Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Bicara Jujur


__ADS_3

“Kenapa ? Gugup mau ketemu sama calon mertua ?” ejek Kendra saat melihat Jonathan berkali-kali menghela nafas sebelum membuka pintu mobil.


“Elo gila ? Dari kemarin konsentrasi gue terpecah-pecah karena khawatir Gaby belum ditemukan. Elo yakin kan kalau dia nggak pergi keluar kota atau keluar negeri ?”


“Jawabannya masih sama Nathan, ENGGAK ADA !” tegas Kendra. “Sekarang fokus dengan tujuan elo kemari. Semua sudah terlanjur dan hari ini jangan sampai gagal, kecuali tujuan awal elo memang mau balik sama Maya.”


“Jangan mulai, Ken !” umpat Jonathan. “Gue turun dulu.” Kendra hanya mengangguk dan melajukan mobil untuk parkir di seberang rumah keluarga Maya, mengawasi Jonathan atas permintaan Mama Hani.


***


“Jo, aku kira kamu nggak jadi datang.”


Wajah sumringah Maya menyambutnya di depan pintu utama rumah mewah yang baru pertama kalinya didatangi Jonathan.


“Daddy sudah menunggumu untuk makan malam.”


Jonathan mengerutkan dahi, maksud kedatangannya ingin bertemu dan menjelaskan semuanya, bukan makan malam.


Jonathan tampak canggung saat Maya bergelayut manja di lengannya, membawa Jonathan ke ruangan lain yang sangat luas.


“Selamat malam Om, Tante,” sapa Jonathan sambil tersenyum canggung. Jantungnya berdebar apalagi kedua orang tua Maya memasang wajah yang tidak ramah.


“Mau apa kamu kemari ? Mana istrimu ?” tanya Daddy Harry sambil mengerutkan dahinya.


“Daddy !” tegur Maya dengan wajah cemberut.


“Istri saya tidak ikut karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Om dan Tante.”


Wajah Mommy Anita sangat tidak ramah apalagi saat putri tunggalnya mengajak Jonathan duduk berseberangan dengan mereka.


“Saya tidak suka dengan orang yang bertele-tele,” tegas Daddy Harry. Jonathan tersenyum tipis.


“Daddy lupa sudah berjanji padaku ?” gerutu Maya dengan wajah masih cemberut.


“Kalau Daddy lupa, sejak tadi Daddy sudah menghajarnya karena berani datang kemari tanpa membawa istrinya !”


“Daddy ! Aku sudah menjelaskannya pada Daddy dan maksud kedatangan Jonathan kemari…”


“Saya mau minta maaf karena sudah berbohong pada Tante soal istri saya. Maaf karena baru hari ini saya bisa datang secara pribadi menemui Om dan Tante,” potong Jonathan.


Jonathan menjeda dan menatap kedua orang tua Maya bergantian sambil tersenyum.


“Saya sadar kalau kebohongan saya sulit dimaafkan tapi saya mohon jangan timpakan kemarahan Om dan Tante pada Gaby karena bukan dia yang menyuruh saya berbohong.”


“Begitu mudah kamu berbohong dan sekarang berharap semudah itu juga kami melupakannya ?” sindir Mommy Anita dengan senyuman sinis.


“Saya akan menanggung kebencian Tante seumur hidup. Selain itu tujuan saya kemari…”

__ADS_1


“Ngapain elo ada di sini ?” bentak Martin, kakak tiri Maya yang kedua baru saja turun dari lantai dua. Tatapan tajamnya terlihat sangat membenci Jonathan.


Jonathan tersenyum dan beranjak bangun, bermaksud menyalami Martin yang menghampiri mereka bersama teman laki-lakinya.


“Masih belum kapok ?” Martin langsung mencengkram kerah baju Jonathan.


“Nggak kapok juga dengan kebakaran gudang stok ?”


“Darimana Kakak tahu kalau yang kebakaran adalah gudang stok ?” tanya Jonathan mengerutkan dahi.


“Jangan pura-pura be**go. Berita kebakaran itu udah tersebar di media sosial dan surat kabar.”


”Tapi tidak ada satu berita pun yang menyebutkan gudang stok. Kami sengaja menyembunyikannya untuk menghindari keresahan para pembeli. Apa Kakak juga tahu siapa yang menyebabkan kebakaran ?”


“Apa maksud lo ? Elo nuduh gue ?” suara Martin meninggi dan cengkramannya semakin kuat namun Jonathan tidak gentar.


Sepertinya misteri kebakaran gudang mulai mendapatkan titik terang setelah Jonathan menangkap kalau Maya benar-benar tidak tahu soal kejadian itu.


“Hanya pelaku atau dalangnya yang tahu kalau yang terbakar adalah gudang stok,” ujar Jonathan dengan senyuman tipis membuat Martin makin emosi dan memukul wajah Jonathan.


“Kak Martin !” pekik Maya sambil membantu Jonathan yang tersungkur namun Maya dibuat terkejut saat Jonathan menolaknya.


“Cukup !” bentak Daddy Harry saat melihat pergerakan Martin yang kembali mendekati Jonathan hendak memukul pria itu lagi.


