia berdiri sedikit jauh dari meja Maya.
“Mau ngapain kamu kemari ? Mau memprovokasi Maya lagi ?” Leo membentak Jihan sambil bertolak pinggang membuat Maya ikutan bangun dan mendekati pria itu lalu memegang lengannya.
“Aku yang minta Jihan datang kemari, Kak, seharusnya dia masih cuti.”
Leo hanya diam namun tatapan tajamnya masih ditujukan pada Jihan.
“Kamu pulang dulu, Ji. Terima kasih sudah datang.”
Jihan hanya berani menganggukan kepala sambil tersenyum sebelum meninggalkan ruangan Maya.
“Kenapa nggak bilang kalau Kakak mau kemari ?”
“Kamu keberatan ? Kenapa kamu nggak bilang kalau sudah pergi ke dokter dan hasilnya positif ? Kamu sengaja tidak mau memberitahuku karena malu kalau akulah ayah dari bayi itu ?”
Leo memegang kedua bahu Maya dengan tatapan sendu. Ia sadar kalau secara status sosial, selamanya ia tidak akan pernah bisa menyamakan keluarga Maya.
Mata Leo membola saat Maya memeluknya dengan erat.
“Maya kamu…”
“Sejak kapan Kakak mulai menyukai aku ?”
Leo bergeming, ragu membalas pelukan Maya. Rasanya seperti mimpi Maya memeluknya.
“Aku,.,.”
“Terima kasih Kakak mau menerima aku apa adanya,” ujar Maya sambil mendongakkan wajah namun tidak melepaskan pelukannya.
“Kamu pasti terpaksa menerimaku. Kalau saja tidak ada benihku di rahimmu saat ini, aku bukanlah pria yang pantas diperhitungkan oleh wanita sepertimu,” ujar Leo sambil tersenyum getir.
Leo menatap ke arah lain, tidak sanggup melihat kepura-puraan Maya karena Leo yakin seribu persen kalau Maya tidak akan bisa mencintainya. Sejak dulu posisi Leo hanya sebatas sahabat lalu naik menjadi asisten Martin.
“Maafkan aku, Mas Leo,” lirih Maya dengan nada sendu.
Leo kembali terkejut dan spontan menatap Maya yang masih bertahan dengan posisinya.
__ADS_1
“Barusan kamu bilang apa ?” tanya Leo dengan nada tidak percaya. Maya tertawa pelan, satu tangannya mengusap pipi Leo.
“Mas Leo. Kenapa ? Atau tetap Kak Leo aja ? Apa Kak Leo tidak mau bertanggungjawab atas benih yang sudah tumbuh di rahimku ? Tidak mau dipanggil papa atau papi atau daddy ?” tanya Maya sambil tertawa pelan.
“Yakin mau jadi istriku dan nggak ingin balik dengan mantan pacarmu yang sekarang udah jadi CEO ?”
“Tadinya aku masih ingin melampiaskan rasa benciku karena Jojo sudah mempermainkan perasaanku demi istrinya, lalu Daddy bilang kalau keinginan untuk balas dendam tidak akan pernah berkesudahan. Aku marah karena serakah dan tidak mau kalah, egois dan terbiasa mendapatkan apapun yang aku inginkan. Selama 25 tahun menjadi anak Daddy, untuk pertama kalinya aku merasakan hati Daddy yang ternyata penuh luka karena perbuatan Mommy tapi selama 25 tahun aku dan kedua kakakku tidak pernah merasa jadi korban balas dendam Daddy. Meskipun Daddy susah untuk mencintai Mommy, tapi Daddy tetap menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai ayah termasuk untuk Kak Mario dan Kak Martin.”
“Aku akan menunggu sampai kamu mencintaiku,” ujar Leo.
“Sepertinya tidak akan lama,” sahut Maya sambil terkekeh. “Aku mulai bisa menerima jalan hidupku dan rasanya lebih nyaman dicintai dengan tulus daripada mengejar cinta yang semu. Terima kasih dan aku benar-benar berharap Kak Leo tidak akan bosan mengajarkan aku tentang cinta sejati.”
Leo terpaku menatap Maya dan mencari ketulusan dari tatapan wanita yang sudah lama dicintanya itu. Rasanya seperti mimpi dan Leo sedikit takut kalau semuanya berubah saat matanya berkedip.
Maya mengalungkan tangan di leher Leo dan mendekatkan wajah pria itu lalu mencium bibirnya sekilas. Mata Leo sempat membola namun detik berikutnya tangan kekar itu menahan tengkuk Maya dan memberikan ciuman di bibir yang selalu menggodanya itu.
Masih ada yang terasa aneh saat Maya membalas ciuman pria yang belum sepenuhnya ia cintai tapi Maya berusaha mendalami perasaannya. Matanya terpejam, belajar merasakan ketulusan dalam sentuhan bibir Leo yang menuntut lebih dari sekedar kecupan.
*****
Jonathan mengernyit saat melihat lampu dapur masih menyala. Sudah hampir jam 1 pagi. Terakhir ia yang mematikan lampu usai mengambil air minum.
