Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Pria-pria Melow


__ADS_3

“Ada masalah penting apa sampai Tuan Martin mengundang saya kemari ?” tanya Gaby saat duduk berhadapan di restoran hotel milik keluarga Brian.


“Terima kasih ! Aku sangat mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatimu !” Martin langsung menggenggam kedua jemari Gaby dengan wajah sumringah.


“Jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku kakak atau mas atau apapun asal jangan Tuan atau Pak.”


“Ehh iya… tapi terima kasih untuk apa ?” Dengan canggung Gaby berusaha melepaskan genggaman Martin yang belum mau melepaskannya.


“Kamu pasti sudah mendapat laporan kalau kasus kebakaran gudang perusahaan kalian sudah diputuskan pengadilan. Terima kasih karena hukuman Leo tidak seberat tuntutan jaksa bahkan Leo berhak mengajukan permohonan tahanan rumah karena kondisi kesehatan Maya.”


“Syukurlah kalau memang semua pihak mendapatkan jalan keluarnya. Saya berharap permohonan itu bisa dikabulkan supaya bisa membuat Maya cepat pulih kembali. Bayi itu tidak bisa memilih siapa yang menjadi ayah dan ibunya tapi dia berhak untuk mendapatkan kesempatan hidup yang layak terutama dari wanita yang melahirkannya.”


“Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu ?”


“Kebaikan bukanlah suatu bisnis yang perlu mempetimbangkan untung dan rugi. Saya hanya berharap ke depannya Kak Martin atau Kak Leo tidak gampang mengambil keputusan atas nama cinta karena cinta yang berlebihan itu malah menjadi racun dan merugikan orang lain.”


“Aku minta maaf masalah itu. Semua kejadian ini memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk keluarga kami termasuk Leo.”


Gaby meneguk habis jus buahnya.


“Kalau begitu saya pamit dulu, Kak. Masih ada tugas kampus yang harus saya selesaikan.”


“Bagaimana kalau kita makan malam dulu, Gabriela ?”


“Lain kali saja, Kak. Terima kasih tawarannya.”


“Gabriela !”


Belum juga beranjak dari kursinya, putra pemilik hotel itu sudah keburu menyapanya. Gaby menghela nafas, tidak enak rasanya langsung pergi meninggalkan Brian yang baru saja datang.


“Jangan bilang kalau kalian sengaja kencan di tempat ini untuk memancing rasa cemburuku.”


Tanpa disuruh Brian langsung menarik bangku kosong yang ada di meja itu.


“Memangnya elo siapanya Gaby ? Kakak bukan, pacar apalagi.”


“Otw pacar,” sahut Brian dengan suara berbisik dan mengedipkan sebelah matanya pada Gaby.


Gaby tertawa canggung dan tangannya memainkan embun yang ada di gelasnya.


“Yakin mau makan malam di sini aja ?” tanya Brian sambil menatap Gaby dan Martin bergantian.


Martin mengangkat bahunya dan memberi isyarat terserah pada Gaby.

__ADS_1


“Terima kasih atas tawarannya tapi maaf aku tiak bisa ikutan, Brian. Masih ada tugas kampus yang harus aku selesaikan malam ini.”


“Yakin bukan karena takut ada papparazi yang mengirim foto kita bertiga pada pacar atau tunanganmu ?” ledek Brian sambil terkekeh.


Gaby beranjak bangun dan tersenyum mendengar guyonan Brian.


“Sebetulnya bukan hanya pacar atau tunangan, tapi suami. Aku adalah perempuan yang sudah menikah, Brian, silakan tanyakan pada Kak Martin. Maaf aku pulang dulu karena memang ada tugas kampus yang tidak bisa ditunda lagi.”


Brian nampak tercengang dan Martin sedikit terkejut karena Gaby mengakui dirinya kalau sudah menikah padahal dalam acara gala dinner yang lalu, Gaby minta supaya tidak ada yang membahas soal penikahannya dengan Jonathan.


“Beneran ucapan Gabriela barusan, Bro ?”


“Iya beneran, mereka bahkan sudah menikah sejak Gaby masih berseragam putih abu,” sahut Martin sambil tertawa pelan.


“Jadi gue terlambat,” gumam Brian dengan wajah sedih.


“Nggak tahu elo yang terlambat atau Gaby yang kecepetan nikahnya,” sahut Martin sambil tertawa.


“Kenapa suaminya nggak ikut pas acara kemarin ?”


“Kenapa tanya gue ? Elo punya nomor handphonenya kan ? Tinggal tanya langsung. Gue hanya tahu kalau suaminya itu guru sekolah dan Gaby adalah mantan muridnya.”


“Beneran ? Udah tua gitu ?”


“Brian, gue bukan lambe turah, jadi lebih baik elo tanya langsung sama Gaby. Yang pasti suaminya bukan om-om, malah lebih muda dari kita, baru sekitar 26 atau 27 tahun.”


“Mau gue sambungin langsung ke nomor Gaby ? Udah gue bilang elo tanya langsung aja sama dia !”


Brian menghela nafas dan wajahnya terlihat lesu.


