Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Tambah Panas


__ADS_3

“Elo lagi kenapa sih sama Pak Nathan ?” tanya Mimi yang duduk di depan Gaby bersama Raina.


“Nggak ada apa-apa, memangnya kenapa ?” Gaby sampai menautkan alisnya.


“Noh lihat ke depan, mode galaknya mendadak kayak kucing meong lagi dielusin, kalem. Dari tadi beraninya melirik doang, kayak curi-curi pandang gitu.”


“Mungkin mata elo yang minus jadi salah lihat,” sahut Gaby sambil cekikikan.


“Mimi, Gaby !”


Mimi langsung membalikkan badan dan Gaby menundukkan wajah, pura-pura sedang membaca buku cetak di depannya. Baru dipuji-puji kalem, mendadak Jonathan pindah ke mode galak lagi.


“Bawel sih lo !” ledek Danu yang duduk di sebelah Gaby.


**


“Cerita sama gue dong, Gab, sinyal kepo gue menangkap something happen antara elo sama Mister Handsome.”


“Jangan sok kebule-bulean. Kalimat elo lebih cucok jadi orang bulepotan,” ledek Gaby sambil tertawa.


“Jangan coba-coba menghindar atau gue tanya langsung sama Pak Nathan.”


“Silakan aja kalo elo punya cadangan nyali. Nggak ada kejadian apapun, apa yang mau diceritain. Sepertinya gara-gara elo sukanya kepoin hidup orang dan nggak berusaha cari pacar, sinyal kepo elo suka galfok dan salah ngebaca.”


“Udah pake satelit jadi nggak mungkin salah titik. Sesuai aplikasi.”


Gaby hanya tertawa. Ia membayar pesanan batagor sementara jatah Mimi membayar minuman. Keduany mencari tempat kosong dan bisa kebetulan bergabung dengan Doni, Bimbim, Joni dan Danu.


Tanpa dikomando, Bimbim yang duduk di sebelah Doni langsung pindah tempat ke sebelah Danu yang berada di seberangnya.


“Duduk, Gab.”


“Eh nggak usah pakai acara pindah dong, Bim, biar gue yang duduk di sebelah Danu. Kata orangtua pamali pindah duduk kalau lagi makan.”


“Bimbim udah selesai Gab, cuma nggak mau rugi doang, biar kenyangnya sampai sore kuah semangkok harus tandas.”


“Sesuai badan, Nu,” timpal Mimi yang duduk di sebelah Bimbim.


“Jangan body shaming deh !” mata Bimbim melotot ke arah Mimi yang menjulurkan lidahnya.


Keduanya pun duduk dan menikmati pesanan mereka sambil berbincang dengan keempat cowok teman sekelas.


“Elo pacaran sama Mario ?” tanya Doni saat keduanya berjalan kembali ke kelas.


Keempat temannya sengaja meninggalkan mereka di paling belakang.


“Nggak. Elo tahu kan kalau Mario itu mantan pacarnya Jihan, kakak tiri gue dan sepertinya sengaja baik-baik sama gue karena berniat CLBK,” sahut Gaby sambil tertawa pelan.


“Tapi dari cara dia memperlakukan elo, sebagai sesama cowok, gue melihat kalau dia suka sama elo bukan berniat mendekati elo hanya untuk balikan sama Jihan.”


“Masa ? Tapi sumpah gue nggak berasa begitu. Lagian Mario juga udah tahu kalau gue udah punya tunangan.”


“Gaby,” Doni menahan lengan gadis itu saat mereka baru saja sampai di lantai 3.


“Napa ?”

__ADS_1


Doni menarik lengan Gaby untuk menepi supaya tidak mengganggu para siswa yang baru kembali di lantai 3.


“Gue beneran suka sama elo. Alasan perjodohan itu nggak ngadi-ngadi untuk menolak gue kan ? Boleh gue kenalan sama calon tunangan elo, biar gue yakin kalau elo nggak berbohong.”


