
“Tumben banget ngajak gue ketemu jam segini, lagi nggak sibuk ?” tanya Jonathan yang baru saja tiba di kafe yang dipilih Kendra.
Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore dan sudah 3 bulan keduanya tidak pernah bertemu, hanya 2 kali berbalas pesan menanyakan kabar.
“Gimana pekerjaan elo ?” Kendra malah balik bertanya. “Balik jadi guru lagi ?”
“Iya, lokasinya agak jauh dari rumah jadi gue pilih kost dekat sana soalnya dihitung-hitung biaya transport lebih mahal daripada sewa kost. Hemat waktu dan tenaga juga, Bro.”
“Ngajar anak SMA lagi ?” Jonathan menggeleng.
“Anak SMP. Mereka takut ada yang nyantol lagi kayak Gaby,” canda Jonathan sambil terkekeh. “Gue pasang status menikah dan begitu membaca umur Gaby mereka kaget. Gue cerita apa adanya soal perjodohan gue sama Gaby.”
Jonathan tersenyum dan wajahnya memancarkan rasa bahagia saat mengingat masa-masa indah dengan Gaby.
“Nyokap lo beneran pindah ke Semarang ?”
“Iya, tinggal di rumah Tante Ratih sampai Jenny selesai kuliah. Tuh anak juga ikutan tinggal di rumah Tante Ratih.”
“Betah ngajar di sekolah yang baru ?”
Jonathan mengerutkan dahi, menatap Kendra yang menatapnya sambil menopang dagunya.
“Elo lagi wawancara gue atau apa sih ? Nanya detil banget.”
“2 hari yang lalu Mimi minta ketemu sama gue. Tuh anak ngotot banget sampai mau aja gue ajak ketemu jam 8 malam.”
“Kenapa lagi sama Gaby ?”
“Sotoy,” cebik Kendra.
“Mimi pasti nggak akan maksa ketemu kalau bukan membahas soal Gaby atau jangan-jangan dia menaruh hati sama elo ?” ledek Jonathan dengan mata memicing dan senyuman meledek.
”Amin. Semoga aja terkabul tapi nanti belakangan aja. Gue mau kasih info terbaru, Maya sudah melahirkan, prematur.”
“Oooo… Bayi dan ibunya selamat kan ?”
“Elo nggak mau tahu kabar selanjutnya ?” Jonathan menggeleng.
“Maya melahirkan prematur karena bertengkar dengan Gaby di lobby kantor. Mimi ada di sana. Maya pendarahan setelah jatuh saat Gaby berusaha melepaskan genggaman Maya.”
“Terus sekarang Gaby-nya gimana ?”
__ADS_1
“Serius elo nggak peduli dengan Maya ?” Mata Kendra membola, sedikit terkejut melihat reaksi Jonathan.
“Maya masih punya keluarga, bapaknya tuh anak juga jelas siapa, tapi Gaby sendirian Ken, dia cuma punya Om Sofian yang bisa dipercaya.”
“Elo beneran masih cinta sama Gaby ?”
“Sangat !” tegas Jonathan sambil mengangguk yakin.
Kendra pun mulai menceritakan kembali semua kondisi Gaby yang didengarnya dari Mimi termasuk detil kejadian Maya di lobby kantor.
“Salahnya Maya kenapa maksa, pas orang baru pulang kerja pula. Ngomong-ngomong, Gaby masih tinggal di apartemen ?” Kendra mengangguk.
“Kalau begitu gue ke sana sekarang. Sorry gue tinggal dulu, Gaby pasti merasa sendirian saat ini.”
“Tunggu ! Gimana caranya elo bisa menemuinya di apartemen ?”
“Tuhan tahu niat dan hati gue, Ken, jadi berdoa aja semoga diberi jalan yang terbaik untuk bertemu dengan Gaby.”
Kendra geleng-geleng saat Jonathan dengan penuh keyakinan beranjak dari kursinya. Wajahnya penuh senyuman, seolah melihat secercah harapan untuk memperbaiki hubungannya dengan Gaby.
“Good luck, Bro !” Jonathan hanya memberikan jempolnya sambil tersenyum.
***
Usai menitipkan pesan pada sekuriti yang berjaga, Jonathan membawa mobilnya keliar dari area apartemen. Hatinya membawa ia melintasi jalan memutar, berniat melewati rumah tinggal keluarganya yang tidak lagi berpenghuni sejak Mama Hani memutuskan untiuk tinggal di Semarang sementara waktu.
Jonathan menepi saat mobilnya melintas taman yang beberapa kali pernah didatanginya bersama Gaby, menikmati jajanan kaki lima yang berdagang di sana. Istilah Gaby kencan merakyat.
