
“Pak Harry,” Jonathan bergegas menghampiri ayah Maya yang baru keluar dari restoran hotel.
Sudah seminggu ini ditemani Kendra, Jonathan mencoba menemui Om Harry untuk membicarakan masalah perkebunan.
Tidak peduli diacuhkan dan dihalangi oleh Adam, Jonathan mengikuti pria baya itu yang berjalan menuju lobby.
“Tolong beri saya kesempatan untuk bicara, bukan sebagai pimpinan Yuanyang, tapi sebagai Jonathan mantan kekasih Maya, putri anda.”
Om Harry berhenti dan menatap Jonathan dengan tatapan mengejek.
“Tidak ada pengaruhnya mau siapapun kamu !” tegas Om Harry dengan senyuman sinis.
”Kamu sudah salah memilih pihak yang mendukungmu untuk menyakiti putri saya ! Jangan berharap hidupmu akan tenang setelah menyakiti putri saya dan membohongi keluarga kami apalagi statusmu sekarang adalah menantu Hendri Kusuma.”
Belum sempat Jonathan menjawab, Om Harry melanjutkan langkahnya dan Adam langsung menghalangi Joanthan yang berusaha mengejarnya.
”Tolong jangan memaksa, Tuan Jonathan. Anda pasti tidak ingin menanggung akibat lebih parah kalau membuat Tuan Harry kesal.”
Kendra menahan lengan Jonathan dan menggelengkan kepala saat bossnya menoleh.
Jonathan menghela nafas dengan wajah kesal dan hanya bisa menatap dengan wajah putus asa saat Om Harry keluar di pintu lobby hotel.
Ayah kandung Maya itu benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan bagaimana kondisi hubungannya dengan Maya dan minta pria baya itu mempertimbangkan untuk berhenti mengacaukan perkebunan.
“Kita cari cara lain, Bro,” ujar Kendra menepuk bahu sahabatnya.
“Gue sempat kepikiran untuk menemui Maya dan bicara baik-baik dengannya.” Kendra tertawa pelan saat mendengar ucapan Jonathan.
“Nath, hanya satu jawaban pasti yang elo dapatkan saat menemui mantan lo itu. Dia akan suruh elo menceraikan Gaby dan kembali padanya. Nggak bakal ada pilihan lain,” tegas Kendra.
“Nggak ada salahnya untuk mencoba lagi. Siapa tahu Maya berubah pikiran,” gumam Jonathan.
“Jonathan,” Kendra menepuk bahu pria itu. “Posisi elo saat ini adalah CEO, tanggungjawab elo bukan lagi sebatas mendididk anak orang lain cukup selama 3 tahun tapi memberi hidup layak untuk ratusan karyawan di sepanjang hidup mereka selama bekerja di perusahaan. Belajarlah berpikir dan bertindak layaknya seorang CEO, bukan guru matematika.”
Jonathan kembali menghela nafasnya beriringan jalan dengan Kendra menuju ke parkiran mobil.
***
“Mami ngotot banget sih mau ketemu,” gerutu Jihan saat bertemu dengan mami Gina untuk makan siang.
Jihan akhirnya mengalah setelah 2 hari mami Gina terus menghubunginya lewat telepon dan whatsapp, minta Jihan meluangkan waktu pulang ke rumah.
Sejak bekerja sebagai asisten Maya, Jihan memutuskan untuk kost supaya lebih dekat ke kampus dan kantor. Janjinya akan pulang setiap akhir pekan tidak bisa dipenuhi karena sibuk dengan tugas-tugas dari Maya.
Jihan berharap Maya akan menjadikan orang kepercayaannya supaya tidak hanya bisa membalas Gabriela tapi mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan.
__ADS_1
“Mami nggak mau basa basi lagi. Apa kamu yang menyuruh orang untuk menyebarkan foto Gabriela dan Jonathan di sekolah ?”
Jihan agak kaget namun ia malah tertawa sinis menanggapi ucapan mami Gina.
“Ngadu apa anak durhaka itu sama Mami ?”
“Jangan menjawab pertanyaan mami dengan pertanyaan. Apa benar kamu yang menyuruh orang menyebarkan foto mereka di sekolah ?”
Suara Mami Gina meninggi, tapi Jihan seolah tidak peduli dan senyuman sinis masih tersungging di bibirnya.
”Jangan berbuat yang aneh-aneh, Ji. Kamu mau kita hidup di pinggir jalan ? Bukan hanya rumah yang kita tempati akan diambil tapi biaya hidup dan sekolah kalian juga dihentikan.”
“Mami tidak usah khawatir soal itu. Kalau sampai aku berhasil membuat Gaby dan Jonathan berpisah, Bu Maya berjanji akan memberikan apartemen dan gajiku akan dinaikkan. Lagipula mana mungkin anak sok polos itu tega pada Lisa.”
“Jangan terlalu percaya diri, Jihan. Kedatangan Gabriela yang mengingatkan mami soal kesepakatan kita menunjukkan kalau dia bukan lagi anak kecil yang bisa kita atur.”
“Itu karena dia masih memiiliki Jonathan di sampingnya, Mi. Dia sudah cinta banget sama mantan gurunya itu jadi begitu Jonathan menyerah dan meninggalkannya, aku yakin anak itu langsung menangis siang malam dan kehilangan semangat hidup,”
Seringai licik dan wajah penuh percaya diri Jihan membuat mami Gina agak merinding.
