
“Doni ? Jangan bilang elo mau ambil raport anak di sini.”
Doni langsung tertawa melihat ekspresi wajah Gaby yang bercanda tapi terlihat serius.
“Elo gila Gab ? Masa baru umur 19 gue udah punya anak umur 14.”
“Siapa tahu elo nikah sama janda yang udah punya anak umur 14.” Doni kembali tertawa membuat seorang gadis berpakain celana jeans dan t-shirt polos berwarna hitam mendekatinya.
“Kakak siapa ?” tanya gadis itu menatap ke arah Gaby.
“Ooo kamu yang mau diambilin raportnya sama Om ini ya ?” ledek Gaby sambil tertawa. Gadis itu mengangguk.
“Om ? Kakak ! Dia ini sepupu gue. Tua banget gue udah jadi Om-nya bocah segede gini.”
Jonathan yang melihat Gaby berdiri di pintu akhirnya keluar lagi usai meletakkan beberapa raport yang dibawanya.
“Doni ? Kamu ngapain di sini ?” Wajah Jonathan sama terkejutnya dengan Gaby .”Bukannya kamu kuliah di Inggris ?”
“Kak Doni yang akan ambil raport saya, Pak,” sahut gadis di samping Doni.
“Loh kamu siapanya Icha ?” tanya Jonathan.
“Kami sepupuan, Pak. Jadi Bapak sekarang jadi walikelasnya Icha ? Bukannya setelah berhenti mengajar, Bapak bekerja…”
Gaby langsung menutup mulut Doni sambil tertawa dibuat-buat membuat Icha langsung mengerutkan dahinya.
“Kakak yang namanya Gaby ?” Gaby mengangguk, tangannya sudah ditarik Jonathan yang cemburu.
“Jadi kakak mantan pacarnya Kak Doni, dong ? Wah bisa jodoh banget ketemu lagi di sini. CLBK aja, Icha dukung deh, soalnya kasihan Kak Doni sedih banget pas putus sama Kak Gaby.”
“Mantan pacar ?” tanya Jonathan dengan mata membola, Gaby langsung cekikikan melihat Doni terlihat kikuk sambil mengusap tengkuknya.
“Iya, pas Icha baru lulus SD, Kak Doni sering cerita soal pacarnya yang teman sekelas, duduk sebangku, imut dan kadang-kadang galak, terus terpaksa harus diputusin karena mereka nggak mau LDR an.”
“Doni !”
Gaby tidak bisa lagi menahan tawa saat Jonathan mengeluarkan suara baritonnya, kebiasaannya kalau sedang marah saat mengajar di kelas.
“Icha, Gaby ini adalah istri saya, sudah hampir 2 tahun kami menikah. Mereka berdua memang sekelas dan pernah duduk sebangku tapi nggak pernah pacaran karena Gaby sudah menikah dengan saya sejak kelas 11.”
“Jadi selama ini Kak Doni bohong ?” Tatapan Icha yang galak dengan posisi kedua tangan melipat di depan dada membuat Doni jadi salah tingkah.
“Kalau begitu Icha batal cari cowok yang kayak Kak Doni. Ganteng-ganteng tapi tukang bohong ! Habis terima raport, Icha nggak jadi pamerin Kak Doni sama teman-teman Icha.”
__ADS_1
Gaby dan Jonathan tertawa dan Jonathan merangkul Gaby, mengajaknya masuk ke kelas.
“Urusan kamu dan Kak Doni-mu diberesin setelah terima raport ya,” ledek Jonathan.
“Gab, nomor handphone kamu belum berubah kan ?” tanya Doni dengan suara cukup keras.
“Mau ngapain nanya handphone istri orang ? Masih niat CLBK lagi ? Jangan harap !” tegas Jonathan dengan tatapan tajamnya.
Doni tertawa dan bernafas lega saat menatap pasangan itu masuk ke kelas. Hatinya senang bisa dipertemukan kembali dengan Gaby karena ia sempat mendengar gosip kalau pernikahan Gaby dan Jonathan sedang di ujung tanduk.
***
“Kenapa ?” tanya Jonathan usai penerimaan raport selesai dan panggilan Kendra masuk ke handphonenya.
Gaby sempat minta ijin ngobrol dengan Doni dan Icha di kantin sekolah. Meski sedikit cemburu tapi Jonathan yakin kalau permintaan Gaby hanya karena senang bisa bertemu dengan teman sekolahnya.
“Gimana ? Rencana gue sukses kan ?”
“Iya, kapan elo nggak berhasil ngerjain gue ? Untung aja Gaby datang, jadi ada yang bantuin gue di tempat kost.”
“Memangnya elo cedera apanya sampai perlu bantuan Gaby ? Dan maksud elo Gaby nginep di tempat kost lo ?”
“Tangan kiri gue retak, Ken, pakai gips mungkin 2 mingguan. Tahu sendiri gimana repotnya ngapa-ngapain hanya dengan 1 tangan.”
