
“Sudah sembuh Pak Nathan ?”
“Sudah, Bu.”
Kenapa juga di hari pertama harus ketemu sama pelakor ? gerutu Jonathan dalam hati.
“Sepertinya istri Pak Nathan tipe wanita posesif, sifatnya masih anak-anak banget, memperlakukan Pak Nathan seperti takut kehilangan mainannya,” lanjut Andin sambil tertawa pelan.
Jonathan menoleh, menautkan alisnya karena merasa ucapan Andin agak garing.
“Saya bahagia punya istri seperti itu karena tandanya bukan cuma saya yang cinta banget sama dia dan sama sekali nggak kekanak-kanakan. Malah kalau mau adu posesif, saya lebih takut kehilangan istri saya yang masih muda dan punya banyak penggemar. Saya bangga punya istri seperti Gaby karena meskipun usianya masih muda, dia sudah bisa menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri sejati.”
Andin tersenyum getir saat melihat rona kebahagiaan di wajah Jonathan. Meski tahu kalau ucapan pria ini sengaja ingin membuat Andin iri tapi wajah sumringah Jonathan menunjukkan ucapannya bukan sekedar di bibir saja.
“Saya duluan Bu Andin.”
Jonathan menghampiri rekan guru lainnya, menyapa sekaligus mengucapkan selamat tahun baru.
Sementara Gaby yang memaksa ingin tinggal bersama Jonathan sampai waktu liburnya berakhir, memilih pergi ke supermarket sebelum menjemput Jonathan selesai mengajar.
“Gabriela !”
Gaby menoleh, ia sedang mendorong keranjangnya di lorong sabun cuci pakaian dan sejenisnya.
“Pak Leo ?”
“Panggil Leo saja. Apa kabarnya ?” Leo mengulurkan tangan sambil tersenyum. Di sebelahnya berdiri pria asing yang hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya sekilas.
“Baik,” Gaby menjabat tangan Leo sambil tersenyum.
“Bukannya Kak Leo…” Gaby melirik pria yang ada di samping Leo.
“Iya, masih. Serasa orang penting yang kemana-mana ditemani ajudan. Kenalkan ini Pak Burhan,” ujar Leo sambil tertawa.
Gaby mengulurkan tangan berkenalan dengan pria yang bernama Burhan itu.
“Kalau senggang, bisa kita ngopi sebentar sambil ngobrol. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu dan Jonathan, tapi maaf kondisi belum memungkinkan.”
“Boleh kalau mau hari ini. Kebetulan Mas Nathan hanya mengajar sampai jam 11 jadi bisa makan siang sekalian.”
“Ngajar ?” alis Leo menaut.
__ADS_1
“Panjang ceritanya,” sahut Gaby sambil tertawa pelan.
“Enaknya dimana ?”
“Saya terserah Kak Leo aja karena saya masih belum paham daerah sekitar sini.”
“Kalau begitu teruskan belanja kamu dulu sambil menunggu Nathan. Boleh minta nomor handphonemu biar bisa info lokasi restoran yang cukup lumayan untuk makan siang sekalian ngobrol.”
Gaby mengangguk dan mengetik nomornya di handphone Leo.
“Sampai ketemu nanti.” Gaby mengangguk lagi sambil tersenyum.
***
“Maaf gara-gara Maya, kalian sempat terpisah sampai begitu lama,” ujar Leo saat ketiganya sudah duduk satu meja di salah satu rumah makan dan mendengar cerita Gaby dan Jonathan.
“Aku pun sudah memutuskan untuk bercerai tapi sayangnya daddy masih belum mengijinkan. Meskipun begitu, aku memilih pisah rumah dan menutup komunikasi dengan Maya. Cintaku bertepuk sebelah tangan dan Maya tidak akan bisa membuka hatinya karena aku bukan pria yang memenuhi standar calon suami untuknya.”
“Bukankah sejak dulu Maya memang begitu ?” ujar Jonathan sambil tersenyum sinis.
“Dia suka memanfaatkan pria-pria yang jatuh hati padanya dan tidak akan ada yang bisa memenuhi kualifikasi karena pada dasarnya Maya tidak bisa terikat dengan komitmen.”
“Curhat sesama korban Maya, Mas ?” ledek Gaby sambil tertawa pelan.
“Mas Nathan !” tegur Gaby sambil memberi isyarat pada suaminya.
“Maaf bukan mau membuka aib istrimu, Leo. Aku pun pernah terjerat dengan jebakan Maya dan sudah lama Kendra memberitahuku soal kebiasaan buruknya. Kejadian lahirnya bayi tanpa tahu siapa ayah biologisnya membuat mataku terbuka dan maaf kalau aku bersyukur menerima perjodohan dengan Gaby.”
“Dengan catatan hanya 4 tahun,” ledek Gaby kembali sambil tertawa. “Habis itu berniat CLBK lagi sama Mbak Maya.”
