
“Aku mau bicara denganmu !” Gaby terkejut saat tangan Mario langsung menariknya ke arah gerbang sekolah.
2 hari berlalu sejak acara makan siang dengan Mario, Gaby meminta Mario supaya jangan menjemput keesokan paginya dengan alasan akan diantar suami ke sekolah. Setelah itu, demi menghindari cecaran pesan Mario akhirnya Gaby memutuskan untuk memblokir nomor cowok itu.
“Masuk !” perintah Mario dengan wajah memerah.
Tidak ingin bertengkar karena sudah menjadi pusat perhatian murid-murid SMA Dharma Bangsa yang baru pulang sekolah, Gaby menurut dan langsung memasang sabuk pengaman.
“Tolong jangan sampai sore, gue masih banyak tiugas dan PR.”
“Yakin karena banyak tugas dan PR, bukan karena takut suami kamu marah ?”
“Itu elo udah tahu kan ?”
Mario menghela nafas dan menekan gas hingga laju mobil bertambah kencang dan gerakannya yang memotong kiri kanan membuat Gaby memejamkan mata. Ingatannya kembali pada kejadian bersama Jonathan yang panik saat menerima kabar soal Maya.
Mario membawa mobilnya masuk ke kawasan wisata pantai yang ada di Jakarta tanpa menyadari kalau ada mobil lain yang membuntutinya sejak tadi.
“Turun ! Ada yang mau aku tanyakan sama kamu,” lagi-lagi Mario memerintah tanpa bisa dibantah oleh Gaby.
Ia pun turun dan mengikuti Mario mendekati bibir pantai dan duduk di salah satu bangku yang ada di bawah tenda warna warni.
“Jadi cowok yang dijodohkan sama kamu itu Pak Narhan ? Dia suami kamu ?”
“Jadi elo mengawasi rumah mertua gue untuk melihat seperti apa muka suami gue ?” sindir Gaby sambil tersenyum tipis.
“Bukan sengaja mengawasi, kemarin pagi aku datang ke rumah hanya untuk memastikan kalau kamu tidak membohongiku. Aku melihat Pak Nathan membuka gerbang dan mengeluarkan mobil. Tadi pagi hanya karena ingin meyakinkan pengelihatanku, aku datang kembali untuk memastikan kalau memang Pak Nathan lagi yang keluar dari sana.”
“Sekarang elo udah tahu semuanya. Terus mau sebarin berita itu ke anak-anak Dharma Bangsa ?”
“Kenapa kamu mau dijodohin sama Pak Nathan ?”
“Kenapa nggak ?”
“Pak Nathan sudah punya kekasih dan sejauh yang aku tahu hubungan mereka sudah sangat dekat bahkan aku pernah mendengar Pak Nathan berbicara di handphone entah dengan siapa, ia akan melamar kekasihnya itu. Pria yang sudah siap menikahi perempuan lain mana mungkin begitu mudahnya mengalihkan perasaannya, aku pernah merasakannya. Sekalipun secara fisik Jihan mempunyai banyak kelebihan, tidak mudah bagiku untuk membuang rasa sukaku padamu. Kecuali…”
“Kecuali apa ?” Gaby menautkan kedua alisnya.
“Kamu bilang pernikahan ini untuk menghindari Tante Gina menjadi wali, berarti saat ini Pak Nathan adalah wali sahmu. Mungkin saja dia mau menerima karena uang,” ujar Mario sambil tersenyum tipis.
“Menurut elo apa Pak Nathan termasuk cowok seperti itu ?”
__ADS_1
“Kamu tahu siapa nama lengkap kekasih Pak Nathan ?”
“Aku hanya tahu namanya Maya, tidak tahu nama keluarganya.”
Mario mengutak-atik handphonenya lalu memperlihatkan pada Gaby.
“Seingatku, dia inilah kekasih Pak Nathan. Maya Putri Kesuma.” Gaby mengangguk.
“Antara Pak Nathan materialistis jadi dia tidak peduli mau menikah dengan kamu atau Maya karena kalian sama-sama dari keluarga berada, atau Pak Nathan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumpulkan harta supaya ia bisa mengimbangi mantan kekasihnya. Jadi ia hanya mengeruk keuntungan darimu demi mendapatkan keinginannya.”
Gaby terdiam, hati kecilnya tidak setuju dengan pendapat Mario karena selama 5 bulan bersama Jonathan, tidak ada tanda-tanda kalau gurunya adalah pria semacam itu.
“Apa kalian sudah…”
Gabriela mengerutkan dahi menatap Mario dengan wajah bingung.
“Cukup Mario !”
Keduanya terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
“Pak Nathan,” desis Gaby.
“Saya membiarkan kamu jalan dengan istri saya karena Gaby bilang kamu ingin minta maaf dan menunjukkan penyesalanmu dengan tulus. Tapi mencampuri kehidupan Gaby apalagi masalah pribadi sungguh di luar batas kamu.”
