
Minggu yang menegangkan akhirnya berlalu. Masalah Gaby dan Jonathan terlupakan sejenak karena seluruh siswa memasuki pekan ulangan umum semester ganjil.
Hampir semua siswa menarik nafas lega saat bel berbunyi. Mereka bergegas keluar kelas untuk melepas ketegangan minggu ini.
“Jadi kita Nu ?” tanya Gaby yang keluar kelas bersama Mimi dan Raina menghampiri Danu yang tengah berbincang dengan Bimbim dan Joni.
“Jadi, kita cari tempat jangan yang terlalu jauh. Kasihan gue ngeliat elo masih pincang begitu,” sahut Danu.
“Dih yang pergi makan-makan nggak ngajak-ngajak,” Nirina dan Ivana yang berdiri dekat situ ikut buka suara.
“Bukan makan-makan tapi mau bahas acara perpisahan. Mumpung ada waktu senggang,” sahut Danu mendahului Raina yang sudah membuka mulutnya.
Mimi sempat mengerutkan dahi karena bingung mendengar Danu berbohong.
”Cuma berlima doang nggak sekalian di kelas aja ?” tanya Ivana.
“Baru mau membahas konsepnya dulu. Keputusan tetap diambil secara aklamasi,” sahut Danu kembali.
“Jangan kesiangan Bro, nanti mami marah kalau nggak bobo siang,” sela Bimbim yang sudah menangkap maksud Danu.
“Geli lo !” cebik Joni sambil menggedikan bahunya.
Mereka langsung turun ke lantai 1. Kondisi kaki Gaby sudah jauh membaik meski masih sedikit sakit.
Sampai di bawah, mobil jemputan Gaby sudah terlihat di parkiran. Sejak terkilir, Jonathan mengharuskan Gaby diantar jemput sopir yang disiapkan Om Sofian. Bukan tidak mau mengantar atau menjemput istrinya, tapi Gaby sendiri yang melarang Jonathan datang ke sekolah untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.
“Gue mau ngomong sama elo,” ujar Marsha saat Gaby, Mimi dan Raina baru saja keluar gerbang SMA.
“Kita mau pergi,” Mimi langsung menyahut.
Marsha tidak peduli dengan ucapan Mimi dan menatap Gaby dengan senyuman sinis dan wajah songong.
“Tolong bilangin yang lainnya, gue nyusul.”
“Gue temenin,” ujar Mimi tapi Gaby langsung menggeleng.
Keduanya berjalan ke arah lapangan yang ada di antara gedung SMA dan SMP.
“Masalah apa lagi ?” tanya Gaby saat keduanya berhenti di luar pagar lapangan.
“Jadi elo membeli Pak Nathan dengan jabatan dan uang ?” Gaby mengerutkan dahi, sedikit bingung dengan pertanyaan Marsha.
“Satu hal yang perlu gue klarifikasi, gue nggak pernah merebut Pak Nathan dari kekasihnya apalagi membeli cinta Pak Nathan dengan uang atau jabatan.”
__ADS_1
“Gue tahu kalau Pak Nathan kerja di perusahaan milik keluarga elo.”
“Rupanya informan Jihan bergerak cepat juga,” ujar Gaby sambil tertawa pelan.
“Satu hal yang mau gue lurusin, kalau keluarga yang elo maksud ada Jihan di dalamnya maka elo salah banget. Perusahaan tempat Pak Nathan bekerja adalah milik keluarga almarhum nyokap gue dan nggak ada hubungannya dengan Jihan atau nyokapnya.”
Marsha mengerutkan dahi, agak bingung mencerna penjelasan Gaby.
“Jangan pura-pura nggak tahu kalau sejak kita kelas 10, Jihan selalu bilang kalau gue hanyalah anak haram,” Gaby tertawa getir.
“Gue jalan dulu udah ditungguin.”
“Gaby !”
Gaby menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
“Jangan berpikir masalah ini akan berhenti sampai di sini. Nggak mungkin juga elo akan ditampar sama mamanya Bu Maya tanpa alasan yang kuat. Mereka keluarga terpandang, nggak akan mungkin melakukan tindakan seperti itu tanpa alasan yang kuat.”
”Selama masih manusia pelakunya, banyak hal yang nggak mungkin jadi mungkin banget terjadi karena rasa marah, sombong dan iri hati membuat mereka sering lupa kalau di atas langit masih ada langit.”
Gaby tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Marsha yang mengepalkan kedua tangannya.
