
Martin bergegas ke ruangan Daddy Harry begitu Nino, asisten Daddy, menghubunginya, meminta Martin menggantikan Daddy dalam beberapa meeting penting hari ini.
“Apa Daddy tidak menghubungimu atau mengirim pesan ? Kemarin pagi memang ijin pergi dari rumah tapi tidak bilang akan menginap.”
“Handphonenya tidak aktif sejak pagi, Pak Martin. Pesan yang saya kirim belum ada yang terkirim dan telepon pun langsung masuk ke kotak suara.”
Martin menghela nafas sambil melangkah masuk ke dalam ruangan Daddy Harry yang kosong. Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena tidak bisa mengontrol emosi.
Satu kalimat yang keluar dari mulutnya membuat luka lama kedua orangtuanya terbuka kembali. Mommy Anita masih sering menangis di rumah apalagi begitu Daddy memutuskan untuk pergi dari rumah sejak Minggu pagi.
Martin berjalan berkeliling ruangan. Selama ini dia masuk ke dalam ruangan itu hanya sekedar untuk membahas pekerjaan dan tidak memperhatikan tatanan ruangan ayah tirinya ini.
Banyak foto-foto dalam bingkai kecil dipajang di atas bufet atau lemari kaca. Semuanya bercerita tentang kenangan indah masa kecil Mario, Martin dan Maya. Hanya satu yang tidak ditemukan Martin, foto berdua Mommy dan Daddy. Ternyata perbuatan Mommy begitu melukai hati Daddy.
Tatapan Martin menangkap satu amplop cokelat yang ditumpuk bersama sejumlah dokumen perusahaan yang diletakkan di sisi kanan meja kerja Daddy
Terdorong rasa penasaran, Martin mendekati meja kerja dan menarik amplop cokelat itu dan mengeluarkan isinya.
Isinya beberapa lembar foto daddy di masa mudanya dengan seorang gadis belia. Tampak daddy tersenyum bahagia, berbeda dengan pembawaan daddy saat ini. Alis Martin menaut saat melihat beberapa foto lain yang terlihat lebih baru. Daddy juga tersenyum bahagia, berfoto dengan gadis belia yang wajahnya begitu mirip dengan gadis sebelumnya. Martin meletakkan kedua foto itu sejajar dan menebak kalau hubungan keduanya adalah ibu dan anak.
Ada rasa tidak nyaman di hati Martin saat membuka lipatan kertas yang dijepit dengan foto-foto daddy terbaru.
Gabriela
Nama yang cantik dan wajahnya bagaikan pinang dibelah dua denganmu. Gaya bicara dan senyumannya begitu mirip denganmu, membuat kerinduanku sedikit terobati.
Maaf karena aku sempat menyakitinya tapi aku berjanji akan melindunginya termasuk dari Anita dan anak-anak kami.
Aku pernah gagal melindungimu dari Gina dan merasa malu pada papimu karena masuk dalam jebakan Anita. Aku tidak bisa merubah jalan hidupku tapi aku pasti akan membayar hutang budiku pada papi dengan cara melindungi putrimu.
Aku berterima kasih karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk mengobati penyesalanku dengan bertemu Gabriela.
Martin kembali menghela nafas dan mengembalikan kertas itu ke tempat semula. Sepertinya Martin mulai mengerti dengan keputusan Daddy yang begitu ingin melindungi Gabriela.
Martin tersenyum saat ingat tulisan Daddy Harry yang menyebut dirinya, Mario dan Maya sebagai anak-anak kami, bukan anak Anita.
***
“Om Harry ?”
__ADS_1
“Gabriela ?”
Keduanya nampak terkejut saat bertemu di depan lift apartemen. Gaby sempat menautkan alisnya karena melihat penampilan pria baya itu sangat jauh berbeda dari pertemuan sebelumnya.
“Kamu kok di sini ?” Keduanya menepi, tidak jadi masuk ke dalam lift.
“Saya memang tinggal di sini.”
“Sama suami kamu ?”
Gaby diam sejenak, dahinya berkerut, sepertinya mereka baru sekali bertemu dan Gaby tidak ingat kalau ia pernah bercerita soal pernikahannya dengan Jonathan.
“Kamu kenapa ? Mau ngobrol sambil ngopi di kafe depan ?”
Gaby terlihat ragu untuk menerima ajakan itu.
“Takut disangka sugar baby ?” ledek Om Harry sambil tertawa. Gaby langsung menggeleng.
“Om akan menjawab semua kebingunganmu sekalian merayakan pertemuan kita kembali plus ternyata kita tinggal di apartemen yang sama.”