“Itu kan dulu, Sayang. Jerat cintamu lebih kuat daripada niatku untuk berpisah denganmu.”
“Gombal !” Gaby mencibir membuat Leo tertawa.
“Nggak apa-apa, Nathan, kamu adalah salah satu yang beruntung, bisa lepas dari Maya terus dapat istri imut yang masih muda juga.”
“Dan sedang mengandung buah hati kami,” timpal Jonthan dengan wajah bangga dan tangannya mengusap perut Gaby yang masih rata.
“Oh ya ? Aku belum dapat kabar terbaru ini. Selamat buat kalian berdua meski jujur rasanya kamu belum pantas jadi ibu-ibu hamil, Gabriela. Penampilanmu lebih cocok jadi anak sekolah,” ujar Leo sambil tertawa.
“Maunya sih tunggu selesai kuliah dulu tapi namanya rejeki nggak boleh ditolak,” sahut Gaby sambil tertawa pelan.
__ADS_1
“Aku sedikit iri melihat kaian berdua saling mencintai dan diberi rejeki buah hati, tapi aku tidak menyesal memilih mencintai Maya. Dan sekarang aku ingin berterima kasih pada kalian, khususnya kamu Gabriela, karena sudah memberikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku pada Maya meski akhirnya ditolak,” Leo tertawa getir.
“Batu karang yang kokoh aja bisa terkikis karena tergerus dengan aliran sungai jadi saya percaya kalau cinta Kak Leo bisa merubah Mbak Maya menjadi perempuan baik-baik.”
“Curhat pengalaman pribadi, Sayang ?” Jonathan gantian meledek Gaby sambil terkekeh.
“Bukan curhat tapi berbagi pengalaman. Terus terang pertama kali menikah, Gaby juga belum cinta sama Mas Nathan tapi demi menghindari niat jahat Jihan dan Tante Gina, tidak ada pilihan lain kecuali memaksa Mas Nathan menikah,” sahut Gaby sambil mencibir.
“Ngomong-ngomong soal Jihan, gimana kabarnya ?” tanya Leo.
“Masih mendekam di penjara, tapi tidak akan lama.”
“Bisa-bisanya Maya dan Jihan bertemu hingga selalu saja ada ide jahat yang muncul untuk satu tujuan yang sama,” ujar Leo.
“Lalu sekarang kabarnya Mbak Maya gimana ?”
“Aku juga tidak tahu. Terakhir yang aku tahu dari Martin, Gavran dibawa ke rumah sakit saat malam tahun baru dan saat itu di rumah hanya ada Maya dan mommy.”
Jonathan dan Gaby saling bertatapan seolah bertanya perlukah memberitahu Leo kalau daddy Harry ada bersama mereka saat malam pergantian tahun.
“Apakah Om Harry masih pisah tempat tinggal dengan keluarganya ?”
“Aku tidak tahu juga. Saat ini aku benar-benar tidak ingin mendengar kabar Maya atau keluarganya dan ada kemungkinan aku ingin kembali ke penjara saja untuk menyelesaikan masa tahananku.”
“Jangan terburu-buru mengambil keputusan itu, Kak Leo, bukan karena saya merasa sia-sia sudah memberikan kesempatan pada Kak Leo, tapi percayalah kalau cinta Kak Leo tidak akan selamanya bertepuk sebelah tangan. Jalan yang Kak Leo ambil saat ini cukup tepat apalagi Om Harry juga ikut menjauh dari Mbak Maya dan Tante Anita dan hanya tersisa Kak Martin, satu-satunya pria yang bisa diandalkan dalam rumah itu, tapi saya nggak yakin kalau Kak Martin akan terus menerus melindungi mereka.”
“Semoga saja Maya bisa cepat sadar karena saat ini yang paling kasihan adalah Gavran. Siapapun ayahnya, kalau bayi itu bisa bicara, dia pasti tidak mau dilahirkan ke dunia ini di tengah situasi seperti ini,” ujar Leo dengan wajah sendu.
“Apa yang dikatakan Gaby sangat mungkin terjadi, Leo. Bukankah tadi kamu bilang kalau Om Harry juga belum mengijinkan perceraian kalian diproses ?”
Leo mengangguk-angguk sambil menikmati pesanan makanannya.
“Ngomong-ngomong apa daddy tidak menemui kalian saat malam pergantian tahun ?”
Jonathan dan Gaby sempat saling melirik tapi tidak menyahut dan langsung menyuap makanan mereka.
“Nggak masalah kalau iya, setidaknya aku lega kalau kepergian daddy bukan karena punya wanita simpanan,” ujar Leo sambil tertawa.
Gaby dan Jonathan kembali saling menatap dan Gaby pun menggelengkan kepalanya.
“Kalau masalah itu, kami tidak tahu pastinya.”
__ADS_1
Leo langsung tersedak mendengar pernyataan Gaby yang seolah membantah harapannya.