“Jangan sok melow, banyak cewek yang lebih cakep antri mau jadi pacar elo bahkan disuruh nikah besok juga mau. Gaby nggak ada apa-apanya dibandingkan Hilda, Dewi, Shanti dan siapa lagi ciwi-ciwi yang kerjanya bolak-balik bikin acara di sini. Tinggal angkat tangan dan tunjuk satu, tanpa susah payah mereka akan datang ke pangkuan elo.”


“Cewek model begitu memang gampang dicari, mata mereka mengerjap karena brand yang nempel di badan gue, beda sama Gaby yang udah kelihatan bukan cewek matere. Dan tebakan gue bener kan ? Dia mau aja disuruh nikah sama cowok yang pekerjaannya hanya seorang guru.”


“Sotoy banget sih lo Brai.”


“Jangan munafik, Bro. Cowok-cowok kayak kita udah pengalaman dikerubutin semut-semut cantik karena manisnya lebih dari biang gula. Giliran tinggal ampas, belum tentu sepuluh cewek masih tetap tinggal di dekat kita.”


Martin terbahak sambil mengangguk-angguk, membenarkan ucapan Brian yang masih memasang tampang sedih.


*****


“Nathan, elo beneran nggak mau usaha balik sama Gaby ? Mario makin getol aja deketin istri lo !”

__ADS_1


“Mantan istri,” sahut Jonathan lesu.


Sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian kamar hotel dan Jonathan seperti menghilang. Tidak pernah lagi bertukar pesan apalagi menghubungi Kendra hingga akhirnya Kendra yang berinisiatif mendatangi Jonathan ke tempat kostnya.


”Elo sendiri ngaku kalau Gaby masih istri sambil pamer cincin kawin. Eh..kemana cincin kawin lo ? Kok udah nggak dipakai lagi ?”


“Jangan pura-pura nggak tahu !” gerutu Jonathan dengan tampang kesal.


“Jadi beneran elo mau terima nasib dan nggak mau memperjuangkan cinta lo lagi buat Gaby ?”


“Elo sendiri yang ingetin gue, gimana kalau setelah balik sama Gaby tiba-tiba ada cewek yang datang dan mengaku sudah gue hamilin gara-gara kesalahan satu malam. Masalahnya gue nggak tahu siapa cewek yang tidur sama gue malam itu dan gue tidak menemukan bekas pengaman di kamar atau toilet. Kalau sampai beneran terjadi, gue bakalan bikin Gaby lebih sakit hati lagi.”


“Serius elo nggak ingat soal cewek yang elo temuin di kamar hotel malam itu ?”


“Nggak Kendra !” sahut Jonathan dengan wajah gemas. “Itu sebabnya gue sangat menghindari minuman beralkohol karena kalau udah mabuk, gue bukan cuma kehilangan akal sehat tapi juga ingatan.”


“Nggak ada mimpi-mimpi apa gitu ?”


“Satu-satunya cewek yang suka hadir dalam mimpi gue sejak jadi guru sampai sekarang ya hanya Gaby. Bedanya saat jadi guru, Gaby muncul sebagai mimpi buruk karena kerjaannya ngajak berantem melulu setelah menikah jadi bunga tidur yang paling indah.”


“Dan malam itu elo mimpi Gaby juga kah ?” Jonathan mengangguk.


“Gue mimpi balik lagi sama Gaby bahkan dia minta dipeluk dan nggak mau lepas. Ternyata mimpi itu jadi mimpi indah terakhir gue dengan Gaby karena sesudahnya gue mimpi dia datang dengan wajah garang dan nguber-nguber gue bawa pisau dapur.”


Kendra langsung terbahak sambil memegangi perutnya.


“Ngakunya cinta mati sama Maya tapi mimpinya murid yang suka ngajak berantem. Itu artinya pikiran bawah sadar elo udah penuh sama Gaby.”


“Tapi sekarang gue benar-benar nggak punya muka untuk menemui Gaby, takut omongan elo jadi kenyataan. Lagian sejak gue menandatangani surat cerai, Gaby sudah memblokir nomor gue sampai sekarang.”


Dengan wajah lesu yang ditopang dengan satu tangannya, Jonathan menekan nomor Gaby.


“Halo… Halo…”


Keduanya saling menatap dengan mata membelalak karena panggilan Jonathan tidak lagi ditolak malah terdengar suara Gaby di seberang sana.


Jonathan cepat-cepat menekan tombol merah tanpa sempat menyahut suara Gaby.


“Kenapa dimatiin ?”


“Harus diangkat ?” Jonathan malah balik bertanya dengan wajah bingung.


“Ya ampun Nathan !” Kendra menepuk keningnya sendiri. “Tadi fixed suaranya Gaby dan itu artinya nomor elo udah nggak diblokir lagi. Kenapa nggak cari topik apa aja untuk mulai percakapan sama dia ?”

__ADS_1


“Tunggu sampai 3 atau 4 bulan lagi, Ken. Kalau memang nggak ada perempuan yang datang menuntut pertanggungjawaban, gue akan kembali mendekati Gaby.”


“Ya ampun Nathan !” Kendra kembali menepuk keningnya sendiri.


__ADS_2