Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Kedatangan Maya


__ADS_3

“Kenapa Daddy belum mau pulang ?” tanya Martin di ruang kerja Harry.


“Daddy sudah membesuk Gavra dan semua urusan rumah sakit sudah daddy bereskan.”


“Dad, sepertinya aku tidak akan sanggup sendirian menghadapi situasi ini,” keluh Martin dengan wajah lesu hingga daddy langsung tertawa.


“Ini baru sebagian kecil, boy, biar kamu makin pintar saat menikah nanti.”


“Aku jadi sedikit khawatir mencari istri telalu cantik seperti Maya, jangan-jangan di balik kecantikan mereka tersembunyi kelakuan buruk yang buat kepala pusing. Urusan di kantor aja udah bikin pusing, pulang ketemu istri model Maya bikin hidup jadi lebih singkat.”


Daddy Harry kembali tergelak mendegar gerutuan putra tirinya itu.


“Jadi kamu lebih suka menjalin hubungan singkat dengan perempuan yang berbeda-beda ? Tidak baik juga kalau lelaki hidup menjomblo terus.”


“Terus apa bagusnya berumahgangga tapi hubungannya kayak daddy dan mommy,” sindir Martin.


“Itu spesial case,” sahut daddy sambil terkekeh.


“Dad, aku sudah dewasa sekarang, umur sudah hampir kepala 3. Boleh aku tahu cerita mommy dan daddy yang sebenarnya ? Aku tidak yakin daddy bersikap dingin pada mommy hanya karena masalah jebakan mommy hingga hamil Maya.”


”Boleh, Daddy akan menjadikannya hadiah spesial untukmu saat kamu menikah nanti. Daddy ingin menimang cucu juga dari kamu.”


“Dad, sepertinya tidak dalam waktu dekat. Aku belum punya gambaran wanita seperi apa yang aku cari.”


“Jangan bilang kamu membutuhkan daddy untuk mencari jodoh,” ledek daddy sambil terkekeh.


“Kalau memang daddy ada calon yang baik, aku tidak keberatan untuk berkenalan dulu. Aku yakin kalau insting daddy tidak akan meleset.”


“Kalau Gaby belum menikah akan daddy jodohkan denganmu. Secara keseluruhan, dia cocok untukmu dan tidak akan takluk oleh mommy-mu dan Maya.”


Martin tertawa mendengar ucapan daddy.


“Bolehlah kalau calon istriku seperti Gaby. Siapa tahu ada teman daddy yang memiliki kualifikasi seperti dia.”


“Mau makan siang sama daddy ?”


“Tentu saja.”


Keduanya beranjak bangun dari sofa dan dengan penuh kasih sayang, daddy merangkul bahu Martin, anak yang selalu jadi kesayangannya sejak kecil.


“Jangan terlalu lama meninggakan rumah, Dad. Rasanya sepi tidak ada mahluk lelaki yang bisa aku ajak bicara dan tukar pikiran.” Daddy Harry tertawa.

__ADS_1


“Kalau begitu malam ini daddy akan pulang tapi tidur di kamarmu seperti waktu kamu kecil. Mau dibacakan dongeng apa ?”


“Cerita soal mommy dan daddy.”


“Dasar pebisnis, masih saja berusaha negosiasi.”


“Aku belajar dari Daddy.” Daddy Harry kembali tertawa sambil menepuk-nepul bahu Martin dengan wajah bangga.


*****


Leo terperangah saat membuka pintu rumah kontrakannya. Maya berdiri dengan tatapan sendu, tidak sombong seperti biasanya.


“Mas Leo.”


“Mau apa ?”


“Bukan Kak Martin yang memberitahu soal tempat ini tapi aku maksa Pak Tito mengantarku kemari.”


Leo menarik nafas panjang sebelum melebarkan pintu rumahnya. Ia memberi isyarat supaya Maya masuk ke dalam.


Leo langsung duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu tanpa mempersilakan Maya yang terlihat ragu untuk duduk.


Maya buru-buru menggeleng dan duduk berseberangan dengan Leo.


“Gavra sempat masuk rumah sakit pas malam tahun baru. Demam karena gangguan pencernaan.”


Leo hanya diam, tidak memberikan tanggapan apapun, wajahnya pun terlihat datar.


“Aku mulai belajar memberinya ASI langsung.”


Leo cukup terkejut mendengar pernyataan Maya namun sebisa mungkin ia menutupinya agar Maya tidak bisa membaca suasana hatinya.