“Gaby ? Kamu ngapain di situ ?”
Mata Jonathan membola saat melihat Gaby sedang menelungkup di antara kedua kakinya yang terlipat dekat kulkas. Di samping gadis itu ada pecahan gelas yang sudah dirapikan di dalam pengki.
Gaby sendiri langsung mengusap wajahnya sebelum beranjak bangun. Gadis itu meringis dan langsung berpegangan pada meja dapur saat berdiri. Alis Jonathan menaut, melihat ada noda darah di lantai.
“Kakimu luka.”
“Nggak apa-apa, hanya lecet sedikit terkena pecahan.”
Sebelum Gaby melangkah, Jonathan menggendongnya membuat mata Gaby langsung membola.
“Duduk diam di sini, biar aku periksa lukanya.”
Gaby sedikit canggung saat Jonathan berlutut di depannya dan memeriksa telapak kaki Gaby yang berdarah.
“Ini bukan cuma lecet, masih ada pecahan kecil nempel di kulitmu. Duduk diam di sini, jangan coba-coba jalan kalau nggak mau pecahannya tambah masuk ke dalam.”
__ADS_1
Gaby mengangguk dan menatap Jonathan yang pergi mengambil kotak obat. Hati Gaby menghangat karena merasa masih ada yang memberikan perhatian.
Tanpa sadar Gaby tersenyum saat melihat Jonathan begitu telaten mencabut pecahan gelas dan mengobati lukanya. Jujur, sejak tinggal di rumah ini bersama mama dan Jonathan juga Jenny yang pulang selama liburan, hidup Gaby terasa berbeda, tapi kejadian di restoran itu membuat Gaby seolah terbangun dari mimpi indah.
Gaby takut kalau ia sudah terlampau nyaman dengan keluarga barunya dan mendadak kehilangan kepercayaan kalau Jonathan tulus mencintainya.
“Eh mau kemana ?” tanya Gaby saat Jonathan kembali menggendongnya.
“Sejak tadi kamu diam saja meski aku sudah mengoceh dari Sabang sampai Merauke. Kamu mikirin apa ? Aku yakin kamu nangis bukan karena kakimu berdarah terkena pecahan gelas.”
“Iya tapi turunin dulu.”
“Mama pasti terbangun kalau kamu masuk sekarang apalagi dengan kondisi kaki seperti ini. Kamu tahu kan kalau Mama sensitif dengan suara dan susah tidur lagi kalau sudah terbangun ?”
Gaby mengerutkan dahi, apa yang dikatakan Jonathan ada betulnya. Hari ini Gaby susah tidur dan gelisah di atas ranjang. Beberapa kali Mama terbangun dan menanyakan kenapa Gaby belum tidur hingga akhirnya ia memilih keluar kamar dengan alasan ingin ke kamar kecil dan mengambil minum.
“Jadi malam ini kamu tidur sama aku dulu. Kalau mendadak kakimu nyeri, kamu tinggal membangunkanku. Janji aku nggak akan ngapa-ngapain, hanya tidur di sampingmu.”
Meski rasanya enggan tidur di sekamar apalagi satu ranjang dengan Jonathan, tapi rasa kantuk yang mulai datang akhirnya membuat Gaby mengangguk.
“Tapi apa perlu saya digendong segala ?”
“Kamu nggak lihat kakimu diperban ? Susah buat naik tangga ke lantai 2, lagipula aku tidak keberatan menggendongmu kok. Enteng.”
“Tidur aja ya ? Nggak boleh nempel-nempel.”
Jonathan tertawa pelan dan mengangguk lalu demi mencegah Gaby berubah pikiran, ia bergegas membawa Gaby naik ke kamarnya.
Jantung Gaby berdetak tidak karuan, meski otaknya masih mengingat akan niatnya untuk menjauhi Jonathan namun indera penciuman dan netranya tidak sejalan dengan degup jantungnya.
Aroma tubuh Jonathan adalah favorit Gaby terutama saat mereka tidur satu ranjang karena membuat tidurnya lebih tenang saat pria itu memeluknya.
Rasanya canggung waktu Jonathan meletakkan tubuh Gaby di atas ranjang. Sudah sekitar sebulan Gaby tidak pernah lagi tidur di situ tapi rasa kantuk semakin kuat menyerang netranya.
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan membangunkan aku.” ujar Jonathan sambil menyelimuti tubuh Gaby.
Tangan Jonathan terulur mengusap kepala Gaby membuat gadis itu langsung terlelap dalam waktu kurang dari 5 menit.
“Aku akan membuatmu keluar dari persembunyianmu, Sayang. Maaf kalau aku membuatmu ragu bahkan takut untuk mengakui perasaanmu. Aku bisa merasakan kalau kamu masih mencintaiku,” gumam Jonathan sambil mencium kening Gaby.
__ADS_1
Usai mematikan lampu, Jonathan pun ikut berbaring di samping Gaby dan melanggar janjinya. Tangannya terulur memeluk Gaby yang tidak menolak bahkan menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Jonathan.