“Don, kalau gue memang niat bohong sama elo, tinggal cari orang yang gue bisa jadikan tunangan pura-pura. Gue bukan model cewek seperti itu. Tunangan gue udah kerja, jadi bukan model yang suka dipamerin.”


“Sorry bukan maksud gue nggak percaya sama elo, tapi…”


Doni tidak menyelesaikan ucapannya karena bel tanda masuk berbunyi.


“Thankyou buat perasaan elo ke gue, tapi sorry banget gue nggak bisa membalasnya.”


“Gab…”


“Eheemm.”


Gaby memutar bola matanya karena sudah hafal suara siapa yang berdehem di belakang mereka.


“Kamu balik dulu ke kelas !” perintah Jonathan pada Doni dengan gerakan matanya.


“Baik Pak. Permisi,” Doni menganggukan kepalanya sekilas.


“Sepertinya baru 2 hari yang lalu ada yang bilang kalau abege udah jatuh cinta bisa panjang ceritanya tapi hari ini kamu sendiri PHP in teman sendiri.”


”Bukannya bapak udah dari tadi nguping di balik tembok ? Ucapan saya yang mana yang menunjukkan kalau saya udah PHP Doni ? Satu hal yang nggak akan saya lakukan saat ini adalah mengenalkan Bapak sebagai suami saya.”


“Belajar yang benar, jangan mudah tergoda kalau diajak pacaran sama teman cowok kamu. Ingat kamu idah punya suami, bukan sekedar tunangan.”


“Suami kontrak,” gumam Gaby sambil berjalan kembali ke kelas.


“Diapain tadi sama Mister ?” tanya Mimi saat keduanya baru saja tiba di mal.


Menjelang sore, sepulang sekolah, Mimi memaksa minta ditemani mencari kado di mal.


“Biasa cowok egois, dia boleh chit chat dan pelukan sama mantan, giliran gue baru jalan dan ngobrol berdua Doni, udah kayak satpam lagi nangkep maling jemuran,” gerutu Gaby.


“Ceritanya Mister udah jatuh cinta nih ?”


“Jangan over thinking, belum ada pernyataan cinta, jangan sebar hoax.”


Mimi tertawa lalu menarik tangan Gaby masuk ke toko buku, rencananya Mimi ingin membelikan pena untuk papinya.


“Gaby !”


Gaby menoleh, dan senyumnya langsung mengembang saat melihat Kendra berdiri di dekatnya.


“Apa kabar Pak Kendra ?”


“Yaah kok Pak Kendra ? Yang jadi guru kan Jonathan, panggil aku kakak aja,” Gaby tertawa melihat wajah Kendra yang kesal.


”Oke..oke… Kak Kendra. Sendirian aja ?”


“Iya, kamu berdua aja ?”


“Iya, Gaby lagi saya culik buat temani cari kado, habis ini mau makan terus pulang. Sekedar info siapa tahu Pak Kendra mau laporan sama Pak Nathan.”

__ADS_1


“Saya nggak minat laporan soal Gaby sama Nathan, malah pinginnya ngajak Gaby selingkuh,” seloroh Kendra sambil tertawa.


“Diterimalah tawarannya, apalagi kalau saya diajak jadi penggembira,” sahut Mimi ikut tertawa.


“Ya udah kamu cari kado sampai ketemu dulu, saya cari buku sebentar. Kalau sudah saya traktir makan dengan catatan nggak ada yang boleh panggil saya Pak, berasa kayak jadi sugar daddy.”


“Kuy lah Kak, 15 menit kita ketemu di pintu keluar.”


Gaby mengerutkan dahinya tapi belum sempat mengungkapkan pendapat, Mimi langsung menarik tangannya menuju area alat tulis kantor.


“Mi, elo yakin dalam 15 menit bakal nemuin kado buat bokap ?” Mimi hanya mengangguk dan menghela nafas panjang.