“Buat apa elo kemari ? Mau merayu adik gue lagi ? Jangan harap kita semua akan memberikan elo kesempatan. Lagipula adik gue sudah tidur dengan Leo, sahabat gue.”


Leo, pria yang ada di belakang Martin hanya diam dan wajahnya terlihat canggung.


“Gara-gara cowok plin plan ini Maya mabuk-mabukan dan akhirnya tidak sengaja…”


“Cukup !” bentak Daddy Harry lagi.


“Tidak perlu kamu ceritakan detil kejadiannya. Dan kamu !” Daddy Harry menunjuk Jonathan dengan tatapan tajam.


“Apa maksud kedatanganmu kemari ?”


“Daddy, sudah aku jelaskan kalau Jonathan….”


“Diam ! Daddy bertanya padanya bukan sama kamu.”


Jonathan beranjak bangun dan membersihkan darah yang keluar di sudut bibirnya.


“Maksud kedatangan saya kemari ingin minta maaf secara pribadi dan sungguh-sungguh menyesal dengan kebohongan saya sekaligus ingin memohon terutama pada Om supaya jangan melimpahkan kemarahan pada Gaby dengan cara apapun termasuk menghancurkan perusahaan milik keluarga almarhum maminya. Selain itu saya mohon maaf karena sudah menyakiti Maya saat memutuskan hubungan kami karena perjodohan saya dengan Gaby. Saya tidak lagi menyesali pernikahan kami dan saat ini saya sangat mencintai Gaby, istri saya.”


“Jonathan ! Jangan memutar balikkan fakta lagi. Kamu bilang masih mencintaiku dan ingin kembali padaku.”


“Maaf. Hanya dengan cara ini aku bisa bertemu dengan orangtuamu khususnya Om Harry. Sudah berkali-kali aku mencoba…”

__ADS_1


Plak !


“Kamu benar-benar jahat Jo ! Kamu membohongi aku lagi demi bocah ingusan itu !” Maya mulai berteriak membuat Daddy Harry menghela nafas.


”Sayang, jangan begitu,” Mommy Anita mencoba menenangkan putrinya.


“Kamu jahat Jo ! Kamu jahat !” Maya melepaskan pegangan Mommy Anita, mulai memukuli dan mencakar Jonathan. Pria itu bergeming, menerima kemarahan Maya dan tidak berniat menghindarinya.


“Maafkan aku. Hanya dengan cara ini aku bisa mengalihkan perhatianmu supaya tidak menyakiti Gaby dan memberikan aku kesempatan untuk bertemu orangtuamu.”


Di belakang Jonathan, Martin tersenyum mengejek, mendukung tindakan adiknya yang masih memukul dan mencakar. Martin melarang Leo yang berusaha memisahkan mereka.


“Cukup Maya !” Daddy Harry menarik Maya dengan cukup kasar membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang mendekati Daddy.


“Kamu mau dilaporkan karena menganiayanya dan masuk penjara ? Bagaimana kalau hubungan satu malam dengan Leo membuatnu hamil ? Mau menghabiskan waktu di penjara dalam keadaan hamil ?”


“Mas !”


Maya menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menangis sambil menangkup wajahnya. Aib yang sengaja ingin dilupakannya justru dibuka oleh kakak tirinya sendiri di hadapan orangtua mereka.


“Pulanglah ! Kita akan bicara lagi di kantor dan menyelesaikan semuanya termasuk kebakaran di gudang kantormu.”


Jonathan terlihat ragu, Martin juga bergerak ingin menahannya namun tatapan Daddy Harry membuat Martin urung menyerang Jonathan kembali.


“Saya tidak suka mengulang ucapan sampai berkali-kali,” tegas Daddy Harry.


“Saya pamit dulu Om, Tante, Kak Martin.”


Hanya Daddy Harry yang meresponsnya dengan anggukkan kepala sementara Mommy Anita sedang sibuk menenangkan putrinya.


Mata Kendra membola saat melihat Jonathan masuk ke dalam mobil dengan beberapa goresan luka di wajahnya.


“Tuan Harry sesadis itu ? Atau Tante Anita berubah jadi macan betina ?”


“Berisik, jalan sekarang, antar gue pulang !” sahut Jonathan sambil merebahkan tubuhnya di kursi yang direbahkan. Luka cakaran di wajahnya mulai terasa perih.


“Yakin mau langsung pulang ?”


“Iya.”


“Kalau begitu gue balas pesan Mimi dulu supaya membiarkan Gaby pergi.”


“Mimi ketemu Gaby ?” Jonathan kembali menegakkan tubuhnya.


“Katanya begitu.”


“Dasar sahabat nggak pengertian !” omel Jonathan langsung merampas handphone yang ada di tangan Kendra dan tanpa memeriksa pesan yang dikirim Mimi, Jonathan langsung menekan tombol panggilan membuat Kendra langsung terbahak.

__ADS_1


“Makanya kalau bikin sandiwara jangan kelewatan,” ejeknya sambil perlahan melajukan mobil.


__ADS_2