***
Keenam teman sekelas ini sudah duduk di salah satu kafe yang letaknya agak jauh dari sekolah.
“Saat ini siapapun bisa jadi tersangka,” sahut Danu.
“Kayak kisah misteri aja sih,” ujar Mimi sambil terkekeh.
“CCTV sekolah sempat dijebol, tujuannya hanya untuk menghapus rekaman kejadian hilangnya handphone Dona yang tiba-tiba muncul lagi di laci mejanya,” ujar Joni.
“Dijebol kayak film-film barat gitu ?” tanya Mimi dengan alis menaut.
“Nggak secanggih itu,” Joni menggeleng.
“Intinya Joni curiga kalau salah satu siswa di sekolah kita yang melakukannya dan siapapun bisa menjadi pelakunya termasuk teman-teman sekelas.”
“Tapi selama ini mereka…”
“Selamat siang semuanya.”
”Mas Nathan ?” Gaby tampak terkejut saat Jonathan menyapa dan sudah berdiri di dekat meja mereka.
__ADS_1
“Mas Nathan ?” Raina dan Bimbim langsung menautkan alis, mengulang panggilan yang diucapkan Gaby.
“Eh maksud gue Pak Nathan,” ujar Gaby canggung.
Mimi yang duduk di sebelah kiri Gaby langsung bangun dan mempersilakan Jonathan duduk sementara Kendra yang ternyata ikut juga, duduk di antara Danu dan Joni.
“Kalian berdua udah tahu kalau Pak Nathan bakal kemari juga ?” Gaby mengernyit menatap Danu dan Joni yang mengangguk sambil senyum-senyum.
“Pantas aja kalian milih tempat begini. Biasa udah ribut aja kalau lihat menu mahal,” gerutu Gaby.
“Jangan marah-marah begitu, sayang,” ujar Jonathan ikut tertawa merangkul bahu Gaby.
Raina dan Bimbim masih menautkan alisnya mengharapkan penjelasan dari guru dan murid di depan mereka.
“Saya percaya pada kalian berlima, jadi sudah saatnya saya memberitahu kalau Gaby bukanlah sekedar kekasih tapi istri sah saya.”
Hanya Mimi yang tidak terkejut, Joni yang sedang minum sampai tersedak mendengar pengakuan Jonathan, bahkan Gaby ikut terkejut karena Jonathan membuka status mereka di depan Danu, Joni,Bimbim dan Raina.
“Tolong masalah ini dirahasiakan dulu dari teman-teman kalian apalagi dalam situasi seperti ini. Gaby sudah menjadi istri sah saya sejak dia genap tujuhbelas tahun lebih 4 hari.”
“Terus kenapa ibu yang ada di video itu menampar Gaby ?” tanya Bimbim.
“Ibu yang ada di video itu adalah orangtua mantan kekasih saya. Ada sedikit kesalahpahaman yang sulit diluruskan. Tapi jangan khawatir karena masalah salah paham itu tidak akan diperpanjang lagi.”
“Terus kenapa kita semua diminta ketemuan di sini ?” tanya Gaby sambil menatap suaminya.
Jonathan tidak menjawab dan memberi isyarat pada Kendra yang langsung menegakkan posisi duduknya.
“Dengan bantuan teman kamu ini,” Kendra menunjuk Joni yang duduk di sebelah kirinya. “Kita akan mencari tahu pelaku yang sebenarnya karena si pengirim di grup wa itu juga korban yang dimanfaatkan kondisinya untuk membuka masalah kamu dan Nathan.”
“Sebelumnya supaya nggak pada bingung, kenalan dulu dengan Kendra. Dia ini sahabat sekaligus asisten saya.”
Kendra pun menyalami teman-teman Gaby kecuali Mimi yang sudah lama dikenanya.
“Tadi Marsha sempat ngajak bicara dan ia memastikan kalau masalah foto yang beredar tidak akan berhenti sampai di sini. Dia tahu kalau pelaku yang menampar Gaby adalah mamanya Bu Maya dan dia juga tahu kalau Mas Nathan kerja di perusahaan mami.”
“Kalau begitu sudah fixed otak di balik semua kejadian hanya satu tersangkanya : Jihan,” ujar Mimi dengan wajah kesal.
“Bukan hanya Jihan tapi juga Maya,” tegas Kendra menimpali.
Keempat teman Gaby dan Mimi mengerutkan dahi mendengar nama Maya yang belum familiar di telinga mereka.
“Maya itu nama mantan kekasih saya.”
__ADS_1