“Untuk sampai ke sana, masih banyak yang harus kamu lakukan dan menurut Mami tidak akan semudah itu. Mami nggak yakin pendapatanmu saat ini akan cukup untuk membiayai sekolah Lisa dan kebutuhan hidup kita kalau sampai Gabriela menarik semuanya. Lagipula kamu belum lama bekerja, apa mungkin bossmu memberikan semua itu dengan mudah ?”
“Ibu Maya itu bukan orang sembarangan, Mi. Mana mungkin ia akan melanggar ucapannya sendiri.”
“Ji, Mami ingin kamu dan Lisa bisa menyelesaikan sekolah sampai jadi sarjana dan hidup bahagia memiliki keluarga yang utuh dan dicintai suami. Mami tidak ingin kalian menjalani hidup seperti Mami yang akhrinya harus menelan pil pahit karena kehilangan cinta papi kalian.”
Mami Gina menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Melihat sikap putri sulungnya, mami Gina seolah diingatkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.
“Jihan, Mami mohon berhentilah selagi kamu masih bisa dan jangan mengulangi kesalahan Mami lagi. Tidak usah berpikir untuk merebut perusahan yang diwariskan pada Gabriela karena itu semua memang bukan milik papi. Jangan sia-siakan kesempatan hidupmu. Fokuslah untuk sekolah setinggi mungkin, cari pekerjaan yang bagus dan Mami doakan semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik dan sangat mencintaimu dengan tulus.”
”Aku tidak mungkin mundur lagi, Mi. Dia pasti akan menertawakan aku dan semakin sombong karena merasa sudah bisa mengendalikan aku lewat Mami.”
“Mami yakin Gabriela tidak akan berpikiran seperti itu.”
”Bukankah Mami baru saja bilang kalau anak itu berubah, sudah lebih berani sekarang, jadi bukan tidak mungkin dia akan menyombongkan dirinya kalau berhasil membuat aku berhenti karena Mami ?”
“Ji…”
“Aku harus kembali ke kantor, Mi. Aku akan usahakan pulang ke rumah minggu ini karena kuliah sudah libur dan semoga kerjaan di kantor juga berkurang menjelang akhir tahun.”
“Mami antar kamu ke kantor.”
“Nggak usah, jalan juga nggak jauh kok, Mi.”
“Cuma memutar sedikit. Lagipula Mami bawakan makanan kering kesukaanmu sekalian juga untuk
__ADS_1
boss-mu.”
“Kalau begitu biar aku yang setir sampai kantor.”
Mami Gina mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada Jihan. Setelah membayar tagihan makanan, keduanya langsung keluar kafe menuju le parkiran.
Kurang dari 10 menit, mobil masuk ke perusahaan Gandajaya Grup dan berhenti di dekat lobby.
Mami Gina turun dari mobil dan mengeluarkan 2 kantong kertas yang berisi kue kering untuk Jihan dan Maya.
“Sering-seringlah pulang ke rumah. Mami dan Lisa akan senang kalau bisa menghabiskan waktu bersamamu.”
Jihan mengangguk sambil tersenyum lalu mencium pipi Mami Gina.
“Mami pulang dulu.” Jihan menganggukan kepala lagi.
“Gina.”
Baru membuka pintu mobil, panggilan itu membuat Mami Gina dan Jihan menoleh.
“Selamat siang Pak Harry,” sapa Jihan sambil membungkukkan badannya. Wajahnya penuh senyuman, mencari hati pemilik perusahaan sekaligus ayah bossnya.
“Harry,” desis mami Gina dengan mata membola terkejut melihat sosok itu berdiri di depannya.
“Kalian ?” ayah kandung Maya menatap Jihan dan mami Gina bergantian.
“Perkenalkan ini ibu kandung saya, Pak,” sahut Jihan dengan wajah dibuat semanis mungkin.
Tuan Harry mengabaikan Jihan dan menatap tajam ke arah mami Gina yang menunduk dan terlihat gelisah.
“Jadi kamu istri Jonathan ?” Tuan Harry hanya melirik sekilas dan kembali menatap mami Gina.
“Bukan, bukan saya Pak. Bukan saya yang merebut Pak Jonathan dari Bu Maya, malah saya akan membantu Bu Maya untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada Pak Nathan,” sahut Jihan dengan penuh semangat.
“Gabriela anak Hendri dan Anna, dia yang menikah dengan Jonathan,” sahut mami Gina dengan suara pelan dan wajah masih menunduk.
Tanpa berbicara apa pun, Tuan Harry langsung berjalan meninggalkan kedua wanita itu dengan rahang mengeras.
“Mami kenal dengan Tuan Harry ?” tanya Jihan menghampiri mami Gina.
“Jadi dia pemilik perusahaan ? Ayahnya boss kamu ?”
Mami Gina menghela nafas saat Jihan menganggukan kepala.
“Hentikan perbuatanmu pada Gabriela dan jangan berharap apapun dari boss kamu itu. Mami bukan lagi meminta padamu tapi ini perintah dan jangan coba-coba membantah. Kalau kamu tidak mau menghentikannya, Mami akan datang ke sekolah dan menemui Pak Liman.”
__ADS_1
Jihan menautkan alis saat melihat mami Gina buru-buru naik ke mobil dan pergi meninggalkan parkiran.