Demi mendengar traktiran makan, Mimi tidak perlu berpikir sampai 3 kali saat memilih sebuah pena untuk kado papinya. Biasanya gadis itu akan mengoceh sana sini dengan banyak pertimbangan saat ingin membeli sesuatu bahkan bisa-bisa akhirnya tidak jadi membeli.


“Kalian sukanya makan apa ? Mau makan sepuasnya ?”


“Boleh pilih ? Budget maksimalnya, Kak ?” tanya Mimi tanpa malu-malu membuat Gaby langsung melotot sambil rnenyenggol lengan sahabatnya.


Kendra tertawa, tidak tersinggung dengan sikap Mimi. Ternyata sifat kedua gadis di depannya sebelas duabelas, pantas mereka bersahabat.


“Asal jangan minta makan malam di Perancis,” sahut Kendra di sela tawanya.


“Gaby suka makanan Jepang, tapi biar punya uang susah punya kesempatan selama tinggal dengan Tante Gina dan Jihan. Takut dinyinyirin.”


“Mimi ih, jangan bikin malu,” gerutu Gaby kembali menyenggol lengan sahabatnya.


“Nggak bikin malu, tapi fakfa. Toh Kak Kendra udah tahu alasan elo menikah buru-buru sama Pak Nathan.”


“Iya, iya nggak apa-apa. Kalau makanan Jepang, saya masih sanggup bayarin selama makannya masih di sini.”


Gaby memutar bola matanya saat Mimi tanpa malu menarik tangannya supaya berjalan bersama Kendra.


Kendra dan Gaby sama-sama mengerutkan dahi saat melihat sepasang pria dan wanita tengah berbincang dengan pelayan restoran di depan pintu masuk.


Gaby langsung menghela nafas saat tangan si wanita bergelayut di lengan si pria. Dari postur tubuh mereka, Gaby dan Kendra langsung mengenali keduanya.


“Nathan !”


Pria itu menoleh dan matanya membola saat melihat Kendra mendekat dengan 2 orang muridnya. Ia berusaha melepaskan tangan Maya, tapi wanita itu malah makin mengeratkan pegangannya.


“Apa kabar adik sepupu ?” sapa Maya dengan wajah dibuat manis.


“Adik sepupu ?” tanya Kendra sambil mengerutkan dahinya, menatap Maya dan Jonathan dengan wajah bingung.


Sementara Mimi yang berdiri di samping Gaby menyenggol lengan sahabatnya yang terlihat kesal bercampur kecewa.


“Waktu aku masuk rumah sakit, Jojo datang bersama Gaby. Saat itu aku baru tahu kalau Gaby ini sepupu jauhnya Jojo, padahal selama ini aku menyangka kalau Gaby adalah kekasih baru Jojo.”


“Sepupu, ya ?” Kendra tersenyum menatap tajam ke arah Jonatham lalu tangannya reflek merangkul bahu Gaby yang tingginya hanya sampai sebahu Kendra.


“Kalau begitu gue perlu minta ijin dulu dong kalau mau deketin SEPUPU elo ini. Siapa tahu kita sama-sama cocok dan bisa serius menjalin hubungan. Elo tahu kan gimana rencana hidup gue, Nathan. Gue carinya calon istri bukan sekedar pacar mainan.”


“Perlu banget,” gumam Jonathan yang terlihat kesal melihat Kendra makin mesra memeluk bahu Gaby dan gadis itu malah tersenyum meski terpaksa.


“Kak Kendra jadi traktir makan ? Gaby udah lapar.” Gaby yang senang dengan permainan sandiwara Kendra langsung menanggapinya, bahkan tanpa malu-malu tangannya menarik kemeja Kendra, dan berbicara dengan suara manja.

__ADS_1


Jonathan terdiam, Gaby tidak menggubris tatapannya, malah dengan santainya ketiga orang itu masuk mendahului Jonathan dan Maya yang masih berdiri di depan pintu restoran.


__ADS_2