
“Mas Nathan kenapa sih senyum-senyum terus ? Tebar pesona ?” lirik Gaby dengan dahi berkerut dan bibir sedikit berkerucut.
“Bahagia dipanggil Mas Nathan lagi,” bisik Nathan begitu dekat di telinga Gaby hingga yang melihatnya mengira Jonathan tengah menciumnya.
“Lebay !” cibir Gaby. Jonathan malah tertawa dan mengeratkan genggamannya.
Sudah seminggu berlalu dan mama masih belum kembali dari Semarang meski Jenny sudah keluar dari rumah sakit.
Hari ini, semua siswa kelas 12 datang bersama orangtua mereka untuk acara kelulusan kelas 12 dan besok sorenya akan diadakan malam pelepasan khusus untuk para siswa.
“Aku menunggu janjimu,” bisik Jonathan kembali membuat wajah Gaby langsung melotot dan wajahnya memerah.
“Nggak bosan membahas itu terus-terusan ?” gerutu Gaby.
“Nggak bakal sampai kamu bersedia mewujudkannya,” sahut Jonathan sambil terkekeh.
“Haaiiss,” gerutu Gaby kesal.
Keduanya sempat menjadi pusat perhatian terutama dari para orangtua yang mengenal Jonathan sebsgai guru di sekolah itu. Mereka tampak terkejut karena Jonathan datang sambil menggandeng Gaby.
”Cie…cie… romantis banget nih calon mami papi,” ledek Mimi sambil menaikturunkan alisnya.
“Berisik ! Jangan menyebarkan hoax !” omel Gaby mencubit lengan sahabatnya yang langsung meringis.
“Yaahh nggak jadi punya keponakan tahun ini juga dong, Pak,” Danu ikutan meledek.
“Nggak tahun ini, tahun depan juga boleh, Pak. Gas ken lah Pak Nathan, jangan kebanyakan rumus malah nggak jadi-jadi,” timpal Raina.
Gaby langsung melotot menatap ketiga sahabatnya yang sengaja mengeraskan suara mereka hingga menarik perhatian siswa dan orangtua yang ada di dekat situ.
“Memangnya Pak Nathan sudah menikah ?” seorang ibu yang belum dikenal Jonathan mendekati mereka dan bertanya dengan dahi berkerut.
“Eh maaf, Bu… Ibu…”
“Saya Jill, maminya Ivana.”
Tanpa sungkan, ibu tadi langsung mengulurkan tangan dan tersenyum manis pada Jonathan. Keenam mantan muridnya langsung saling memandang dan menahan senyum.
”Oh iya, Bu. Maaf kalau saya tidak mengenali ibu. Iya saya sudah menikah, dan ini istri saya.”
Mata Tante Jili langsung membelalak saat Jonathan menarik Gaby dan memperkenalkannya pada wanita paruh baya itu.
“Tapi dia…”
__ADS_1
“Kami sudah setahun menikah, Tante. Apa Ivana nggak pernah cerita ? Padahal Ivana yang menyebarkan berita membahagiakan itu di grup angkatan,” sahut Gaby dengan wajah ramah dan senyum yang berlebihan.
Jonathan melirik istrinya sambil tersenyum. Gaby mulai menunjukkan taringnya, sengaja ingin membuat kesal Ivana yang baru saja mendekat.
Tante Jili melirik putrinya yang terlihat tidak suka melihat pasangan guru dan murid di depan mereka yang tanpa malu-malu menunjukkan keromantisannya.
“Maaf kami cari tempat duduk dulu, Bu,” ujar Jonathan sambil mengangguk sopan.
“Awas jangan tebar pesona sama emak-emak ! Model Tante Jili nggak cuma satu. Mereka nggak berniat menjadikan Mas Nathan calon menantu tapi suami kedua.”
Jonathan tertawa mendengar pesan Gaby sebelum gadis itu duduk bergabung dengan teman-teman sekelasnya.
“Bahagianya dicemburui istri,” ujar Jonathan dengan wajah sumringah.
“Tenang Gab, tuh bokap gue sama emaknya si Bimbim udah siap jadi pawang laki lo,” ujar Joni sambil merangkul Gaby.
“Tangan dikondisikan !” Jonathan langsung menepis tangan Joni membuat yang lainnya langsung tergelak.
“Awas CLBK, Jon,” ledek Danu.
“Kamu beneran pernah suka sama istri saya ?” Jonathan mendekati Joni dengan mata membola dan tangan di pinggang.
“Mas Nathan apaan, sih ?” Gaby menahan suaminya dengan wajah kesal.
“Cie.. cie… Mas Nathan. Melehoy hatiku, Rai.”
Gaby melengos kesal dan berbalik, berjalan ke deretan bangku teman-teman sekelasnya. Kelima sahabatnya masih terbahak dan Jonathan hanya senyum-senyum melihat istrinya ngambek.
