
Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Jonathan mengalah, mengikuti permintaan Gaby untuk menginap di hotel malam ini atau besok Jonathan tidak boleh tinggal di apartemen sampai sembuh.
Jonathan masih sedikit trauma dengan kamar hotel tapi demi Gaby, ia berusaha melawan mimpi buruknya itu.
“Jadi ?”
Usai makan malam keduanya langsung membersihkan diri di kamar hotel dan sekarang Gaby berdiri dekat jendela sambil melipat kedua tangannya di depan dada sementara Jonathan berdiri sedikit jauh darinya.
“”Aku ingin menikahimu kembali, Bi. Aku tahu kalau hatimu belum bisa memaafkan perbuatanku dengan Maya dan sampai saat ini aku hanya bisa bilang maaf. Tolong ijinkan aku untuk membuktikan kesungguhan hatiku dengan menerimaku kembali menjadi suamimu.”
Jonathan mendekat, mengusap kepala Gaby dan memegang bahunya dengan satu tangan.
“Tapi ?”
“Tapi apa, Bi ?” Jonathan mengerutkan dahinya.
Gaby melepaskan tangan Jonathan yang masih memegang bahunya.
“Sepertinya ada rahasia yang Bapak perlu ceritakan sebelum saya mengambil keputusan. Jangan sampai fakta penting itu baru saya ketahui setelahnya.”
Jonathan menghela nafas sambil menggigit bibirnya. Matanya tidak berani menatap Gaby karena hatinya masih belum berani untuk menceritakan kejadian malam itu.
Gaby ikut menghela nafas. Tubuhnya cukup lelah hari ini hingga tidak sanggup berlama-lama menunggu Jonathan berbicara.
“Hubungi saya saat Bapak siap untuk menceritakan rahasia itu.”
“Bi,” tangan Jonathan menahannya.
“Sebelumnya maaf atas kecerobohanku karena tidak bisa menjaga diri.”
Gaby hanya mengerutkan dahi dan kembali menatap Jonathan dengan kedua tangan terlipat.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Jonathan mulai bercerita tentang rencana awal makan malam dengan Kendra akhirnya berubah dengan pesta ulangtahun Saskia. Tidak ada yang ditutupi termasuk soal perjumpaannya dengan April dan apa saja yang mereka perbincangkan sampai akhirnya tanpa sadar Jonathan mabuk dan terbangun di kamar hotel tanpa tahu siapa yang sudah tidur dengannya semalam.
“Kenapa Pak Nathan tidak memeriksa CCTV hotel ?”
“Sudah Bi, tapi mereka tidak kasih ijin karena aku tidak membawa surat permohonan yang berkaitan dengan suatu kasus hukum.” Gaby mengerutkan dahinya kembali.
Jonathan melanjutkan ceritanya kembali tentang segala usahanya untuk mencari tahu siapa yang menginap bersamanya di kamar hotel malam itu.
“Kenapa tidak minta bantuan Om Sofian untuk mengurus masalah ijin ke pihak hotel ?”
“Bi, aku malu dengan perbuatanku, bagaimana mungkin aku minta tolong pada Om Sofian sementara Kendra menyuruhku berusaha sendiri.”
__ADS_1
Gaby menjauh membuat Jonathan gantian mengerutkan dahi saat Gaby malah tersenyum sinis kepadanya.
“Pak Nathan tahu kalau cinta bapak pada saya hanya sebatas di bibir saja ?” sinis Gaby.
“Bi, aku sungguh-sungguh…”
“Bohong !” bentak Gaby membuat mata Jonathan membola. “Kalau memang bapak sungguh-sungguh mencintai saya maka bapak akan melakukan segala cara untuk membuktikannya. Kenapa Pak Nathan bisa memikirkan berbagai cara untuk menemui Om Harry sampai membuat sandiwara pada Maya ? Untuk membuktikan sama Maya kalau Pak Nathan adalah pria tangguh ?”
“Gaby.”
Jonathan berusaha mendekati Gaby dan menyentuhnya tapi wanit itu malah makin menjauh.
“Kenapa bapak masih mempertahankan gengsi, memikirkan apa pandangan Om Sofian kalau sampai bapak minta tolong padanya melihat CCTV hotel padahal tujuannya untuk melihat siapa yang menjebak bapak sekaligus membuktikan pada saya kalau kejadian itu di luar keinginan Pak Nathan ?”
“Gaby, aku benar-benar malu karena sudah melakukan kesalahan sampai 2 kali dengan Maya.”
“Baru 2 kali kan ? Kalau memang bapak sungguh mencintai saya, tidak perlu menghitung berapa kali bapak harus mempermalukan diri sendiri.”
Jonathan bergeming sambil menatap Gaby yang mulai berlinangan air mata. Semua ucapan Gaby membuat hatinya sadar kalau ia memang kurang berjuang untuk mendapatkan maaf dan cinta Gaby.
“Kenapa malam itu bapak tidak mendatangi saya dan Mario, memarahi pria yang berani memeluk istri bapak dan berusaha menggantikan Mario memberikan kenyamanan untuk saya ?”
