
Setelah 3 hari 2 malam dirawat di rumah sakit akhirnya Gaby diperbolehkan pulang. Wajahnya masih terlihat lesu padahal menurut diagnosa dokter, Gaby tidak menderita penyakit apapun selain terlalu lelah dan stres.
“Elo yakin nggak perlu kita temani satu dua hari lagi ?” tanya Mimi saat mengantar Gaby kembali ke apartemennya ditemani Raina dan Bimbim.
“Beneran, kalian pulang aja. Thanks udah nemenin terus di rumah sakit.”
“Kalau ada apa-apa jangan ragu buat hubungi kita-kita.”
“Mau minta bantuan Danu dan Joni untuk marahin Pak Nathan juga boleh.”
“Bimbim !” kedua sahabat Gaby langsung berteriak dan melotot menatap Bimbim yang cengengesan sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Gaby malah tertawa, ia tidak tersinggung mendengar Bimbim menyebut nama Jonathan.
“Udah nggak apa-apa, kalian langsung pulang aja. Gue mau istirahat lagi. Sana pada pulang !”
Ketiganya melambaikan tangan sebelum Bimbim melajukan kembali mobilnya meninggalkan apartemen Gaby.
Bukan hanya ketiga sahabat Gaby yang kecewa karena Jonathan tidak sekalipun datang menjenguk Gaby, Kendra pun sama kesalnya dengan Jonathan.
“Elo benar-benar kelewatan Nathan, istri di rumah sakit nggak dibesuk sama sekali.”
“Gaby stres karena sakit hati dengan perbuatan gue, Ken, jangan sampai kedatangan gue malah membuat dia tambah stres.”
“Tahu darimana kalau Gaby akan tambah stres begitu melihat elo ? Sekarang udah jadi cenayang yang bisa menerawang pikiran orang ? Dia stres karena elo meninggalkan surat di apartemen terus nggak ada kelanjutannya. Kalau mau usaha jangan tanggung-tanggung, bikin hati orang jadi kesal karena digantung,” omel Kendra panjang lebar namun malah ditanggapi dengan tawa Jonathan.
“Kan udah gue bilang kalau malam itu gue dapat berita mendadak ada rapat pagi jadi gue langsung balik habis ngintip Gaby. Jadwal juga padat menjelang semesteran.”
“Tapi Gaby istri lo, Nathan. Biar ditolak elo harus menunjukkan perhatian lo, jangan cuma di mulut doang.”
“Sorry bel istirahat udah bunyi Ken, gue harus ngajar lagi. Jumat ini gue pulang ke Jakarta, kita janjian ketemu buat ngobrol.”
“Awas aja kalau tiba-tiba batal dengan alasan sibuk.”
“Gue beneran sibuk, Ken. Pusing karena belum pengalaman bikin soal buat anak-anak SMP.”
__ADS_1
“Elo atur aja, yang penting weekend ini kita harus ketemu.”
Kendra langsung memutus pembicaraan di telepon. Di tempatnya Jonathan menghela nafas sambil tersenyum getir. Mereka tidak tahu kalau diam-diam Jonathan minta bantuan perawat untuk mengirimkan foto atau video Gaby setiap hari.
*****
“Loh kok kamu udah ke kantor ?”
Om Sofian tampak terkejut saat melihat Gaby baru turun dari mobilnya di depan lobby usai jam makan siang.
“Habis dari butik ambil pesanan baju, Om.”
“Gimana kondisi kamu ? Masih suka pusing dan mual lagi ?”
“Aman Om, tapi masalah acara gala dinner besok apa nggak bisa Om aja yang datang mewakili perusahaan ? Atau kalau nggak ajak Kak Kendra, kan kebetulan acaranya Jumat malam, jadi kemungkinan besar Kak Kendra bisa ikut.”
“Masalah Kendra, awalnya niat Om mau ajak dia ikut tapi sayangnya Kendra sudah ada acara sendiri. Untuk masalah perwakilan sudah pasti nggak bisa. Banyak rekan bisnis perusahaan ingin bertemu dengan penerus nona Anna dan Tuan Hendri jadi tidak mungkin kalau hanya Om yang hadir di sana sendirian.”
“Om….” Gaby terlihat ragu untuk bicara.
”Apa mereka sudah tahu kalau saya sudah menikah dan bercerai ?” Om Sofian tertawa pelan melihat ekspresi wajah Gaby.