“Kenyataannya ucapanmu harusan sudah bisa dikategorikan sebagai provokasi. Jangan coba ganggu istri saya lagi ! Seharusnya kamu sadar kalau Gaby sudah tidak nyaman denganmu sampai ia memblokir nomor kamu.”
Mata Gaby membola menatap Jonathan dengan penuh tanda tanya, tapi pria yang wajahnya memerah karena sedang marah itu tidak mempedulikan tatapan Gaby.
“Ayo pulang ! Saat ini saya datang sebagai suami kamu bukan wali kamu !”
Jonathan mengulurkan tangannya, sengaja ingin menguji bagaimana Gaby akan menanggapinya. Jonathan menahan senyum bahagia dan sebagai gantinya ia tersenyum sinis menatap Mario, saat Gaby menggenggam tangannya.
“Suka atau tidak saat ini Gaby adalah istri saya dan saya adalah suami sah-nya. Terserah dengan pikiran negatifmu terhadap saya tapi jangan coba-coba menyebarkan berita ini kepada orang banyak terutama di kalangan guru dan siswa Dharma Bangsa.
Kalau kamu sungguh-sungguh peduli pada Gaby, pikirkan baik-baik ucapan saya karena kalau sampai masalah ini terbongkar, Gaby akan menjadi yang paling terluka.”
Jonathan menarik tangan Gaby menuju mobilnya.
“Pak Nathan.”
Jonathan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mario.
__ADS_1
“Apa Bapak bisa mencintai Gaby sepenuh hati ? Seandainya Bapak tidak bisa mencintainya sekalipun sudah lama mencobanya, tolong hubungi saya dan jangan biarkan Gaby menanggung semuanya sendirian. Saya akan menggantikan Bapak dan melindungi Gaby sepenuh hati dengan seluruh cinta saya.”
Jonathan hanya tersenyum sinis, tidak mau menjawab apapun karena saat ini pun ia sendiri ragu dengan perasaannya.
“Pak,” Gaby menghentikan langkahnya dan menahan lengan Jonathan.
“Tas saya masih di mobil Mario.”
Jonathan yang enggan kembali mendekati Mario malah berteriak memanggil mantan muridnya itu. Mario langsung beranjak teringat kalau tas sekolah Gaby masih ada di dalam mobilnya.
Jonathan menjalankan mobilnya dengan wajah masih terlihat emosi sementara Gaby menyandarkan kepala di pintu sambil memejamkan matanya.
“Apa yang pernah Mario lakukan sampai dia merasa begitu bersalah sama kamu ?” tanya Jonathan saat mobilnya sudah meninggalkan kawasan pantai.
“Sudah saya katakan kalau itu terjadi sebelum kita menikah dan semuanya sudah beres.”
Jonathan menepi, menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Apa dia mencoba memperkosamu pada hari kamu datang menemui saya dalam keadaaan terluka ?”
“Bapak tidak perlu tahu. Penunjukkan Bapak sebagai wali saya lebih kepada urusan perusahaan bukan masalah pribadi saya. Lagipula saya sudah mengingatkan diri saya setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik kalau pernikahan kita hanya di atas kertas.”
“Gabriela !” panggil Jonathan supaya gadis itu menoleh ke arahnya saat bicara, bukan memandang ke jendela samping.
“Gabriela !”
“Apa ! Bapak mau mengingatkan saya lagi soal matahari yang terbit di barat ?” suara Gaby meninggi, kedua pipinya mulai dialiri air mata saat ia menoleh, bertatapan dengan Jonathan.
“Bukan itu yang mau saya katakan,” Jonathan mengusap air mata di kedua pipi Gaby namun segera ditepis oleh gadis itu.
“Tidak usah sok baik dan peduli sama saya. Bapak sudah tahu bagaimana anak seumur saya suka baper, bapak paham betul bagaimana saya sudah salah mengartikan perhatian bapak selama ini. Jadi…”
Jonathan menarik tenguk Gaby dan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Gaby.
Mata gadis itu membola dan saking terkejutnya, Gaby tidak berbuat apa-apa, bahkan matanya masih menatap sepasang mata Jonathan yang terpejam.
“Saya cemburu,” bisik Jonathan saat bibirnya terlepas.
Satu kalimat yang keluar dari mulut Jonathan membuat tubuh Gaby tambah membeku. Kedua wajah suami istri itu merona dan Jonathan kembali menghidupkan mesin mobil lalu mulai menjalankannya perlahan.
Gaby kembali pada posisi duduknya dan pandangannya menatap keluar jendela dengan perasaan yang campur aduk.
__ADS_1
Jonathan pun hanya diam dan tangannya menopang di jendela. Dia tidak yakin dengan keputusannya barusan, namun ia tidak bisa membohongi diri kalau hatinya mulai cemburu.