“Aku tidak takut lagi menggendong Gavra dan rutin memberinya ASI. Ternyata sangat menyenangkan meihatnya tertawa lucu dan tangannya menyentuhku saat menyusui.”


Maya menghela nafas karena Leo masih diam dan acuh, seolah ceritanya tidak berarti apa-apa.


“Aku mau minta maaf,” lirih Maya. “Maaf karena aku sudah mengabaikan Mas Leo selama ini padahal….”


Maya tidak melanjutkan ucapannya dan menundukkan wajah, kedua sudut matanya meneteskan air mata.


”Aku kangen sama Mas Leo,” lirih Maya dengan suara yang sangat pelan namun tetap bisa didengar oleh Leo.

__ADS_1


“Tentu saja karena tidak ada yang membereskan masalahmu, Nona. Selama ini kamu tinggal memberi perintah dan tugasku memberikan laporan kalau semuanya sudah baik-baik saja.”


“Bukan, bukan karena itu,” Maya mendongak dan menatap Leo dengan wajah basah tapi hati Leo belum tergerak.


Sudah bertahun-tahun Maya menggunakan air mata untuk meluluhkan hati banyak orang termasuk Leo.


Pria itu sadar kalau ia tidak bisa menolak saat berhadapan dengan Maya yang menangis tapi sekarang Leo sudah mengeraskan hati untuk tidak mudah luluh saat berhadapan dengan perempuan itu.


“Aku tidak tahu bagaimana menyusun kalimat yang baik,” ujar Maya sambil tersenyum getir.


“Aku minta maaf Mas Leo, maaf untuk semua sikap kasar dan kata-kata yang menyakitkan. Maaf karena aku tidak pernah menghargai kebaikan Mas Leo dan menganggap semua itu kewajiban Mas Leo karena sudah digaji oleh perusahaan. Maaf Mas Leo. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan membuktikan kalau aku sungguh-sungguh ingin berubah.”


“Aku sudah bicara pada Martin dan minta supaya Tuan Harry melanjutkan proses perceraian kita. Martin sudah setuju dan akan memberikan kabar setelah semuanya berjalan.”


“Aku tidak mau kita bercerai,” tegas Maya. Air matanya sudah berhenti.


“Aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini !” tegas Leo dengan rahang mengeras dan mata melotot.


“Aku ingin menghabiskan waktu dan membesarkan Gavra dan memiliki anak dengan Mas Leo.”


“Aku sudah tidak mengharapkan apapun lagi darimu. Setelah proses perceraian kita beres, aku akan menyelesaikan masa tahananku di lapas.”


Maya mendekati Leo yang sudah beranjak dan berjalan ke arah pintu. Tanpa terduga, ia memeluk Leo dari belakang.


“Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, Mas Leo. Aku akan menanggung resikonya kalau melanggar ucapanku. Kembalilah padaku Mas Leo, aku dan Gavra sangat mengharapkanmu sebagai suami dan ayah.”


Tentu saja kamu membutuhkanku karena daddy dan Martin sudah tega melepasmu supaya bisa menjadi wanita mandiri dan ibu yang bertanggungjawab. Siapa lagi yang sanggup menghadapimu dan menuruti semua keinginanmu.


“Kamu bisa mencari ayah kandung Gavra kan ? Atau kamu mencari aku setelah gagal meminta ayah Gavra bertanggungjawab ?” sinis Leo dengan senyuman mengejek.


“Aku tidak pernah berniat mencari tahu siapa ayah kandung Gavra karena yang aku hanya menginginkan Mas Leo menjadi teman hidupku, bukan orang lain.”


“Karena aku hanyalah asisten Martin yang harus menjalankan perintah bossnya ?”


Leo tertawa sinis dan melepaskan tangan Maya yang memeluk pinggangnya. Tangannya membuka pintu rumah lalu memberi isyarat supaya Maya keluar dari rumah kontrakannya.


“Mas Leo.”


Leo menatap ke arah lain, enggan membalas tatapan Maya. Ia berusaha untuk tidak mudah luruh dengan sikap wanita yang masih berstatus istrinya. Bohong kalau Leo sudah bisa menghapus nama Maya dari dalam hatinya tapi rasanya akan lebih menyakitkan kalau Leo tetap bertahan dengan cintanya.


Maya terkejut saat Leo membanting pintu tepat di saat ia berdiri di depannya. Wanita itu menghela nafas, tidak mudah membuat orang percaya kalau ia ingin berubah.

__ADS_1


__ADS_2