Dari dalam mobilnya Jonathan menatap keluar jendela. Suasana mulai sepi dan sebagian pedagang sudah merapikan gerobaknya meski masih ada beberapa orang duduk-duduk di area taman.
Netra Jonathan menangkap pasangan muda mudi yang duduk membelakangi pintu masuk. Si wanita sedang menyandarkan kepalanya di bahu si pria, persis seperti yang pernah Gaby lakukan dalam satu waktu kencan mereka.
Jonathan pun memutuskan untuk turun dan masuk ke area taman melewati pintu yang lain dan berdiri di balik tiang lampu taman ke arah pasangan muda-mudi yang tadi dilihatnya. Entah kenapa forasatnya kuat berkata kalau ia mengenal keduanya.
Mata Jonathan membola saat tangan si pria merangkul bahu wanita itu setelah kepalanya tidak lagi bersandar pada bahu si pria.
“Gaby,” desis Jonathan.
Kakinya sudah siap melangkah ingin menghampiri mantan istrinya yang duduk di samping Mario. Hatinya langsung panas, terbakar cemburu melihat wanita yang masih sangat dicintainya itu bersama laki-laki lain, pria brengsek yang hampir saja memperkosa Gaby !
“Ingat, kamu bukan lagi suaminya, Nathan !”
__ADS_1
Peringatan Om Sofian bergaung seolah mengingatkan kembali akan posisi Jonathan saat ini. Gaby bukan lagi istrinya karena itu Jonathan tidak lagi berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak pria yang dekat dengan Gaby.
Jonathan hanya bisa menghela nafas saat tangan Mario mengusap bahu Gaby untuk menenangkannya. Wajah Gaby yang menunduk tertutup rambutnya yang menjuntai hingga Jonathan tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi dari gerakannya ia menduga kalau Gaby sedang menangis.
Kamu pasti menangis karena aku, Gaby. Maaf.
Seandainya aku bisa membeli waktu untuk kuputar kembali, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memelukmu dan membisikkan seribu kata cinta di telingamu. Aku akan belajar menjadi suami yang baik dan membuatmu bahagia.
Maafkan aku Gaby, semoga suatu saat aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan maaf darimu sekalipun tidak bisa memilikimu lagi.
Sekali lagi Jonathan menatap pasangan itu sambil tersenyum getir. Posisi keduanya sudah berjarak dan Gaby tidak lagi menunduk, kakinya bergerak mau mundur seperti kebiasaannya kalau sedang gelisah.
Rasanya begini sakit saat melihat orang yang kita cintai berbagi kebahagiaan dan kesedihan justru dengan orang lain.
Maafkan aku, Gaby.
***
“S**hit !” Gaby mengumpat sambil berjalan menuju lift, mengambil sebuah amplop yang tadi dibuangnya di tempat sampah yang ada di depan lift.
Waktu menunjukkan pukul 11.45 malam dan Gaby sudah mengenakan piyama usai mandi. Sejak menerima titipan surat dari Jonathan, pikiran Gaby mulai tidak tenang. Tidak ingin terganggu, ia pun membuang amplop itu begitu tiba di lantai apartemennya tapi hatinya malah semakin tidak tenang hingga akhirnya Gaby memutuskan untuk mengambil kembali surat itu.
Gaby menghela nafas berkali-kali sambil merobek amplopnya. Ada sedikit rasa khawatir karena sudah 6 bulan ia putus komunikasi dengan Jonathan dan kemarin Gaby baru mendengar cerita Mimi kalau mama Hani pindah ke Semarang.
Rumah yang pernah ditempati Gaby sejak menikah dengan Jonathan kosong karena mantan suaminya itu memilih kost dekat tempat kerjanya.
Dear Gabriela,
Terima kasih karena kamu mau membaca suratku ini. Maaf dan maaf. Aku tidak akan berhenti mengucapkan kata itu seumur hidupku.
Maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu meski berkali-kali aku mengatakan cinta padamu.
Rasanya ingin menyampaikan langsung padamu tapi sayangnya aku belum memiliki kesempatan itu. Aku selalu mengharapkan suatu hari nanti akan datang waktu itu.
Terima kasih atas semua kenangan indah yang selalu tersimpan baik dalam ingatanku dan doaku kamu akan mendapatkan kebahagiaan hidupmu sendiri.
Yang selalu mencintaimu
Jonathan
Gaby melempar surat itu ke atas meja dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ada satu rasa yang membuat hatinya lebih tenang, entah apa Gaby tidak bisa mengungkapkannya.
__ADS_1
Matanya terpejam dan dalam hitungan menit ia pun terlelap, masuk ke dalam mimpi indah yang membuatnya enggan bangun kembali.