Limabelas menit kemudian acara dimulai. Jonathan merasa sedikit aneh karena duduk di barisan orangtua bukan jajaran guru seperti tahun-tahun sebelumnya. Memang beda rasanya duduk sebagai orangtua yang menyaksikan putra putrinya dinyatakan berhasil menyelesaikan pendidikan mereka di jenjang SMA.
Ada rasa bangga di hati Jonathan melihat istrinya ceria dan tertawa bahagia bersama teman-teman sekelasnya usai Pak Liman menyatakan semua siswa berhasil lulus. Gadis yatim piatu itu berhasil melewati masa-masa sulitnya dengan kepala tegak dan berjiwa besar.
“Rasanya belum biasa melihat Pak Nathan datang sebagai orangtua,” ujar Pak Liman saat bertemu Jonathan usai acara.
“Waktu berlalu cepat, Pak. Saya masih ingat tahun lalu Bapak meminta saya menemani Papi yang datang sebagai wakil donatur.” Pak Liman mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Jadi kapan lahirannya, Pak Nathan,” ledek Pak Irvan, guru matematika yang menggantikannya.
“Belum, kemarin hanya untuk pengalihan isu soal perceraian saya dan Gaby.”
“Tapi suratnya palsu, kan ?” tanya Pak Liman.
“Nggak palsu, Pak, hanya saja ditandatangani di bawah emosi saat kami baru menikah. Bapak pasti paham bagaimana pernikahan kami terjadi.”
__ADS_1
“Yang penting sekarang udah saling cinta,” ujar Pak Irvan sambil menepuk bahu mantan rekannya.
Jonathan menoleh menatap ke arah Gaby yang ternyata juga tengah memandangnya sambil tersenyum. Jonathan balas tersenyum, bahagia karena pernikahannya dengan Gaby tidak perlu
disembunyikan lagi.
***
“Kenapa waktu cepat banget sih berlalu,” gerutu Raina. “Tinggal malam pelepasan besok, sesudah itu kita pisah, masing-masing sibuk dengan kuliah,” lanjutnya dengan wajah sedih.
Keenam murid yang baru lulus itu berkumpul di cafe langganan mereka sedangkan Jonathan kembali ke kantor karena ada rapat bulanan.
“Masih ada waktu 2 bulan libur sebelum kuliah. Jangan sok melow gitu, deh. Biasa elo kan paling sibuk di antara kita,” ujar Dany menanggapi ucapan Raina.
“Lagian cuma gue sama Danu yang pisah dan kita masih bisa kumpul kalau lagi liburan,” sahut Joni yang mendapat beasiswa kuliah di Singapura.
Danu akan melanjutkan kuliah di fakultas hukum PTN di Semarang, dan sisanya tetap di Jakarta, kuliah di kampus yang sama, hanya beda jurusan kecuali Mimi dan Gaby
“Satu kampus aja belum tentu bisa sering ketemu, apalagi kalau ciwi-ciwi ini udah pada punya gebetan,” sahut Bimbim.
“Jangan nggak percaya diri gitu dong, Bim, masa ciwi-ciwi doang yang punya pacar, elo nya nggak niat cari pacar juga ?” ledek Danu.
“Gue sadar diri, Bro. Nggak gampang bikin cewek jatuh cinta sama gue. Begitu ngelihat gue, mereka langsung membayangkan tangki air, tukang makan dan pemborosan,” sahut Bimbim sambil tertawa.
“Kan cinta itu buta, Bim, jadi nggak penting elo mau kayak gimana yang penting kantong tebal, mata cewek-cewek mendadak terpejam kayak orang buta karena silau,” ujar Joni sambil terbahak.
“Eh nggak semua cewek matere ya !” protes Mimi dengan wajah sebal.
“Terima kasih buat kalian berlima,” Gaby baru buka suara setelah menjadi pendengar sejak tadi.
“Gue nggak tahu bagaimana melewati masa-masa sulit penuh gibah terutama setahun terakhir ini kalau nggak ada kalian. Nggak tahu gimana caranya mengungkapkan rasa terima kasih gue sama kalian.”
“Request boleh ?” Raina langsung angkat tangan.
“Gue idem,” Danu ikutan angkat tangan.
“Sotoy ! Memangnya elo tahu apa permintaan gue ?”
“Kalau tebakan gue bener, traktir wagyu steak ya ?”
“Ogah ! Rampok itu namanya,” cibir Raina. Bukan hanya Danu, Joni dan Bimbim ikut tertawa.
“Paling elo minta dikasih keponakan sama Gaby,” ujar Bimbim di sela tawanya.
__ADS_1
“Kalian benar-benar merusak suasana dan rencana gue banget sih !” gerutu Raina dengan wajah ditekuk.
Ketiga pria itu malah makin tertawa hingga Mimi dan Gaby ikut tertawa. Bahagia. Mengakhiri masa SMA mereka dengan para sahabat yang selalu ada dan saling mendukung.