“Tidak ada yang tahu kecuali Tuan Harry dan keluarganya.”
Gaby menghela nafas. Rasanya ia belum siap untuk menjalankan tugas ini apalagi ia akan tampil tanpa pendamping, hanya Om Sofian yang lebih cocok jadi ayahnya daripada pasangan.
“Jangan khawatir. Selama Nathan tidak ada, kamu telah menunjukkan kemampuanmu sebagai calon pemimpin yang baik jadi Om yakin kalau kamu bisa menghadapi dunia yang baru ini. Masih ada Om yang akan mendampingimu.”
Gaby mengangguk dengan senyum sedikit terpaksa. Hatinya agak cemas dan rasa percaya dirinya tiba-tiba berada di level yang cukup rendah.
*****
Harry menatap putrinya yang sedang ditenangkan oleh Anita di dalam kamar. Kondisi stress yang dialami Maya cukup serius Awalnya dokter menduga kalau Maua mengalami gejala baby blues tapi nyatanya stres yang dialami Maya terus berlanjut hingga bayinya berusia 2 bulan dan Harry pun memutuskan untuk mendatankan psikiater guna mengobati putri tunggalnya itu.
Ditatapnya wajah cantik yang sekarang terlihat tirus dan pucat. Rambutnya acak-acakan dan tatapannya penuh dengan rasa cemas dan takut padahal selama ini Maya adalah wanita yang pemberani hingga dalam waktu yang cukup singkat namanya bisa dikenal di kalangan bisnis yang dijalani Hendri.
__ADS_1
Dua hari yang lalu di ruang kerjanya, ditemani oleh Martin, Harry mendengarkan hasil analisa dari psikiater yang mendampingi Maya seminggu ini.
“Putri anda bukan mengalami baby blues atau stres karena kondisi suaminya berada di dalam penjara, tapi perasaan bersalah yang begitu dalam hingga membuatnya takut dan cemas yang berlebihan.”
“Apa Maya bilang sumber rasa bersalahnya ?” tanya Harry dengan dahi berkerut.
Psikiater itu menoleh sekilas pada Martin dan kembali menatap Harry yang mengangguk tegas.
“Martin adalah kakak Maya dan Leo adalah sahabat baiknya jadi dialah yang menjadi penghubung antara Maya dan Leo. Tidak masalah kalau dia tahu juga kondisi Maya.”
“Maaf kalau saya menyinggung Tuan Harry dan Tuan Martin. Rasa bersalah, cemas dan takut yang dirasakan Maya dipicu dengan ungkapan beberapa orang yang bilang kalau bayi yang dilahirkan Maya sama sekali tidak mirip Leo. Pernyataan ini seolah menjadi jawaban atas kekhawatiran Maya sejak hamil karena ternyata putri anda, maaf, tidak hanya melakukan hubungan suami istri dengan Leo saja.”
Kedua pria di depannya tampak tidak terkejut membuat sang psikiater mengerutkan dahi.
”Maaf Tuan Harry kalau saya menyinggung anda. Bukan maksud saya ingin membuka aib putri anda tapi akan lebih baik kalau Tuan bisa melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Maya dulu. Setelah jelas, kita baru bisa menentukan langkah selanjutnya.”
“Tolong rahasiakan masalah ini termasuk pada istri saya. Cukup kita bertiga saja yang tahu soal pengakuan Maya ini. Saya akan mengikuti saran dokter dan hasilnya akan saya info ke dokter.”
“Saya mengerti Tuan Harry.”
“Sambil menunggu hasil tes DNA, mohon dokter tetap mendampingi putri saya dan alihkan pikirannya dengan cara apapun. Saya dan Martin juga akan berusaha meyakinkan Maya soal ini dengan cara kami.”
Dokter itu mengangguk tanda mengerti dan meninggalkan Martin serta Daddy Harry yang masih melanjutkan diskusi mereka.
“Dad ! Daddy !”
Tepukan halus di pundak Daddy Harry membuatnya sadar dari lamunan.
“Sudah keluar hasilnya ?” Martin mengangguk dan menyerahkan satu amplop pada daddy-nya
Daddy Harry membaca hasil pemeriksaan dengan seksama lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya perlahan.
”Beritahu Dokter Roni secerpatnya.”
“Baik Dad.”
__ADS_1