
Tiga hari berlalu. Masalah perkebunan membuat Jonathan kecewa karena para pelaku yang tertangkap semuanya menegaskan kalau perbuatan mereka bukan atas perintah orang lain tapi kehendak mereka sendiri dengan alasan tidak terima karena dipecat secara tidak hormat dari perkebunan.
”Kenapa ?” tanya Kendra saat keduanya dalam perjalanan pulang menuju Jakarta.
“Maya.” Jonathan menunjukkan nama Maya di layar handphonenya.
“Kenapa lagi ? Minta elo ketemu dan minta maaf sama orangtuanya lagi ?” ledek Kendra sambil tersenyum sinis.
Jonathan menggerakan kedua bahu dan satu jarinya menggeser ikon hijau di layar membuat Kendra menghela nafas sambil geleng-geleng tapi ikut menyimak saat Jonathan menekan tombol pengeras suara hingga Kendra bisa ikut mendengarkan percakapan dengan Maya.
“Halo.”
“Jo, kamu dimana ? Rasanya aku ingin bertemu langsung untuk menyampaikan kabar baik ini. Maaf baru menghubungimu sekarang padahal berita ini sudah aku terima dari beberapa hari lalu.”
Nada suara Maya terdengar penuh semangat dan bahagia saat Jonathan menerima panggilannya.
“Berita apa ?”
”Daddy bersedia membantumu untuk mencari pelaku perusakan di perkebunan. Aku yakin semua masalahmu akan segera teratasi.
“Terima kasih tapi tidak perlu repot. Aku masih punya Kendra dan Om Sofian yang membantu.”
“Jo, kenapa ketus begitu ?”
“Aku biasa aja, Maya, lagi urus kerjaan. Terima kasih atas berita baiknya dan maaf aku harus lanjut kerja lagi.”
“Tunggu Jo.”
“Ada apa lagi ?”
“Bisakah kamu tetap datang menemui orangtuaku dan meminta maaf pada mereka karena telah berbohong soal istrimu.”
“Tentu saja, Maya, aku pasti akan datang untuk minta maaf dan menjelaskan semuanya. Aku sudah minta tolong Kendra untuk minta waktu pada sekretaris Om Harry.”
“Maksudku bukan bertemu di kantor, Jo. Aku akan atur makan malam untukmu tspi tolong jangan libatkan istrimu supaya suasana hati orangtuaku tidak langsung jelek begitu melihatnya.”
Kendra tertawa tanpa suara sambil mencibir membuat Jonathan langsung melotot sebal pada sahabatnya.
”Kalau sampai harus datang di luar jam kantor, tentu saja aku akan membawa istriku, Maya. Aku akan memperkenalkan Gabriela secara resmi pada orangtuamu dan minta maaf karena sudah berbohong.”
“Tapi Jo….”
”Maaf aku harus lanjut kerja lagi. Aku akan memberi kabar padamu setelah Kendra berhasil membuat janji dengan daddy-mu.”
Tanpa menunggu jawaban Maya, Jonathan mengakhiri percakapan mereka. Kendra langsung mengacungkan jempolnya ke hadapan Jonathan.
“Nggak butuh !” cebik Jonathan dengan wajah cemberut karena Kendra malah tertawa.
__ADS_1
”Keren Bosskuh ! Singkirkan pelakor jauh-jauh dari kehidupan elo dan Gaby.”
Jonathan hanya diam dan menyenderkan kepala pasa sandaran kursi lalu memejamkan mataya.
*****
Jam 5 sore Gaby baru sampai di rumah. Usai pelajaran tambahan menjelang ujian, ia menyempatkan berbincang dengan kelima temannya membahas soal perkembangan masalah berita di sekolah.
Tanpa sadar Gaby melirik garasi. Sepertinya Jonathan belum pulang karena pintunya masih tertutup rapat. Kalau sudah di rumah, pintu garasi tidak langsung ditutup karena Jonathan bilang tunggu sampai mesin mobil mulai dingin.
Gaby masuk rumah tanpa penghuni karena Mama Hani sedang menginap di rumah sepupunya yang mendadak sakit dan perlu ditemani karena semua anaknya tinggal di luar kota.
Gaby mengeluarkan handphone sambil menapaki tangga menuju ke lantai 2. Tidak ada pesan masuk dari Jonathan, terakhir diteimanya jam 9 pagi. Pesan penting yang masuk hanya dari Mama Hani, mengabarkan kalau sayur untuk makan malam sudah tersedia di dapur.
Mata Gaby membola begitu membuka mata karena sosok yang dirindukannya sedang tetidur di atas ranjang.
“Mas Nathan !”
Gaby mendekati Jonathan yang masih terpejam, menekan pipi pria itu dengan telunjuknya untuk memastikan kalau pria itu benar-benar nyata.
”Mas Nathan !” pekik Gaby saat Jonathan menariknya hingga terjembab ke atas ranjang.
Mata Gaby langsung membola saat Jonathan mengukungnya dengan senyuman dan tatapan licik.
“Jangan suka membangunkan macan tidur, bagaimana kalau aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.”
Jantung Gaby berdebar apalagi posisi wajah Jonathan begitu dekat.