Gaby tersenyum dan mengangguk, berjalan beriringan keluar lobby apartemen.
Jonathan mengernyit, memastikan kalau gadis berseragam SMA yang berdiri di trotoar adalah istrinya. Hatinya langsung panas saat melihat seorang pria baya sedang tertawa bersamanya.
Ingin rasanya Jonathan turun di tengah jalan dan memanggil istrinya, tapi baru menekan tombol central lock, lampu lalu lintas berubah hijau. Posisi mobil yang berada di paling kiri tidak memungkinkan untuk langsung pindah jalur ke kanan.
Jonathan menggerutu saat panggilan telepon dari Kendra tidak berhenti.
“Tolong ke kantor dulu, Nath, ada yang mau bertemu. Penting. Soal kebakaran gudang.”
“Nggak bisa elo aja yang temuin ?”
“Dia hanya mau bicara sama elo.”
Jonathan menghela nafas sebelum mengiyakan permintaan Kendra. Emosinya yang sudah di ubun-ubun ingin melabrak pria baya itu tapi Kendra kembali menghubunginya membuat Jonathan menggerutu dan memutuskan lanjut ke kantor.
Sementara di kafe, Om Harry dan Gaby sudah selesai memesan makanan dan minuman.
“Sudah lama kamu tinggal di sini bersama suamimu ?”
__ADS_1
“Om tahu darimana saya sudah menikah ?”
Om Harry tertawa lalu mulai bercerita tentang awal perkenalannya dengan mami Anna, hubungan mereka sampai akhirnya keduanya harus pasrah pada takdir mereka.
”Jadi Om Harry papinya Bu Maya ?” Om Harry mengangguk.
”Maafkan saya yang sudah memaksa Pak Nathan menikahi saya,” ujar Gaby dengan wajah menunduk.
“Jangan terlalu merasa bersalah, Om sendiri tidak akan merestui Jonathan menikahi Maya. Om melihat Jonathan tidak cocok dengan Maya, ada kemungkinan pernikahan mereka tidak langgeng.”
Gaby mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis.
Tapi kenyataannya Pak Nathan sangat mencintai Bu Maya, Om, batin Gaby.
“Kamu kenapa ?” Om Harry menyentuh jemari Gaby yang melamun dengan wajah sendu.
“Eh, nggak apa-apa Om, saya masih merasa tidak enak karena sudah membuat Om dan Tante marah dan sakit hati.”
“Jangan pikirkan soal itu lagi. Mungkin ini karma karena dulu Anita sudah merebut Om dari mami kamu dengan cara yang licik.”
“Jodoh Om, bukan karma,” ujar Gaby sambil tersenyum.
“Apa Gina dan anak-anaknya masih menyusahkanmu ? Om sempat marah saat tahu Hendri punya dua anak dengan Gina padahal statusnya masih suami Anna, benar-benar kelewatan papi kamu itu. Tapi untungnya Anna semakin pintar dan berani menceraikan Hendri.”
“Jihan masih tidak bisa menerima kalau perusahaan itu milik mami dan hanya diwariskan pada saya, tapi saya sudah terbiasa dengan kelakuan mereka jadi Om tenang saja.”
“Om akan membuatnya sangat menderita kalau berani mengganggumu,” tegas Om Harry dengan wajah galak membuat Gaby malah tertawa.
“Jangankan Gina dan anak-anaknya, kalau anak Om ada yang berani mengusikmu, Om tidak akan ragu-ragu untuk memberikan mereka pelajaran.”
“Terima kasih Om begitu peduli sama saya. Boleh saya minta sesuatu pada Om Harry ?“
“Selama Om bisa penuhi, Om pasti akan memberikannya untukmu.”
“Saya ingin tahu bagaimana kehidupan mami dan bagaimana sosok mami. Selama ini termasuk mama Hani selalu bilang saya sangat mirip dengan mami.”
“Tunggu, siapa mama Hani ? Hani Ashari ?” Om Harry mengerutkan dahinya.
“Iya, mama Hani itu mertua saya. Om kenal juga ?”
__ADS_1
“Ya ampun, jadi Jonathan itu anaknya Hani Ashari ? Tentu saja Om kenal, dia sahabat baik mami kamu sejak mereka masih SMP. Anna benar-benar luar biasa, menjodohkan putrinya dengan anak sahabatnya sendiri.”
”Jadi ?” Gaby mengangkat alisnya sebelah. Om Harry tertawa dan mengangguk-angguk lalu mulai bercerita sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan Gaby yang terlihat bahagia karena bisa mengenal seperti apa sosok mami Anna.