“Gue juga kaget banget pas Gaby tiba-tiba nongol di rumah sakit habis itu nawarin bantuan. Tadinya nggak mau nginap, tapi gue bilang kalau pagi ini gue harus ke sekolah acara pembagian raport, jadi akhirnya dia bersedia juga nginap. Sayangnya ranjang gue kecil banget,” ujar Jonathan sambil terkekeh.
“Jadi dia tidur di lantai lagi ?”
“Nggak, Gaby nggak nolak pas gue ajak tidur satu ranjang. Dia bilang lagi nggak kuat tidur di lantai.”
”Terus sekarang ?”
“Dia temani gue terus selama pembagian raport sekalian gue kenalin ke kepsek dan guru-guru di sini. Andin kebagian diajak ribut juga sama Gaby. Gue biarin aja, udah capek juga kasih pengertian ke tuh cewek.”
“Udah begitu jangan dilepas lagi, Bro. Tempel terus, gue yakin kalau Gaby masih mau balikan lagi asal elo nggak berhenti memperjuangkan maafnya.”
“Tapi kejadian di hotel itu benar-benar mengganggu gue, Kendra. Gue sayang dan cinta banget sama Gaby, tapi kalau beneran gara-gara one night stand gue hamilin cewek lain, gue akan sangat-sangat menyakiti hati Gaby lebih daripada sebelumnya.”
“Elo nggak mau coba lagi minta rekaman CCTV di hotel ? Atau mungkin malam itu nggak sadar elo menghubungi April atau teman kampus elo lainny yang ada di handphone ?”
“Gue udah periksa histori di handphone gue, Ken bahkan gue sampai datang ke operator minta dicetakin semua aktivitas panggilan keluar masuk dan nggak ada nomor lain yang tercatat di daftar panggilan gue.”
“Terus elo mau membiarkan Gaby begitu aja ?”
__ADS_1
“Gue akan bicara terus terang sama dia soal kejadian di hotel, terserah gimana nanti keputusannya, gue akan terima seandainya Gaby memutuskan tidak akan pernah lagi memberikan kesempatan kedua buat gue.”
“Your decision, Bro. Gue hanya bisa mendoakan yang terbaik buat elo berdua.”
“Thanks, Bro.”
Jonathan menutup panggilannya dan sambil berdiri di pembatas lantai 2, ia menatap ke arah lapangan yang masih dipenuhi oleh anak-anak SMP sedang bermain futsal
”Habis terima telepon dari siapa ?”
“Ya ampun Gaby, kamu bikin kaget aja.” Jonathan mengusap-usap dadanya sendiri. Gaby hanya menyipitkan mata sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kok habis teleponan langsung melamun ?”
“Telepon dari Kendra tuh,” Jonathan memperlihatkan aktivitas panggilannya.
“Coba sambungin, saya mau ngomong, seenaknya kasih kabar yang nggak jelas begitu bikin orang langsung panik aja.”
Gaby berusaha mengambil handphone Jonathan tapi pria itu menggeleng.
“Nggak usah, Bi. Aku malah senang dengan keisengan Kendra sama kamu. Kalau nggak begitu kamu nggak akan datang menemui aku, terus membantu aku mandi dan menemani tidur bahkan pagi ini membantuku mengatasi ulat bulu yang bandel banget.”
“Istrinya dibuat kesal kok malah senang,” gerutu Gaby namun tidak menolak saat Jonathan merangkulnya masuk ke kelas.
“Senang karena jadi berkah buatku,” sahut Jonathan sambil tertawa.
“Aku bereskan laporan absebsi dulu sekalian nganter raport yang langsung dikembalikan ke Tata Usaha dulu, habis ini kita makan siang. Kamu mau makan apa, Bi ?”
“Aku mau kembali ke Jakarta.”
“Bi, bisa ditunda satu hari lagi ? Kamu ada ujian nggak di kampus ? Besok semua guru diminta datang dulu untuk rapat. Nggak lama kok, Bi, mungkin hanya sampai jam 10. Habis itu kita langsung balik ke Jakarta. Aku libur sekitar 2 minggu ke depan.”
“Kemarin itu terakhir jadwal kuliah. Saya sudah mulai libur per hari ini.”
“Jadi mau ya temani aku lagi malam ini ? Kalau nggak ada kamu, siapa yang mau bantuin mandi ?”
Gaby memutar bola matanya dan membantu Jonathan membawa sekitar 15 dokumen raport yang sudah ditandatangani dan dikembalikan oleh orangtua murid.
“Nggak minta suaminya Bu Atik aja bantuin Mas Nathan ?” sahut Gaby sambil menahan senyum.
“Nggak sekalian satpam juga ikut bantuin ?” sahut Jonathan dengan senyuman kesalnya.
Gaby tidak bisa lagi menahan tawanya membuat hati Jonathan kembali berbunga-bunga dan berharap bisa selamanya melihat Gaby tertawa bahagia.
__ADS_1
Dari lantai 3, Andin menatap keduanya dengan geram. Bocah ingusan itu membuat hatinya sangat-sangat kesal karena sudah berani mempermalukannya di depan banyak orang dan Jonathan yang semula terlihat seperti pria keren dan jantan ternyata malah ikut mendukung kelakuan istrinya yang menyebalkan itu !