“Apa Mario memberitahu kamu kalau aku melihat kalian malam itu ?” Gaby menggeleng.
“Saya sengaja duduk di sana, berharap bapak akan berusaha keras mengejar saya kemanapun dan menemukan saya di tempat-tempat kita pernah menghabiskan waktu bersama. Bahkan sampai 9 bulan lamanya, bapak tidak pernah mencari saya, malah pergi menjauh dari saya. Apa itu namanya cinta ?”
“Kenapa bapak bisa melakukan banyak hal pada Maya tapi tidak pada saya sebagai istri Pak Nathan ? Bahkan anak seumuran Icha bisa menjawabnya. Rasa cinta Pak Nathan pada Maya berasal dari hati sedangkan cinta untuk saya karena terbiasa. Itu sebabnya saat kebiasaaan bapak hilang maka rasa cinta pun akan ikut lenyap juga.”
“Tidak begitu Gaby. Aku benar-benar mencintaimu !” nada suara Jonathan mulai meninggi.
“Rasanya sulit bagi saya untuk percaya,” Gaby tersenyum getir.
“Maaf saya tidak bisa menemani Bapak malam ini. Saya terlalu membenci Pak Nathan dan itu semua membuat saya benar-benar ingin muntah.”
Dengan sigap Jonathan langsung mengambil kunci mobil yang ada di nakas dan memasukkannya ke dalam kantong celana trainingnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dalam keadaan emosi seperti ini.”
Gaby memejamkan mata lalu memegang perutnya. Ia bergegas ke kamar mandi dan benar-benar memuntahkan isi perutnya. Jonathan menyusul, membantu memijat leher Gaby, tidak peduli meski tangan Gaby menyuruhnya menjauh.
Jonathan membantu membasuh wajah Gaby di wastafel.
“Kamu lagi sakit ?” Gaby menggeleng.
__ADS_1
“Bawa minyak angin atau obat di dalam tasmu ?”
Lagi-lagi Gaby menggeleng dan melewati Jonathan. Sebetulnya ia ingin tetap nekad kembali ke apartemen menggunakan taksi karena malas merebut kunci mobil dari saku celana Jonathan, tapi kepalanya benar-benar pusing dan perutnya mual.
“Mau aku pesankan makanan ? Perutmu pasti kosong habis muntah.”
“Saya bisa pesan sendiri.”
Jonathan memeluk Gaby dari belakang dengan satu tangannya. Gaby terkejut namun tidak memberontak. Suasana hatinya mendadak tenang saat tangan Jonathan memeluk pinggangnya.
”Ijinkan aku merawatmu sebagai seorang suami malam ini.”
Jonathan menundukkan wajah dan mencium pipi Gaby lalu meletakkan kepalanya di bahu wanita itu.
“Bukan hanya malam ini, kalau boleh aku ingin selamanya,” bisik Jonathan.
Gaby menghela nafas, rasa mualnya mendadak hilang berganti dengan rasa lapar.
“Saya mau makan buah,” ujar Gaby dengan suara pelan.
“‘Mau cari jajanan di luar ? Buah atau apapun ? Aku tahu tempat yang enak.” Gaby menggeleng.
”Mau di hotel aja.”
Jonathan mengangguk dan sedikit lega karena emosi Gaby mulai normal kembali.
“Mau pesan apa ?”
Gaby tidak menjawab, ia berjalan ke nakas dan langsung mengangkat telepon yang disediakan pihak hotel untuk menghubungi bagian restoran lalu memesan 2 porsi buah potong.
Berharap Gaby tidak menolak, Jonathan memberanikan diri untuk mendekat. Posisi ranjang mereka terpisah, bukan satu ranjang besar.
“Mau tidur dipeluk seperti biasa ?”
Jonathan bersorak saat kepala Gaby mengangguk dan langsung menyusup di bawah selimut. Pria itu pun mematikan lampu di atas nakas dan duduk di dekat kepala Gaby.
Kalau saja tangan kirimya normal, sudah pasti Jonathan akan ikut masuk ke balik selimut dan menjadikan lengannya sebagai bantal kepala Gaby. Tapi saat ini pun Jonathan bersyukur karena Gaby sudah tenang dan mengijinkan pria itu mengusap kepalanya. Kebiasaan yang Jonathan selalu lakukan saat Gaby susah tidur di waktu malam.
Tidak sampai 5 menit Gaby sudah tertidur pulas dan tidak sempat menyantap buah pesanannya yang datang 10 menit kemudian.
“Kenapa emosimu kayak roller coaster, Bi ? Sebentar baik lalu galak terus nangis dan sekarang manja. Tapi aku senang dan bahagia, Bi.”
Jonathan mencium kening Gaby lalu berniat merapikan tas tangan Gaby yang isinya berantakan di lantai.
__ADS_1
Dahinya berkerut saat melihat sejumlah kotak obat tergeletak di lantai. Tidak biasanya Gaby mengkonsumsi obat-obatan bahkan vitamin sekalipun.
Khawatir dengan jenis obat yang dikonsumsi oleh Gaby, Jonathan langsung mengambil handphone untuk memastikan fungsi obat yang ditemukannya.