“Masih wangi,” sahut Jonathan yang malah sengaja menciumi wajah Gaby.
“Mas Nathan jorok iihh, Gaby kotor habis naik motor.”
Jonathan tertawa saat melihat wajah Gaby merona. Gadis itu bergegas bangun dan merapikan seragamnya.
“Kenapa ? Takut Mas Nathan eksekusi malam ini ?” ledek Jonathan di sela tawanya.
“Bukan begitu, Gaby kan dari sekolah, habis naik motor pula. Biasa Mas Nathan kan suka ngomel kalau langsung duduk di atas ranjang tanpa ganti baju.”
“Aku juga belum mandi, baru ganti baju aja. Mau mandi bareng ?” Jonathan menaik turunkan alisnya dengan wajah mesum.
“Tunggu Gaby selesai ujian, setelah ulangtahun ke-18.”
“Beneran nih ?” Jonathan menahan Gaby yang sudah bersiap membawa baju ganti untuk mandi.
Gaby terdiam, tidak berani menatap wajah suaminya yang terus menggodanya.
“Beneran kalau Gaby bisa lulus dengan predikat terbaik,” sahut Gaby bergegas melewati Jonathan dengan wajah merona.
__ADS_1
“Kalau begitu aku nggak akan menunggu sampai pengunuman. Selesai ujian aku akan minta hakku, lagipula belum tentu kamu langsung hamil, kan ?”
Wajah Gaby makin merona dan dengan tergesa ia keluar kamar karena jantungnya tambah tidak karuan. Sadar kalau Jonathan bukan lagi gurunya dan usia pria itu sudah cukup matang, cepat atau lambat suaminya itu akan meminta haknya pada Gaby.
***
“Kenapa nggak bilang kalau hari ini Mas Nathan pulang ?” tanya Gaby sambil menyendokkan nasi saat mereka sudah duduk di meja makan.
“Kenapa ? Kamu takut ketahuan lagi selingkuh ?” ledek Jonathan sambil tertawa.
“Hati-hati kalau ngomong. Kata orang ucapan itu sama dengan doa,” gerutu Gaby sedangkan Jonathan masih menertawakan wajah istrinya yang terlihat lucu.
“Gimana hasilnya ?” tanya Gaby.
Jonathan pun menceritakan semuanya pada Gaby sambil menikmati makan malam mereka.
“Nggak usah fokus mencari cara membuat papinya Maya mengakui kalau semua masalah di perkebunan adalah ulahnya. Yang harus Mas Nathan waspadai adalah Maya karena Gaby yakin kalau dia nggak akan berhenti begitu aja, apalagi partner kerjanya Jihan. Mereka sebelas duabelas kalau urusan menghancurkan hidup orang lain.”
“Kamu juga harus hati-hati di sekolah. Apalagi Marsha sudah bilang kalau urusan kita berdua nggak akan ditutup begitu aja.”
Gaby mengangguk-angguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Keduanya masih berbincang soal persiapn Gaby menghadapi penilaian terakhir dan soal pekerjaan kantor yang mulai Joanthan kuasai.
”Gaby, terima kasih untuk semuanya,” ujar Jonathan sambil memeluk istrinya yang sedang mencuci piring.
Jantung Gaby otomatis berdegup kencang. Akhir-akhir ini Jonathan begitu manis memperlakukannya.
“Sama-sama, Gaby juga berterima kasih karena Mas Nathan bersedia menerima wasiat mami dan memenuhi permintaan papi.”
Jonathan mengelap tangan Gaby yang basah lalu membalikkan tubuh istrinya hingga mereka berhadapan. Tanpa pernisi Jonathan langsung mencium bibir Gaby membuat tubuh gadis itu menegang.
Jonathan tersenyum saat melihat Gaby memejamkan matanya dan belajar membalas ciumannya, namun tubuh gadis itu tidak bisa bohong. Gaby masih canggung dan tubuhnya terasa tegang.
“Nafas, Gaby, nafas,” ledek Jonathan sambil terkekeh. Ia sudah melepaskan ciumannya.
“Ini kan bukan yang pertama buat kita.”
“Tapi Gaby masih belum biasa, apalagi jantung ini kayak berdetak 5 kali lipat dari manusia normal.”
Jonathan tertawa dan menarik Gaby ke arah ruang keluarga dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Gaby langsung melingkarkan tangannya di leher Jonathan karena takut jatuh.
“Mulai sekarang kita akan lebih sering melakukan ciuman seperti ini supaya aku bisa lebih sabar menunggu 4 bulan lagi,” ujar Jonathan sambil terkekeh.
“Guru mesum,” cibir Gaby.
Jonathan hanya tertawa dan menarik pinggang Gaby dan satu tangan lainnya mengusap wajah Gaby.
“Dan sekarang Pak Guru mesum ini akan mengajari muridnya bagaimana ciuman suami istri yang seharusnya.”
__ADS_1
Joanathan mendekatkan wajah Gaby dan menahan tengkuk gadis itu sambil perlahan memberikan ciuman penuh cinta di bibir istrinya.
Gaby terus melawan rasa canggungnya dan pelan-pelan mulai mengimbangi ciuman Jonathan hingga pria itu menarik kedua sudut bibirnya tanpa melepaskan ciuman mereka.